SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Kehilangan


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, Camelia beraktivitas seperti biasanya. Menjalani hari-harinya, pergi ke sekolah dan belajar. Tidak terlalu memikirkan Jhonny, biarlah seadanya saja.


Ketika melewati kelas Ryan,ada senyuman kecil di sudut bibirnya. Diam-diam masuk kedalam kelas, mengambil sesuatu dalam tas yang dikenalnya bernama Dahlia sejumlah uang. Meletakkan ke dalam tas Ryan, untuk memberikan pelajaran kepadanya.


Dahlia,anak seorang pejabat dan sangat manja. Uang jajannya,tak pernah sedikit.


Keadaan kelas sangat sepi,sibuk di lapangan berolahraga.


"Ryan, bagaimana kamu mengatasi masalah ini?". Kekehnya Camelia, berlalu pergi meninggalkan kelas dan senyum-senyum sendiri.


Masuk kedalam kelas, melanjutkan pelajaran. Tak sabar menunggu jam istirahat, pasti kelas sebelah akan heboh karena kehilangan uangnya.


Beberapa menit,jam istirahat akan tiba Pelajaran olahraga sudah selesai,murid perempuan mengantikan pakaian di ruangan khusus begitu juga dengan murid laki-laki lain.


Ryan,yang lebih dulu datang dan duduk santai sambil menunggu waktu istirahat tiba.


"Uangku hilang!". Teriak Dahlia, mengeluarkan isi tasnya di atas meja.


"Mungkin kamu,lupa membawanya". Sahut yang lainnya.


"Gak,aku liat tadi dompet Dahlia banyak uangnya kok. Pasti ada yang mengambilnya, mentang-mentang gak ada cctv di kelas ini". Kata teman Dahlia, sebangku dengannya.


"Kurang ajar sekali, berani mengambil uangku. Kalian semua jangan ada keluar,cek tas masing-masing. Aku yakin sekali,ada seseorang yang mencurinya". Ucap Dahlia, dengan tegas.


Satu persatu dari mereka, membongkar tas masing-masing. Tepat di hadapan Dahlia dan lainnya.


Tibalah giliran Ryan, dengan santainya mengeluarkan semua isinya.


Mata mereka tertuju pada isi tas Ryan, segepok uang yang jatuh dari tasnya.


Glekkkk...


Ryan, langsung gelisah gusar karena uang sebanyak itu ada di dalam tasnya.

__ADS_1


"Oh,ini uang apa Ryan?". Bentak Dahlia, langsung mengambil uang itu.


"Bukankah, keluarga mu jatuh miskin? Mana mungkin,kamu memiliki uang sebanyak itu". Sahut yang lain, menatap tajam ke arahnya.


"Wahh...Payah loh, ngambil uang teman sekelas". Timpal lainnya, mereka semua menyudutkan Ryan.


"Kalian punya bukti? Aku mengambil uang Dahlia,ha? Ini sama saja, fitnah terhadap ku dan bisa aku tuntut kalian". Bantah Ryan,dia mana mungkin mengakui sebenarnya.


Mendengar ucapan Ryan, semua terdiam sejenak.


"Jangan mengelak Ryan,ngaku kamu yang ambil". Bentak Dahlia, dengan tatapan tajam.


Ryan, langsung mengambil uang di tangannya dan memasukkan ke dalam saku. "ini uangku, hasil dari kematian ayahku. Paham kalian,jangan menuduhku macam-macam. Aku bisa melaporkan kasus ini,kepada kepala sekolah. Agar kalian semua, mendapatkan hukuman setimpal. Aku tidak terima,atas fitnah kalian". Ucap Ryan, begitu keras.


Dahlia, mengepalkan kedua tangannya. Apa yang di katakan Ryan,memang benar karena tidak memiliki bukti apapun.


"Dahlia,kita tidak memiliki bukti apapun. Gawat kalau Ryan, melapor ke kantor sekolahan". Kata temannya, menyenggol lengan Dahlia.


Mata Ryan, memandang ke arah teman-temannya tidak berkata apa-apa. Kemungkinan besar, mereka semua tidak mau berteman lagi.


Ryan,keluar dari kelas menuju kantin. Tidak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar,tetap berjalan dengan santai.


Uang siapa ini? Jika benar uang Dahlia,sejak kapan aku mengambil dari tasnya. Mungkin rezeki anak Sholeh untuk ku,enak saja ngaku-ngaku uangnya di dalam tasku. Di ancam saja,dia dan lainnya takut. Emangnya segampang itu,mau menuduhku macam-macam dan tidak memiliki bukti apapun.Batin Ryan, tersenyum kecil. Dia merasa senang, mendapatkan uang dengan percuma. Kira-kira senilai 2 jutaan,pas sekali dia membutuhkan uang ini.


Camelia,nampak kesal karena rencananya gagal. Sebab Ryan, tidak terjadi apa-apa. Rupanya Ryan, mampu mengatasi masalah ini.


"E'ehmmm....Dari tadi,wajahmu kusut sekali. Cerita sama kita, emangnya ada masalah apa?". Rika, menyenggol lengan Camelia.


"Hmmmm...Gak papa,kaya gak mood aja". Jawab Camelia, sekedar alasan. Padahal dia, memikirkan Jhonny yang tidak ada kabar beberapa hari ini.


"Sore ini, jalan-jalan yuk. Bete tau,kemarin kita gagal". Ajak Cika, tersenyum kecil.


"Boleh deh,kemana gitu". Sahut Camelia, mendelik ke arah Rika yang mengangguk pelan.

__ADS_1


Tibalah Leo dan anggota OSIS lainnnya, datang ke kantin. Mereka semua,duduk di tempat biasa. Lagi-lagi Leo, melirik ke arah Camelia dari kejauhan.


"Leo,aku perhatikan kamu seringkali melirik Camelia? Apa jangan-jangan,kamu menyukainya". Tanya Anya, langsung karena hatinya terasa panas mengetahui Leo diam-diam memperhatikan gerak-gerik Camelia.


"Kamu ngomong apa sih, Anya? Leo,mana mungkin jatuh cinta dengan perempuan macam Camelia". Bantah Andy, langsung.


"Benar sekali, tapi di lihat-lihat dulu. Camelia, perempuan yang nyaris sempurna. Jadi pengen dekatin dia,". Sahut, Robby senyum-senyum sendiri.


"Hussssttttt...Jangan dekat-dekat dengan Camelia,aku tidak mengizinkan itu". Leo, langsung memukul lengan Robby.


"Eee...Kenapa Leo,kamu menyukai Camelia?." Bisik teman lainnya, memainkan kedua alisnya.


"Diam! Aku terpaksa memperhatikan dirinya,dari kejauhan. Tau sendiri lah, mommy menyukai Camelia dan tiap hari menanyakan tentangnya. Aku sebagai anaknya sendiri, tidak pernah di perhatikan seperti itu. Sudahlah,aku mau memberikan kue ini kepadanya. Titipan dari mommy,jangan berpikir macam-macam". Tegas Leo, beranjak pergi mendekati meja Camelia dan temannya.


Camelia, mengerutkan keningnya melihat bungkusan lucu dan menggemaskan di letak di meja oleh Leo.


"Titipan dari mommy,anak kesayangannya. Kau jangan berpikiran aneh-aneh,paham!". Tegas Leo, langsung meninggalkan meja Camelia.


"Waw... Isinya kue, kayanya enak deh. Sedekat itu kah,kamu dan mommy ketos?". Tanya Cika, cengengesan.


"Ck, menyebalkan sekali". Gumam Camelia,merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang sekitar. "Leo, makasih banyak yah. Sampai kan ke mommy Dwi,".


Leo, mengangguk pelan dan berekspresi biasa saja. Padahal jantung berdebar kencang, tubuhnya panas dingin bercampur aduk.


Anya, mengepalkan kedua tangannya karena Camelia sudah mengambil hati mommy Leo. Matanya menatap tajam ke arah Camelia,apa lagi mendapatkan senyuman ejekkan darinya.


"Leo,lain kali mau ngasih sesuatu dari mommy jangan ada yang tau. Takutnya ada marah sama aku,dia mengira aku dan kamu memiliki hubungan dekat. Sebenarnya,aku malas meladeni orang sok belagu itu". Kata Camelia, tersenyum manis.


"Maksudnya apa, Camelia? Jangan berbelit-belit kalau ngomong,siapa yang marah? Jangan asal berbicara,". Kata Leo, langsung melirik sekililing kantin. Memang benar adanya, seisi kantin memandang ke arah mereka.


"Yuk, cabut ke kelas dulu. Gerah liat orang-orang sok iri,". Camelia, mengibas-ngibas rambutnya dan meninggalkan kantin di iringi Cika dan Rika.


Di dalam kelas, mereka menikmati kue dari mommy Dwi. Rasanya sangat enak,melahap sampai habis tak tersisa.

__ADS_1


__ADS_2