SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Rahasia


__ADS_3

"Camelia". Lirih Gladis, terkejut melihatnya. Sejak kapan dia ada di sini? Jangan-jangan mendengar pembicaraan kami tadi, bisa gawat nantinya. Takutnya Camelia, membongkar rahasia ini ke sekolahan.


"Hmmmm....Satu sekolahan mengetahui, jika kami sepasang kekasih yang paling serasi. Lantas, bagaimana mereka mengetahui jika kamu menjalin hubungan diam-diam dengan Arsen? Oh, apakah kamu di katakan perusak hubungan orang". Camelia, menutup mulutnya dengan tangan. Seakan-akan terkejut,ini adalah menyenangkan sekali.


"Maksudnya apa, Camelia? Kamu jangan mengada-ada segala,aku dan Arsen tidak memiliki hubungan apa-apa". Bantah Gladis,bisa gawat jika Camelia menyebarkannya. Aku tidak percaya, Camelia bersifat seperti ini. Setelah mengalami koma 2 bulan, sifatnya berubah drastis.


"Aku sudah merekam semuanya loh, masih mengelak. Hmmm...Aduhh,gimana yah? Ketika kamu turun sekolah,lalu di ejek-ejek murid lainnya. Ya ampun,aku akan berakting". Camelia, tersenyum smrik dan melirik ke arah Gladis. Tentu saja,aku berakting dengan baik. Sebagai seorang putri yang tersakiti, oleh pelayan yang berkhianat.


"Sialan,jangan lakukan itu! Kamu dan aku teman, Camelia. Apa kamu tega, melihat ku di ejek mereka yang bukan levelku. Seharusnya,kamu sadari diri dong. Tidak pantas untuk Arsen,dasar perempuan manja dan suka mengadu. Cuman aku yang cocok dengan Arsen,jangan mengganggu hubungan kami". Ucap Gladis, ingin sekali menerkam Camelia. Tetapi, kakinya masih sakit. Sialan, siapapun tolong aku. Setelah aku sembuh nanti,aku akan melenyapkan nyawamu Camelia.


"Maka dari itu,aku ingin menyebarkan rekaman ini. Karena Arsen,bukan levelku. Dia memang pantas untuk mu,karena sama-sama sampah yang tak berguna. Kau sendiri yang mendukung hubungan kami, nyatanya kamu menusuk dari belakang. Aduhh...Gak kebayang deh,hampir 1 sekolahan mengejek mu sebagai perusak hubungan orang". Camelia, menyelipkan rambut di telinganya.


"Camelia, hentikan! Jangan lakukan itu,aku mohon. Aku tidak mau kehilangan Arsen,jangan menyebarkan hubungan kami". Pinta Gladis, memasang wajah sedihnya. Aaaarrgghh....Kenapa aku selalu sial dan sial? Sekarang Camelia, tidak bisa di manfaatkan lagi.


"Lalu,aku menyebarkan video mana? Oh,video panasmu di perumahan elit itu. Aaahh...Aku baru ingat,kalau kamu memiliki sugar Daddy. Astaga, bagaimana Arsen tau nanti? Pasti masalah besar,atau kau di keluarkan dari kartu keluarga. Hahahaha.... Hahahhaa... Menyenangkan sekali,bukan? Gladis, makanya jangan macam-macam dengan ku. Masalah kau mendorongku saja,belum kelar. Tetapi,masih banyak masalah yang kau hadapi". Camelia, mencekram rambut Gladis ke belakang.


Gladis,masih duduk di kursi roda menahan rasa sakitnya. Buliran air mata mengalir deras,dia benar-benar syok mendengar ucapan Camelia. "Tidak! Kau pembohong besar, Camelia. Aku tidak mudah mempercayai ucapan mu, pembohong!". Bentak Gladis, dengan tatapan tajam. Darimana Camelia, mengetahui soal itu? Apa jangan-jangan Camelia, diam-diam menyelidiki ku. Sialan,kenapa ketahuan sekarang? Mana aku tidak bisa berdiri, batinnya yang sudah gelisah gusar.


"Membuat mu kecelakaan,bersama sugar Daddy mu adalah aku. Diam-diam mengikuti kalian berdua,duhh...Suara desa-han, menggema di seluruh ruangan". Kekehnya Camelia, mendorong kursi roda Gladis secara berlahan.


"Kamu membawaku kemana, Camelia? Hentikan kursi rodanya, hentikan! Jangan macam-macam Camelia, di sini rumah sakit. Aku akan berteriak keras". Gladis, sudah gemeteran karena ketakutan.


"Bagaimana kursi roda mu,aku dorong pas di turunan ini. Pasti kamu meringis kesakitan,ingin menyalahkan ku? Tidak mungkin,karena pamanku akan bertindak tegas". Bisik Camelia, menyeringai tajam.

__ADS_1


"Tidaaaak....!". Gladis, berteriak keras.


Bruaakkkkkkk...


Gladis,bersama kursi rodanya jatuh ke bawah."Aarrrghh... Awas kamu, Camelia! Aku akan membalas semuanya,". Teriaknya sekeras mungkin, merasa sakit di kepala.


Camelia, Berlahan-lahan mendekati Gladis yang tersungkur. Darah segar keluar di keningnya, meringis kesakitan. Belum lagi luka terbakar,di bagian kakinya.


"Yakin,mau balas dendam? Sedangkan aku saja, memiliki rahasia terbesarmu. Kapan turun sekolah,aku tidak sabar melihatmu di ejek-ejek anak lainnya? Hahahaha.. Hari ini,aku cukup senang. Dahhh....Aku pergi duluan,lain kali ngerjain kamu deh". Camelia, melenggang pergi begitu saja.


"Aaaaaaa.....!". Sedangkan Gladis, berteriak sekencang. Meratapi nasibnya sendiri, tidak ada satupun yang menolongnya.


Selesai berurusan dengan Gladis, Camelia mencari-cari neneknya di rumah sakit.


"Huuu.... Perasaan lama sekali,". Gumamnya calingukan melihat sekeliling, matanya tertuju pada ruangan inap anak Rendy dan Bella.


"Duduh....Masih koma yah,kenapa gak sekalian mati tenggelam kemarin. Baiklah,aku akan mewujudkan keinginan mu". Senyum smrik Camelia, mengambil bantal menutupi wajah Sheilla.


Tiiiiiiit..... Tiiiiiiit....


"Rendy, anakmu sudah mati. Sekarang anak kita sama pada mati, inilah detik-detik kehilangan buah hati kalian. Sekarang istrimu yang tercinta,akan lumpuh. Kau Bella, rasakan bagaimana sakitnya di khianati nanti. Aku yakin sekali, Rendy mana mau setia dengan wanita lumpuh seperti mu. Ini adalah pembalasan dari ku, bersiaplah kelanjutannya nanti". Sorotan matanya memerah manahan amarah, Katrina puas melihat anak suaminya mati di tangannya.


Camelia, cepat-cepat keluar dari ruang tersebut. Jangan sampai ada seseorang yang melihatnya,karena terburu-buru dia bertabrakan dengan Rendy.

__ADS_1


Degggg...


Camelia, terkejut karena jiwanya adalah Katrina. Istri Rendy,tentu ada perasaan aneh.


"Camelia". Kata Rendy, tersenyum manis ke arahnya.


"Eee...Pak Rendy,". Camelia, tersenyum kecil dan berusaha tenang. Katrina,buang rasa cintamu dulu. Jangan sampai kamu,lemah di hadapannya. Ingatlah tujuan mu, ingin menghabisinya.


Mata Camelia, sudah berkaca-kaca sekuat tenaga menahan air matanya.


"Camelia, kau sedang apa disini?". Tanya Rendy,memang benar Camelia terlihat sangat manis sekali.


"Bukan urusanmu pak,permisi". Camelia, berlalu pergi dan mengibas rambutnya ke belakang.


Rendy, menatap kepergian Camelia. Dadanya berdebar kencang, entahlah apa yang terjadi dengan perasaannya kepada bocah itu.


Karena penasaran Rendy, melangkah untuk mengikuti Camelia. Ketika persimpangan jalan, matanya menangkap Camelia bersama Sandra sang nenek.


"Kenapa dengan perasaanku? Dadaku berdebar-debar, ketika menyentuh Camelia. Mana mungkin aku menyukai bocah itu, memang benar sih! Dia sangat manis,imut, cantik,dan kaya". Rendy, senyum-senyum sendiri.


Dia melangkah pergi,niat untuk menemui anaknya yang masih berbaring lemah di ranjang pasien.


Tiba di ruangan anaknya,ada senyuman mengambang disudut bibirnya. Namun matanya tertuju pada monitor,detak jantungnya sudah lurus.

__ADS_1


"Tidaaaakkkk... Sheila! Sheila,jangan tinggalkan papah nak! Sheila, bangun! Bangun nak,bangun!". Rendy, sudah ketakutan dan gemeteran. Wajah anaknya sudah pucat memutih, tubuhnya sudah kaku.


"Dokter!Dokter! Dokter!". Rendy, berteriak-teriak memanggil dokter. Air matanya mengalir deras, mengusap kepalanya dengan kasar. Terduduk lemas, tidak sanggup kehilangan sang buah hati.


__ADS_2