
"Apa kalian sudah mengerjakan tugas dariku?". Bisik putri Eloisa, melirik tajam ke arah Maira dan Laure. Aku harap mereka berdua tidak ceroboh dalam tugas yang aku berikan, takutnya gagal dan kehilangan kesempatan ini.
"Tenanglah,jangan terlalu buru-buru Tuan putri Eloisa. Serbuk itu, bekerja secara berlahan dan tidak tergesa-gesa. Akan tetapi, tidak bisa di hindari maupun di tahan. Bukankah kita sudah menguji coba, serbuk itu?". Bisik Maira, menyunggingkan senyumnya. Mana mungkin seseorang tahan dengan serbuk itu, nona Camelia pasti tidak mencurigai ada sesuatu di gaun tersebut.
Dari kejauhan Trevino, memandang ke arah mereka sedikit mencurigakan. Apa yang mereka bicarakan? Dari pandangan mereka, tertuju pada nona Camelia. Apakah ada sesuatu yang terjadi menarik nantinya?Batin Trevino,masih terdiam dan memikirkan sesuatu.
"Baik,aku mempercayai ucapan kalian ini. Aku harus istrinya Tuan JJ Abrams, mendapatkan rasa malu-semalunya di acara pesta ku ini. Aku tidak sabar menunggu momen tersebut, sangat menantikan bagaimana raut wajah Tuan JJ Abrams?". Kata putri Eloisa, tersenyum sumringah. Baguslah, kalau mereka berdua berhasil mengerjakan tugas dan hasilnya memuaskan sekali.
"Tuan putri Eloisa, aku pun tidak sabar menunggu nona Camelia di permalukan di depan umum". Kedip mata Laure, semakin memanasi perasaan putri Eloisa.
Jeb....
"Loh, kenapa lampunya mati!". Pekik putri Eloisa, segera menghidupi sinter di ponselnya. Para bodyguardnya langsung mengelilingi putri Eloisa, untuk berjaga-jaga takut ada sesuatu yang terjadi.
Semua orang terkejut lampu padam di kediaman keluarga besar, orang-orang sekitar mulai ricuh karena gelap gulita. Hawa panas mulai terasa,mulai sesak nafas juga.
JJ Abrams, meraba-raba karena kehilangan istrinya. "Camelia,dimana kamu?". Ucapnya, berusaha untuk santai. "Istriku jangan main-main dengan ku, ketahuilah betapa khawatir dengan mu". Gumamnya JJ Abrams, menggaruk-garuk pelipisnya.
"Semuanya tenang dulu, ada kesalahan di aliran listrik sementara". Ucap seseorang lumayan keras.
"Amankan putri Eloisa, jangan sampai lengah!". Teriak seseorang, melainkan penasehat putri Eloisa.
JJ Abrams, terus-terusan memaksa anak buahnya mencari keberadaan istrinya. Cahaya samar-samar melalui lampu ponsel masing-masing, begitu juga dengan para tamu undangan.
__ADS_1
"Aaakkhh... Apa yang mengigit leherku?". Kata putri Eloisa, menahan lehernya ada yang menggigit.
Jeb...
Lampu kembali menyala seperti semula, orang-orang sekitar tidak panik dan mulai tenang.
"Darimana saja kamu?". Tanya JJ Abrams, akhirnya menemukan sang istri di sampingnya. "Jangan kemana-mana sayangku,takut kau terjadi kenapa-kenapa. Ada beberapa orang mengawasi gerak-gerik mu, kemungkinan mencari celah untuk mendekati mu".
"Ee... Aku tidak kemana-mana suamiku, tetap di sini". Kekehnya Camelia, menunjukkan jarinya tepat di dada bidang JJ Abrams. "Aku cuman di sini saja,aku mana berani membantah perkataan mu ini"
JJ Abrams,mencolek hidung mancung istrinya dan sesekali mencium pipi istrinya itu. Camelia, merasa tidak nyaman di lihat orang-orang sekitar.
"Aku minta maaf atas ketidaknyamanan, sebagai Tuan rumah merasa tidak enak hati". Ucap putri Eloisa, tersenyum semanis mungkin.
"Tidak apa-apa, putri Eloisa. Kami memahami segalanya,apa lagi mati listrik hal biasa". Sahut lainnya.
Alunan musik menggema di ruangan tersebut,para tamu undangan mulai berbicara satu sama lainnya. Bahkan beberapa artis,mulai bernyanyi untuk mengisi hiburan di acara pesta tersebut.
Maira dan Laure, gelisah gusar karena Camelia masih santai-santai saja.
"Bagaimana Maira, tidak ada reaksi apapun? Seharusnya yah, nona Camelia mulai beraksi sekarang juga!". Bisik Laure, mengigit bibir bawahnya.
"Jangan membuat ku gelisah gusar dong,aku yakin sekali nona Camelia mendapatkan ganjaran setimpal atas perkataannya itu". Maira, langsung menyenggol lengan adiknya itu.
__ADS_1
Raut wajah putri Eloisa, sudah masam karena tidak ada tanda-tanda aneh pada diri istrinya JJ Abrams.
"Maira, Laure,mana reaksi serbuknya? Lihatlah, nona Camelia tidak terjadi apa-apa". Bisik putri Eloisa, dengan tatapan tajam. Huuu...Aku sudah mencurigai sejak awal, mereka berdua memang tidak becus. Aaarghhh... Kenapa aku harus mempercayai mereka yang bodoh ini? Huu.... Ingin sekali aku mencakar wajah wanita itu, sok dekat-dekat dengan pujaan hatiku.
"Huss...Sabar putri Eloisa,kita tunggu sebentar". Bisik Maira, wajah' sudah panik dan matanya tertuju pada Camelia terus-terusan. Aaarghhh... Ayolah, sekarang dong. Jangan sampai gagal rencana ini, pasti putri Eloisa bakalan marah besar terhadap kami. Sudah pasti putri Eloisa, tidak akan melepaskan kami dari genggamannya.
Sedangkan Camelia, menarik-narik tangan suaminya meminta untuk di lepas. "Sayangku, cintaku,aku gerah terus dempet-dempetan seperti ini". Cicitnya. "Apa kamu tidak malu yah, mereka memandang ke arah kita ini".
"Tidak. Aku suka seperti ini,apa ada sesuatu yang tidak beres? Sedari tadi,kamu ingin sekali menjauhi ku hmmm...". JJ Abrams, menyipitkan bola matanya. "Sayangku,kita sepasang suami-isteri dan bebas melakukan kemesraan di depan para jomblo".
"Tidak ada apa-apa sayangku,kita seperti sepasang pengantin baru. Apa kamu lupa,kita memiliki dua anak loh". Bisik Camelia,melototkan bola matanya. Astaga! JJ Abrams, kenapa bersifat seperti anak ABG sih? Lalu, kenapa aku malu yah? Seharusnya, bahagia mampu menaklukkan hati si pria arogan ini.
"Diamlah,biar orang tau kita saling mencintai. Sayang,aku merindukanmu dan bolehkah?". Kedip mata JJ Abrams, berbisik dengan lembutnya. "Jangan menolaknya sayang, tidak akan menggangu kita berdua saling melepaskan kehangatan". Bisik JJ Abrams, tidak memperdulikan tatapan orang-orang sekitar.
Dari kejauhan sepasang mata tengah melihat kemesraan mereka berdua, putri Eloisa semakin terbakar api cemburu di dalam hatinya. Tangannya mengepal kuat, mencoba untuk memalingkan pandangannya.
Bahkan para tamu undangan di melihat kemesraan JJ Abrams, bersama istrinya itu. Sesekali JJ Abrams, mencium pipi istrinya dan merangkul pinggangnya.
"Tuan JJ Abrams, bolehkah aku berdansa dengan nona Camelia?". Tanya Trevino, melirik ke arah Camelia berada di samping JJ Abrams.
JJ Abrams, menyunggingkan senyumnya dan menggeleng pelan. "Aku tipe pria posesif, cemburuan, tidak rela melihat istriku berdansa dengan pria lain. Bahkan Mr.Down terang-terangan untuk merebut istri tercinta ku ini".
Trevino, cekikikan mendengar ucapan JJ Abrams begitu spesial memperlakukan istrinya. "Tuan JJ Abrams,anda terlalu memanjakan nona Camelia. Wanita selalu di manjakan oleh kita,dia lama-lama menekan dirimu".
__ADS_1
Camelia, memandang lekat wajah Trevino tidak menyukai apa yang di katakannya itu. "Tuan Trevino yang terhormat, bisakah jaga mulutmu itu? Aku adalah wanita yang berbeda,jangan sampai aku melakukan sesuatu yang diluar nalar." Tegas Camelia, berusaha mengontrol dirinya jangan sampai emosi.
"Waw....Aku sangat kagum dengan ucapan mu, nona Camelia. Baru kali ini,ada seseorang wanita berkata semanis dirimu". Kedip mata Trevino, melirik ke arah JJ Abrams yang sudah memasang wajah masamnya.