
"Kata orang sih,sekali berkhianat akan berkhianat loh. Harus mendapatkan yang di inginkan, meskipun sampai mati". Ucap Camelia,duduk santai di anak tangga.
"Daira,jangan mendengarkan perkataan Camelia. Dia wanita licik untuk mengelabuhi kita,jangan pedulikan apa yang di ucapkannya!". Tegas Ling Zhi, dengan tatapan tajam ke arah Camelia.
"Ling Zhi,aku tidak segan-segan menghancurkan kehidupan mu jika berani mengkhianati ku ini". Ancam Daira, menunjukkan pisau kecil di tangannya.
"Daripada kalian berdebat terus-terusan, mending tangkap Camelia. Dia tengah hamil besar,mana sanggup berlarian naik ke atas tangga". Muna, mencoba meleraikan mereka berdua.
Ling Zhi dan Daira, mengangguk kepala dan tersenyum sumringah ke arah Camelia. Mereka bertiga mulai menaiki anak tangga,akan tetapi Camelia nampak tak bergerak sedikitpun.
Sreeet..
"Aaaakkhh...!". Mereka bertiga serempak mengundurkan langkahnya. Ada jarum kecil menancap di leher mereka masing-masing, merasakan tenggorokan terasa terbakar.
"Aaarghhh...Panas! Kenapa tenggorokan ku seperti terbakar?". Muna dan Daira, memegang leher mereka. Tubuh mereka terbentur benda-benda di sekitar,mata mereka melotot sempurna.
"Camelia,kau yang melakukan ini!". Teriak Ling Zhi, berjongkok di lantai dan memegang lehernya.
"Iya,jarum kecil yang memilih racun mematikan. Kalian masih ingat kasus kematian Carlen dan Zara? Oh, kalian akan seperti itu". Ucap Camelia, begitu santainya.
Deg!
Mereka saling menoleh satu sama lain, rupanya Camelia pelaku di bali racun tersebut.
"Kau wanita beracun rupanya, sangat mengejutkan diriku". Kata Ling Zhi, wajahnya menahan rasa sakit luar biasa.
"Uhukkk.... Uhukk... Uhukk.. Uhukk... Uhukk..". Mereka bertiga terbatuk-batuk, sampai mengeluarkan darah segar.
Sakit yang luas biasa menyiksa tubuh mereka bertiga, masing-masing mengeluarkan air mata.
"Camelia, berikan obat penawarnya". Pinta Muna, merangkak mendekati anak tangga.
"Hahahaha... Hahahhaa...!". Camelia, tertawa terbahak-bahak melihat mereka tersiksa karena racunnya.
"Camelia,tolong aku. Aku tidak sanggup menahan rasa sakit ini". Pinta Daira, memohon-mohon kepada Camelia.
__ADS_1
"Tenang,aku sudah menyiapkan satu botol penawar saja. Lihatlah,kalian bisa menatap ke atas sana". Camelia, menunjukkan jarinya ke atas sesuatu botol kecil berwarna hijau bergelantungan.
"Botol kecil itu, penawar racunnya. Kalian harus meminum satu botol penuh, jika berbagi tidak ada reaksi apapun". Camelia, sudah merencanakan segalanya untuk memberikan pelajaran kepada mereka.
"Cuman satu?". Kata Muna, terduduk lemas dan menatap ke arah Daira keluarganya.
"Satu mana cukup, Camelia! Kamu bertiga, apa kamu buta?". Pekik Daira,masih bisa meninggikan suaranya.
"Ini adalah permainan Camelia,kita harus merebut botol kecil itu". Sahut Ling Zhi, tidak menduga Camelia bersikap seperti ini.
"Wanita iblis kau!". Teriak Muna, semakin meninggikan suaranya semakin sakit juga. "Aaarghhh... Sakit sekali,sakit". Lirihnya kesakitan.
"Iya,dua orang harus berkorban untuk menyelamatkan nyawa satu orang. Bagaimana, menarik bukan permainan ku? Ayolah,ini adalah pertunjukan luas biasa loh. Kalian bertiga saling menyakiti, tanpa mengotori tanganku ini. Muaaahh...!". Kata Camelia,sambil menikmati cemilan keripik di tangannya.
"Tidak! Penawar racun itu, harus menjadi milikku. Kau Ling Zhi, ambilkan untuk ku!". Perintah Daira, langsung.
"Tidak. Penawar racun itu, milikku Daira. Ling Zhi, ambilkan akan aku bayar mahal jasa mu". Perintah Muna,tak ingin kehilangan nyawanya.
"Hahahaha.... Hahahhaa... Menarik sekali,bukan? Kalian memerintahkan Ling Zhi, mengambil penawar itu. Lalu, memberikan salah satu dari kalian. Astaga! Bodoh sekali jika Ling Zhi mau berkorban demi nyawa seseorang. Sedangkan aku,masih terdengar kemenangan melihat kalian mati. Mana mungkin juga sih, Ling Zhi mau berkorban untuk nyawanya. Coba kalian bertiga berpikir sejenak,hmmm". Kata Camelia, tersenyum sumringah.
"Masa sih, mampu melumpuhkan diriku ini.Meskipun aku hamil besar, mampu membunuh kalian tanpa menyentuh". Camelia, mengeluarkan sesuatu dari balik dress nya.
Mata Ling Zhi, melotot sempurna melihat kelingking di tangan Camelia. "Sayangku,jaga di depanku dan lakukan perintah ku ini". Camelia, meletakkan beberapa kalajengking di anak tangga.
Hewan begitu beracun beracun,patuh terhadap Camelia.
"Gila!Siapa kamu sebenarnya, Camelia? Jangan-jangan kau bukan manusia,apa wanita penyihir seperti yang katakan Ardan dan Morgan". Ling Zhi, mengundurkan langkahnya.
"Huuufff... Kalajengking memang patuh ketika bertemu dengan pawangnya. Begitu juga dengan JJ Abrams, sangat patuh bertemu dengan ku. Hahahaha.... Hahahhaa... Astaga! Gitu saja,kalian tidak tau sih. Diam-diam ada seseorang mendekati botol kecil itu". Ucap Camelia, sambil bernyanyi.
Sontak membuat Ling Zhi dan Daira, menoleh ke belakang mereka. Ternyata Muna,mulai berjalan mendekati botol kecil bergelantungan bebas di tas.
"Munaaaaa....!". Teriak Ling Zhi dan Daira, mereka berdua langsung menyusul Muna.
"Penawar racun itu, milik ku!". Pekik Muna, sekuat tenaga mempertahankan nyawanya.
__ADS_1
"Ayo, Muna!Lebih cepat Muna,kau tidak ingin melihat ku berada di pangkuan suamimu itu. Hahahaha.... Hahahaha...!". Camelia, tertawa lepas melihat Muna di tarik Ling Zhi dan terjungkal ke belakang.
Bruaakkkkkkk...
"Aaaakkhh.... Sshhhhttt...". Muna, terbentur benda-benda di sana. Merasakan sakit luar biasa bagian punggung belakangnya, berusaha berjalan demi penawar racun.
"Ayo! Daira, kau harus bisa mengalahkan Ling Zhi. Dia akan berkhianat dirimu,mana mungkin menaruhkan nyawa cuman untukmu". Camelia, semakin memanasi suasana semakin mencekam.
"Ling Zhi, berhenti!". Pekik Daira,menarik rambut pendek Ling Zhi.
"Aaarghhh... Lepaskan! Daira! Lepas!". Ling Zhi, beberapa kali menendang dan memukul Daira.
"Kau pengkhianat Ling Zhi!". Teriak Daira, berusaha bangkit meskipun merangkak.
"Hahaha.... Hahahhaa..Aku sangat senang melihat kalian, mulai terlihat busuknya". Ucap Camelia, melemparkan pisau ke arah Daira.
Daira, bangkit mendekati Ling Zhi susah payah mengambil botol kecil itu.
"Aaaaaaaaa.....!". Teriak Daira,sambil mengarahkan pisau ke arah Ling Zhi. dengan kecepatan tangannya, Ling Zhi membalikkan pisau tersebut
Sruuakk....
"Uhuk....Peng-khi-ana-at..". Lirih Daira, perutnya di tusuk Ling Zhi. Dia memuntahkan darah sangat banyak dan terjatuh ke bawah.
"Daira....!". Teriak Muna,tak mampu menopang tubuhnya dan terjatuh terus-terusan sampai mendekati tubuh Daira.
"Aaarghhh.. Aku harus mengambil obat penawarnya". Ling Zhi, bersusah payah mengambil botol kecil dan akhirnya dapat. Dia meneguk habis penawar racun itu,benar rasa sakitnya di tenggorokan hilang seketika. Akan tetapi, matanya mulai memburam dan ambruk.
Begitu juga dengan Muna, mengeluarkan busa di bagian mulutnya nyawanya tak tertolong lagi.
Camelia, berjalan mendekati tubuh Muna dan Daira. Rupanya Daira,masih bisa bernafas dan membicarakan sesuatu.
Jari telunjuk Daira, mengarahkan ke Camelia. "Ak-kan ak-aku bal-las di ak-hir-at kel-ak sam-pa-i ka-p-an p-un,ak-u tid-ak te-ri-ma ka-au mem-il-iki..." Belum selesai berbicara, Daira sudah menghembuskan nafas terakhirnya
Camelia, tersenyum sumringah ke arah Ling Zhi tak sadarkan diri bukan mati. "Baiklah,kita liat apa yang di lakukan oleh Mr.Downy kepadamu sayang. Aku tidak melakukan apapun,akan tetapi kau yang di salahkan. Bay!". Melenggang pergi meninggalkan gedung kosong tersebut, Camelia tersenyum sumringah karena jejak sudah hilang terutama ban mobil
__ADS_1