SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Kafe


__ADS_3

"Ryan,kau kebelakang sana. Bawa kopermu ini, bereskan semuanya dan mulai bekerja. Biar yang lain,mengurus pelanggan". Perintah Leo, mendekati mereka berdua.


"Makasih bos, Camelia aku ke belakang dulu. Bos Leo,biar aku membayar minuman Camelia. Ini adalah traktir ku, sudah memberikan tumpangan ke sini. Permisi dulu,". Kata Ryan, membungkuk badannya dan berlalu pergi.


Camelia, tersenyum dan mengangguk pelan. Terhenti,ketika memandang wajah Leo yang datar.


"Silahkan,di pesan". Kata Leo, memberikan menu kepadanya.


"Ehh...Iya". Jawabnya Camelia, cengengesan dan duduk manis.


Tak berselang lama, Anya dan Indri datang ke kafe Leo. Seperti biasanya,teman Leo seringkali datang ke sini dan ngumpul bersama.


Mata mereka tertuju pada Camelia,tengah bersantai.


Sudah berani rupanya kamu Camelia, terang-terangan datang ke kafe Leo. Perempuan murahan, tidak tau diri.Batin Anya, tidak akan tinggal diam dan akan memarahinya.


"Waw.... Tumben sekali,kamu ke sini". Kata Anya, mendekati meja Camelia.


"Memangnya kenapa,ada masalah?". Tanya Camelia, dengan santainya. Astaga! Apakah mereka seringkali datang ke sini? Lalu,aku sebagai pelanggan ke sini tidak boleh. Gila!.


Anya, sudah emosi melihat kehadiran Camelia di kafe ini. Untuk apa dia kesini? Apa jangan-jangan,mencari perhatian kepada Leo. Kurang ajar sekali kamu Camelia, ingin merebut pria idamanku.Batinnya, mengepalkan kedua tangannya.


"Bilang saja kan,kamu cari perhatian kepada Leo? Iyakan!". Bentak Anya, sambil menggebrak meja. Ck,muka tebal juga kamu Camelia. Dulu,kamu mengejar-ngejar Arsen. Sekarang malah Leo, setelah Arsen tidak ada lagi. Awas kamu,aku tidak akan membiarkan begitu saja.


Minuman Camelia, hampir tumpah jika dia tak cepat menahannya. "Kamu ngomong apa sih? Aku cari perhatian kepada Leo, begitu maksud mu? Nyatanya kamu cemburu dan iri, kepadaku". Kekehnya Camelia, tersenyum sumringah.


"Anya, kamu apa-apaan sih? Leo, sedari memperhatikan gerak-gerik kamu". Bisik Indri, menyenggol lengannya.


"Berisik! Ini urusanku dan dia, kamu jangan ikut campur". Anya, sedikit membentak Indri,karena kesal.


Dia mendekati telinga Camelia, membisikkan sesuatu. "Awas saja,kamu berani mendekati Leo. Kamu bakalan berhadapan dengan ku,paham!". Tegasnya, tersenyum smrik.


"Tergantung Anya, jika Leo lebih dulu mengejar ku dan mendekatiku". Kedip mata Camelia,malah menantang perkataan Anya.


"Ck,jangan kepedean kamu Camelia. Leo, sangat susah di taklukkan hatinya". Sahut Anya, mendorong Sedikit bahu Camelia.

__ADS_1


"Kamu menantang ku Anya , bagaimana jika Leo bertekuk lutut kepadaku. Hahahaha...Aku menantikan dirimu, patah hati". Camelia,menepis jari Anya di hadapannya.


."Apa-apa ini,jangan mengganggu pelanggan ku!". Leo, mendekati mereka berdua.


"Leo,dia ini pura-pura mampir di kafe kamu. Padahal dia berniat mencari perhatian,dia menyukaimu. Leo,kamu harus hati-hati dengan perempuan licik ini". Kata Anya, tersenyum smrik dan matanya melirik ke arah Camelia.


"Anya,kamu ngomong apa sih? Dia ke sini bersama Ryan,paham! Ryan, mentraktir Camelia yang sudah memberikan tumpangan ke sini". Tegas Leo, langsung.


Glekkkk...


Anya, terperangah mendengar ucapan Leo dan tenggorokan terasa tercekat seketika. "Apa!". Lirihnya pelan, mengundurkan langkahnya.


Camelia, tersenyum sumringah dan menghirup jus apel di tangannya. "Katakan kepada Ryan, terimakasih atas traktirannya. Aku sudah tidak mood di kafe ini, aku sudah membuat status di sosmed dan mengomentari kafe mu. Aku sebagai pelanggan terganggu oleh orang ini, sedangkan kamu pemilik kafe ini sangat lamban menanganinya". Camelia, melenggang pergi begitu saja.


"Camelia!". Leo, memanggil namanya dan tidak dihiraukannya. "Aaarghhh...".


Indri, bergidik ngeri memandang wajah Leo nampak marah kepada Anya yang sudah salah.


"Kau liat,kamu sudah mencoreng nama kafeku. Camelia, sangat berpengaruh terhadap kafe ini. Puas kamu, Anya!". Leo, langsung meninggalkan Anya dengan hati kesal.


**************


Di tempat lain, sebuah apartemen.


Vanya, baru saja datang bekerja dan pergi ke dapur mengambil minum di dalam kulkas.


"Siapa di sana?". Teriak Vanya,mulai ketakutan. Dia melihat bayangan seseorang lewat, jantungnya berdegup kencang. Berlahan-lahan melangkah kakinya, mengintip di balik tembok dan tidak ada siapapun.


"Tidak ada siapapun,tapi tadi ada orang lewat". Gumamnya,pelan.


Buukk..!


"Aaakkkhh....!". Vanya, tersungkur di lantai. Ada seseorang memukul kepalanya,di bagian belakang. "Aaaaaa...Siapa kamu? Siapa kamu, keluar dari apartemen ku! Keluar!". Teriaknya sekeras mungkin, sambil mengundurkan tubuhnya.


Seseorang menerornya mengenakan jubah hitam dan topeng tengkorak sangat menyeramkan. Vanya, semakin ketakutan melihat tongkat besi di tangan penyusup tersebut.

__ADS_1


"Siapa kamu? Keluar dari sini,aku akan teriak! Tolong!Tolong!Ada penjahat,tolong!". Teriak Vanya,namun nihil tidak ada yang mendengarkannya. Vanya, merasakan sangat sakit di bagian kepalanya.


Seseorang yang mengenakan jubah dan bertopeng tengkorak itu. Melayangkan tongkat besi ke udara,bersiap untuk memukul kaki Vanya.


Bughhh...


Kreeakkk...


"Aaaaaaaaaaa....Sakit! Kakiku,sakit! Hentikan!". Teriak Vanya, meringis kesakitan. Merasakan kakinya patah, mendengar suara kretak di bagian kakinya.


Bughhh.... Bughhh....


Penyusup itu,memukul bagian kaki Vanya berkali-kali. Mengeluarkan darah segar, Vanya yang tak sadarkan diri.


Setelah puas, penyusup tersebut keluar dari apartemen Vanya dengan mudahnya.


"Untuk saat ini,aku memberikan pelajaran kepadamu Vanya. Belum saatnya,aku membuka kedok asliku". Camelia,membuka topeng dan melepaskan jubahnya. Dia menyimpan semuanya,di mobil termasuk tongkat besi yang du cucinya.


Camelia, tersenyum sumringah karena sudah menyiksa Vanya.


***************


"Aaaaaaaaa....Tidak!Tidak, mungkin! Kakimu,mah! kakiku!".Vanya, meraung-raung melihat kakinya dipotong. Syok mendengar ucapan dokter,jika kakinya remuk dan tidak bisa di selamatkan lagi. Beruntung nyawanya masih selamat,jika terlambat kemungkinan sudah tiada.


"Mamah, kembalikan kakiku. Aku tidak mau kakiku,di potong". Vanya, meronta-ronta di ranjang pasien.


"Vanya, kamu yang sabar nak. Mamah, sudah melaporkan masalah ini. polisi sudah menyelidiki semuanya, semoga tertangkap pelakunya". Lena, mencoba menenangkan pikiran anaknya.


"Percuma mah, Kakiku tidak ada lagi. Aku tidak mau mah,aku ingin kakiku kembali". kata Vanya,dalam isak tangisnya. "Mah,mana Andreas? Aku ingin berbicara dengannya,".


"Andreas, sibuk nak. Dia menemukan kamu,di apartemen dalam keadaan sangat tragis. selama 3 hari ini,dia tidak ada menemui mu. Mamah, sudah menghubunginya dan berharap secepatnya datang. Semoga saja, Andreas mau sama kamu. Makanya jangan pacaran lama-lama,kenapa gak nikah kemarin? Sekarang bagaimana, Vanya?". Lena, menatap iba melihat anaknya dalam kehancuran.


"Gak, Andreas gak mungkin meninggalkan aku mah. Dia sangat mencintai ku, pasti dia datang. Aku dan dia,mana mungkin menikah mah. Orangtuanya tidak menyetujui hubungan kami, sedangkan aku masih mengejar karir. Sekarang apa mah,aku tidak bisa bekerja lagi? pasti wartawan meliputi kondisi ku sekarang ini, yang tidak sempurna dulu. Aaaarrgghh.... Siapa pelaku yang sudah melakukan ini,kurang ajar kamu! Aku tidak akan membiarkan mu,bebas di luar sana! Tidak akan, tidaaaakkkk...!". Vanya, lagi-lagi memberontak. Para dokter dan perawat, langsung menangani Vanya dan menyuntik obat penenang.


Lena, menangis kesegukan meratapi nasibnya anak kedua ini. ponselnya berdering, tertera nama seseorang.

__ADS_1


"Apa! Tidak!Itu, tidak mungkin!". Lena, menangis meraung-raung. Tak mampu menopang tubuh, jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.


__ADS_2