
Camelia dan Leo, menikmati sepotong kue yang di bawa mommy Dwi.
"Aku heran sekali, segitunya kah kamu ingin membalas dendam kepada Ryan?". Tanya Leo, menyipitkan bola matanya. Hmmm.. Penasaran sekali,apa yang membuat dirinya begitu marah kepada Ryan.
Camelia, menceritakan alasannya menjebak Ryan. Itu semata-mata,cuman mengelabui Leo agar dia tak curiga.
"Hmmmm....Aku marah sekali,karena dulu bekerjasama dengan Gladis menyingkirkan ku ini. Yah...Aku cuman berpura-pura saja,baik kepadanya". Kata Camelia, tersenyum kecil.
"Apa kamu tidak kasian kepadanya, lihatlah keluarganya hancur dan dia di usir dari apartemen kakaknya sendiri". Kata Leo,masih tak percaya dengan ucapan Camelia.
"Aku tidak perduli dengan keluarganya,yang jelas aku cuman berurusan sama Ryan". Jawabnya Camelia, melirik ke arah Leo. Keluarganya hancur karena aku, Leo. Kau tidak tau apa-apa, tentang masalah ku dan keluarganya.
"Sudahlah,jangan memikirkan balas dendam kepada Ryan. Aku sudah kasian sekali, malihat kondisinya sekarang. Jagalah kesehatan mu, jangan menyusahkan orang lain". Kata Leo, membuat Camelia mengangkat kedua bahunya.
"Aku tidak janji, Leo. Sebelum balas dendam ku terbalaskan, tidak akan pernah aku lepas". Camelia, tersenyum dan menggigit kue di tangannya.
Leo, menghela nafas beratnya. "Asalkan jangan melakukan balas dendam di kafe ku,paham! Jangan sampai nama kafe ku, di pandang buruk oleh orang lain".
"Hmmm... Baiklah, asalkan jangan ikut campur dalam urusan ku. Termasuk juga, jangan memberitahu kepada siapapun". Kedip mata Camelia, tersenyum manis.
Leo, mengangguk pelan dan mencomot sepotong kue buatan sang ibunya.l
"Aku yakin sekali,Anya sangat marah kepadaku. Karena kamu menemui ku di rumah sakit ini, masalah baru lagi. Kau sama saja, menyusahkan orang lain". Sungutnya Camelia, mengibas-ngibas tangannya.
"Jika Anya, melakukan apapun terhadap mu. Katakan saja kepadaku,biar aku menyelesaikan masalah-masalahnya. Paham!". Tegas Leo, dengan wajah datar.
__ADS_1
"Menyelesaikan masalahnya gampang kok, kecuali kamu mengungkapkan perasaan kepadanya. Itupun jika kamu menyukainya,sih! Atau tidak, katakan saja kamu tidak menyukainya. Masalah akan beres,dia tak akan berharap kepadamu lagi". Saran Camelia, cekikikan menahan tawanya.
Leo, memutar bola matanya dengan memelas. "Edehhh... Untuk kali ini,aku tidak menyukainya siapapun. Paham! Kalau perempuan lain, menyukai ini. Wajarlah, tidak ada yang marah karena aku tampan". Leo, memainkan kedua alisnya.
"Elehhh... Pede banget sih!". Camelia, menggeleng kepalanya.
Leo, cekikikan tertawa mendengar ucapan Camelia.
"Gak ada yang lucu,malah tertawa". Gumam Camelia, memandang lekat wajah Leo. Tampan sih? Tapi,kau bukan tipeku karena hatiku sudah di penuhi nama Jhonny.
Apa benar,kamu tidak menyukai ku? Aaah... Rasanya tidak mungkin, tatapanmu berbeda dan tidak bisa di bohongi.Batin Leo, mengulum senyumnya.
Cukup lama mereka berdua, berbincang hangat. Seperti teman pada umumnya,namun di sekolah nanti. Seakan-akan tidak saling akrab,tak ingin mendapatkan masalah baru.
**************
"Vanya, makanlah kasian anakmu di dalam perut. Dia tidak bersalah nak, jangan menyiksa diri". Lena, menyentuh tangan anaknya.
"Aku tidak sanggup hidup lagi,mah. Apa kata orang di luar sana,aku hamil tanpa suami. Hidupku benar-benar hancur mah, sumpah Katrina benar nyata dan kita mengalaminya. Aku sadar mah,karena keserakahan membuat kita lupa segalanya. Tanpa Katrina,kita tak bisa merasakan kehidupan mewah. Aku menyesali perbuatanku mah,kita membunuh Katrina yang tidak bersalah apapun. Dia memungut kita, membiayai segalanya dan mengangkat derajat kita". Ucap Vanya,dalam isak tangisnya.
"Vanya, sudah jangan membahas tentang ini lagi. Kita sudah meminta maaf,di makamnya katrina. Nasi sudah jadi bubur, tidak akan terulang lagi". Lena,merasa sesak di dadanya.
"Ini karma mah, untuk kita. lihatlah, apa yang terjadi pada keluarga kita? Satu persatu hancur,tanpa sisa dan sejatuh-jatuhnya. Coba saja, kita tidak mengikuti saran pak tua itu. Kehidupan kita tenang,damai, walaupun pas-pasan. Tidak ada beban pikiran,karma sebesar-besar ini". Vanya,memukul dadanya terasa sakit.
"Vanya,cukup! Makanlah nak, sedikit saja tak masalah. Jangan menyiksa dirimu, pasti ada kehidupan baru yang lebih baik". Lena,membujuk anaknya.
__ADS_1
"Tidak ada mah, semuanya hancur. Tidak ada kehidupan baru lagi, pandang aku mah! Darimana aku mendapatkan kehidupan baru,yanga ada suram seumur hidupku. Ketika aku melahirkan nanti,lalu darimana mendapatkan uang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Apakah mamah, ingin bekerja dan menjaga cucu? Kondisiku seperti ini,mah". Vanya, mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
Lena,tak sanggup mendengar ucapan anaknya. Berlalu pergi meninggalkan keluar kamar, menutup pintu dan menangis kesegukan.
Apa yang di katakan anaknya, memang benar. Tidak ada lagi, kehidupan baru dan menjadi lebih baik. Apa lagi, keadaan Vanya kakinya sudah diamputasi dan tengah mengandung.
Vanya,di dalam kamar menangis meraung-raung. Sesekali dia memukul perutnya,tak terima dengan janin di dalamnya.
Matanya tertuju pada sebuah benda tajam,dia mengambilnya. Benda tajam berupa gunting, matanya memandang lekat. Air matanya mengalir deras, mengingat kembali tentang Andreas yang sudah menaruh luka yang dalam.
Lena,yang berlahan-lahan meninggalkan pintu kamar anaknya. Meskipun usianya tak muda lagi,ada keinginan untuk bekerja. Satu persatu teman sosialitanya, menjauhkan diri dan tak bisa di hubungi lagi.
"Apa Vanya, memiliki banyak tabungan? Aku bisa membuka usaha kecil-kecilan, misalnya membuka toko atau lainnya. Yah...Aku temui Vanya,". Lena, tergesa-gesa menuju kamar anaknya dan membuka pintu.
"Vanyaaaa....!". Teriak Lena, melihat anaknya sudah bersimbah darah. Rupanya Vanya, menusukkan gunting di bagian perutnya.
"Vanya! Vanya,jangan tinggalkan mamah! Cuman kamu satu-satunya anak mamah,Vanya! Bangun nak, jangan tinggalkan mamah!". Lena,tak menyangka anaknya benar-benar nekad bunuh diri.
Lena, meraung-raung menangis dan meminta tolong kepada orang sekitar. "Tolong!Tolong! Tolong,anak saya! Tolong,anak saya!".
Vanya, secepatnya di larikan ke rumah sakit. Tapi sayang, nyawanya tidak tertolong lagi. Hati sang ibu mana,yang tidak sakit hati. Melihat anak-anaknya,satu persatu melayangkan nyawa.
Kematian Vanya, menggemparkan dunia hiburan dan maya. Begitu juga Camelia, terkejut mendengar berita tersebut. Tetapi,dia sangat senang karena musuhnya kalah lebih dulu.
"Hahahaha...Aku menyukainya, selamat atas kematian mu Vanya. Hahahaha....Uhuk...Uhuk...!". Camelia, terbatuk-batuk karena tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Makanya jangan serakah jadi orang, lihatlah ibu mertuaku. Anak kesayangan mu,mati satu persatu dan tinggal dirimu saja. Aku tidak sabar mengungkapkan semuanya, tanganku sudah gatal untuk membalas dendam ku. Masih ingat kok, kata-kata tajam kepadaku. Nyawa harus di bayar nyawa, bernafas lega lah untuk sementara. Ke depannya nanti,aku akan membuat ibu mertua tak bernafas lagi". Ucap Camelia, menyeringai tajam.