
Rendy, menahan rasa perih di bagian pipi kanannya. Darah segar mengalir deras, Camelia melakukannya tanpa perasaan sedikitpun.
Camelia, menggores pipinya dengan belati tajam di tangannya. Dia tersenyum sumringah, melihat Rendy meringis kesakitan. Itupun belum bisa mengobati rasa sakit di hatinya,apa yang Rendy lakukan. Tidak akan bisa mengembalikan buah hatinya,di bunuh oleh mereka.
"Kau lupa seseorang di belakang mu, Katrina". Kata Jhonny, dengan lantang. Inikah jiwa Katrina,balas dendamnya sudah memuncak Setidaknya aku tak akan mengganggu kesenangannya ini,agar dia puas sampai ke akar-akarnya.
Jadi,Tuan Jhonny mengetahui siapa jiwa di tubuh keponakannya? pantas saja, perasaanku berbeda ketika berhadapan dengan camelia. Rupanya jiwa dia adalah Katrina,yang masih berstatus istri ku.Batinnya Rendy, menggeleng pelan.Rendy, nampak tak percaya dengan ucapan Benar-benar rapat rahasia sebesar ini, sampai tidak di ketahui oleh siapapun."Tuan Jhonny, mengetahui siapa dia?".
"Tentu saja dia tau, bahkan masa laluku. Dia adalah pria pengecut,tak berani mengatakan yang sebenarnya. Seandainya dulu,kau memberitahu ku siapa anak laki-laki itu. Kemungkinan besar, keponakan mu masih ada. Aku tidak akan kehilangan semuanya, Jhonny. Di sini aku, benar-benar kecewa dengan mu". Air bening mengalir deras di kedua pipinya, matanya tertuju pada Jhonny yang berdiri tegak.
"Kau salah Katrina,aku beruntung menutupi semuanya. Karena ini jalan terbaik dari Tuhan,jika aku memberitahu anak laki-laki itu. Kemungkinan,aku tidak pernah melihat keponakanku tertawa, tersenyum,manja, cerewet, berjalan dan lainnya. Sebelum kau masuk kedalam tubuh Camelia,dia sudah tidak bernyawa lagi. Aku meminta kepada dokter, sebelum 24 jam. Semua alat medis di tubuh mu,aku tidak mengizinkan mereka melepasnya. Aku terdiam, bingung, frustasi mendengar perkataan dokter. Jika keponakan ku, tidak bisa di selamatkan. Namun, dokter mengatakan beberapa jam kemudian. Kau bangun dari koma,dari situlah aku sempat tak percaya. Pertama kali memeluk,aku sudah merasakan sesuatu yang beda. Dokter mengatakan kau baik-baik saja,padahal kepalamu sudah pecah dan darahnya terus keluar. Karena keajaiban dari Tuhan, seakan-akan dirimu tidak mengalami kecelakaan. Diam-diam aku memperhatikan gerak-gerik mu, sangat jauh berbeda. Lama-kelamaan,rasa curigaku terkuak kebenarannya. Jika dirimu bukan Camelia, melainkan jiwa orang lain. Seiring waktunya berjalan, akhirnya terbukti siapa kau sebenarnya". Kata Jhonny, dengan santai.
Camelia, terduduk lemas mendengar ucapan Jhonny. Dadanya terasa sesak, menangis itulah yang dia lakukan.
"Jika aku memberitahu semua,aku cuman bisa memandang kuburan Keponakan ku. Tidak bisa berkata apa-apa lagi, sekarang aku bisa membawanya kemana. Meskipun, jiwanya bukan Camelia. Aku tau, berat menerima semuanya ini. Mungkin benar, seiring waktunya akan terbiasa. Perasaan antara paman dan keponakan, benar-benar berubah drastis. Apa lagi jiwanya bukan Camelia, melainkan jiwa orang lain". Sambung Jhonny, tersenyum kecil.
Rendy,syok mendengar ucapan Jhonny dan menatap ke samping. "Katrina, maafkan aku. Aku sungguh menyesali semuanya, berikanlah kesempatan untuk ku".
"Silahkan, kau eksekusi sesuka hati mu Katrina. Lampiaskan balas dendam mu,aku tidak akan mengganggu sedikitpun". Jhonny, langsung berbalik badan dan melangkah pergi.
"Menangis darah pun,aku tidak akan mengampuni mu. Aku tidak akan pernah mengubah pikiran ku,paham!". Bentak Camelia, langsung menoleh tajam ke arah Rendy.
Meskipun Rendy, memohon kepada Katrina dan mengingat masa-masa indah bersama. Tetapi, Katrina muak mendengar cerita Rendy dan semakin geram saja.
__ADS_1
Satu anak buahnya,membuka peti yang di bawa. Bermacam-macam alat untuk penyiksaan, membuat Rendy semakin ketakutan.
"Lepaskan! Lepaskan,aku!". Teriak seseorang, Doni sudah di tangkap anak buah Jhonny.
"Tuan Jhonny, apa-apaan ini? Kenapa aku di seret paksa,tuan lepaskan aku! Aku tidak melakukan kesalahan apapun, lepaskan!". Doni, meronta-ronta tangannya di ikat kuat. "Rendy, kamu ada di sini? Ada apa ini,apa kamu membuat kesalahan besar. Aaarghhh... Dasar pembawa sial,kamu!". Bentak Doni, sekeras mungkin.
"Bawa mereka ke halaman belakang, mereka milikku". Perintah Camelia, tangannya sudah siap untuk memberikan hukuman kepada mereka.
Doni, terkejut melihat Camelia tak seperti biasanya. "Nona, maksudnya apa ini? Apa ada sesuatu yang tidak beres, katakanlah! Tuan Jhonny, katakan sesuatu kepadaku! Tuan!Tuan!". Teriak Doni,yang di seret paksa ke halaman belakang.
Jhonny, berlalu keluar villa dan masuk kedalam mobil. Entahlah, kenapa dia membiarkan Katrina menyelesaikan masalah-masalahnya. Dia tidak berhak ikut campur, baginya bukan urusannya.
Di halaman belakang, Camelia sudah panjang lebar menceritakan semuanya.
Lagi-lagi Rendy, menyangkalnya dan memang benar dia adalah Katrina.
Dor!
Dor!
Masing-masing kaki mereka, mendapatkan satu tembakan dari Camelia. Mereka berdua berteriak keras, menahan rasa sakit.
Camelia, tertawa terbahak-bahak menyaksikan mereka berdua kesakitan. "Hahahahha.... Hahahaha.... Inilah pembalasanku,paman. Bagaimana dengan anakmu, Clara? Hahahahha.... Hahahahha....Yah, akulah merusak wajahnya. Akulah, membongkar perselingkuhan kalian. Bagaimana paman,menarik bukan? Kehidupan kalian, benar-benar hancur". Seringai tajam Camelia,puas dengan semuanya.
__ADS_1
"Aaarghhh...Kamu benar-benar jahat, berhati iblis Katrina! Kurang ajar kamu,ha!". Bentak Doni, meronta-ronta.
"Apa tadi, katakan Rendy siapa yang berhati iblis?". Camelia, menekan belati tajam di telapak tangannya.
"Kami,kami yang berhati iblis dan serakah". Jawab Rendy,yang sudah ketakutan.
"Hahahahha...Eee...Kau dengarkan paman,siapa yang berhati iblis!". Camelia, menusuk telapak tangan Doni sampai tembus.
"Aaaarrgghh..... Sakiiitttt...! Hentikan!". Teriak Doni,air matanya menetes sudah. Sorotan mata Camelia, terlihat sangat jelas. Jika dirinya tidak akan memberikan ampun,apa lagi mendapatkan kesempatan satu kali.
Camelia, menyiram bensin ke kaki mereka masing-masing. Tangannya sudah siap dengan korek api, menyaksikan kaki mereka terbakar.
"Tidak! Jangan lakukan itu, hentikan! Jangan lakukan itu, hentikan!Ampuni pamanmu ini, Katrina!". Doni, sudah meronta-ronta. Keringat bercucuran membasahi kening dan tubuh mereka berdua.
"Katrina,masih kurang kah balas dendam mu. Kamu sudah melenyapkan nyawa Bella dan anak-anaknya ku. Setidaknya, sudah terbalaskan dendammu. Aku mohon ampunan darimu". Pinta Rendy, meminta iba kepada Katrina tersenyum smrik.
"Oh, tidak bisa suamiku sayang. Mereka berdua pantas mati,kalian sudah banyak memanfaatkan kebaikan ku. Setelah selesai dengan kalian, barulah dengan bibi Linda,ibu mertua Lena dan adik ipar lainnya". Kekehnya Camelia, menjatuhkan korek api di kaki Doni.
Api membakar kaki Doni,dia berteriak-teriak histeris kakinya terbakar. "Aaaaaaaa....Aaaaaaaa....Panas!Panas!Ampun!Ampuuun...!".
Rendy, bergidik ngeri melihat penyiksaan Camelia. "Kau dengarkan Rendy, paman Doni meminta ampun kepada ku. Seperti itulah,ketika aku meminta ampun kepada kalian. Tapi,kalian malah menjadi-jadi menghabisi nyawa ku. Jadinya,aku benar-benar menghabisi kalian. Yeeee.... Hahahahha..!". Camelia, kegirangan loncat-loncat melihat mereka berdua kesakitan.
"Katrina! Kamu sudah gila! Wanita gila,kamu!". Teriak Rendy, penuh amarahnya.
__ADS_1
"Hahahahha.... Hahahhaa.. Benar sekali,aku sudah gila! Gila, ingin menyiksa kalian sampai mati". Sahut Camelia, bertepuk tangan.