
Jhonny, langsung memalingkan wajahnya dan tidak terkena ciuman Camelia di bibirnya.
Camelia, terkejut karena Jhonny langsung menghindari ciumannya dan terkena pipi kanan.
Maksudnya apa,dia malah menghindari? Sialan,apa aku di kerjainya.Batin Katrina, dengan perasaan dongkol.
"Lupakanlah, Camelia. Aku cuman mengerjai mu". Kata Jhonny, beranjak berdiri dan menjauhkan dirinya. "Kenapa harus di robohkan perusahaan sean, Camelia? Coba kamu pikir-pikir lagi,jika aku membeli perusahaan Sean dan sementara waktu ini,biar aku mengurusnya sampai kamu lulus sekolah. Setelah lulus, barulah kamu lanjutkan dan di awasi olehku ku.Aku jamin sekali,kami bisa mengurus perusahaan sambil kuliah. Kalau di ratakan bangunannya, sangat di sayangkan". Jhonny,masih kebingungan jalan pikir keponakannya.
Tidak! Aku tidak akan membiarkan perusahaan Sean,tetap berdiri tegak. Apa lagi di genggaman tangan, Jhonny. Walaupun perusahaan itu,pindah tangan. Tetapi,paman Doni masih berpegang kepada perusahaan Sean. Sebentar lagi, Jordan akan menjadi menantunya paman Doni. Bujuk rayunya sang ayah ,kepada anaknya Clara itu pasti. Agar paman Doni, bisa masuk kedalam perusahaan Sean dan ikut campur. Aku tidak membiarkan itu terjadi, perusahaan itu harus rata. Takutnya Rendy,malah ikut bergabung karena mengancam paman Doni atas kematianku.Batin Katrina, mengepalkan tangannya dengan erat.
"Aku tidak setuju paman, intinya perusahaan itu harus rata. Di bangun apartemen ataur perumahan elit ,aku menginginkannya. Sangat cocok di bangun apartemen, bisa membantu karyawan biasa untuk tempat tinggal. Harganya terjangkau dan peralatan lengkap. Lumayanlah tiap bulan ada pemasukan,hitunglah jumlah penghasilannya pasti banyak untung.Tanpa memikirkan berkas-berkas perusahaan,dan lainnya .Palingan susah di tagih nanti, sedikit menguras emosi". Camelia,tetap bersikukuh untuk meratakan perusahaan tersebut.
Satu persatu harta milikku,akan ku rampas dan diratakan.Setelah perusahaan dapat,tinggal kediaman Sean aku rebut. Tak akan aku biarkan mereka semua, menikmati hartaku.Batin Katrina, tersenyum smrik.
Jhonny,menghela nafas beratnya. "Kamu pikir-pikir dulu soal itu,jangan gegabah Camelia. Sangat di sayangkan,jika diratakan perusahaan Sean. Masih banyak kegunaannya,tanpa harus merobohkan bangunan itu".
Aneh sekali Camelia, ingin membangun kontrakan bertingkat. Katanya lumayan penghasilan perbulan, apakah dia seperti kekurangan uang? Astaga,harta kekayaan mu tak akan habis sampai tujuh keturunan.Batin Jhonny, kepalanya sudah nyut-nyutan memikirkan keponakannya.
Camelia, memasang wajah cemberutnya. Menuju ke samping ranjang, merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.
Mungkin dengan merajuknya aku, Jhonny akan mengabulkan keinginanku.Batin Katrina, langsung memejamkan mata.
Jhonny, menggeleng kepalanya dan ikut berbaring di samping Camelia. Tiba-tiba saja, Camelia membelakangi pamannya.
Degggg...
Jhonny, memeluk erat tubuh Camelia dari belakang.
Sialan!Apakah kehidupan sebelumnya Camelia, seringkali di peluk pamannya?Bukan cuman di peluk,tapi di cium juga.Aaarghhh...Jantungku berdebar-debar, Katrina kamu sabar dan sabar.Batin Katrina, meremas selimutnya.
"Jangan marah,aku akan menuruti kemauan mu". Bisik Jhonny, membuat Camelia tersenyum sumringah. Belum apa-apa, Jhonny sudah luluh begitu saja.
"Ck, pembohong besar! Nanti-nanti bakalan di bahas lagi,sayang di robohkan perusahaan Sean, ngapain membangun apartemen atau perumahan elit, memalukan keluarga Allen saja,inilah,itulah, menyebalkan". Gerutu Camelia, melepaskan tangan Jhonny melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, tidak akan membahasnya lagi". Kata Jhonny, menenggelamkan wajahnya di leher Camelia. Apa dia marah, takut jika aku tidak akan mengabulkan keinginannya? Sial,aku membuatnya merajuk dan kecewa.
Bulu halus seketika meremang, Camelia semakin gugup tak karuan. Aaarghhh... Jhonny,kau benar-benar menggodaku.Batinnya Katrina, perasaannya campur aduk Sudah.
"Paman,apa yang kau lakukan? Kenapa, leherku di gigit". Pekik Camelia, langsung membalikkan badannya.
Degggg...
Bagaimana Camelia, tidak terkejut? Wajah mereka berdua sangat dekat,tanpa berkedip memandang wajah tampan Jhonny.
"Tidurlah,aku harus pergi". Kata Jhonny, mengelus-elus rambut panjang Camelia. Memecahkan suasana canggung, ponsel Jhonny tiba-tiba berdering. "Janji secepatnya kamu mendapatkan perusahaan Sean, jangan marah lagi. Tidurlah yang nyenyak, besok kamu sekolah".
"Mau kemana paman? Siapa yang menghubungi,paman?". Camelia, menahan lengan pamannya. Samar-samar mendengar suara wanita lain, seakan-akan dirinya tak rela Jhonny menemui wanita itu.
"Ke club malam,". Jawabnya Jhonny, berlalu meninggalkan kamar Camelia.
Camelia, tersenyum smrik dan mulai beraksi. Kepergian Jhonny, sebuah anugerah baginya dan bersiap untuk pergi diam-diam dari mansion. Mengenakan serba hitam,jaket, celana panjang,topi dan rambut palsu. Tak lupa membawa sarung tangan,itu sangat penting baginya dan beberapa lembar uang di bawanya.
Agar tidak ketahuan oleh siapapun, Camelia merebahkan boneka dan membuat gundukan seperti dirinya tidur di atas ranjang.
Beberapa menit kemudian, Camelia sudah masuk kedalam taksi. Awalnya berniat untuk pergi kediaman Sean, apa lagi untuk menakuti-nakuti mereka di sana.
Mobil taksi yang di tumpanginya, berhenti di lampu merah. Matanya tertuju pada sebuah mobil,tepat di sampingnya.
"Gladis". Gumam Camelia,pelan. "Pak, ikuti mobil itu". Pintanya, langsung di angguki sang sopir.
Akhirnya Camelia, mengurungkan niatnya pergi kediaman Sean dan mengikuti Gladis bersama seseorang di dalam mobil.
10 menit perjalanan mengikuti Gladis, tibalah di sebuah perumahan. Membuat Camelia, mengerutkan keningnya.
"Ngapain Gladis,ke sini dan masuk kedalam rumah? Tetapi,pria bersamanya tak semuda pria pada umumkan. Astaga, Gladis masih anak sekolahan. Jangan-jangan itu,sugar Daddy nya. Aku punya ide cemerlang,". Gumam Camelia, tersenyum sumringah.
Diam-diam Camelia,menyusup , ke dalam rumah di masuki Gladis dengan seorang pria. Sungguh keberuntungan baginya, pintu belakang tak di kunci. Berlahan-lahan Camelia, mendengar suara aneh di ruang tamu.
__ADS_1
Glekkkk...
"Aaahh.... Aahhh...Oughh...Om, enak! Sshhhttt.... Terusssss...Aaahh....Yah...Yah...". Gladis, menikmati permainan seorang pria yang memanjakan di daerah sensitifnya.
Diam-diam Camelia,merekam aksi Gladis bersama pria sudah berumur.
"Senjata utama sudah aku dapatkan,". Gumam Camelia, melangkah pergi meninggalkan dua sejoli tengah bercinta.
Ada ide terlintas di benaknya, secepat kilat Camelia membuka gas agar keluar. Apa lagi untuk memberikan pelajaran kepada mereka berdua, tak sabar menunggu kabar besok hari.
Tak lupa Camelia, menghilangkan jejaknya. Jangan sampai ketahuan,bisa gawat darurat nantinya.
"Semoga panjang umur, Gladis". Ucap Camelia, tersenyum smrik.
Berlalu meninggalkan perumahan elit tersebut, masuk kedalam mobil taksi yang baru di pesannya dan pulang ke mansion.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ledakan lumayanlah keras. Bagaimanakah nasib Gladis,masih hidup atau mati?.
**************
Karen masih ada waktu,ini adalah kesempatan emas untuk mengerjai di kediaman Sean.
Camelia, diam-diam masuk kedalam tanpa di ketahui oleh siapapun. Tibalah masuk kedalam kamar,yang di tepatinya dulu.
Katrina,menyeka air matanya teringat kenangan indah di kamar ini. Dimana dulunya sangat mencintai Rendy, menghabiskan waktu bersama. Nyatanya semua itu, cuman bohong semata.
Matanya tertuju pada sebuah brangkas, berharap kode tidak di rubah Rendy. Yang tau cuman dirinya dan Rendy,tanpa siapapun yang tau.
Klik...
Ada senyuman kecil di sudut bibirnya, Camelia. Brankas terbuka, rupanya Rendy belum mengganti pin. Di dalam brangkas, terdapat aset-aset berharga dan sertifikat lainnya. Ada beberapa gepok uang, langsung memasukkan ke dalam plastik hitam yang di bawahnya.
Selesai mengambil semuanya dan menyisakan berkas-berkas tidak terlalu penting. Ada juga sertifikat perusahaan Sean dan sertifikat kediaman Sean,tak lupa Camelia memberikan tanda di kaca untuk menakuti-nakuti Rendy.
__ADS_1
"AKU KEMBALI SAYANG, KATRINA"
Matanya tertuju pada lemari,dia membukanya dan terlihat baju-baju miliknya. Ada rasa sesak di dadanya,dia langsung mengambil gunting dan merobek-robek semua baju miliknya. Hatinya sudah memanas, menahan rasa amarahnya. Dia membuka laci,dimana perhiasan miliknya sudah lenyap entah kemana. Tanpa berpikir panjang lagi,dia langsung bergegas keluar dari sini.