
Putri, menahan rasa perih dan malu. Pipinya di tampar oleh Gladis, sudah lancang berbicara seperti tadi..
Yang lainya terdiam membisu, putri tertunduk dan ketakutan. Ck, untuk saat ini. kau masih bersikap sombong, Gladis. Dalam hitungan beberapa menit,kau mendapatkan ejekkan seisi sekolahan ini. Belum lagi ejekkan orang-orang luar sana, termasuk orangtuamu.Batinnya putri, menyunggingkan senyumnya.
"Jaga ucapanmu Putri,jangan sampai aku menoreh luka di wajah cantik mu. Aku yakin sekali, Ryan sudah mencuri bukti-bukti itu". Gladis, mengontrol dirinya dan menatap tajam ke arah putri. Baginya Putri,bukan apa-apa. Dia bisa menghancurkan keluarga nya langsung, membuat putri tak berani lagi.
Putri, langsung bersimpuh di hadapan Gladis. Walaupun dia tidak terima dirinya,di rendahkan tepat di hadapan yang lainya. "Maafkan aku Gladis,mohon ampun!". Pintanya dengan mengiba,di dalam hatinya menaruh rasa benci. Untuk saat ini,aku berpura-pura meminta maaf kepadanya.
"Makanya jangan sok-sokan belagu, ingatlah putri siapa Gladis? Kamu dan keluargamu,bisa jatuh miskin karena sudah menyinggung perasaan Gladis". Ejek Yumna, tersenyum smrik.
"Sudahlah,cari Ryan dan bawa ke sini!." Perintah Gladis,yang sudah gelisah gusar.
Delima dan lainnya, langsung bergegas mencari Ryan. Cukup lama mereka menunggu,namun tidak ada tanda-tanda kedatangannya.
Tak berselang lama Arsen,datang dan menemui Gladis sambil memijit pelipisnya
"Aku dari parkiran, tidak ada melihat mobil Ryan. Waktunya cuman hari ini, mengakui perbuatanmu atau Camelia membongkar semuanya. Bukan hanya kamu yang hancur, melainkan aku dan lainnya. Aku yakin sekali, Ryan sudah tertangkap atau mengkhianati dirimu". Arsen,geram terhadap Gladis yang masih berstatus kekasihnya itu.
"Arsen, jangan menambah beban pikiran ku. Mana mungkin Ryan, mengkhianati ku dan berpihak kepada Camelia. Sedangkan Ryan, sangat mencintai ku. Seharusnya kamu paham soal itu, selagi Ryan tidak mengetahui hubungan kita". Ucap Gladis, mengigit bibirnya.
"Yakin, Ryan tidak mengetahui hubungan kita? Aku mencurigai Camelia,cuman dia mengetahui segalanya. Apa jangan-jangan Camelia, bertujuan untuk menghancurkan kita". Arsen, mengacak-acak rambutnya.
"Sial, aaarghhh....Aku tidak mau mengakuinya,Arsen. Mau taruh dimana wajahku, seisi sekolahan akan mengejek-ejekku. Belum lagi, mendapatkan pelajaran dari orangtuaku. Karena sudah melakukan kejahatan, terhadap Keponakannya Tuan Jhonny. Aku,". Gladis, mondar-mandir tak karuan.
"Mengakui perbuatanmu,atau aku yang mengatakan semuanya. Ingatlah Gladis,aku akan memutuskan hubungan ini". Ancam Arsen, melangkah kakinya.
Gladis, langsung mencegah kepergian sang kekasih. "Arsen,apa kamu tidak memikirkan perasaan ku ha? Setidaknya kamu beri aku solusi,ini malah menyudutkan diriku".
"Aku sudah memberikan mu solusi, Gladis. Akui saja perbuatan mu,apa susahnya ha? Palingan cuman beberapa hari, mereka akan melupakan kejahatan mu dan berhenti membulimu". Arsen, menepis tangan kekasihnya. "Aku tidak mau keluarga hancur,ingat itu".
Arsen, langsung pergi meninggalkan Gladis yang menangis kesegukan sendirian.
Ting...
__ADS_1
Sebuah pesan masuk dari Ryan, awalnya tersenyum. Setelah membaca pesannya, tubuhnya merosot ke bawah.
[Aku gagal mencuri bukti-bukti, Camelia mengetahui semuanya. Mengakulah Gladis,agar keluarga kita aman].
"Aaaaaaa....Awas kamu, Camelia! Aku akan membalas semuanya, aaarghhh...!". Gladis, mengamuk-ngamuk. Bu
*****************
Group The Queen, memasuki aula sekolah dan murid-murid lainnya.
Camelia, tersenyum sumringah melihat kedatangan Gladis yang sendirian. Tumben sekali,dia tidak bersama group kesayangannya dan kebanggaannya itu.
Masuklah kakak kelas,ketua OSIS dan anggota lainnya. Aula semakin ramai jadinya,karena acara segera dimulai.
"Harap semuanya diam,duduk di bangku masing-masing". Kata Leo, sang ketua OSIS.
Aula sekolah tadi sangat ramai,kini hening seketika.
"Kamu yakin berhasil?". Bisik Cika, menyenggol lengan Rika.
"Kalau tidak berhasil, rencana B ada lagi". Sahut Camelia, tersenyum manis.
Layar lebar susah menyala, bertanda akan di mulai acaranya. Akan tetapi,bukan mata pelajaran yang di bahas. Melainkan sebuah rekaman Group The Queen, menuangkan sesuatu di tangga. Tak berselang lama Camelia,tengah berjalan menuju tangga.
"Video apa?".
"Tapi, tempatnya kaya familiar".
"lihatlah,itukan group The Queen. Ngapain mereka calingukan melihat sekeliling?".
"Apa yang mereka lakukan di tangga".
"Itu, mereka menuangkan sesuatu di lantai tangga".
__ADS_1
Banyak lagi murid-murid lainnya, menebak dan bertanya-tanya. Semakin ricuhlah seisi ruangan aula sekolah. Sedangkan Gladis dan group The Queen perempuannya. Sudah gelabakan karena ketahuan,aksi kejahatan mereka.
Camelia, mengetahui ada yang janggal dengan tangga dan menghentikan langkahnya. Ketika berbalik badan, tiba-tiba Gladis langsung mendorong dan Camelia terjatuh sampai kebawah.
"Aaaaaa....!". Yang lainya, terkejut melihat Camelia yang jatuh. Semua murid-murid lainnya, menegang dan terdiam
Seisi aula sekolah, tercengang ke arah Gladis gemeteran dan luruh di lantai. Para group The Queen,cuman bisa menunduk dan ketakutan.
Prok!prok!prok!
Camelia, berjalan ke arah Gladis dan group The Queen. Tak lupa di iringi dengan tepukan tangannya, mereka yang selalu di rendahkan dan di curigai atas kecelakaan Camelia. Kini merasa senang,karena Camelia membongkar siapa pelakunya.
"Sesuai perkataan ku,satu minggu aku ber jatah untuk mengakui perbuatan kalian. Tetapi,di abaikan saja. Sekarang kalian sudah ketahuan,bukan kalian saja yang hancur. Tetapi, keluarga kalian ikutan juga. Aku sudah menyerahkan semuanya kepada pamanku, Jhonny". Camelia, menyunggingkan senyumnya.
Para group The Queen, saling melirik satu sama lainnya. Pertama adalah Putri,maju ke depan dan bersimpuh di hadapan Camelia.
"Aku minta maaf Camelia, mohon ampunan darimu. Aku terpaksa ikut-ikutan,karena Gladis mengancam ku". Kata putri,mengiba kepada Camelia. Air matanya mengalir deras, berharap di ampuni Camelia.
"Kami juga Camelia, terpaksa melakukan hal ini. Kami di ancam Gladis,kami terpaksa melakukannya. Mohon ampunan mu,Camelia". Di ikuti Group The Queen, lainnya.
Gladis, mengepalkan kedua tangannya. Sungguh tak menyangka, temannya mengkhianati dirinya.
"Sudah aku katakan dari awal,kenapa kamu tidak mengakuinya Gladis? Sekarang kita berada di ambang kehancuran, ini semua salahmu". Putri, sudah marah padam terhadap Gladis.
"Camelia, mohon ampun jangan hancurkan keluarga kami. Jika itu terjadi, kemungkinan kami tidak di anggap anak oleh kedua orangtua kami". Yumna, sudah ketakutan. Bagaimana nanti,ketika di pulang ke rumah? Sudah pasti kedua orangtuanya, menghajar mereka habis-habisan.
"Hahahaha....Kalian meminta maaf kepada ku,lalu mengiba dan bermohon-mohon. Lalu, bagaimana dengan kalian? Mencelakai ku, tanpa rasa kasian. Hemmm...Mana mungkin,aku mengampuni kalian semua. Itulah resiko yang harus di hadapi, makanya jangan sok-sokan terhadap ku". Ucap Camelia, dengan tegasnya.
"Benar itu,jangan di beri ampun".
"Mereka sudah menyakiti kami, Camelia. Menuduh bahwa kami,yang melakukannya. Mereka menuduh kami,yang kasta rendah ini".
"Jangan di beri ampun, mereka memang pantas mendapatkan hukuman setimpal. Sudah berani menuduh kita,yang tidak bersalah sama sekali".
__ADS_1
Banyak lagi cibiran dari murid-murid lainnya, mereka semua tidak terima Camelia membiarkan begitu saja.