SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Bercerai


__ADS_3

Kedatangan Jordan, di apartemen Clara membuat dirinya merasa senang sekali. Berharap Jordan, membawanya ke mansion dan mengurungkan niatnya untuk bercerai.


"Tandatangan surat perceraian ini, sekarang juga!". Perintah Jordan, bagaikan belati tajam menusuk hatinya Clara. "Di dalam amplop coklat berisi uang,anggap saja ganti rugi selama ini".


Derai air matanya mengalir deras, angan-angan kebahagiaan kembali ke mansion sirna. Yang di dapatnya adalah luka yang paling dalam, menggeleng kepalanya masih tak percaya dengan sikap Jordan.


"Tidak! Aku tidak mau bercerai dengan mu, Jordan. Aku mencintaimu dengan tulus,apa kamu tidak tega melihat keadaan kami sekarang ha? Kamu menyakiti ku Jordan,". Clara, memukul dadanya.


"Jordan,kamu tidak punya hati. Sudah mencampakkan perasaan anakku,puas kamu ha! Mentang-mentang orang kaya raya, seenaknya membuang kami seperti ini". Linda, langsung memarahi Jordan.


"Aku seperti ini,karena pak Doni. Sudah mempermalukan keluarga kami,jangan salahkan aku". Bantah Jordan, dengan tatapan tajam.


"Tidak bisakah,kamu Sedikit saja kasian kepada Clara. Itu masalah ayahnya,kenapa Clara ikut-ikutan juga. Jordan, jangan ceraikan anakku. Satu-satunya harapan adalah kamu,jika kalian bercerai. Lalu, bagaimana keadaan kami dan tidak memiliki apapun? Clara, tidak bisa bekerja karena wajahnya". Linda,geram kepada Jordan karena sikapnya.


"Resiko dia tidak mau bekerja keras,mau enaknya saja. Jangan menyerah duluan, berusaha untuk bangkit. apapun pekerjaan,harus dilakukan dengan ikhlas. Meskipun gajih tak terlalu besar, tandatangani surat perceraian ini atau aku robohkan apartemen ini!". Ancam Jordan,yang tak main-main.


"Jordan,kamu keterlaluan sekali kepada kami ha! Aku kecewa dengan mu,". Teriak Linda, bagaimana dengan mereka nanti.


"Jordan, segitunya kah kamu ingin balas dendam kepada ku ha? Oke,aku akan tandatangani surat perceraian. Jangan pernah mengganggu kehidupan ku lagi". Clara,yang memendam perasaan benci. Dia langsung merampas surat perceraian itu, langsung di tandatanganinya. Ancaman Jordan, tidak pernah main-main. Daripada kehilangan tempat tinggal, lebih baik mengalah saja.


Linda, menggeleng kepalanya karena Clara sudah selesai mendatangani surat perceraian mereka.


Jordan, tersenyum kecil dan meninggalkan apartemen mantan istrinya itu. Tanpa menoleh ke belakang,karena dirinya tak pernah mencintai Clara sedikitpun.


Clara, meraung-raung menangis karena sudah sah berpisah dengan suaminya. Meskipun dia sudah menebak dari awal, pernikahan mereka tidak bertahan lama.


**************

__ADS_1


Camelia, tersenyum sumringah melihat kedatangan Leo dan anggota OSIS lainnnya.


Duduk manis di kantin,bersama temannya itu.


"Heran sekali, darimana Leo itu tampan?". Gerutu Camelia, mendengar murid perempuan yang memuji ketampanan Leo.


"Hussssttttt...Jangan mengejek ketos, takutnya kamu jatuh cinta lagi. Hihihi..!". Bisik Cika, menyenggol lengan Camelia.


"Biasanya loh,musuh jadi cinta". Bisik Rika, refleks Camelia memukul lengannya.


"Gila!jatuh cinta dengannya, amit-amit jabang bayi. Kaya gak ada cowok lain aja. Besok kemana yah, refreshing nih". Kata Camelia, sekian lama tidak liburan jauh.


"Gimana kita jalan-jalan ke gunung,terus ke pantai. Gimana,mau gak?". Usul Cika, langsung di angguki Camelia dan Rika.


"Bagus,kita jalan-jalan seharian penuh". Kekehnya Camelia, tersenyum sumringah.Melirik sekilas ke arah Leo, sedari tadi memandang ke arahnya.


"Rupanya nyali Ryan,kuat yah! Dia tetap santai dengan omongan mereka, memang sih. Dia tidak salah apapun,yang salah ayahnya". Bisik Cika, menyenggol lengan Rika.


Ryan,aku akui kamu sangat berani menantang perkataan mereka. Kasian sekali yah, tidak seperti dulu.Batin Katrina, tersenyum kecil.


Bruaakkk...!


"Diam! Jangan ada membuat kegaduhan di kantin,apa kalian pernah memikirkan perasaannya. Jika kalian di posisi Ryan,yang salah ayahnya bukan dia. Kalian tidak berhak berbicara seperti itu,paham!". Bentak Leo, menggebrak meja kantin. Seisi kantin sekolah,sunyi senyap tak ada yang berbicara lagi.


"Kalau kalian masih mengatai Ryan, macam-macam lagi. kami tak segan-segan, memberikan kalian hukuman. paham!". Sambung Anya, menatap ke arah mereka silih berganti.


Camelia dan temannya, meninggalkan kantin. Tidak mood, mendengar ocehan mereka yang tidak penting.Melirik sekilas Ryan, mendekati Leo tengah berbincang. Dia sangat penasaran sekali, kekepoannya meronta-ronta ingin tau.

__ADS_1


"Leo,aku dengar-dengar kamu membuka usaha kafe. Bisakah aku bekerja, setelah pulang sekolah. Aku membutuhkan pekerjaan, membantu keluarga". Ucap Ryan, menahan rasa malunya.


"Oke,pulang sekolah datang saja ke kafe Flower. Aku ada di sana,aku salut dengan sikapmu Ryan". Leo, menepuk pundaknya berlalu pergi dan di iringi lainnya.


****************


"Hhhmmmpptt.... Hhhmmmpptt...". Mulut Camelia,di bungkam oleh Jhonny. Dia leluasa menguasai seluruh mulut keponakannya, tidak memperdulikan Camelia cuman berbalut handuk yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Cukup,paman!". Camelia, mendorong tubuh kekar Jhonny. Kancing kemejanya sudah terbuka, memperlihatkan pemandangan indah.


"Berpakaianlah,ada sesuatu yang aku bicarakan". Ucap Jhonny, bergegas Camelia masuk ke ruang ganti pakaian.


"Huuu...Huu... Jhonny,kamu benar-benar yah. Sialan, jantungku berdegup kencang". Gumamnya,masih terasa ciuman mesra mereka tadi."Beruntung sih, tangannya gak kemana-mana. Padahal aku cuman menggunakan handuk, deg-degan di unboxing deh". Kekehnya pelan, sambil memilih pakaian.


Beberapa menit kemudian, Camelia keluar dan sudah berpakaian rapi. Dia duduk di meja rias, melihat Jhonny di pantulan cermin tengah mengotak-atik ponselnya.


"Paman Jhonny,mau berbicara apa tadi?". Tanya Camelia,mulai menyisir rambut yang panjang.


"Paman, tengah bingung dan ingin meminta pendapat darimu. Pak Doni dan pak Rendy, meminjam uang kepada paman. Tetapi, jaminannya tanah kediaman Sean dulu. Bagaimana Camelia,di pinjamkan atau tidak? Jangka waktu cuman 1 tahun,katanya". Ucap Jhonny, tersenyum kecil.


Matanya langsung melotot sempurna, mendengar ucapan Jhonny. "Terserah paman,aku tidak ikut-ikutan. Kalau mau pinjamkan saja,kalau tidak gak perlu". Jawab Camelia,jangan sampai masuk ke dalam perangkap Jhonny. Dia yakin sekali, Jhonny tengah mencurigai dirinya.


"Sebenernya mereka berdua, berniat untuk membuka usaha. Seperti restoran, lumayan besar jika restorannya nanti naik pesat keuntungannya". Jhonny,tak sabar menunggu reaksi Camelia.


Sialan,kalau mereka membangun restoran sama saja menikmati uangku. Sebab mereka meminjam uang kepada Jhonny, jaminannya tanah kediaman Sean dulu. Bagaimana ini,aku tidak boleh membiarkan mereka bahagia.Itupun kalau restorannya ramai,kalau tidak bagus lah.Batin Camelia, bingung harus berbuat apa.


"Hmmmm... Terserah paman saja,aku tidak bisa memberikan pendapat apapun". Alasannya Camelia, mengulum senyumnya."Aku menyarankan saja,jangan mau menuruti perkataan mereka. Mentang-mentang paman, selalu menolong dan meminjam uang dengan jaminan tanah. Takutnya, suatu hari nanti restoran mereka malah bangkrut. Karena tidak ada uang, terpaksa meminjam uang dan jaminannya restoran. Lama-kelamaan mereka bakalan ngelunjak paman, biarkanlah mereka berpikir keras". Saran Camelia, bersikap biasa saja.

__ADS_1


__ADS_2