
"Sialan,dapat darimana videoku". Gerutu Camelia,syok berat melihat aksinya di kelas Ryan. Dimana dirinya mengambil uang Dahlia,lalu memasukkan ke dalam tas Ryan.
"Sial, telpon tidak di angkat! Menyebalkan sekali,akan aku lacak keberadaan mu". Camelia, sangat marah karena diketahui oleh seseorang.
[Bagaimana, kalau video ini aku sebarluaskan? Aku yakin sekali,bukan kamu saja malu. Tetapi, keluarga Allen juga]. Misterius.
"Sial,dia benar-benar berani sekali bermain dengan ku". Gerutunya Camelia, langsung membalas pesan teror tersebut.
[Ck,kau beraninya cuman di pesan. Ayo, angkat telpon sekarang! Jangan macam-macam dengan ku,aku bisa melacak keberadaan mu].
[Lacak lah keberadaan ku,lacak nomor WhatsApp ini. Itupun kalau kamu bisa, rupanya menyenangkan sekali bermain dengan mu. Tapi, mempermalukan diri mu sangat menyenangkan sekali. Bagaimana caranya,kamu menghadapi Ryan dan lainnya?] Misterius.
[Ayo,kita ketemuan. Apa yang kamu inginkan, uang? Berapa yang kamu, katakan saja].
Semakin ke sini, Camelia merasakan sesuatu yang tidak beres. Seseorang misterius ini, sangat mengenal dirinya.
"Siapa dia? Pasti salah satu murid di sekolah,sial,sial". Camelia, memukul kepalanya.
[Aku tidak membutuhkan uangmu,aku sudah banyak uang dan bergelimang harta]. Misterius.
"Sialan, sombong sekali dia. Sampai tidak mau uangku,awas saja kamu. Aarrrghh...!". Camelia, semakin frustasi takut ketahuan aksinya dan jati dirinya sebenarnya.
[Lalu,apa yang kamu inginkan? Aku bisa memenuhi keinginan mu, asalkan ada batasnya. Katakan apa mau,jangan ngulanjak].
[Hahahaha...Aku tau,kau sangat marah dan gelisah gusar. Takut yah,aku mengirim video mu ke group sekolah. Aaah...Tapi,aku masih ingin bersenang-senang dengan mu. Dah...Aku sibuk dulu,kita lanjutkan nanti].
"Aaaarrgghh.... Brengseeekk...! Awas kamu, aku harus bergerak cepat". Gumamnya Camelia, langsung mengambil laptop dan melacak siapa pemilik nomor tersebut.
Jam dinding terus berjalan, berjam-jam melacak nomor tersebut. Hasilnya nihil,dia mondar-mandir di dalam kamar. Mengusap rambutnya dan wajahnya. Takut, itulah yang di rasakan Camelia saat ini.
Makan malam tiba,dia turun ke bawah dan menuju meja makan.
Sandra, menatap wajah cucunya nampak kusut sekali. "Camelia,kamu tidak apa-apa?".
__ADS_1
Camelia, terkejut neneknya menyentuh jemari tangannya. "Eee... Tidak apa-apa nek,cuman agak pusing aja". Alibinya, cengengesan.
"Astaga! Kamu sakit sayang,coba nenek pegang kening mu". Sandra, mendekati kening cucunya."Keningmu panas sayang,kamu benar-benar sakit". Sandra,nampak khawatir dengan cucunya.
"Nek,aku cuman panas badan doang. Gak papa kok,minum obat sudah sembuh besok". Alasannya lagi,memang benar dia merasakan hawa badannya tak seperti biasa.
Sandra, langsung memerintahkan kepada bi Darla menyiapkan keperluan cucunya. Tidak ada penolakan apapun, Camelia menuruti dan di bawa ke rumah sakit.
Camelia, merasa sakit di kepalanya. Tubuhnya terhayung ke belakang, beruntung bi Darla sigap menahan tubuhnya.
"Astaga! Non, kamu kenapa?". Bi Darla, membukakan pintu mobil.
"Ayo, masuk kedalam mobil. Jangan membantah perkataan nenek, wajahmu terlihat pucat sekali". Kata Sandra, hati-hati masuk kedalam dan membiarkan Camelia bersandar di tubuhnya.
Kenapa dengan tubuh ini,aku merasa sangat lemah?.Batinnya Camelia, matanya terpejam dan terbuka berlahan-lahan.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menyelusuri jalan raya yang ramai di lewati kendaraan bermotor dan mobil.
Sandra dan bi Darla, menunggu Camelia di periksa dokter kepercayaan keluarga Allen.Mereka berdua sama-sama gelisah.
"Bagaimana, dokter Karen cucuku?". Tanya Sandra, mengkhawatirkan cucu semata wayangnya.
"Tidak apa-apa,dia cuman kecapean dan kurang darah. Untuk beberapa hari, lebih baik istirahat dan jangan melakukan aktivitas apapun. Keadaannya masih lemah,saya akan memberikan obat penambah darah dan vitamin nanti". Dokter Karen, melepas semuanya.
Sandra dan bi Darla, bernafas lega mendengarnya. Karena Camelia, tidak memiliki penyakit serius apapun.
"Nek". Lirih Camelia,pelan dan di hampiri Sandra mengelus pucuk kepalanya.
"Kamu banyak istrirahat yah, jangan capek-capek. Cuman kurang darah, tidak ada penyakit serius". Sandra, tersenyum manis. "Kamu di rawat dulu, jangan memikirkan sekolah dan pelajaran. Nenek, sudah mengirim surat izin ke sekolah".
"Nek, pulanglah. Ini sudah malam loh,bi Darla saja yang menemani ku. Aku gak mau,nenek kenapa-kenapa". Kata Camelia,mengelus punggung tangan neneknya. "Satu lagi,jangan bilang-bilang sama paman Jhonny. Pasti paman Jhonny, sibuk kerja. Aku gak mau jadi beban pikirannya".
"Masalah itu, gampang sayang. Yang penting kamu cepat sehat,yah! Ya sudah,nenek pulang duluan. Besok pagi,nenek akan ke sini sambil bawa makanan untuk mu". Ucap Sandra, langsung di angguki Camelia.
__ADS_1
Selepas kepergian neneknya, Camelia calingukan melihat sekeliling. Bi Darla,masih setia duduk di samping.
"Bi Darla,capek kan. Tidurlah bi,di atas sofa itu. Kita sama-sama bobo yuk, sudah larut malam ini". Camelia, mengerti apa yang di rasakan bi Darla. Dari raut wajahnya, terlihat jelas kelelahan.
"Iya,non. Kita tiduran aja,udah malam". Bi Darla, merasa beruntung memiliki majikan pengertian.
Meskipun kantuk tak kunjung datang, Camelia berusaha menutup matanya. Tak mungkin kemana-mana,dalam keadaan lemah.
**************
Besok paginya, mendengar berita Camelia sakit. Dwi, memaksa anaknya Leo menjenguk keadaan Camelia di rumah sakit.
"Bawa apa lagi yah, orang sakit pasti banyak maunya". Dwi, kebingungan membawa makanan apa saja.
"Mommy, cukup untuk membawa makanan sebanyak ini. Camelia,sakit mom bukan hamil muda. Astaga! Ayolah, kapan kita berangkatnya?". Tanya Leo, langsung kesal melihat sang mommy perhatian kepada Camelia.
"Hussssttttt...Kamu ini, sebagai laki-laki pelajari apa yang mommy lakukan. Cewek itu,senang di beri perhatian dan apa lagi makanan. Diam dan perhatikan yah,ini contoh ketika kamu dapat pacar nanti. Bawa ini, masukkan ke dalam mobil dan jangan ketinggalan. paham!". Kata Dwi, menatap tajam ke arah anaknya.
"Iya, mommy. Kita ke rumah sakit, menjenguk keadaan Camelia hamil muda". Gerutunya Leo,membawa bingkisan untuk Camelia.
"Hamil!Hamil! Iya, Camelia hamil muda dan kamu yang menghamilinya". Sahut Dwi, cekikikan tertawa.
Leo, menggeleng kepalanya mendengar ucapan sang mommy. "Huuuff.... Cuman menemani mommy, aku sampai izin sekolah. Tapi,gak papa lah dan aku senang melihat wajahnya berantakan". Gumamnya pelan, senyum-senyum sendiri.
"Kamu gak sekolah Leo?". Tanya seorang pria,yang keluar dari rumah bak istana besarnya.
"Gak,kak Zam. Mommy,minta temanin menjenguk cucunya Nyonya Sandra. Teman sekolah sih,gak terlalu dekat". Jawab Leo, menoleh sekilas ke arah Kakaknya."Pulang sekolah, latihan basket?".
"Hmmmmm...Gak kayanya!Biar malam nanti,biar bisa nge-band di kafe. Apa jangan-jangan, mommy menyukai cucunya nyonya Sandra. Hati-hati loh, bakalan di jodohkan sama...!". Kaizam, menggantung ucapannya dan memainkan kedua alis.
Leo, mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Kaizam. "Dijodohkan,sama siapa?". kata Leo,pelan dan membuang muka ke arah lain.
"Sama siapa lagi,". Kedip mata Kaizam, cengengesan. "Ya sudah,aku berangkat dulu dan titip salam buat si manis Camelia". Kaizam, masuk kedalam mobil dan meninggalkan Leo terdiam membeku.
__ADS_1