SIAPA KAMU

SIAPA KAMU
Polisi


__ADS_3

Camelia, berlarian masuk kedalam dan di susul Jecky.


"Nona, Camelia! Kembali,kita pulang! Nona,Camelia! Nona!". Jecky, memanggil namanya dan tidak dihiraukan oleh Camelia. Amarahnya Jhonny, sangat menakutkan bagi Jecky.


Nona,kamu membuat Tuan Jhonny mengamuk.Tuhan, selamatkan nyawaku ini.Batin Jecky, ponselnya berdering tertera nama Tuannya. Tangannya gemeteran sudah, merasakan hawa dingin sekujur kulitnya.


Camelia, terkejut melihat keadaan Sheila berbaring di tepi kolam. Vanya, mencoba membangunkan keponakannya itu.


Hahahaha....Aku tidak menyangka,kenapa bocah itu mau menuruti perkataan ku? Baguslah hari ini, mendapatkan dua mangsa sekaligus. Semoga saja, nyawamu tak bisa di selamatkan lagi.Batin Katrina, tertawa terbahak-bahak di dalam hati.


Buughhh...


Jessica, menendang dua pelayan yang tidak becus menjaga Keponakannya itu.


"Ampun nona, Jessica! Kami tidak tahu apa-apa,mohon ampun nona!". Dua pelayan itu, memohon-mohon kepada Jessica.


"Kalian harus bertanggung jawab,menjaga keponakan ku kalian berdua tidak becus. Dasar maunya enak saja,makan gajih buta!". Teriak Jessica, dengan tatapan tajam.


"Hajar mereka kak, yang tidak becus menjaga Sheila! Jangan beri ampun kak!". Perintah Vanya, dengan amarahnya.


Keluarga Doni,diam dan menyaksikan pertikaian ini. Mereka jelas tidak bersalah,bodo amat dengan Sheila.


"Percuma kalian menghajar pelayan itu,nyawa keponakan kalian bisa mati. Jika tidak di bawa langsung,kami bodo amat gak mau membantu". Kata Clara, menyunggingkan senyumnya.


Jessica terdiam dan menatap tajam ke arah Clara. "Pak Mun!Bawa Sheila, kerumah sakit sekarang juga. Dasar tidak becus,di perintah baru paham!".


"Camelia,kenapa balik lagi? Pulanglah, cepat". Bujuk Clara, merangkul pundaknya.


"Aku terkejut Tante, mendengar teriakkan pelayan tadi. Makanya masuk lagi,". Jawab Camelia, melirik ke arah Jecky memberikan kode untuk pulang segera.


Jessica dan Vanya,tak habis-habisnya memarahi pelayan itu.


Sheila, langsung di bawa ke rumah sakit. Semoga saja, nyawanya bisa di selamatkan namun lebih baik, tidak bisa bagi Camelia.

__ADS_1


"Nona,ayo kita pulang". Kata Jecky, nyawanya sudah di ujung tanduk.


"Pulanglah nak,kasian Jecky pasti kena marah pamanmu". Bujuk Linda, tersenyum manis.


"Baiklah, aku pamit dulu". Akhirnya Camelia, pulang bersama Jecky asisten pribadi pamannya.


Camelia, menatap sedih meninggalkan kediaman Sean. Beribu-ribu kenangan indah bersama orang yang di cintainya,telah tiada di dunia ini.


Kepulangan Camelia, membuat Doni kebingungan jadinya.Jika mereka memang tidak bersalah, keluarga Allen pasti membantu dan tidak membiarkan mereka masuk penjara.


Namun bagi Clara,dia ketakutan dan gelisah.Jangan sampai pernikahannya gagal, akibat kejadian ini dan di salahkan dia dan keluarganya.


"Bagaimana pah,aku gak mau masuk kedalam penjara? Pasti Rendy dan keluarganya, melaporkan kasus ini. Jangan sampai pernikahan ku gagal,". Kata Clara, kebingungan jadinya.


"Tenang saja,kita tidak melakukan apapun. Semuanya kesalahan mereka, lagipula mana buktinya". Doni, menenangkan keluarganya sudah gelisah gusar.


Terdengar suara polisi datang, membuat mereka semua ketar-ketir jadinya. Entah kenapa, secepat kilat Rendy melaporkan kasus ini.


Rendy, bersama anggota kepolisian memasuki kediaman Sean.


"Tunggu dulu,pak! Jangan asal tangkap kami,mana bukti-buktinya jika kami melakukannya". Bantah Doni, dengan keras.


"Benar pak Rendy, berikan bukti-bukti dulu. Kalian adalah keluarga terpandang di kota ini, sangat terpengaruh jika di bawa ke kantor polisi". Kata polisi itu, langsung.


Rendy, mengusap wajahnya dengan kasar. Memang benar bahwa dia, tidak memiliki bukti apapun. "Ayo, kita cek cctv di rumah ini". Kata Rendy, dengan senyuman smrik.


"Baiklah,ayo kita cek". Doni, langsung menantang Rendy.


Para polisi terdiam dan mengangguk. Mereka semua langsung ke ruangan cctv, suasana semakin tegang.


Cctv di putar ulang, detik-detik terakhir dimana Bella tengah cekcok dengan ibu mertuanya. Entahlah apa yang di bicarakan mereka,namun terlihat Bella marah-marah.


Detik dimana Bella, menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Terjadilah dirinya jatuh dan terguling-guling ke bawah, bersimbah darah.

__ADS_1


Yang terakhir adalah anaknya,tengah bermain-main sendiri. Setelah Camelia dan Vanya, meninggalkan Sheila.


Benar sekali anaknya Rendy,jatuh sendiri di kolam tanpa siapapun yang mendorongnya.


Rendy, tersungkur di lantai dan tak menyangka jika Doni dan keluarganya tidak terlibat sama sekali.


"Hahahhaa... Rendy, apa kamu puas ha! Lihatlah sendiri, kecelakaan yang menimpa di keluargamu. Bukan kesalahan kami, tetapi kecerobohan kalian semua". Doni, tersenyum mengejek dan puas dengan hasil cctv.


"Itulah karma bagi orang yang serakah, nikmatilah". Sambung Linda, menarik lengan Suami dan anaknya. Membiarkan Rendy, meratapi nasibnya sendiri.


"Pak polisi, silahkan kalian pergi dari sini. Semua bukti sudah jelas,pak". Perintah Doni,agar para polisi meninggal kediaman Sean.


"Pak Rendy,kami pamit. Karena bukti-bukti sudah menyatakan, bahwa pak Doni dan keluarganya. tidak terlibat atas kecelakaan keluarga,pak Rendy. Kami permisi dulu, menyelidiki kasus ini lebih lanjut". Ucap sang polisi, memberikan kode kepada lainnya.


"Aaaarrgghh.... Tidak mungkin, tidaaaakkkk..! Ini tidak mungkin arwahnya Katrina, bangkit dan balas dendam kepadaku". Rendy, mengamuk-ngamuk di ruangan tersebut. Memang benar beberapa hari yang lalu,dia di teror sebuah video ancaman dari Katrina.


Doni dan keluarganya,tengah merayakan musibah yang di alami keluarga Rendy.


Nampak jelas Rendy, melewati ruang tamu dan melihat mereka minum-minuman.


"Jangan senang dulu kalian,jika tidak ada pelaku mencelakai istri dan anakku. Apa jangan-jangan arwahnya Katrina, bergentayangan dan balas dendam kepada kita". Ucap Rendy, dengan lantang.


Seketika Doni dan keluarganya terdiam sejenak. "Hahahahha.... Hahahha....". Mereka semua menertawakan, Rendy.


"Apa katamu Rendy? Arwahnya Katrina bergentayangan,jangan ngaco kamu! Apa kamu sudah mulai gila,ha! Oh,atau mulai merasa bersalah atas kematian istri tercantik mu itu". Doni, menepuk pundak Rendy.


"Nikmatilah kehidupan ini, Rendy. Kematian Bella, tidak merugikan dirimu sendiri. Apa lagi,aku mengetahui tentang dirimu dekat dengan Jamila. Seorang CEO, wanita cantik,anak tunggal lagi". Doni, mulai mempengaruhi pikiran Rendy.


Rendy, menjauhkan dirinya dari Doni. "Ck, jangan harap aku mengulangi kesalahan yang sama. Aku tengah berduka atas musibah ini, istri dan anakku koma! Sedangkan kalian,malah berpesta huru-hara". Teriak Rendy,memang benar dia sangat mencintai Bella. "Asalkan kalian tau, Bella keguguran dan anaknya tidak bisa di selamatkan! Aaaaakkkkhh....!".


Linda dan anak-anaknya, menggeleng kepala melihat Rendy frustasi. "Aku tanya kepadamu, Rendy. Sebelum kecelakaan istri mu,ada masalah apa Bella dan ibumu? Coba kau tanyakan dia". Linda,mulai melancarkan aksinya agar keluarga Rendy hancur berantakan.


"Benar sekali Rendy,apa jangan-jangan ada sesuatu yang mereka rencanakan. Jangan sampai kamu,di permainan ibu dan istrimu". Sambung Clara, ikut-ikutan.

__ADS_1


Rendy, terduduk lemas di sofa. Mengusap rambutnya ke belakang, bingung harus bagaimana lagi. Memang benar ibu dan istrinya, akhir-akhir berselisih pendapat.


__ADS_2