Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kepasrahanku bagian 2


__ADS_3

Kerjaanku hanya meringkuk tak berdaya dan tidur saja. Angin malam yang sepoi-sepoi sering kali menusuk tulang tak bisa kuhentikan, ditambah lagi segerombolan nyamuk yang selalu menghinggapi ditubuh, kubiarkan mereka menghisapnya sampai kenyang, sebab tak ada gunanya menyuruh pergi mereka dikarenakan tangan tak bisa mengusirnya.


Hanya airmatalah yang kini satu-satunya menjadi hiburanku, disaat-saat dilanda ketakutan, cemas, dan putus asa.


Tiada lagi kesenangan yang terpancar diwajah, sebab aku benar-benar takut atas tindakan Yona, yang kian hari kian kejam tak berperasaan.


Kadang sehari cuma dikasih makan satu kali saja. Entah kesibukan apa yang dilakukannya sekarang, sehingga akupun lupa tidak dikasih makan ataukah ini memang disengaja Yona, biar diriku tambah menderita dalam penjara penyiksaan. Itupun saat dia menyuapi selalu belepotan, sehingga perutpun tidak bisa kenyang. Dia selalu saja menyuapiku dengan penuh emosi dan selalu tegesa-gesa, membuat nasipun selalu mubazir tercecer dilantai.


"Hai Karin perempuan si*l*n, apa kabar?" sapa Yona tengah malam.


Hanya diam seribu bahasa diriku tidak balik menyapanya, sebab tak ada gunanya lagi berbicara pada Yona, dikarenakan hatinya sudah buta dan mati akibat dendam.



"Wah ... wah, ada orang menyapa kok kamu diam saja, hah!" geram Yona berbicara.


Tangannya sudah menjambak rambut, sehingga tak terhindarkan kepalakupun mendongak ke atas melihat wajahnya.


"Ck .. ckck, aku lupa ... aku lupa. Kalau mulut kamu sedang tersumpal, sehingga tak bisa menyambut perkataanku. Aah, kenapa aku jadi bodoh begini! Tapi bodoh-bodoh begini, pintar juga bisa menyiksa kamu, mampuslah kau! hahahaha," gelak tawanya yang menurutku sudah gila.



"Oh ya. Ada kabar bagus nih untukmu! Sepertinya Adrian sekarang mulai menyerah, untuk mencari, Gimana dong?" tanyanya yang aneh dan tidak waras.

__ADS_1


"Sudah empat hari kamu tidak ditemukan dan sepertinya dia sudah menyerah. Dia sekarang kelihatan tenang, tidak panik, maupun gelisah. Apa jangan-jangan dia sudah tidak mencintai kamu lagi, sehingga dia melupakan pujaan hatinya yang sedang diculik?."


"Emm, mungkin iya kali, ya! Wuuih, berarti bagus untukku dong, akhirnya diriku bisa mengambil hati Adrian lagi, nih. Hore...hore!" Kegembiraannya yang menurutku terlalu membual dan percaya diri.


"Eem ... emm," Mulut ingin bersuara dan minta dibuka bekapan.


"Apa? Ganggu orang lagi membayangkan berpacaran dengan Adrian saja!" pekiknya tak suka.


"Eem ... emm," Kebungkaman berbicara, dengan netra menunjuk-nujuk kearah sumpalan kain.


"Eem ... emm," pintaku sekali lagi.


"Aah, kamu ngeselin banget! Mau bicara apaan juga, sih?" geram Karin berkata, yang akhirnya membuka sumpalan kain dimulutku juga.


"Cuuuiiih," Ludahku tepat mengenai wajahnya.


Plaaak ... plaaak, dua tamparan lagi-lagi terdarat dipipiku.


"Dasar perempuan sialan dan kurang ajar."


Plak, tamparan keras hadir lagi.


Mata hanya bisa melotot tajam tidak suka. Rasanya sudah muak sama Yona, yang banyak ulah dan drama.

__ADS_1


"Kamu jangan berharap kak Adrian bisa bersamamu. Dia tak akan mau bersama perempuan yang tidak waras, gila dan sadis sepertimu," ejekku dengan menyunggingkan bibir atas, ke arah sebelah kiri.


"Apa?" Keterkejutannya.


"Apa yang kamu bilang tadi? Aku tidak bisa bersama Adrian? Hahaha," ucapnya diwarnai gelak tawa, yang membuatku sudah binggung.


"Kamu kali! Yang terlalu berkhayal bisa bersama Adrian."


"Ingatlah! Semua itu tidak akan terjadi padamu, sebab aku akan terus menganggu hubungan kalian sampai kapanpun itu," ujar Yona yang sudah mencengkram pipiku.


"Bagiku itu tidak akan pernah mungkin terjadi, sebab cinta kak Adrian lebih besar dan kuat hanya padaku seorang. Jadi kamulah yang harus membuang khayalan yang terlalu tinggi itu! Sebab nanti bisa-bisa kamu jatuh dan mungkin menjadi patah hati, serta ujung-ujungnya bisa bunuh diri pulak!" ucapku melawannya dengan mulut moncong-moncong ke depan, dikarenakan Yona masih mencebgkram pipiku.


"Ciiih, aku memang sedang berkhayal tinggi, tapi semua itu sebentar lagi akan terwujud, sebab selama-lamanya diriku akan melenyapkanmu, dan pastinya setelah semua keadaan menjadi tenang!" ancam Yona sambil membuang mukaku secara kasar.


"Apa maksudmu?" tanyaku sudah bergindik ngeri atas ancamannya.


"Kamu tak perlu tahu! Itu rahasia?" ujar Yona tersenyum tipis penuh kemenangan yang terlukis menjijikkan diwajahnya.


"Bye ... bye, baik-baik disini!" ucap Yona sudah menepuk pelan pipiku.


"Emm!" Lagi-lagi mulut tersumpal.


"Ya tuhan, tolong cepat lepaskan diriku. Tolong ...tolong aku, keluarkan dari sini," Tak henti-hentinya diri ini berdoa dalam hati setelah kepergian Yona.

__ADS_1


"Beri aku kekuatan, ya Allah. Kuatkan aku ... aku mohon." Doaku dalam hati dengan aimata yang terus mengalir dan tak bisa kubendung lagi.


Badan sudah lemas, tenaga rasanya sudah hilang seketika, akibat ucapan Yona barusan. Nafas mulai sesak, dikarenakan diriku mulai kebigungan harus berbuat apa dan tak tahu cara jitu kabur dari sini?.


__ADS_2