Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kebaikan nasehat


__ADS_3

Bayangannya terus saja hadir, dan entah sampai kapan aku akan tersiksa oleh rasa ini. Melupakan tak bisa, namun jika terlalu memikirkan terasa sakit sekali rasanya. Keindahan dunia tak lagi dapat kurasakan, saat kekecewaan selalu datang.


"Kenapa aku begitu susah melupakanmu, Karin. Bagaimana aku harus belajar untuk tak mengingatmu? Apakah dengan cara hilang ingatanlah yang bisa menyelamatku dari rasa ini, sungguh ini sangat menyiksa hingga rasanya tak mampu 'tuk berdiri lagi," guman hati yang masih kecewa pada Karin.


Hanya ada hembusan nafas


Saat rasanya mulai tercekik


Mata kerap kali enggan terpejam


Hingga aku merasa kasihan pada diriku sendiri.


Kini hati telah terluka


Penuh dengan kabakaran hati


Saat engkau mulai menghilang


Hingga bertanya dimanakah cinta sekarang?.


Semua orang telah sibuk


Namun hanya kita yang terhenti dari waktu


Untuk cinta yang mulai terasa membosankan


Dapatkah kamu merasakan berantakannya.


Takdir kini telah ditentukan


Ketika kau telah menusuk hatiku


Aku tidak tahu apakah harus pergi

__ADS_1


Saat hanya cinta yang bersinar terpancar dari dirimu.


"Hei, Andrian. Gimana kabar kamu sekarang?" tanya Yona yang tiba-tiba bertandang ke perusahaanku.



"Alhamdulillah, aku baik."


"Syukurlah kalau kamu masih baik, tapi aku perhatikan dari kemarin-kemarin kamu banyak sekali murungnya. Ada apa, Adrian? Apa kamu sekarang sedang ada masalah?" tanya Yona.


"Aku tidak punya masalah apa-apa, cuma lagi memikirkan tentang Karin saja. Kamu tahu sendiri, kalau aku sangat mencintainya, namun sayangnya dia malah mencintai orang lain. Aku tahu kemarin adalah kesalahanku, namun pada kenyataannya sekarang semua tidak bisa diperbaiki. Aku sudah berusaha mengikhlaskan dia, tapi sayangnya susah sekali," ucapku mengeluarkan uneg-uneg yang tersimpan dihati.


"Aku tahu ini akan susah, namun cobalah untuk perlahan-lahan melakukannya, sebab aku yakin kalau kamu bisa. Karin nampak bahagia bersama pria itu, jadi menurutku kamu lebih baik mundur untuk melepaskan dia. Bukankah kamu ingin Karin bahagia, dan pastinya dengan cara merelakan dia, karena itulah salah satu usaha kamu untuk membahagiakan walau ada sakit hati," cakap Yona ada benarnya.


"Benar apa yang kamu katakan, Yona. Mungkin dengan melepaskan adalah salah satu caraku untuk membahagiakan Karin. Kenangan kami begitu terekam jelas dimemory pikiran, hingga rasanya tak mampu untuk membuangnya begitu saja," ucapku pilu.


"Kamu yang sabar, Adrian. Tak semua yang kamu inginkan bisa tercapai contohnya Karin. Mungkin ini sudah jadi suratan takdir untukmu dan dia untuk kalian tak bisa bersatu, jadi kamu tetap harus kuat atas cobaan ini," ucap Yona yang memberikan nasehat.



"Oh ya, kalau boleh tahu apakah kamu sudah ada calon? Boleh kenalkan padaku, siapa tahu kita akan jadi teman baik," tanyaku.


"Iih, ngacau kalau ngomong. Mana ada aku pacar, dari dulu tetap beginilah statusku yaitu jomblo. Aku belum memikirkan hal itu, sebab masih sibuk sama urusan bisnis," jelasnya.


"Ooh, baguslah kalau begitu. Berarti kamu ada kemajuan untuk berubah. Aku suka kamu yang sekarang daripada dulu. Kalau kuperhatikan kamu semakin dewasa," pujiku.


"Aah, masak? Perasaan aku tetap begini-begini saja dari dulu," jawab ramah Yona.


"Oh ya, kamu lagi kosong 'kan waktunya. Gimana kalau kita sekarang jemput Naya, dan mengajaknya jalan-jalan. Apa kamu mau?" tanyaku memberi ide.


"Wah, itu bagus. Aku pastinya akan senang menerima tawaran kamu itu," ucap Yona santai.


"Siiplah, kalau begitu. Ayo! Kita berangkat sekarang, sebab takutnya Naya nanti sudah pulang duluan," ajakku.

__ADS_1


"Baiklah, ayo."


Akhirnya Yona yang bisa menyempatkan waktu, kuajak untuk menjemput Naya sekaligus mengajaknya jalan-jalan ke taman. Entah mengapa aku sekarang lebih nyaman bersama Yona, walau dulu sangat mengecewakan dan bikin eneg atas sifatnya, kini semua telah berubah dratis tak seperti dulu lagi.


[Aku akan menjemput Naya sekarang ke sekolah, jadi kamu tak payah datang menjemputnya]


Sebuah pesan telah kukirimkan pada karin, karena kalau tak dikasih tahu dulu, nanti bisa-bisa kami akan bersamaan saling menjemput. Saat berusaha melupakannya, kuusahan agar tak sesering mungkin untuk bertemu Karin.


Klunting, gawai telah berbunyi menandakan ada balasan pesan masuk.


"Dari siapa, Adrian? Kayaknya penting amat?" Kekepoan tanya Yona.


"Dari Karin, yang kukasih tahu untuk tidak usah menjemput Naya," jelasku yang kini kefokusan telah terbagi menjadi dua yaitu gawai dan menyetir.


"Owwh."


[Tak apa kakak menjemputnya, tapi langsung bawa Naya untuk pulang ke rumah]


[Maafkan aku, sekarang aku tidak bisa membawanya pulang, sebab aku ingin mengajaknya jalan-jalan dulu sebentar]


[Baiklah, tapi jaga Naya baik-baik, jangan sampai dia kelelahan]


[Pasti itu, aku akan selalu menjaga anakku itu dengan baik]


[Hmm]


Setelah percakapan kami selesai, akhirnya mobil yang sempat kuhentikan ditepi jalan, kini kujalankan lagi untuk segera ke tempat tujuan menjemput.


"Gimana? Apakah Karin mengizinkan?" tanya Yona.


"Yang jelas pasti dia mengizinkan, sebab aku adalah ayahnya," jawabku santai.


"Baguslah kalau begitu."

__ADS_1


Laju mobil sudah melesat cepat tanpa henti, agar secepatnya sampai di sekolahan, sebab waktu sudah nampak dekat sekali dengan waktu Naya pulang. Wajah Yona nampak berseri-seri, saat barangkali dia begitu bahagia kuajak jalan-jalan, yang selama kami berteman tak pernah sekalipun jalan berdua dengan santainya seperti ini.


__ADS_2