Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Kaget Dia Yang Terluka


__ADS_3

Bruuakk, tubuh Salwa sudah jatuh ke bawah dari dilantai dua.


"Ooh, tidak ... tidak," pekikku tidak percaya sebab kaget sebuah pisau telah terhujam ditubuh Ana.


"Ma-s-mmm-as, Adit!" suara Ana tertahan.


Langkah secepat kilat ingin menangkapnya, sebab tubuhnya kini telah goyah akan jatuh, mungkin sudah tidak bisa menopang tubuh sendiri, akibat hunusan pisau tadi.


"Tidak ... tidak, Ana!" pekikku mendekatinya.


"Aa'aaah, Mas!" teriak Ana sudah jatuh.


Tangan kanan sudah terulur dan dengan sigap berusaha menangkap.


"Ana tahan, ulurkan tangan kamu satunya. Cepat, ayo!" ucapku saat berhasil meraih tangan Ana.


Badannya tak jadi jatuh ke bawah, tapi terus saja terayun-ayun, bergoyang ke kiri dan kanan.


"Jangan lihat kebawah Ana, ulurkan tangan kamu satunya!" ucap Edo yang kini membantuku juga.


Kaki Edo telah dipegang pihak polisi, agar tak ikut jatuh saat berusaha meraih tangan Ana.


"Aaaa, Mas. Tolong!" ucapnya yang sudah ketakutan yang sedikit lagi akan terjatuh ke bawah.


"Raih tangan satunya Edo!" ujarku panik menyuruhnya.


Mataku sempat melirik ke bawah, tubuh Salwa sudah bersimbah darah disekujur tubuhnya. Beberapa polisi sudah menghampirinya, yang mana tubuh Salwa sempat terjun jatuh dengan sendirinya.


"Ayo Ana. Ahhh, ee' eek. Sedikit lagi," usaha Edo yang terus saja meraih tangan Ana.


"Bagus, Ana. Bagus ... bagus," ucapku yang semangat, saat sedikit lagi tangan Edo dapat mengapai tangan Ana.


Setelah berusaha beberapa menit, akhirnya tubuh Ana dapat terangkat ke atas lagi. Tapi kekhawatiran telah menghantuiku, saat belakang tubuh Ana terluka. Lelehan airmata tidak bisa ditahan lagi. Tak kuasa melihat tubuhnya melemah.



"Ana, aku mohon. Kamu harus bisa bertahan," ujarku saat mengiring memasuki mobil ambulan.


Dalam mobil ambulan, kugenggam erat tangan Ana. Dalam pembaringan terlihat wajahnya mulai pucat, dengan posisi tidur miring ke sebelah kiri.


"Maaf pak, permisi!" ucap salah satu perawat.


"Iya," nadaku khawatir melepas tangannya.


Perawat kini telah menyuntikkan jarum, untuk segera memasang infus ditangan Ana. Dadaku terasa sangat sesak saat airmata sudah tumpah tidak terkendali. Rasanya tak tega sekali melihat Ana lemah kesakitan.


"Mas Adit jangan menangis!" ucapnya pelan.


"Tidak Ana, aku gak menangis. Kamu harus kuat Ana, jangan tinggalkan aku," ucap yang sudah mencium pipinya, bersamaan dengan airmata yang mengalir.


Kudekap tubuhnya. Rasa khawatir bagai melebihi nyawa sendiri akan tercabut.

__ADS_1


"Jangan begini. Aku baik-baik saja," Nada lemasnya.


"Aku mohon Ana, kamu harus kuat. Maafkan aku yang belum bisa membahagiakanmu. Maaf, jika hanya bisa menyakitimu saja, aku sangat mencintaimu," tak kuasanya diri ini untuk tak menahan airmata.


"Aku akan aman-aman saja, Mas. Aku juga mencintaimu," jawabnya yang semakin melemah.


Tangan Ana yang sempat kupengang, kini terkulai lemas terjatuh. Aku begitu terkejut, melihatnya tak ada pergerakan sama sekali, dan rasa panikpun kini menghampiriku.


"Tidak Ana ... tidak! Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Tidak ... tidak, Ana,!" kudekap tubuhnya, kubenamkan wajahku mencium pipinya, dengan menumpahkan segala airmata.


"Ayo, Mas. Cepat ... cepat!" teriakku tidak sabar pada sang sopir ambulan.


"Iya ... iya, Pak! Ini sudah hampir sampai," jawab sang sopir yang kini terasa panik juga.


"Minggir, Pak. Biar kami periksa!" suruh dua orang perawat, yang ingin memberi pertolongan.


"Denyut nadi dan jantungnya sangat melemah, jadi bapak harus membantu kami untuk menyelamatkan istri anda," ucap salah satu perawat.


"Iya, apapun akan kulakukan. Asal istriku nyawanya dapat terselamatkan," ujarku mantap.


"Kami akan memberi arahan, jadi Bapak harus mengikuti perkataan kami, siap!" ucap perawat lagi.


"Siap."


Kini aku sudah mengambil ancang-ancang, duduk diatas tubuh Ana untuk melakukan kejut jantung. Tak henti-hentinya aku menekan dada Ana, untuk mengembalikan detak jatung yang sempat hilang. Berkali-kali aku menekan dada Ana dengan kuat.


"Hhhheh, ayo ... ayo, Ana. Bangun ... bangunlah," suaraku kelelehan menghembuskan nafas.


"Alhamdulillah, kini denyut nadinya kembali normal," ucap perawat yang mengucapkan syukur.


"Alhamdulillah," ucapku yang juga mengucap syukur.


"Ana ... Ana!" panggilku yang menepuk-nepuk pipinya.


"He'eh," Suaranya lirih menjawab.


Beberapa menit kemudian, mobil ambulan telah sampai dirumah sakit. Kami tidak membuang-buang waktu begitu saja, untuk segera membawa Ana ke dalam, agar secepatnya ditangani dokter untuk menyelamatkan nyawanya. Sebab banyak sekali darah yang keluar, dan mungkin Ana akan membutuhkan lebih banyak lagi kantong darah. Aku yang panik hanya bisa mengikuti perawat dari belakang, yang mana sudah cepat-cepat membawa Ana ke ruang operasi. Ruang operasi kini sudah menyala merah, bertanda operasi sedang berjalan dalam keadaan gawat darurat.


"Bagaimana keadaan Ana?" tanya Edo yang sudah datang, yang tadi sempat menaiki mobilku.



"Belum tahu Edo, Ana sedang berada didalam," penjelasanku yang menunjuk ruang operasi.


"Kamu yang sabar, aku yakin Ana akan baik-baik saja," Edo berusaha menyemagatiku.


"Terima kasih, Edo."


"Iya, Adit. Sebentar. Aku akan telepon mertua kamu."


"Iya, silahkan."

__ADS_1


Edo sudah menyingkir dari hadapanku.


[Hallo pak, secepatnya bapak datang ke rumah sakit xxx. Ana sekarang sudah ditemukan, tapi keadaannya sekarang sedang terluka]


[Apa? Baik-baik Edo, terima kasih. Bapak secepatnya akan segera kesana]


Edo sedang berusaha menelpon mertuaku. Hatiku begitu gundah diiringi kegelisahan yang tak hilang, sebab hampir dua puluh menit ruang operasi belum terbuka-buka juga. Langkah terus saja mondar-mandir ke kiri dan kanan, sebab rasa tak tenang kini begitu kuat menelusup hatiku. Jantung sudah berdegub dan berdebar, karena rasa khawatir pada Ana begitu kuat, takut-takut akan terjadi sesuatu atas dirinya.


"Adit, bagaimana keadaan, Ana?" tanya Bapak yang sudah datang.



"Belum tahu lagi, Pak. Aku juga sedang menunggu Ana yang sedang berada didalam," tunjukku ke arah ruang operasi.


Pikiran sedang tidak fokus, sampai lupa memberitahu Bapak mertua, sehingga Edolah yang mewakili untuk memberitahunya. Aku kini tak bisa tenang, duduk santai seperti Bapak dan Edo.


"Tenangkalah dirimu Adit, duduklah!" ucap Bapak mertua menghampiriku.


"Entahlah, Pak. Aku benar-benar tidak bisa tenang, sebelum mendengar kabar tentang Ana," jawabku yang mengepresikan wajah gelisah.


"Bapak tahu, kamu khawatir sekali pada Ana, tapi cobalah untuk tenang sejenak, dan berpikirlah positif bahwa Ana akan baik-baik saja," bapak berusaha menenangkanku.


"Iya pak," jawabku tersenyum tipis.


Entah berapa lama lagi aku akan menunggu, rasanya sungguh lama sekali jalannya operasi, sampai orangtuaku 'pun datang keberitahu kabar buruk ini belum ada tanda-tanda sudah selesai jalan operasi.



Ting, bunyi ruang telah berbunyi, dan sudah menyala berwarna hijau, yang menandakan operasi telah selesai. Dan benar saja, tak berselang lama dokter telah keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Bapak mertua gelisah.


"Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan lancar," jawab sang dokter.


"Alhamdulillah," jawab kami secara kompak.


"Tusukan pisau terlalu dalam melukai organ belakangya, sehingga saat operasi kami sangat membutuhkan waktu yang lama," penjelasan dokter.


"Kami mengucapkan banyak-banyak terima kasih, bahwa dokter telah menyelamatkan nyawa istri saya," ucapku haru.



"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. Kalian sekarang boleh menjenguknya," imbuh ucap dokter lagi.


"Baik, Dok."


Kami semua sudah merasa lega, akhirnya Ana terselamatkan. Dan kini aku masuk untuk melihatnya yang terbaring lemah, setelah melewati masa-masa kritisnya.


Kini aku duduk dipinggir ranjang untuk menatap wajahnya, serta mengenggam erat tangannya. Sekarang aku mulai terisak pilu, dengan lelehan airmata yang kian membanjiri pipiku.


Tetesan embun inu tidak berarti apa-apa, dibandingkan mencemaskan istri yang hampir saja meninggalkan diriku seorang.

__ADS_1


__ADS_2