
Kali ini semua harus dijelaskan, padahal ingin menyembunyikan semuanya dari Chandra, namun Naya yang ketakutan tidak bisa membuat semua keadaan terus-menerus harus disembunyikan.
"Apa yang harus kulakukan? apa aku harus benar-benar menceritakan pada, Chandra? Tapi luka lamaku akan kembali menganga! Huff, semoga dia tidak bertanya aneh-aneh." Keraguan hati.
Sangat senang melihat keakraban Rara sama Naya, yang padahal mereka baru pertama kalinya bertemu. Kami berdua hanya bisa mengawasi mereka dari jauh sedang tertawa riang mandi bola. Ada bangku memanjang yang sedang kami dudukki.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada Naya tadi?" Akhirnya rasa penasaran Cakra dia tanyakan juga.
"Sebenarnya aku tidak ingin menceritakan hal pribadi, tapi sudah kepalang ada kejadian tak mengenakkan dari Naya tadi. Sebelumnya aku minta maaf kalau sikap Naya tadi berlebihan seperti takut sama kamu," ucapku tak enak hati.
"Tidak pa-pa."
"Hufffffffff!" Nafas berusaha kutarik dalam-dalam.
"Kalau kamu sekiranya berat untuk mengatakan. Tidak apa-apa kalau tidak menceritakan sekarang."
"Lambat laun kamu akan tahu juga, tapi lebih baik dari mulutku sendiri saja daripada dari orang lain. Kamu tahu sendiri kadang ada tambahan yang tidak enak dari cerita orang lain."
"Ok 'lah, kalau kamu tidak mempermasalahkan itu.
"Sebenarnya ada seorang pria yang sangat aku cintai, dan orang itu adalah ayah kandung Naya. Tapi ... tapi, dia sekarang!" Tak kuatnya mulut untuk melanjutkan.
Rasanya tidak bisa menahan lagi sesak didada, sehingga tanpa disadari airmata luruh begitu saja membasahi pipi.
"Maafkan aku jika cengeng begini."
"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa memahami, kalau ini mungkin berat sekali untuk kamu ceritakan."
"Aku baik-baik saja."
__ADS_1
"Hmm, maaf."
"Tapi ayah Naya sekarang sudah meninggal."
"Innalillahi wa innalillahi raji'un. Aku turut beduka cita, dan maafkan aku jika menanyakan ini?" Tangan Chandra sudah bertangkup.
"Semua sudah berlalu. Kamu tidak perlu meminta maaf."
"Lalu? Apa hubungannya sampai Naya begitu takut sekali?" Chandra masih saja penasaran.
Airmata sudah kuhapus dengan jempol. Mungkin melihatku kacau dalam kesedihan, Candra sudah menyodorkan selembar sapu tangan, yang dia keluarkan dari kantong celana.
"Terima kasih."
"Iya, sama-sama. Hapus airmata kamu itu, tidak baik kamu menangis ditempat umum begini."
"Iya, terima kasih."
"Naya takut sebab dikira kamu itu adalah ayahnya."
"Iya, Chandra. Karena wajahmu itu sangat mirip sekali dengan orang yang aku sayangi itu."
"What?" Kekagetannya tidak percaya.
"Benar itu, Chandra. Makanya Naya langsung nangis dan takut, karena kamu dipikirnya ayah yang dia sayangi telah hidup kembali."
"Astagfirullah, masak sih? Berarti aku telah membuka kesedihan lama kalian."
"Tidak usah tak enak hati begitu. Walau hampir mirip, tapi insyaallah kami menganggap kamu itu berbeda dari ayah Naya. Cuma aku tidak tahu bagaimana perasaan anakku itu terhadap kamu sekarang. Takutnya Naya masih tidak terima ayahnya meninggal, ditambah lagi sudah lama tidak muncul lagi didepannya, tapi sekarang muncul dengan wajah sedikit berbeda makanya dia sedikit syok."
"Heeeh, semoga saja apa yang kamu khawatirkan itu tidak terjadi."
"Amin."
__ADS_1
"Kamu tidak usah cemas begitu. Semoga saja Naya akan mau kudekati dan bisa akrab. Aku tahu sekali perasaannya, sebab Rara juga mengalami hal sama apa yang dirasakan anak kamu. Walau sedikit kerepotan sebab tidak bisa menerima akan kenyataan bahwa sudah meninggal, tapi sebagai orang kita harus selalu berada didekat mereka terus, agar mereka tidak akan merasakan sesuatu kehilangan contohnya seperti orang yang dia sayangi itu."
"Emm, benar juga apa yang kamu katakan."
Sapu tangan sudah basah oleh lelehan embun dan keluaran air ingus dari hidung. Walau mulut kami terus saja berbicara, tapi penglihatan tetap fokus ke arah anak yang masih tersenyum gembira bermain.
"Maafkan aku jika harus merepotkan kamu," cakap merasa tak enak.
"Iya, tidak apa-apa. Aku juga orangtua tunggal, jadi paham sedikit yang terjadi pada anak-anak kita sekarang."
"Iya."
"Yang jelas, semoga saja kita semua bisa semakin dekat sebagai teman, yang sama-sama saling membantu."
"Amin, semoga saja."
Ternyata dugaanku jauh meleset. Chandra orangnya sangat baik dan dewasa sekali. Rasanya nyaman bercerita dengannya, apalagi dia penuh wibawa dengan semua nasehat-nasehatnya.
Mungkin sudah lelah para anak gadis kami bermain, maka langkah selanjutnya adalah makan siang. Naya yang awalnya sangat ketakutan dan berpengangan tanganku terus, kini mulai tidak takut akibat Chandra pandai mengambil hatinya.
Kami benar-benar sudah bertukar anak saja. Rara juga makin lengket saja pada diriku. Mungkin inilah efek Rara rindu ibunya, sedangkan Naya ingin bersama sosok ayahnya, jadi tepat sekali posisi kami untuk membuat hati para bidadari kecil secepatnya mengembalikan senyuman, yang sempat hilang akibat ditinggal oleh orang terkasih yang dirindukan.
"Makan yang banyak ya, sayang!" Chandra sudah melempar senyuman manis ke arah Naya.
"Iya, Ayah. Terima kasih!" Naya berbalik memberikan senyuman, sambil menerima baik ayam yang ditaruh dipiring makannya.
Pandangan yang selama ini aku rindukan, tapi kenapa datangnya dari orang lain. Isak tangis kembali luruh, menyaksikan keakraban Naya yang mengira sebagai ayahnya. Chandra sudah mengisyaratkan agar aku menghapus airmata segera, mungkin tahu kalau tidak baik dilihat para anak-anak.
Senyuman pedih terus saja terjadi. Tak luput juga Rara sudah kusuapi terus, biar dia merasakan bagaimana rasanya disuapi seorang wanita ibu-ibu. Bocah cilik itu begitu senang, bahkan sampai sudah dua kali membubuhkan nasi untuk dimakan terus.
Secara diam-diam sorot mataku dan Chandra, telah sama-sama saling mencuri bertemu dengan tatapan tajam. Tidak bisa menerka apa yang terjadi pada kami, yang jelas membahagiakan anak dulu yang lebih utama sekarang.
__ADS_1
"Ya Allah, terima kasih, Engkau telah mengembalikam senyuman anakku, walau menghadirkan sosok orang lain sekarang."
"Apakah kami harus sedekat ini agar anak kami bahagia, tapi rasanya tidak enak saja kalau orang lain mengetahui. Semoga saja kedepannya tidak akan terjadi apa-apa sama hubungan pertemanan kami, sebab niat hati sekarang hanya ingin membahagiakan anak," guman hati yang mulai sembuh dari keterpurukan.