
Di sebuah pertigaan jalanan yang sepi, yaitu tepat dipersimpangan ke arah rumah kos Ana, dari kejauhan terlihat dari olehku, Ana masih dengan nyamannya duduk dimotor pria lain.
Mobil seketika langsung saja menyalip motor mereka, dan tanpa ba bi bu tangan sudah membanting setir, diiringi dengan kaki yang menginjak rem secara kuat, supaya dapat segera menghentikan mobil yang sudah terlalu laju dengan kecepatan tinggi, dan akhirnya membuat mobilku sedikit berputar-putar akibat terlalu mendadak ngeremnya.
Tanpa menunggu lama dan berbasa-basi, akupun segera keluar dari mobil untuk menemui mereka, yang kini juga sudah menghentikan motornya, akibat ulahku yang mencegatnya secara mendadak.
Bhugh, pintu mobil sudah kubanting secara kuat, akibat emosi yang menyala-nyala, sebab percikan api yang dihidupkan oleh istri sendiri.
"Ana, turun!" bentakku padanya yang masih bertengger manis duduk diatas motor.
"Mas Adit! Kamu," suaranya terkejut.
Mungkin Ana tidak menyangka, bahwa diri inilah sudah mengehentikan perjalanan mereka.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Edo.
"Ayo Ana, turun," ucapku membentak lagi.
"Sabar, Pak Adit ... sabar. Kita bisa bicarakan dengan baik-baik. Ada apa sebenarnya ini, Pak?" Teman Ana itu berusaha melelehkan keadaan.
__ADS_1
"Kamu diam saja! Ngak usah ikut campur urusan kami," bentakku pada teman Ana.
Emosi yang tidak tertahan tanpa banyak kata langsung saja kutarik tangan Ana, yang sembari tadi sudah turun berdiri tegak disamping motor temannya itu.
"Aa .. aww, lepaskan, Mas! Aw ... aww sakit," keluh Ana saat tangannya kutarik paksa dengan kuatnya.
"Bos Adit! Lepaskan Ana sekarang!" suruh teman Ana.
Edo kini sudah berada tepat didepan kami, mencoba menghadang dan menghentikan paksaanku menarik tangan Ana.
"Minggir kamu sekarang!" perintahku.
"Kamu tidak usah ikut campur, ini urusanku sama Ana! Kamu itu siapa? Sudah berani-beraninya ikut campur urusan kami," balasku yang tak setuju atas tindakannya.
Bhugh, sebuah pukulan tiba-tiba terdarat diwajahku. Sudah oleng ke sebelah kanan akibat tidak siap menerima pukulannya.
Sebab tidak terima atas tindakannya barudan, kupegang tangannya saat ingin terayun ingin memukul lagi.
Bhugh ... bhugh. Kupukul pipinya dengan 3 kali tinjuan. Sekarang diapun sudah sedikit oleng juga ingin jatuh, tapi naasnya dia dapat menahannya dengan tangan, sehingga dapat bangkit lagi untuk segera menghampiriku yang tengah berdiri menunggu aksinya lagi.
Bhuugh ... bhuggg, untuk kesekian kali wajahku babak belur dihajarnya.
Bhugh ... blakkh. Emosi semakin memuncak. Sebuah pukulan dan tendangan kaki terlayangkan di tubuhnya, sehingga ia pun jatuh juga tergolek di tengah aspal jalan.
__ADS_1
"Sudah ... sudah. Hentikan ini semua. Sudahi perkelahian kalian itu," teriak Ana mencoba menghentikan baku hantam kami.
Sorot mata kami masing-masing sudah tajam, yang siap kapanpun kembali menyerang.
"Sudah Mas Adit ... sudah Edo," imbuh ucap Ana, saat melihat kami sudah mulai kelelahan akibat berkelahi.
"Mas Adit gak pa-pa, 'kan?" tanya Ana.
"Aku gak pa-pa, Ana! Hehhh," Nafasku ngos-ngosan sambil menjawab perrtanyaan Ana.
"Maafkan aku, Edo. Sekarang aku tidak bisa membantu mengobati lukamu. Terima kasih atas tumpangannya tadi, ini adalah urusan rumah tangga kami, jadi maafkan aku sekali lagi yang sudah melibatkanmu!" ucap Ana penuh penjelasan.
"Tapi Ana, aku khawatir pada kamu," balas Edo.
"Aku ngak pa-pa, Edo! Lagian mas Adit adalah suamiku, jadi kamu ngak perlu berlebihan khawatir begitu. Pasti aku akan tetap aman bersamanya," jawab Ana.
"Maafkan aku sekali lagi, Edo! Permisi dulu."
"Ayo, Mas!" ucap Ana yang sudah membantuku berdiri, dari tempat tersungkurnya perkelahian.
Temannya hanya terdiam terpaku, saat Ana sudah memapahku menuju mobil. Terlihat sekali ekspresi wajah temannya seperti tidak suka, apa yang dilakukan Ana padaku, mungkin ada rasa kekecewaan yang terbesit didalamnya, tapi entah apa itu! Akupun juga tak tahu.
__ADS_1