Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Pelajaran Yang Bisa Diambil Dari kisah (TERJERAT OVERDOSIS CINTA)


__ADS_3

Semua sumber dari google


1. KARIN


A. Bunuh diri


Tindakan bunuh diri, dengan cara apapun merupakan hal yang dilarang dalam Islam. Perilaku ini merupakan dosa besar yang telah dilarang dalam Alquran dan sunah.


Bunuh diri memang dosa besar dalam ajaran Islam. Namun seorang Muslim yang meninggal karena bunuh diri, menurut para ulama, harus tetap dikafani, disholati dan dikuburkan dengan cara Muslim. Umat dianjurkan tetap mendoakan orang tersebut.


Bunuh diri dilarang oleh hukum Islam, baik dalam Alquran, Sunah ataupun ijma' ulama. Allah SWT berfirman:


وَلَا تَقْتُلُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا


Artinya: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An-Nisa: 29).


Dalam sebuah hadist dari Tsabit bin Adh Dhohhak, Rasulullah SAW bersabda,


وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَىْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ


Artinya: “Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).


B. Putus asa


Firman Allah Ta’ala:


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ (54)


“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).” (QS. Az Zumar {39} : 53


Allah SWT memberikan jaminan bahwa setiap cobaan yang diberikan, tak pernah diluar batas kemampuan seseorang. Untuk itu, jangan berputus asa. Boleh sesekali mengeluh, tetapi jangan sampai menghalangi untuk terus mencari solusi.


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kadar kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)


Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap cobaan yang diberikan selalu memiliki jalan keluar. Allah SWT tidak memberikan cobaan melainkan sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.


C. Bahagialah selalu


(…Dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung (bahagia).”


(Q.S. Al-Baqarah: 189)


Dalam sejumlah ayat, Al-Qur’an memberikan tuntunan tentang cara meraih kebahagiaan. Bahkan, kalau dikaji lebih jauh, tujuan akhir setiap perintah Allah SWT adalah: “supaya kalian berbahagia/beruntung” (la’allakum tuflihuna). Dalam Al-Qur’an, kalimat la’allakum tuflihuna yang berarti ‘supaya kalian berbahagia’ disebut sebanyak 11 kali, yaitu pada: Q.S. Al-Baqarah: 189, Q.S. Ali Imran: 130, 200, Q.S. Al-Maidah: 35, 90, 100, Q.S. Al-A’raf: 69, Q.S. Al-Anfal: 45, Q.S. Al-Hajj: 77, Q.S. An-Nur: 31, dan Q.S. Al-Jumu’ah: 10.


Dari penelusuran tentang ayat-ayat tersebut, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa semua perintah Allah dimaksudkan agar kita hidup bahagia. Ya, hidup bahagia yang sesungguhnya, tidak hanya di dunia saja, tetapi juga di akhirat kelak. Jika kita telusuri lebih lanjut ayat-ayat yang berbicara tentang kebahagiaan di atas, maka akan kita dapati sejumlah langkah yang harus kita tempuh untuk dapat mencapai kebahagiaan. Secara garis besar, dari hasil bacaan serta kajian penulis terhadap sejumlah ayat tersebut, kata kunci agar kita meraih kebahagiaan dunia-akhirat adalah takwa.


D. Sabar atas ujian


“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali).


Dalam ayat ini dijelaskan bahwa setiap manusia pasti akan diberikan cobaan dalam hidupnya. Berupa kesulitan, rasa takut, bahkan saat diberikan kebahagiaan juga merupakan ujian. Dan kabar gembira bagi mereka yang bersabar akan mendapatkan pahala. Begitupun sebaliknya, bagi mereka yang berputus asa, akan diberikan ganjaran yang setimpal.


Imam Ibnu Katsir berkata, “ Mereka menghibur diri dengan mengucapkan perkataan ini (innalillahi wa inna ilaihi rojiun) saat dilanda musibah dan meyakini, bahwa mereka milik Allah. Musibah-musibah itu mendorong mereka mengakui keberadaanya sebagai ciptaan milik Allah, akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak.”


2. ADRIAN


A. Jangan menyerah


Jangan pernah menyerah. Karena saat kamu menyerah, semuanya akan berakhir.


Dalam kehidupan ini, akan selalu ada ketakutan ketika menghadapi masalah. Kadangkala, saat sudah merasa begitu lelah, semangat yang berkobar di awal, perlahan menghilang.


Sebagai manusia biasa, sudah sewajarnya menjalani berbagai fase kehidupan tersebut. Namun, jika terus menerus merasa gagal dan tak ingin kembali bangkit, maka ia akan benar-benar kehilangan semangat hidupnya


"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (QS. Al- Insyirah: 6)


Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kita sebagai manusia harus selalu berharap kepada Allah SWT. Karena setiap permasalahan yang dihadapi, selalu memiliki jalan keluar. Sehingga kita dianjurkan untuk selalu bersabar.


Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat.


B. Berani tanggung jawab apa yang kita lakukan


Allah berfirman (surat Al Muddassir ayat 38)

__ADS_1


كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا كَسَبَتْ رَهِيْنَةٌۙ


kullu nafsim bimā kasabat rahīnahArtinya:


“Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.”


Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia semuanya memiliki kebebasan untuk dapat memilih, tapi tidak lupa dengan tanggung jawab akan pilihannya. Jika seorang manusia memilih untuk menuju hal yang kurang baik, maka ia pun akan mendapatkan hasil yang kurang baik pula, dan begitu juga sebaliknya.


Namun, pada setiap pilihan yang manusia ambil atau pilih, tanggung jawab tidak akan pernah lepas darinya. Tiap-tiap individu akan bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.


C. Hindari barang haram


عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ


يَقُوْلُ :عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيْرٍ رَضِيَ اللهُ . إِنَّ الْحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدْ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ، كَالرَّاعِي يَرْعىَ حَوْلَ الْحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ، أَلاَ وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.


)رواه البخاري ومسلم)


Terjemah hadits ترجمة الحديث :


“Dari Abu Abdillah An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sungguh yang halal itu jelas, yang haram pun jelas. Dan diantara keduanya ada perkara yang syubhat –perkara yang rancu– yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang. Maka barangsiapa yang menghindari syubhat, maka berarti dia telah membebaskan agama dan kehormatannya.


Dan barangsiapa yang terjatuh ke dalam perkara-perkara syubhat, maka dia jatuh dalam perkara yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti seorang gembala menggembalakan di sekitar tanah larangan. Hampir saja dia masuk dalam tanah larangan itu. Dan sungguh setiap Raja itu memiliki tanah larangan. Dan tanah larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah perkara-perkara yang diharamkanNya. Dan sungguh dijasad ini ada sekerat daging yang jika dia baik maka seluruh anggota tubuh akan baik dan jika dia rusak maka seluruh anggota tubuh akan rusak dan itu adalah hati.'” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


3. YONA


A. Jangan menyakiti orang lain


Seorang Muslim diajarkan untuk tidak melakukan perbuatan zalim atau menyakiti orang lain, termasuk aniaya bagi dirinya sendiri.


Allah Subhanahu wa ta'ala bahkan menyebut akan memberi azab bagi orang yang zalim. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam


firman-Nya: وَمَنْ يَظْلِمْ مِنْكُمْ نُذِقْهُ عَذَابًا كَبِيرًا


"Barangsiapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya kami rasakan kepadanya azab yang besar." (QS Al-Furqan : 19)


Begitu juga dengan Rasulullah Shallallahua alihi wa sallam yang memberitahukan bahwasanya seorang muslim yang baik adalah orang yang mampu mencegah dirinya dari berbuat jahat kepada orang lain.


B. Jangan naif akan mencintai orang


Dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh semua hati manusia berada dalam kekuasaan Allah yang Mahapengasih, seperti satu hati. Dia menggerakkan hati sesuai kehendak-Nya."


ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ: «اﻟﻠﻬُﻢَّ ﻣُﺼَﺮِّﻑَ اﻟْﻘُﻠُﻮﺏِ ﺻَﺮِّﻑْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺎﻋَﺘِﻚَ»


Kemudian Rasulullah SAW berdoa: "Ya Allah yang maha menggerakkan hati. Gerakkan hati kami untuk beribadah kepada-Mu." (HR Muslim)


C. Jangan meremehkan atau merendahkan orang lain


Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah.


Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka.


Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.”


Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.”


Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.”


Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat,


لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا


“Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,


وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ


إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ


“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan."


Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.

__ADS_1


Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722.


Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).


Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.


Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ


“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)


Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong.


4. CHRIS


A. Tetap sabar dalam ujian hidup


Di dalam Alquran kita dianjurkan untuk bersikap sabar dalam menghadapi ujian berupa permasalahan hidup. Sabar memiliki beberapa keutamaan, di antaranya adalah menenangkan hati, menggugurkan dosa-dosa, mendapatkan pahala besar, meninggikan derajat, dan membukakan pintu surga.


Jika kita bersabar maka hati akan menjadi lapang dan pikiran menjadi jernih sehingga masalah yang dihadapi dapat kita atasi dengan mudah dan cepat. Jika kita tidak bersabar dan membiarkan hati dipenuhi amarah maka kita tidak bisa berpikir jernih, permasalahan yang ada malah akan semakin berantakan.


Berikut ini adalah kumpulan ayat Alquran sebagai pedoman umat Muslim untuk selalu bersikap sabar ketika menghadapi ujian dan cobaan.


Surat Al Baqarah ayat 45


وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ


Wasta'inu bis-sabri was-salah, wa innaha lakabiratun illa 'alal-khasyi'in


Artinya:


Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'.


Surat An Nahl ayat 126


وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا۟ بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُم بِهِۦ ۖ وَلَئِن صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصَّٰبِرِينَ


Wa in aqabtum fa aqibu bimisli ma uqibtum bih, wa la'in sabartum lahuwa khairul lis-sabirin.


Artinya:


Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.


Surat Al Furqon ayat 75


أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا


Ula ika yujzaunal-gurfata bima sabaru wa yulaqqauna fiha tahiyyataw wa salama


Artinya:


Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.


B. Sabar akan jodoh datang


Memilih jodoh atau pasangan hidup memang pekerjaan yang mudah jika hanya mempertimbangkan hasrat. Namun, bila dipikirkan mendalam memilih pasangan hidup atau jodoh dalam hal ini suami maupun istri bukan pekerjaan mudah.


Mengenai jodoh, Rasulullah SAW memeringatkan umatnya untuk berhati-hati dan tidak sembarangan memilih pasangan hidup.


Rasulullah SAW bersabda:


"Maka Hendaklah memilih istri yang beragama (Islam) dan berbudi pekerti (yang baik) agar kedua tanganmu (dirimu) selamat. (HR Al Bazzar dan Ibnu Hibban).


Peringatan Rasulullah SAW tersebut bertujuan agar dalam perkawinan tidak hanya mencari kepentingan-kepentingan yang bersifat fisik semata, tetapi terlebih dulu memperhatikan persyaratan keagamaannya. Lantaran dengan agamanya ia dapat membimbing akal dan jiwanya, berlaku sabar dan menyadari tanggung jawab dan haknya untuk menjaga diri. Setelah itu, baru memerhatikan hal-hal yang bersifat fisik dan dunia (kecantikan, keturunan dan harta).


Berikut ayat Alquran tentang jodoh latin & artinya yang bisa direnungkan dalam memilih pasangan hidup: Memberikan Ketenteraman


Ayat Alquran tentang jodoh ini menegaskan bahwa menikah akan memberikan ketentaraman hati.


وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ - ٢١


Latin: Wa min aayaatihi an kholaqo lakum min angfusikum azwaajal litaskunuu ilaihaa wa ja'ala bainakum mawaddataw warakhmah. Inna Fii dzaalika la aayatil liqoumiy yatafakkarun

__ADS_1


Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar Rum ayat 21).


__ADS_2