Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Ingin Mencari Sumber Masalah Perusahaan


__ADS_3

Kami semua masih berkumpul. Memikirkan cara agar bisa menguak permasalahan ini.


Tok ... tok, pintu telah diketuk seseorang.


"Masuk!' jawabku.


"Permisi, Pak! Diluar banyak sekali orang yang ingin bertemu dengan bapak sendiri," ucap pegawai wanita.


"Ada apa memangnya?" tanya Mas Adit.



"Sepertinya mereka marah atas pakaian yang kainnya salah, dan mereka semua menuntut untuk minta ganti rugi," penuturan pegawai wanita perusahan.


"Apa?" jawab kami kompak.


Kami bertiga terkejut, yang langsung saja melangkah pergi ke lantai 24. Nampak tak terkendali lagi. Orang-orang sudah ramai, dan berteriak-teriak memanggil nama mas Adit. Terlihat ada tiga puluh orang lebih sudah marah-marah, ingin menerobos masuk minta ketemu sama mas Adit, tapi dihalang-halangi oleh pegawai perusahaan, sehingga mereka hanya bisa berteriak marah.


"Hhhhhh ... heeeh. Akhirnya sampai juga," Hembusan nafas sekertaris Rudi, yang kelelahan habis berlari.


"Semua orang sudah berkumpul, dan sekarang rapat bisa dimulai," ujar sekertaris Rudi memberitahu.



"Kamu pergilah rapat, dan cari tahu penyebabnya. Mama dan Ana akan disini! Membantu menyelesaikan masalah pada mereka semua," Ide cemerlang Mama datang.


"Baiklah, Ma. Terima kasih," ucap mas Adit mengelus lengan mertua.


"Ayo, kita pergi."


"Baik, Bos."


Setelah kepergian mas Adit dan sekertaris Rudi, akhirnya kami berdua berbicara kepada pemilik toko, yang kian lama kian tak sopan berbicara, sehingga mertuapun secepatnya harus mengambil tindakan.


"Kalian tenanglah dulu! Silahkan kalian mengikutiku. Semua keluh kesah kalian akan kami dengarkan," Mama memberi solusi.


"Ok, kami akan ikut. Semua masalah kami harus beres," Salah satu pendemo mewakili berbicara.


"Beres itu. Ikut saja. Kita sama-sama akan selesaikan ini dengan baik-baik. Mari!"



Para pendemo hanya mengangguk setuju. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sebab dibawah kendali Mama, selain itu tidak mengerti akan masalah ini dikarenakan bukan keahlian dan dibidangnya.


Akhirnya mereka semua digiring Mama mertua menuju ruangan rapat yang kosong, dan berusaha menyelesaikan masalah yang menjadi keinginan mereka.

__ADS_1


Masalah demi masalah telah datang, dan akupun tak bisa tinggal diam begitu saja, melihat keadaan perusahaan sedang dilanda carut marut masalah kain.


"Ma, aku ingin pergi keluar sebentar!" izinku saat Mama masih sibuk bernegosiasi.


"Iya silahkan. Hati-hati," jawab beliau setuju.


"Baik, Ma. Permisi."


Pikiran sudah menemukan ide untuk mencari jejak, dari manakah sumber masalah yang sebenarnya terjadi?.


Langkah sudah tergesa-gesa, ingin pergi ke ruangan desighner dan produksi baju.


"Ana, tunggu!" panggil seseorang.


"Edo?"


"Kamu mau ke mana? Seperti tergesa-gesa betul? Ada apa ini? Perusahaan kelihatannya sedang gawat?" cecar Edo bertanya.



"Iya, bener. Perusahaan Mas Adit lagi kena masalah, dan aku sekarang mau ke tempat bagian produksi, mau mencari sesuatu disana! Jadi aku permisi dulu," ucapku pamit dengan tergesa-gesa.


"Tunggu, Ana! Ikut, biar aku menemani kamu," ujar Edo sudah mengejarku.


Akhirnya ada teman juga yang menemani diriku untuk memeriksa. Langkah sudah cepat berlari-larian kecil, sebab ingin segera sampai.


Mata dan tangan terus saja memeriksa kain yang sedang bertumpuk. Saat para pegawai sedang sibuk menjahit dan memotong-motong baju, kuraba pelan-pelan kain satu demi satu, selama ini masih aman-aman saja. Dan sampai akhirnya aku tertuju pada para penjahit dibagian pakaian wanita dewasa. Terlihat kain mereka sama persis dengan kain yang ditemukan mama dan diriku di mall tadi.


"Mana kepala bagian produksi pakaian ini?" ucapku lantang mencari seseorang.


"Iya, ada apa, Nyonya!" jawab seorang pria membungkukkan badan, menjawab panggilanku.


"Kamu kepala bagian disini?" tanyaku lagi.


"Iya, Nyonya. Ada apa, ya? Tumben ke sini?" tanyanya binggung.


"Ada hal penting yang ingin kulihat. Kain-kain ini memang sudah ada dari persediaan perusahaan, atau supply dari perusahaan lain?" tanyaku.


"Ini memang persediaan dari perusahaan, dan kain-kain ini sudah lama datang, sekitar dua mingguan!" jawab kepala bagian yang membuatku terkejut.


"Dua minggu? Berarti ini sama dengan perjanjian dengan si janda Nola, dong? Apakah si Nola ada kaitannya dengan ini? Aaah ... itu tidak mugkin, mana mungkin dia melakukan itu, bukankah dia ingin mendapatkan Mas Adit?" guman hati bertanya-tanya.


Pikiran terus saja kalut, atas rasa aneh pada perjajian dengan si janda Nola.


"Ana ... hei, Ana?" panggil Edo mengejutkanku.

__ADS_1


"E'eeh ... iya Edo!" jawabku sadar dari melamun.


"Ada apa, Ana? Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu?" kecurigaan Edo.


"Nanti akan kujawab," ucapku pada Edo, agar menahan keingintahuannya, dalam pertanyaan yang baru saja dia tanyakan.


Aku tak mau ada orang lain tahu, sehingga menambah gawat perusahaan, atas desas-desus ataupun gosip yang tak mengenakkan nantinya.


"Ya sudah, Pak. Aku mau pergi! Lanjutkan pekerjaanmu, dan awasi para pekerja," izinku.


"Baik, nyonya."


Akupun yang habis memeriksa, segera keluar dari ruangan produksi pakaian.


"Ada apa, Ana? Sepertinya kamu mengetahui sesuatu?" ucap Edo penasaran.


Langkah jadi pelan, sambil otak terus dipaksa bekerja untuk memikirkan masalah ini.


"Aku belum mengetahui apakah dugaanku benar atau salah? Yang jelas bathin mengatakan, bahwa kejadian diperusahaaan ada kaitannya dengan perempuan yang kuceritakan kemarin!" jawabku sambil kami melangkah menaiki lif, untuk pergi ke lantai atas lagi.



"Maksud kamu perempuan yang mana?" tanya Edo binggung.


"Perempuan yang kumaksud mendekati mas Adit itu!" respon santai.


"Memang ada apa? Aku kok gagal faham?" ucapnya binggung lagi.


"Perempuan itu kemarin ada tanda tangan bersama perusahaan mas Adit, dan anehnya perjanjian itu hampir bersamaan dengan datangnya kain yang datang, untuk stok perusahaan ini," jelasku.


"Ooh, jadi kamu mencurigai perempuan itu, boleh dibilang dia biang keladi dari semua kerusuhan, diperusahaan pak Adit begitu?" tutur Edo antusias penasaran.


"Aku ngak berani menuduhnya dulu, hanya dugaan sementara saja. Hanya kemungkinan dari perusahaan dia," respon masih menimbang.


"Hmmm. Maksudnya kamu ingin menyelidikinya dulu, gitu?."


"Iya. Itu tujuan pertamaku, sebab perempuan itu kelihatan baik, dan tak akan mungkin setega itu dia melakukannya. Si Nola itu lebih mengarah ingin mendapatkan cinta mas Adit, jadi aku masih ragu sekali kalau dia yang melakukan."


"Ooh ya, Edo. Jangan sampai orang lain tahu, sebab aku ingin mencarinya sendiri. Jika aku langsung ngomong pada mas Adit, pasti dia akan lebih banyak membantah dan tak akan percaya, dikarenakan mas Adit lebih dominan percaya sama perempuan itu," jelasku.


"Siip, dah! Rahasia tetap aman bersamaku, dan aku akan siap membantu kamu, selama diri ini dibutuhkan," ucap dukungan Edo.


"Terima kasih, Edo."


Semua orang dalam perusahaan, sudah dibuat kalang kabut atas kasus kain. Para pemilik toko banyak yang datang, dan minta ganti rugi.

__ADS_1


__ADS_2