
Dengan cara mengendap-endap kami telah berhasil mendekati rumah Yona. Langkah kami sudah mendekati pintu dan berusaha mengetuk dengan harapan siapa tahu Yona akan membukanya.
"Ketuk saja pintunya," suruh Chris dengan nada pelan seperti berbisik-bisik.
"Eem," Anggukanku menyetujui.
Chris telah bersembunyi dibalik tembok, takut jika Yona melihatnya akan takut dan tidak mau menemuiku lagi.
Tok ... tok, pintu keketuk dengan keras.
Tok ... tok, berkali-kali pintu terus kuketuk, dan lama sekali respon Yona untuk segera membukanya.
Chris memberi aba-aba agar aku tak menyerah untuk mengetuk.
Ceklek, akhirnya pintu dibuka juga.
"Kamu?."
Kekagetan Yona baru membuka sedikit pintu dengan cara mengintip.
Braaak, belum sempat pintu dibuka sepenuhnya, dengan kuatnya Yona menutup kembali pintu itu, mungkin sudah merasa ketakutan atas kedatanganku.
Klek ... klek, suara kunci pintu diputar Yona.
"Buka Yona ... buka, brook ... brok ... brook," kugebrak pintu memakai tangan secara kuat, saat pintu sudah dikunci Yona dari dalam
Chris yang melihat kekacauan ini secepatnya menghampiri.
"Kita dobrak saja, Adrian!" suruh Chris memberi ide.
"Emm, baiklah." Anggukan menyetujui.
Braak...brook...braak...brook, kami berdua sedang berusaha mendobrak pintu, yang tak peduli lagi dengan keadaan tubuh. Rasa sakit dan ngilu sudah datang, akibat berkali-kali dibenturkan dipintu.
"Lebih kuat lagi, Chris! Pasti kita bisa membukanya," suruhku.
"Baiklah. Satu ... dua ... tig--!" Chris sudah memberi aba-aba agar kami bersamaan mendobrak.
Brak ... brook ... bruuk, aku dan Chris masih saja sibuk mendobrak.
Gradaak, akhirnya pintu sudah terbuka lebar, yang sekarang sudah rusak di bagian knop pintu. Kami langsung saja mengambil langkah seribu untuk segera mencari wanita berbahaya itu.
"Yona ... Yona , dimana kamu? Keluar kamu sekarang, Yona. Jangan bersembunyi kamu!" teriak-teriakku melengkingkan suara.
"Karin, kamu dimana Karin?" teriak Chris juga yang ikut berputar-putar ke sekeliling kamar, untuk mencari keberadaan mereka.
Sudah berkeliling mancari kemana-mana, tapi tidak kelihatan sama sekali b*tang hidung Karin dan Yona nampak dirumah ini.
__ADS_1
"Gimana ini, Adrian? Mereka tidak ada," tanya Chris yang kebingungan dan khawatir.
"Sama, tidak ada. Sudah kucari dari sudut ke sudut, tapi sepertinya mereka tidak ada disini!."
"Bukankah kita jelas-jelas melihat Yona tadi ada didalam."
"Benar itu. Apa jangan-jangan mereka sudah kabur saat kita masuk tadi?" jawabku yang juga binggung.
"Seperti itu tidak mungkin, Adrian. Kelihatannya tidak ada jalan lain selain pintu depan." Dugaan Chris.
"Tadi aku melihat seperti ada tangga, tapi tidak tahu akan menuju kemana itu!" ujar Chris memberitahu.
"Kita coba ke sana! Siapa tahu Yona menyembunyikannya disana," responku menyetujui.
"Ayo ... ayo, Adrian."
"Bener-bener Yona ini, lihai sekali dalam melakukan kejahatan," keluh Chris memuji.
Deru langkah kini berjalan ke arah tempat yang diberitahukan Chris. Anak tangga terbuat dari besi didepan kami sekarang, sepertinya akan menuju ke atas atap.
"Sepertinya ini menuju ke atap balkon rumah," tebakkan Chris.
"Benar Chris. Lebih baik kita langsung naik saja," jawabku.
"Emm, baiklah."
Kami tidak kehabisan ide begitu saja, langsung saja mencari peralatan yang bisa mencongkel knop pintu. Untung saja usaha kami tidak sia-sia, saat kami telah berhasil menemukan linggis dirumahnya, sehingga tanpa basa-basi kami gunakan linggis itu untuk segera merusak knop pintu.
"Minggir Adrian," suruh Chris.
Tubuh sudah menyingkir segera untuk menjalankan aksi.
Braakk ... braak, berkali-kali Chris mengayunkan linggis ke knop pintu dengan kuatnya, dan terlihat perlahan-lahan kini mulai rusak wadah kunci pintu itu.
Klek ... klek, akhirnya pintu sudah terbuka juga.
"Hei siapa kalian?" Suara seorang pria.
Kami yang terkejut akibat kedatangan dua pria yang bertubuh kekar, langsung saja membuka pintu yang telah kami rusak tadi.
Benar saja dugaan kami kalau Yona dan Karin berada dibalkon atap.
Tanpa menunggu waktu lama, kami langsung menghampiri Yona yang sudah berdiri didekat Karin.
"Hentikan, Yona?" teriakku dengan emosi.
"Apa urusanmu, Adrian sayang!" jawab Yona dengan mudahnya, saat pisau sudah bertenger didekat leher Karin.
__ADS_1
"Hentikan ... hentikan, Yona."
"Pers*tan dengan kamu."
"Kalian berdua. Urus dua orang itu, yang sudah berani-beraninya ikut campur urusanku," perintah Yona kepada dua pria yang kelihatan seperti preman.
"Baik, Bos."
"Kalian jangan berani-beraninya ingin menangkap bos kami. Hadapi kami dulu," tantang mereka sudah berancang-ancang ingin segera menghadapi kami.
Serangan mulai diayunkan. Sikap yang tidak siap membuat wajah kena hantaman pukulan, membuatku harus hilang keseimbangan mundur-mundur kebelakang. Sedangkan Chris berhasil menghindar dengan cara menangkap kepalan tangan musuh.
Emosi sudah merajai jiwa, hingga mau tak mau harus berbalik mengayunkan kepalan tangan.
Lawan ternyata bukan orang sembarangan, selain kekar dan berwajah seram tapi lihai juga menggunakan ilmu bela diri.
Phak, sekali mengayunkan tendangan mengenai dada, membuat preman berambut gondrong sudah terjatuh kalah dilantai. Namun dia tidak mudah menyerah, yang segera berjalan ingin membalasku.
Tinjuan tangannya terus melayang ingin mengenai wajahku, namun untung saja bisa menghindari dengan cara mengkhayangkan tubuh menarik kebelakang.
Kami terus saja berkelahi dengan sengit, yang tak terkecuali Chris juga. Wajah sudah tidak berbentuk lagi, ketika bogeman demi bogeman terus saja berdatangan. Darahpun sudah terasa amis didalam mulut saat lidah mengecapnya.
Cuuih, air liur yang bercampur darah langsung kubuang ke lantai.
Ketegangan terus terjadi. Kami tidak mau menyerah begitu saja, saat Karin kini terancam akan dibunuh oleh Yona.
Posisi sekarang sedang berkuda-kuda mengambil nafas yang ngos-ngosan. Tenaga terasa terkuras habis, akibat kewalahan menandingi kekuatan musuh.
"Hahaha, gimana Adrian. Apa kamu akan menyerah menyelamatkan Karin. Lihatlah wanitamu ini yang tidak berdaya, apa kau tidak ingin menolongnya?" ejek Yona kepadaku.
Mendengar ucapannya yang memuakkan, seakan-akan telah membangkitkan tenagaku yang sempat ingin menyerah begitu saja. Chrispun sudah terlentang kalah tergolek dilantai, dengan wajah yang sama yaitu babak belur.
"Aaaaah!' teriakku ingin menyerang lagi.
Tangan terus saja terayun ke sembarang arah ingin memukul.
Yang terpenting sekarang ingin segera menumbangkan musuh. Tendangan kaki tak luput juga terus melayang. Sepertinya lawan mulai kewalahan saat aku membabi buta menyerangnya tanpa ampun.
Bghuggh ... bhaaagk, sekali tendang mengenai dada ditambah memutar badan dengan cara salto, akhirnya satu musuh berhasil kutumbangkan juga. Preman berambut gondrong kini berhasil terkulai lemas tidak bisa bangkit lagi.
Wajah yang sangar penuh emosi, kini kembali menyerang musuh yang lain, saat Chris tidak berhasil mengalahkannya.
Ternyata lihai juga musuh yang satu ini saat kami berdua menghadapinya, tapi dia dengan cekatan berbalik membalas tinjuan kami.
__ADS_1