Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
pengakuan sakit hati


__ADS_3

Seperih luka sayatan, inilah yang kurasakan sekarang. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan pada Chris. Dia benar-benar kecewa atas sikapku, saat bersama kak Adrian kemarin. Bukan maksud memilih kakak yang sudah melukaiku itu, tapi demi anaklah menjadi alasan. Mana tega melihat anak yang sering sakit-sakitan, kalau tidak dituruti permintaannya.


"Huff, apa yang harus kulakukan padamu, Chris? Pasti akan susah jika ingin bersama kamu. Rasa sakit itu sudah terlalu dalam, sehingga aku tidak tahu bagaimana lagi untuk membujuk kamu," guman hati kebingungan.


"Ada apa, Karin?" Suara Kak Adrian bertanya.


Hari ini terpaksa ikut kemauan anak, untuk berkunjung kerumah neneknya. Aku yang sedang duduk santai didekat kolam renang., langsung terbuyar lamunan saat memikirkan sikap Chris.


"Tidak apa-apa, Kak!" jawabku lemah.


"Jangan bohong kamu. Aku tahu kamu sedang ada masalah. Apa ini berkaitan dengan Chris lagi?" tanyanya.


Heehhh, hembusan nafas panjangku.


"Iya, Kak. Tebakanmu benar."


"Aku tidak tahu, apa yang harus kulakukan untuk membujuknya. Kesalahpahaman ini telah membuatnya terluka," jelasku.


"Memang kamu beneran mencintainya?" tanya Kak Adrian menatap kearahku tajam.


Deg, pertanyaannya seketika membuatku melototkan mata. Tidak serta merta kujawab, sebab terlalu membingungkan.


"Diamnya kamu aku sangat memahami. Kalau kamu tidak ingin berpisah dengan Chris, maka kejarlah dia sampai kamu bisa mendapatkannya," ucap Kak Adrian kelihatan tegar.


"Aku sangat menyayanginya melebihi kekasih. Dia selalu ada untukku. Ketika tidak ada semangat hidup, hanya dialah yang selalu membantuku tetap berdiri lagi menjalani hidup ini. Perjuangannya untuk mendapatkanku tidak bisa diremehkan. Dia pernah mengorbankan segalanya demi Naya anak kita, sampai-sampai bertahun-tahun kami terpisah."


"Saat kau tidak ada disampingku waktu melahirkan, hanya Chrislah setiap detik dan waktu menemani dengan kesabaran. Dia adalah orang yang sudah memberikan warna kebahagiaan padaku. Ketulusannya begitu nyata, hingga tidak tega jika hari ini dia terluka. Aku begitu sendirian kala itu akibat kebingungan, hanya dialah yang selalu hadir mengenggam erat tanganku agar tetap tegar. Dimanakah letak kesalahan ini? Bagaimana aku bisa memperbaiki ini semua?" ungkapku sudah menitikkan airmata, dengan pandangan terus lurus kedepan.



"Aku tahu, dia sangat berarti dalam hidupmu. Maafkan aku sudah membuat kekacauan ini. Sudah, jangan bersedih lagi. Tidak sepantasnya airmata kamu ini keluar. Tetaplah tegar dan berusaha kuat, untuk mendapatkan Chris lagi. Maafkan aku!" ucap Kak Adrian sudah menghapus airmataku.


"Iya, Kak. Maafkan aku, sudah menyakitimu juga," jawabku kian tersedu-sedu.

__ADS_1


Senja kian merona.


Memancarkan segala keindahannya.


Terbawa oleh rasa hati


Disetiap bait-bait kata yang ada.


Teringat saat-saat kita bersama


Selalu menghabiskan waktu berdua.


Dalam alunan asmara yang sudah terjalin


Namun kini kusendiri, tanpa disisimu lagi.


Ingin sekali rasanya untuk bertemu


Oh, kasih ...


Kesalahpahaman ini telah sama-sama melukai.


Walau hanya sekejap terhalang waktu


Kuingin menjelaskan semuanya.


Agar bisa kupeluk lagi engkau kasih


Bisa tertawa bahagia kembali, saat semuanya telah hilang.


Airmata terus mengalir tiada henti. Semakin lama suara sesegukan semakin kuat. Pelukan hangat Kak Adrian terasa membuatku semakin rapuh.


Kabut sudah menyulam hari-hari kian mendung. Mencintainya adalah bagian terindah dari hidupku. Hidup sudah hilang harapan, saat dia berhasil memisahkan ikatan kami.

__ADS_1


"Eghem ... hemm!" Suara deheman seseorang.


Seketika pelukan kami terlepas, saat tahu yang datang adalah Yona.


"Kenapa kalian kelihatan mesra begitu? Bukankah Karin sudah punya pasangan, apa nanti tidak kena marah?."



"Ada apa kamu Karin, kok kelihatan sedih habis menangis begitu?" cecar Yona bertubi-tubi.


Lelehan embun yang sempat menetes, langsung kuhapus dengan tangan.


"Tidak ada apa-apa, Kok. Karin hanya sedang ada masalah kecil saja," jelas Kak Adrian.


"Ooh. Aku pikir kalian sudah kembali menjalin hubungan," tebak Yona salah sangka.


"Mana ada, Yona. Kami tidak ada hubungan, hanya sebagai teman tapi mesra didepan anakku saja," terangku santai.


"Mesra? Tapi tidak berlebihan 'kan?" tanya Yona aneh.


"Ya, Tidaklah."


"Ooh, Baguslah."


"Memang bagus kenapa, Yona?" tanya Kak Adrian sudah merasa aneh.


"Eeh, tidak ada apa-apa, kok. Maksudnya baguslah jika kalian tidak ada hubungan, sebab bisa-bisa calon suami Karin nanti akan marah besar jika kalian mesra," jelas Yona.


"Ooh begitu. Ya sudah, aku akan pergi. Maaf ya tidak bisa menemani, aku ingin ke dalam dulu. Kalian kalau ingin bicara, silahkan!" pamitku.


"Ok. Terima kasih atas pengertiannya."


Aku akhirnya melangkah ingin menemui Naya, yang sedang bermain dengan Mama. Yona kelihatannya penting ingin berbicara pada Kak Adrian, jadi tidak enak jika menganggu mereka. Tahu sadar diri, maka akulah yang harus mengalah pergi.

__ADS_1


__ADS_2