Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Masih dalam kebingungan


__ADS_3

Aku tak tahu atas rasa bahagia ini, namun kenapa ada perasaan kesedihan yang begitu mendalam. Netra terus saja menatap nanar pemandangan diluar rumah, dengan pikiran sudah dipenuhi oleh masalah yang menurutku tak bisa kupecahkan sendiri.


"Kenapa aku harus galau begini? Bukankah Chris sudah membuatmu bahagia, Karin? Kamu jangan terpengaruh atas ucapan-ucapan Adrian kemarin. Kamu tahu sendiri bahwa kakak kamu itu sangat mencintai kamu, namun masa kelam itu telah menghancurkan semuanya," guman hati berbicara pada diri sendiri, yang masih tak mengerti atas lakon hidup ini.



Sudah dua hari lamanya Naya dibawa kak Adrian kerumahnya, sebab katanya dia tak ingin merusak kebahagiaanku.


"Bunda?" teriak suara Naya memangil.


Seketika lamunan buyar, saat netra melihat sumber suara itu. Senyuman sudah terukir indah dari bibirku, saat mengetahui Naya kini sudah pulang ke rumah ditemani Mama angkat Lidya.


"Hei sayang, gimana kabarnya? Bunda kangen, nih! Kamu ngak nakal 'kan dirumah ayah?" cakapku yang sudah menghampirinya dan langsung memeluk.


"Naya jadi anak baik, Bunda. Naya juga kangen sama bunda," jawabnya yang sudah mencium pipiku.


"Anak bunda memang selalu boleh diandalkan atas kebaikkan!" jawabku yang balik mencuim sayang pipi chubbynya.

__ADS_1


"Gimana kabar kamu, Nak?" tanya sapa Mama.


"Alhamdulillah, Karin baik, Ma!" jawabku yang sudah mencium tangan punggung beliau.


"Syukurlah. Maafkan jika Mama yang mengantar Naya pulang kerumah. Adrian ada kepentingan mendadak, jadi tak bisa mengantar Naya tadi," ucap Mama tak enak hati.


"Tak apa, Ma. Karin paham, kok. Mari masuk, Ma!" tawarku.


"Iya, terima kasih."


Akhirnya kami bertiga sudah memasuki rumah ibu angkat Fatimah. Keadaan rumah sepi hanya aku seorang, sebab ke dua orangtua angkat sedang berada disawah, untuk menengok tanaman padinya. Hari ini aku cuti tak kerja, karena badan terasa letih akibat acara kemarin begitu menguras tenaga, jadi berusaha sejenak untuk istirahat total.


Huffft, hanya hembusan nafas kasar yang bisa kulakukan, saat tak tahu lagi harus menjawab apa yang jadi pertanyaan beliau.


"Entahlah, Ma. Karin juga sebenarnya bingung atas hubungan ini," jawabku lesu.


Naya kini sedang bermain sendirian dilantai, sedangkan kami hanya menemani dilantai juga, tapi agak sedikit jauh darinya.

__ADS_1


"Kok entah? Apa kamu masih bingung dengan perasaan kamu yang sebenarnya?" imbuh tanya Mama lagi.


"Boleh dibilang begitu, Ma. Karin sebenarnya juga cinta sama Chris, namun entah mengapa rasa-rasanya kok berat sekali ingin bersama dia," jelasku dengan hati gelisah.


"Apakah ini ada hubungannya dengan Adrian anak Mama?" tanya beliau lagi.


"Bisa jadi. Tapi entahlah, Ma. Kak Adrian rasanya selalu saja jadi bayangan dalam diriku, hingga aku mau kemana-mana selalu saja diikutinya, termasuk didalam perasaanku juga. Aku berusaha melupakan semua kenangan bersama kak Adrian waktu dulu, tapi entah mengapa bayangan akan cintanya begitu saja menghantuiku. Karin tak mengerti atas semua ini, sebab semua kejadian rasanya berhasil memenjarakan diriku, untuk tak bisa berbuat apa-apa lagi," terangku sendu.


"Mama tahu sekali atas perasaan kalian masing-masing. Dalam lubuk hatimu masih mencintai Adrian, namun kebersamanmu bersama Chris telah menumbuhkan cinta baru saat kau perlukan akibat disakiti Adrian. Jika ini berat, maka hentikan semua hubungan kamu bersama Chris, agar kamu bisa tenang dan tak terbebani lagi oleh masalah ini. Bukan berarti Adrian adalah anak Mama, kamu berpikiran kalau Mama jahat ingin menpengaruhi pikiran kamu. Mama hanya membantu kegelisahan, atas apa yang kamu rasakan sekarang. Sholat istikharah adalah jalan yang terbaik, untuk mengetahui siapakah yang pantas untuk bersanding denganmu. Tanyakan terus dalam hati yang paling dalam, siapakah yang berhak atas rasa cintamu itu," ucap nasehat Mama.


"Iya, Ma. Insyaallah, Karin akan melaksanakan semua apa yang dikatakan Mama barusan. Doakan Karin untuk segera menemukan jawaban atas hati ini," jawabku setuju.


"Iya, Nak. Pasti itu. Kamu adalah anak yang selalu Mama sayangi, walau kita kini terpisah oleh rumah," cakap beliau yang mengelus pelan rambutku.


"Terima kasih, Ma. Kamu adalah wanita yang berhati mulia dan baik, yang selalu saja mengedepankan Karin duluan, walau aku bukan anak kandung kamu," ujarku serak.


"Sama-sama, Nak. Walau kau tak terlahir dalam rahimku, namun kamu adalah wanita yang selamanya akan jadi anak Mama," imbuh ucap beliau.

__ADS_1


Kami terus saja tersenyum sumringah bahagia bersama. Mama lama sekali bertandang dirumah ibu angkat, yang terus saja menemani Naya bermain. Rasanya sungguh tak terkira lagi atas kerukunan dikeluarga kami, walau tak ada hubungan darah sama sekali. Sikap Mama Lidya yang baik dan selalu ramah, selalu saja menentramkan jiwaku, hingga aku sering kali betah berlama-lama ngobrol bersama beliau.


__ADS_2