Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Kekuh Minta Cerai


__ADS_3

Tidak percaya. Ingin rasanya kusobek kertas pemberiannya itu. Rudi mencegah dengan menahan bahu, seakan-akan tahu aku dalam kondisi dikuasai emosi.


"Kamu tidak salah 'kan melakukan ini?"


"Ini adalah kebenarannya. Itu adalah surat cerai untuk kita, kamu tanda tangani saja, maka kita akan resmi berpisah" imbuh penjelasan Ana.


"Tapi Ana, ak-?."


"Setelah bercerai aku tak ingin kamu mengangguku lagi," tegas Ana berkata.



"Jangan lakukan itu."


"Tidak bisa. Oh ya, ada satu hal lagi, jangan pernah kamu menemui maupun menampakkan diri dihadapanku, paham!" gemerutuknya Ana berbicara terlihat sudah ada emosi diraut wajahnya.


"Apa?."


Ada ketegangan diantara kami. Rasanya tidak terima saja jika Ana berani dan kekuh atas keinginannya.


"Bos, aku pergi dulu!" ucap Rudi pamit.


Rudi mungkin sudah tak enak hati, akibat ada percikan emosi yang mulai tercipta diantara kami.


"Hem," jawabku menyetujui.


Setelah kepergian Rudi, aku mencoba tetap tenang untuk menghadapi Ana, biar tidak ada emosi dan membuat kami semakin merenggangkan masalah kami.


"Kamu jangan harap untuk kutanda tangani segera, sebab mulai sekarang dan selamanya aku takkan menceraikanmu," jelasku berusaha tetap tenang.



"Terserah kamu, yang terpenting aku sudah menepati janji seperti yang kamu inginkan," timpalnya yang masih kekuh.

__ADS_1


"Aku takkan menceraikanmu, titik!" tekanku berkata.


"Terserah kamu, aku akan tetap minta cerai, sebab aku sudah tak tahan dengan semua sikapmu itu," pekiknya berucap sedang penuh emosi.


"Jangan lakukan itu. Maafkan aku Ana. Walau aku tak bisa mengingatmu, tapi sekarang ini aku ingin sekali bersamamu," celetukku masih bersabar dalam berucap.


"Pakoknya terserah ya terserah, apa yang selanjutnya ingin kamu lakukan. Yang terpenting sekarang aku sudah menandatanganinya, jadi segera tanda tangani supaya cepat berpisah dan kita tidak ada ikatan lagi," kekuh Ana tak mau mengerti.



"Kamu jangan gila," bentakku yang sudah tak bisa menahan emosi lagi.


Sudah cukup sabar. Ana terus memancing emosi. Tahu betul kalau dia tidak terima atas sikapku kemarin-kemarin.


"Terserah sama kamu mulai sekarang."


"Aku permisi dulu. Maafkan aku yang tak bisa membuatmu bahagia dan mendampingimu sampai menua," ucapnya yang sudah berjalan ingin melenggang pergi.


Bruuuuk, tubuhku langsung menumbruk badan Ana dari belakang untuk secepatnya memeluk, dan terasa sekali dia begitu meronta-ronta seperti tak nyaman.


"Lepaskan aku. Lepaskan, Mas!" pintanya.


"Aku takkan melepaskanmu," balasku.


"Maafkan aku, Ana!" ungkapku.


"Kamu jangan begini, Mas!" sahutnya.


"Tidak bisa."


"Dan kamu gak perlu meminta maaf terus, mungkin ini semua sudah takdir kita untuk berpisah. Dan sekarang bagiku semuanya sudah selesai sampai disini," sela Ana menjelaskan.


"Aku tidak mau," ujarku yang sudah mengeratkan pelukan.

__ADS_1


"Lepaskan aku, Mas!" dia terus meliuk-liuk minta dilepaskan.


Sebab dia terus saja meronta, langsung saja kulepaskan pelukan, dan memutar badannya secara kuat, alhasil berhadapan dengan tubuhku.


Cuuup, dengan kuat langsung kucium bibirnya, dan tangannya kini mulai terasa meronta-ronta, tapi dengan kuat pula aku menguncinya. Terasa ada penolakan. Aku tidak mau menyerah. Dia istriku yang halal jadi wajar aku bisa melampaui batas melekatkan bibir kami.



"Heeeh ... hhh. Hentikan, Mas!" pekiknya tak suka.


Cuuup, untuk yang kedua kali ciuman kembali kudaratkan dibibirnya, tapi kali ini kepegang erat kepalanya biar dia tak bisa menghindar lagi. Langkahnya dan langkahku semakin lama semakin mundur-mundur, sehingga tubuh Anapun terkunci bersandar ditembok. Masih sama dia tidak merespon baik, namun bukan namanya Adit jika tidak bisa menaklukkan istri sendiri.


Jeek, tiba-tiba kaki Ana yang memakai higheels menginjak kakiku yang masih terbungkus sepatu.


"Awww ... aaa ... aww, sakit Ana! Aaahhh, sial," umpatku sudah melompat-lompat kecil merasakan sakit, dengan tangan sudah memegang kaki.


"Kenapa? Tidak suka 'kah?."


"Kalau tak suka biarkan aku pergi, ok!" ucapnya yang sudah menghampiriku, dan tangannya menepuk-nepuk pipiku.


"Tunggu! Jangan main pergi saja kamu," ucapku yang masih sibuk memegangi kaki, akibat sudah berdenyut nyeri sehingga tak bisa mengerjarnya.


"Bye ... bye, rasakan itu. Selamat menikmati rasa sakit itu. Itu hukuman yang pantas untukmu, yang telah berani-beraninya menciumku," ujar Ana sebelum benar-benar pergi.


Kepala sudah menyembul diantara pintu. Ada wajah kebahagiaan akibat aku kalah tenaga. Akalnya sungguh pintar. Cukup berani juga untuk melawan seorang Adit.


"Aah, sialnya. Awas kau, Ana." Gerutuku marah.


Gara-gara ujung sepatu Ana, kini kaki benar-benar sudah nyut-nyutan tak terperi lagi perihnya.


"Hihihiii, dasar perempuan aneh," tawaku geli, akibat teringat kegilaan yang terjadi pada kami barusan.


Sungguh rasanya gila sekali, ternyata Ana bisa diluluhkan hanya dengan ciuman, dan aku mengaku kalah akibat sepatunya.

__ADS_1


__ADS_2