Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang> Saling Maafkan


__ADS_3

"Hehhhhh," hembusan nafasku kesal, akibat tak bisa mencegah mas Adit.


Diri ini hanya diam mengikuti perintahnya, kalau tidak dituruti bisa-bisa dia akan bertambah semakin marah. Aku bukannya istri yang durhaka pada suami, yang mana tak mau mengikuti semua perintahnya, tapi semua terlakukan akibat malas dan kesal saja, atas semua sikap suami yang tak mengerti akan keinginanku.


Mata terus saja menerawang jalanan disebalik kaca mobil, yang tak tahu dari mana Mas Adit mendapatkannya. Dia adalah orang yang kaya, jadi apapun yang biasa mustahil terjadi, bisa dia lakukan dengan mudahnya, termasuk mobil yang kami tumpangi i


"Kamu kok diam terus sih, sayang!" ucapnya mencoba mengajakku berbicara.


Mulut rasanya enggan sekali bersuara untuk sekedar me jawab ucapannya, dan mata terus saja menerawang ke arah jalanan.


"Aku ini bukan patung lho! Jadi ayo dong keluarkan suaramu yang suka bawel itu!" cakapnya yang menghina.


"Apa ... apa? Bawel? Ciiih, main ngomong sembarangan saja," Suaraku nyolot tak suka.


"Hahahahha, bagusnya memang begitu. Kamu bisa bersuara, kalau kuejek atas semua kejelekkanmu," jawabnya.



"Dasar manusia aneh. Jelek-jelek begini mas Adit akhirnya juga klepek-klepek jatuh cinta padaku," balasku balik mengejeknya.


"Hahahaha, tau aja kamu ini! Iiiih," ujarnya yang mencubit pipiku dengan kuat.


"Aaaa ... aww, sakit mas!" jawabku kesakitan.


"Hehehhe, abis kamu gemesin sih!" ujarnya sambil mengelus-elus pipiku pelan.

__ADS_1


Suasana yang sempat tegang dan mengesalkan, kini mulai mencair kembali dan mengobrol seperti biasanya. Memang Mas Adit ini selain pintar dalam bisnis, tenyata dia pintar ngegombal dan mengambil hati seseorang, yang sedang marah dengannya.


"Kita mau kemana sih, Mas?" tanyaku penasaran, sebab dari tadi tidak sampai-sampai.


"Nanti juga akan tahu, sebentar lagi kita akan sampai," jawabnya santai.


Dan diri ini hanya bisa pasrah, mengikuti keinginan mas Adit.


Sheet, secara perlahan-lahan mobil telah sampai ditempat parkiran mobil, dan terlihat sudah ramai orang sedang berlalu lalang, dengan pakaian renang dan baju santai, yang sepertinya ini adalah tempat pantai.


"Apakah kita sekarang dipantai, Mas?" tanyaku yang menduga-duga.


"Yap, sayang."


"Ya ampun bebebku sayang, kenapa kamu berjalan dibelakang?" keluh Mas Adit.


"Cepetan kesini! Jalan berdampingan sama Mas," suruhnya.


Seketika kuturuti saja perintahnya, yang tanpa lagi ada perlawan yang aneh-aneh dariku.


"Ayo sini! Jangan jauh-jauh dari, Mas!' perintah suami lagi, yang langsung menggengam erat tanganku untuk digandeng, agar berjalan mengikuti langkahnya.


Mata terus saja tertuju pada gandengan tangan yang diberikan mas Adit, sebab aku begitu terpesona atas perlakuannya sekarang. Baru kali ini, selama enam tahun menikah dan 1 tahun menjalin rumah tangga, mas Adit telah mengenggam tanganku ditempat umum, tanpa ada rasa malu lagi pada semua orang. Rasanya airmata ingin menetes terjatuh, akibat terhanyut dan trenyuh atas sikapnya. Diri ini benar-benar gembira sekali, akibat selama ini tak pernah kudapatkan darinya.


Senyumannya yang manis saat berkali-kali menengok ke arah wajahku, itu sunguh-sungguh membuat hati terasa teduh dan menenangkan. Ternyata disebalik sikapnya yang kadang dingin, dia begitu menyimpan sejuta keromantisan dan kehangatan atas nama cinta. Sungguh suatu keberuntungan diri ini mendapatkanya, yang bagiku terlalu sempurna atas semua yang melekat padanya, dibandingkan diriku yang hanya ada penderitaan dan kemiskinan.

__ADS_1


"Gimana? Kamu suka ngak?" tanya Mas Adit.


"Suka, Mas."


"Alhamdulillah kalau kamu suka," ujarnya yang lansung memelukku dari belakang.


"Entah berapa kali kuucapkan padamu kata-kata ini, mungkin sudah beribu kali kamu mendengar. Bahwa hatiku ini hanya untukmu dan selamanya akan tetap mencintaimu," ucapnya yang langsung mengecup pipiku dengan sayang.


"Iya, Mas! Terima kasih atas segalanya," Kugosok-gosok tangannya yang sedang mendekap tubuhku dari belakang.


"Aku kemarin tidak bermaksud untuk marah padamu, hanya aja aku terlalu khawatir sekali atas keselamatanmu, sebab hal yang mencelakaimu kemarin-kemarin sungguh membuatku ikut merasakan terluka, sehingga akupun tak terkontrol atas semua emosi, yang membuat pertengkaran kecil tak terelakkan terjadi pada kita. Jadi maafkan atas semua ucapan mas kemarin ya, Ana!" permohonannya yang bersuarakan sendu.


Kuberikan tepukan kecil pada tangannya yang memeluk dibagian perut.


"Aku begitu tidak suka kamu mendiamkanku, sebab itu semua sungguh menyiksa, yang bagaikan pisau sudah menyayat kulit. Jadi kumohon sekali lagi, maafkanlah diriku dan jangan pernah lagi mendiamku, dan terlebih lagi jangan ulangi tak menghiraukan atas semua ucapan-ucapanku," imbuhnya yang terasa pilu.



Kini badan sudah berbalik menatap wajah mas Adit, kutatap wajahnya yang tampan secara seksama, dan terlihat sekali disudut pelupuk matanya ingin mengeluarkan sebuah tetesan embun. Aku begitu tahu bahwa airmata itu mengalir hanya untukku, dan perlahan-lahan kuusap air itu dengan jari jempol, yang serta merta telapak tangan langsung membelai pipinya dengan kelembutan.


"Maafkan Ana juga, Mas! Tak sepatutnya aku marah padamu, padahal itu adalah murni kesalahanku, jadi berhetilah untuk meminta maaf lagi," ujarku mengusap-usap pipinya.


"Iya sayang, terima kasih atas segalanya. Kamu adalah wanita yang selamanya tak akan pernah hilang dalam ukiran hatiku, dan namamulah yang terus bersemayam indah tertera dalam hatiku juga," cakap Mas Adit yang selanjutnya langsung memelukku erat.


Setelah dirasa mas Adit tenang, kini badanku berbalik mengarah ke pantai, dimana tingkah mas Adit masih setia memelukku dari belakang. Mata kami sekarang sudah sibuk menatap keindahan pantai, yang kian lama kian menampakkan keindahan, yang mana ombak semakin lama semakin berkejaran-kejaran menderukan airnya. Keindahan airnya yang membiru sungguh memanjakan mata setiap memandang, ditambah keromantisan yang mas Adit lakukan, sehingga kehidupanpun terasa hidup kembali, setelah enam tahun bagai mati tak bernyawa dan bersemangat dalam menjalani hidup.

__ADS_1


__ADS_2