Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>Tangisanku Saat Mengendong Bayi


__ADS_3

Rasa hatiku yang galau akibat memikirkan wanita yang mengaku sebagai istriku itu, kini lama-lama dan kian hari membuat kepalaku semakin pusing terasa pecah, yang mana tak henti-hentinya bayangan wajahnya selalu saja memenuhi pikiran. Aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan pada diriku, sebab sudah berkali-kali telah mencoba mengingatnya, tapi sungguh sia-sia tidak bisa sama sekali.


"Ah, aaaa ... aaah, praang!" Kaca kamar telah kupukul akibat frustasi.


Rasa marah sudah menghampiri, akibat wajahnya kian hari selalu saja menari-nari dalam kepalaku.


"Ya Allah ... ya Tuhanku, apa yang harus kulakukan terhadap wanita itu? Kalau dia benar-benar istriku kembalikanlah ingatanku, dan kalau dia bukan siapa-siapa maka jauhkanlah dari hadapanku. Jika takdirmu tak menjodohkan kami, padamkanlah keindahan wajahnya dari pandanganku. Dan diri ini sangat memohon jauhkanlah sejauhnya namanya terdengar ditelingaku, karena sungguh atas perasaan galau ini tak mampu lagi kutahan, dan rasanya selalu tak tenang sekali bila mendengar namanya," Doa dalam hati merasa gelisah dan galau.



Entah mengapa hati seakan tersentuh dan penasaran sekali akan sosok yang bernama Ana itu, tapi sayangnya aku benar-benar tak mengingatnya lagi.


Dert ... drzzzzt, gawaiku tiba-tiba berbunyi.


"Siapa sih! Ganggu orang saja," keluhku tak senang.


[Hallo, Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


[Adit, cepetan kamu ke sini?]


[Ada apaan sih, ma? Sepertinya kamu sedang merasa gelisah saja]


[Pokoknya kamu datang dulu saja ke rumah sakit]


[Ada apaan sih, ma! Ngapain juga ke rumah sakit. Memang siapa yang sakit?]


[Papa kamu yang sakit, sebab dia tadi pingsan waktu diperusahaan]


[Apa?]


[Benarkah itu? Mama ngak bohong 'kan?]


[Gak Adit, buat apa juga mama bohong]


[Oke ... oke, secepatnya Adit akan meluncur ke sana]


Perasaan aneh kini mulai menghampiriku, masak papa tadi pagi menemuiku dengan badan sehat bugar dan baik-baik saja, tapi sekarang mama mengatakan sakit?.


"Aah benarkah papa sakit?" rasa tak percaya menyelimutiku.


Sungguh rasanya ada keanehan dan ada sesuatu kejanggalan, tapi demi baktiku dan tak mau ada masalah sama orang tua, aku harus tetap datang walau nantinya benar-benar ada kebohongan.


Kunci diatas nakas kusambar. Mobil segera kuhidupkan saat terparkir dibawah apartemen. Tancap gas ingin segera datang. Kepanikan mama cukup membuat gelisah.


Setelah bebarapa menit dalam perjalanan, kini akhirnya sampai juga dirumah sakit yang mama maksudkan.


[Hai, Ma. Bagaimana keadaan papa?Diruang manakah papa dirawat?]


[Kamu datang saja ke ruangan no. 21 yang ada dipojok kiri]


[Baiklah aku akan datang, dan sekarang sedang berjalan menuju kesana]


[Oke, mama tunggu]


Netra fokus mencari. Cukup jauh juga melangkah. Satu-persatu angka kuperhatikan. Di sekitar ruangan tidak ada mama, jadi masih belum ketemu jua ruangannya.


Langkah sudah tergesa-gesa menuju ruangan rawat inap yang dimaksud mama.


"Kok aneh sekali kenapa aku berjalan diruangan ibu dan anak?" gumanku dalam hati, saat melewati ruang demi ruang ada ibu-ibu mengendong bayinya.

__ADS_1


Sampai akhirnya baju yang sering dipakai dan sudah kukenali sosoknya terlihat jua.


"Ma?" panggilku dari kejauhan, dengan berjalan tergesa-gesa.


"Adit, Sini ... sini!" panggil Mama melambaikan tangan.


"Mana papa? Gimana keadaannya? Sakit apa beliau sekarang?" berondongku sebab penasaran.


"Papa baik-baik saja. Sekarang kamu masuklah kesana, dan ngak usah banyak tanya lagi," suruh beliau.



Tubuh sudah didorong-dorong paksa. Sempat ragu dan heran, namun kalah telak sikap beliau yang mengharuskan aku masuk.


"Apa?" Kekagetannku.


Rasanya terkejut saja, sebab mama menyuruhku masuk kedalam ruangan persalinan. Tidak sempat baca tulisan-tulisan dipintu akibat panik atas keadaan orangtua. Namun kini terpampang jelas ada kata persalinan.


"Apa maksudnya ini, Ma? Adit benar-benar tidak mengerti dan gagal faham?" tunjukku ke ruangan yang disuruh beliau.


Kami masih berdebat didepan pintu.


"Aah, kamu gak usah banyak tanya, yang terpenting sekarang pokoknya kamu masuk saja," desak beliau.


Wajah sudah kebingungan. Kenapa dan harus ngapain didalam ruangan ini. Tidak ada kerabat yang membutuhkan diriku untuk masuk sini.


Tanpa perlawanan aku mulai berjalan untuk masuk diruang persalinan, hati masih begitu ragu apakah tindakanku adalah benar, sebab rasa curiga kian bertambah, saat bapak Ana sedang berdiri mendampingi mama tadi.


"Aah, apakah aku bakal bertemu,. Ana! Aah, tidak ... tidak, semoga itu tidak akan mungkin terjadi." Pikiran sedang melayang-layang atas keanehan tindakan mama.


Ceklek, pintu persalinan kini kubuka.


"Aaahhh, awww ... awww," Suara seorang perempuan sedang mengerang seperti kesakitan.


"Bapak sini ... Bapak? panggil bu bidan.


"Kamu pasti ayahnya! Ayo, cepetan kesini. Bantu istrinya untuk menjalani pesalinan dengan mudah," dokter bidan kini menghampiriku.


"It-iii-tu ... itu, Bu--!" Suaraku tertahan saat dokter sudah menarikku supaya mengikutinya.


"Bapak disini saja, bantu istrinya yah! Dia sangat butuh bantuan dan support Bapak," ucap Bu bidan.


"Tapi dok!" ucapku binggung dengan mengelus-elus tengkukku.



"Tidak usah khawatir. Ini wajar bagi pasangan yang baru mempunyai anak. Pasti bingung dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Kami akan memberi arahan, dan Bapak harus melakukannya," Dokter sudah pengertian akan diriku yang gugup.


"Baik, Dok."


Aku hanya bisa memasang ekspresi wajah kebingungan, sebab tak tahu lagi apa yang harus kulakukan saat ingin membantu Ana, dengan mukanya sudah meringis menahan kesakitan. Melihat mukanya itu ada desiran kasihan. Ingin berbuat sesuatu dan menolong tapi hanya bisa memperhatikan saja.


"Pembukaan baru empat, jadi tunggu dan sabar dulu ya untuk ibunya. Dan bapak bantu istrinya agar tetap tenang, disaat-saat proses kelahiran nanti," ucap dokter pada kami berdua.


"Heeem," jawabku yang hanya bisa terdiam tak mampu berbicara.


"Untuk apa kamu disini, Mas!" Suara Ana lemah sudah dipenuhi keringat.



Peluh sudah sebesar biji jangung. Ingin membantu mengelap tapi sepertinya dia tidak suka atas kehadiranku.

__ADS_1


"Aku tidak ada maksud apa-apa, cuma ... cuma, makk-!."


"Aaaaa. Allahu akbar ... aaahhh," Suara Ana berkali-kali menyebut asma Allah, sambil menahan rasa sakit.


"Bapak tolong ajarkan istrinya sekarang, cara untuk mengambil dan mengeluarkan nafas," perintah dokter.


"Tapi, Dok. Aku ... aku bukan suam-!" Suaraku tercekat.


Belum sempat melanjutkan omongan, keadaan kelihatan sudah panik saat Ana tidak henti-hentinya mengeluh dan berteriak kesakitan.


"Aaa ... aww," suara Ana yang terus saja mengerang kesakitan.


"Ayo pak ajari istrinya, biar dia lebih nyaman dan bisa sedikit menahan rasa sakitnya," perintah bu bidan lagi.


"Baiklah ... baik, Dok," jawabku yang ikut-ikutan gugup juga.


"Ana dengarkanlah aku sekarang! Ambilah nafas dalam-dalam, oke!" perintahku yang sudah mengengam erat tangannya.


"Heeehuuh," Ana berusaha menghirup nafas.


Dia nurut juga atas perintahku. Pembantu bidan sudah berdiri samping kanan kiri. Sedang Bu bidan telah berdiri dibawah kaki Ana.


"Bagus ... bagus ... terus ... terus, dan sekarang hembuskanlah pelan-pelan huufffff," Perintahku yang ikut mempraktekkannya juga.


"Huuuf ... hufff," Suara Ana menghembuskan nafas dengan benar.


"Bagus ... bagus, Pak. Ajari istrinya terus-menerus begitu," puji bu bidan menyuruh.


Tak berselang lama, Suara tangisan bayi akhirnya mengema keras diruangan persalinan.


Setelah penuh penjuangan, akhirnya bayi yang dinanti-nanti kini sudah keluar untuk melihat dunia ini.


"Alhamdulillah, selamat ya untuk bapak dan ibu, ternyata bayinya perempuan," keterangan dokter.


"Alhamdullilah," ucapku memuji syukur.


Akhirnya setelah hampir setengah jam dalam ketegangan membantu persalinan Ana, akhirnya bayi mungil yang manis kini telah kugendong. Entah mengapa tak terasa bulir-bulir airmata tiba-tiba kini menetes jatuh dibadan bayi yang masih suci ini. Sungguh hatiku begitu tersentuh melihatnya, yang mana wajahnya sangat mirip sekali denganku.


Sekarang aku begitu terhanyut sedih ketika melihat Ana, betapa dia tadi begitu kesusahan penuh perjuangan, untuk bersusah payah dan berusaha sekuat tenaga melahirkan bayi mungil ini.


"Ya Allah apakah aku benar-benar salah telah menelantarkan mereka berdua? Apakah yang harus kulakukan sekarang? Sementara itu aku masih saja tak mengingat Ana sama sekali," tangisku sedih yang masih saja mengendong putri kecil, yang manis dan imut ini.


"Bagaimana Adit?" tanya Mama yang tiba-tiba masuk bersama Bapak Ana.


"Alhamdulillah lancar semua, Ma! Dan babynya berjenis perempuan," terangku pada mereka.


"Ana gimana?" tanya Mama khawatir.


"Alhamdulillah dia baik juga. Tadi kusuruh istirahat, sebab kelihatannya dia sudah kehabisan tenaga tadi, dan sekarang sedang tidur," penjelasanku.


"Kamu sudah mengadzankan dia?" tanya Bapak.



"Apakah harus, Pak?" tanyaku tak mengerti.


"Iya Adit, setiap bayi yang lahir dia harus diazankan, dan sebagai tanda bahwa dia sudah beragama islam," penjelasan bapak.


"Baiklah, Pak!" jawabku.


Atas nasehat bapak Ana, kini putri mungil ini sudah kuadzankan ditelinganya, dan rasanya airmata tak henti-henti menetes, sehingga rasanya sungguh tak bisa terbendung lagi lelehannya.

__ADS_1


Detik-detik saat ayat-ayat alunan adzan kukumandangkan ditelinga bayi itu, mama dan bapak Ana begitu tersenyum sumringah atas tindakanku.


__ADS_2