Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2 =Istriku Yang Hilang >>Ketahuan Bohongnya


__ADS_3

Dengan sekuat tenaga aku dan sekertaris Rudi memapah mas Adit, untuk segera mmebawa pulang ke apartemen.


"Bos aku pulang dulu, ya. Bye ... bye Ana," gelagat aneh sang sekertaris, nampak cepat-cepat sekali ingin pulang.


"Kok buru-buru, ngak mau mampir minum teh dulu?" tawaranku.


"Eeh, enggak Ana! Terima kasih, aku ada urusan penting yang harus kukerjakan," ucapnya sebelum benar-benar keluar dari pintu.



"Oh, ya sudah. Hati-hati di jalan."


"Iya, terima kasih telah mengigatkan."


"Iya, sama-sama."


"Ada apa sama sekertaris, Mas! Kok kelihatan buru-buru amat?" tanyaku.


"Entah, mungkin ada kencan sama pacarnya kali," jawabnya santai.


"Ooh, gitu."


Setelah kepergian sekertaris Rudi, kini aku memapah sendirian Mas Adit menuju kamarnya.


"Sekarang mas Adit istirahat saja disini, aku mau mempersiapkan makan malam dulu," pamitku.



"Tapi apa tidak sebaiknya nunggu sebentar saja disini."


"Sebentar saja, kok. Lagian Mas pasti sudah lapar juga, 'kan?"


"Heehe, iya."


"Kan. Ya sudah, mau siap-siap ke dapur dulu."


"Iya, terima kasih Ana."



"Heem."


Didalam kulkas tak ada sayuran sama sekali, yang ada hanyalah mie instan dan telur saja, dan dengan terpaksa kubuatkan nasi goreng yang ditemani telur ceplok mata sapi.


[Hallo, ma! Bisa tidak mama datang ke apartemen Mas Adit?]


[Memang kenapa, nak?]


[Kakinya tadi sedang terkilir! Aku harus pulang sekarang, sebab tadi sedang ada janji sama bapak]


[Kok bisa sih, Ana?]


[Kurang tahu juga ceritanya, ma]


[Oh, ya sudah, Ana! Nanti mama akan ke sana secepatnya. Memang sakitnya parah, sehingga kamu tidak tega ninggalin sendirian?]


[Parah enggaknya, Ana kurang tahu juga. Tapi kelihatannya parah, sebab sudah diperban segala]


[Ya ampun sampai segitunya 'kah? Oke ... oke, mama secepatnya akan meluncur kesana]


[Terima kasih, ma! Assalamualaikum]


[Sama-sama, Ana! Waalaikumsalam]


Hati Rasanya sudah lega, ternyata mama mertua menyutujui untuk datang ke rumah mas Adit, karena diriku memang sedang ada janji sama bapak untuk mengantarnya ke Atm mengambil gaji beliau.


__ADS_1


Akhirnya selesai juga memasakku, setelah cukup sibuk mempersiapkannya.


Ting ... tong ... ting ... tong.


Ceklek, pintu kubuka.


"Silahkan masuk, Ma!" ucapku mempersilahkan.


"Terima kasih, Nak."


"Iya."


"Dimana, Adit?" tanya beliau sambil melangkah masuk ke rumah.


"Dia ada dikamar, Ma!" jawabku.


"Ana akan antar mama ke sana."


"Oke 'lah."


Ceklek, pintu kamar mas Adit kubuka.


"Adit, kamu gak pa-pa 'kan, Nak?."


"Ya ampun, Ma!" Suara Mas Adit kaget sambil memukul kening.


"Kamu kenapa, Mas!" tanyaku heran melihat tingkahnya.



"Hehehee. Enggak kok Ana, cuma kaget saja Mama ada disini, biasanya beliau 'kan orangnya super duper sibuk," Alasannya yang mengherankan.


Mertua sudah menghampiri posisi Mas Adit yang duduk dipinggiran pembaringan.


"Mama, kok bisa disini, sih?" ucap Mas Adit pelan dengan berbisik-bisik.


"Tapi 'kan, aku tidak nyuruh."


"Maaf 'lah, Mas. Aku beneran tidak bisa jaga kamu."


"Karena Mama sudah ada disini, sekarang juga aku mau pulang dulu. Jangan lupa nanti makan. Makanan sudah terhidangkan di meja, tinggal makan saja nanti," pesanku.


"Tapi, Ana!."


"Maafkan aku, Mas! Mama pasti akan menjagamu dengan baik, jadi tidak perlu berlama-lama di sini menunggui kamu. Pamit pulang dulu," ujarku sambil mencium tangan punggungnya.


"Ana, tunggu!" ucap Mas Adit berusaha mencegahku.


Diri ini begitu terperangah tidak menyangka, saat melihat tingkah Mas Adit dengan kaki yang masih terbungkus perban kini sudah berdiri tegak, tanpa ada rasa kesakitan sedikitpun padanya. Sangat berbeda sekali waktu mengantarnya pulang tadi, dimana selalu saja mengoceh kesakitan dengan berjalan secara terpincang-pincang.


"Mas Adit," pekikku akibat terkejut.


"Jelaskan, Mas! Apa maksud dari semua ini!" suara melengking dengan menunjuk ke arah kakinya..


"M-maaa-aafkan aku, Ana!." Terbata-batanya dia.


"Tidak usah berucap meminta maaf dulu! Yang kubutuhkan sekarang adalah sebuah penjelasan," ucapku marah-marah.


"Sebenarnya aku memang sedang berpura-pura. Cuma ... cuma, ak-akkku ingin kamu!" Kikuk ingin menjelaskan.


"Maksud, Mas?" tanyaku binggung.


"Aku cuma ingin perhatian dari kamu!" ujarnya dengan kepala tertunduk.



Wajah Mas Adit tidak berani menatapku, kemungkinan sedikit ada rasa bersalah, saat tahu diriku sekarang benar-benar dalam kemarahan memuncak.

__ADS_1


"Perhatian?" ucapku tak percaya.


"Iya, Ana! Aku hanya ingin minta diperhatiin kamu, supaya kamu tidak menghindar dan menjauhiku lagi," penjelasannya.


"Cuma minta perhatian dariku saja, mas Adit memakai cara kotor seperti ini!" Kesalnya diri ini berucap.


"Maaf, Ana!" berulang kali hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.


"Bukankah memang ada perjanjian diantara kita," ujarku mengingatkan.


"Aku tahu Ana, tapi diriku sudah tidak tahan jika kamu mendiamkanku. Rasanya begitu tak enak dan sesak," jawabnya.


"Aah, terserahlah, Mas! kamu benar-benar keterlaluan. Aku ingin pulang sekarang, rasanya sudah lelah dan muak sekali dengan apa yang Mas Adit sering lakukan," Terakhir kali berucap sebelum pergi.


Seketika kaki langsung segera melenggang.... pergi, untuk meninggalkan dia dan mertua.


"Ana tunggu, Ana ... tunggu. Kamu jangan pulang sendirian, biar aku mengantar kamu pulang," cegah yang sudah mencekal tanganku untuk tidak pergi.


"Lepaskan, Mas! Aku bisa pulang sendiri," tolak sambil melepaskan cekalannya.


"Tapi Ana, ini sudah malam, jadi biarkan aku mengantar kamu," Ngototnya dia berucap.


"Maafkan aku, Mas!" Tak perduli atas pencegahannya, aku langsung mulai lagi melenggang pergi menuju pintu keluar.


"Biar Mama saja yang mengantar. Dia pasti tidak mau sama kamu karena kesal, akibat ulah konyolmu itu!" ucap mertua dengan menepuk-nepuk pundak anaknya, yang masih terdengar oleh telingaku.



"Tunggu, Ana!" panggil mama padaku.


"Mama akan mengantar kamu," pinta beliau.


"Tapi, Ma! Apa gak ngerepotin?" tanya saat ingin menaiki lif.


"Gak pa-pa, Nak."


"Baiklah."


Dengan terpaksa memenuhi keinginan mertua untuk mengantarku pulang.


"Ana, Mama minta maaf atas nama Adit. Dia melakukan itu semua pasti ada sebabnya," ucap mertua sambil tangan sibuk menyetir mobil.


"Gak pa-pa, Ma! Ana mengerti. Mungkin Ana terlalu mencuekkan mas Adit, sehingga dia melakukan itu semua," balasan yang sudah melihat mata mertua berkaca-kaca.


"Mama benar-benar minta maaf, sebagai orangtua Adit. Mama sungguh merasa gagal tidak bisa mendidik anaknya dengan baik, Adit selalu saja membuat ulah dan menyakiti perasaan kamu," Mama mertua mengenggam erat tanganku, dimana tangan satunya sedang menyetir kemudi mobil.


Rasa trenyuh sudah menghampiriku, karena melihat sebuah airmata sudah meleleh dipipi beliau, kuusap perlahan airmata itu, dan tak lupa senyuman yang manis kulempar pada mertua, menunjukkan bahwa sekarang aku merasa baik-baik saja atas semua perlakuan anaknya.


"Ana sebenanya sudah memaafkan mas Adit, tapi entah mengapa rasanya masih berat sekali untuk menerimanya kembali, Ma!" curhatku pada mertua.


"Mama tahu, Ana! Aku adalah seorang wanita juga, jadi sudah tahu rasanya disakiti itu bagaimana? Sebab mama dulu juga punya pacar, yang sudah tega berselingkuh dibelakang Mama," beliau menjelaskan.


"Terus tindakan mama sama pacar waktu itu, bagaimana?" kekepoanku bertanya.


"Ya Mama putusin 'lah, dan secepatnya menyuruh meninggalkan mama. Dan yang terpenting sesegera mungkin kusuruh menjauh, dan tidak boleh mendekati mama lagi. Habisnya sakit hati betul Mama waktu itu, sudah rela-rela nyisihin uang hasil kerja agar bisa menikah dengannya, malah dianya berselingkuh dibelakang Mama," panjang lebar penjelasan mertua.


"Ohhh, Mama yang terbaik."


"Tapi kamu jangan mengikuti jejak Mama, ya! Sebab permasalahannya berbeda, walau sama-sama diselingkuhi dari belakang. Tapi 'kan berbeda kasusnya, mama dulu masih berpacaran, dan kamu statusnya sudah menjadi istri Adit, jadi gak boleh ninggalin Adit begitu saja maupun bercerai, sedangkan dulu mama masih berpacaran, jadi mencampakkannya secara kasarpun sah-sah saja, mengerti 'kan kamu Ana!" nasehat beliau berucap.


"Iya ma! Ana paham."


Setelah sekian lama saling mengobrol, akhirnya kami sampai juga ditempat tujuan yaitu rumah kosku.


"Apa Mama tidak mau mampir masuk ke dalam dulu?" tawar pada mertua untuk mampir ke rumah.


"Tidak usah, Ana! Lain kali saja, sudah larut malam banget nih," jawab beliau.

__ADS_1


"Ya sudah, Mama hati-hati di jalan. Bye ... bye," Tangan sudah melambai-lambai, saat mobil mertua perlahan-lahan sudah berjalan menjauh.


__ADS_2