Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Perdebatan


__ADS_3

Sepanjang hari waktu telah kuhabiskan dengan Yona dan Naya. Walau awalnya agak canggung, namun kepolosan Naya telah membuatku semakin akrab terhadap Yona. Dia sekarang benar-benar berubah, hingga rasanya tak percaya saja atas perubahan sikap dia.


"Kita pulang saja, yuk! Kelihatannya hari sudah nampak sore," ajakku pada Naya.


"Yah, Ayah. Padahal Naya masih ingin bermain sama tante Yona," ucap Naya mengeluh.


"Tidak apa-apa, sayang. Lain kali kalau ada waktu tante akan main sama kamu lagi," ucap Yona ramah.


"Beneran ya, Tante."


"Iya, Naya."


"Terima kasih ya, Yona. Hari ini kamu telah menyempatkan waktu untuk bermain sama Naya," ucapku tak enak hati.



"Tidak apa-apa, Adrian. Lagian hari ini 'tuh waktuku lagi kosong," jawab Yona santai.


"Ok, pokoknya terima kasih banyak-banyak."


"Iya, sama-sama."


Hari telah mulai menampakkan awan kemerah-merahan dan jingga, yang sudah nampak sekali hari mulai menjelang sore. Sebelum pulang, Yona menganjak mampir ke toko mainan, yang katanya akan memberi hadiah pada Naya. Setelah mereka masuk hanya berdua, kini nampak tangan kanan kiri Yona sibuk membawa paper bag, yang kemungkinan berisi banyak mainan.


"Maaf, jika merepotkanmu atas kemanjaan Naya," ucapku tak enak hati.


"Tidak apa-apa kok, Adrian. Aku malah senang jika melihat Naya begitu antusias gembira atas mainan baru," jawab Yona ramah.


"Mainannya banyak bener, Nak. Apa tidak salah itu?" cakapku pura-pura kaget.


"Naya tadi cuma mau dibeliin satu saja, tapi tante Yona maksain mau beli banyak barang-barang mainan ini," jawab kepolosannya.


"Ya sudah, tak apa. Kalau begitu bilang apa sama tante?" ujarku berusaha mengajari Naya.


"Terima kasih ya, Tante. Hari ini Naya Suka sekali, sebab mainanku sekarang bertambah," celoteh Naya penuh keluguan.


"Iya, sayang. Kamu suka?" tanya Yona.


"Iya, Tante. Terima kasih."

__ADS_1


"Emm, sama-sama."


Mobil telah melaju perlahan-lahan, saat sebentar lagi sampai ke rumah Yona. Karena Yona tak membawa kendaraan, jadi terpaksa mengantarnya pulang dulu. Lagian hari ini dia sudah berbaik hati pada Naya, maka aku harus membalasnya dengan mengantar ke rumah dengan selamat.


"Bye ... bye," ucap Yona telah melambaikan tangan.


"Bye ... bye, juga Tante!" jawab Naya balik melambaikan tangan.


Kendaraan kembali melaju, yang kini mengantar Naya untuk pulang ke rumah Karin. Wajah anak nampak sumringah bahagia, saat beberapa mainan baru kini berada dalam genggaman tangannya.


"Assalamualaikum," salam kami berdua kompak saat sudah sampai ke rumah.


"Walaikumsalam," jawab Karin yang sudah menghampiri kami, langsung menuju pintu depan rumah.


"Kenapa sampai petang begini pulangnya?" tanya ketus Karin.



"Maafkan aku, sebab kami tadi keasyikan bermain jadi lupa waktu," jelasku


"Hmm."


"Wah, banyak banget. Bilang apa sama Ayah," ucap Karin.


"Ini bukan hadiah dari Ayah, tapi dari tante Yona," jawab Naya polos.


"Apa?" Keterkejutan Karin.


"Apakah itu benar, Kak?" tanyanya.


"Iya, Karin."


Karin nampak mendengus kesal akibat jawabanku sekarang, sepertinya dia tidak suka atas yang kulakukan dengan Yona.


"Kamu masuk dulu, Nak. Bunda ingin bicara penting sama ayah, didalam ada nenek dan kekek yang akan menemani kamu," suruh Karin.


"Iya, Bunda. Naya masuk dulu ya, Ayah. Bye ... bye," cakap si buah hati pamit, sambil meraih tangan untuk diciumnya.


"Iya, sayang!" jawabku sudah mengusap pelan rambutnya.

__ADS_1


Si kecil sekarang benar-benar sudah masuk ke dalam rumah, sedangkan Karin kini telah menatap tajam ke arahku.


"Adakah yang ingin kamu bicarakan? Sampai harus menyuruh anak kita masuk rumah," tanyaku merasa heran.


"Benar sekali tebakkanmu, Kak. Kakak boleh sepuas hati membawa Naya untuk bermain, namun satu hal yang tak kusuka, yaitu membawanya bersama Yona," jelas Karin yang kelihatan ada rasa geram.


"Lha, memang apa masalahnya jika bermain bersama Yona, untuk apa ditakuti jika dia sama sekali tidak menyakiti Naya," jawabku bingung.


"Memang dia nanti bakalan tidak menyakiti, tapi apakah Kakak tak pernah berpikir jika Yona itu wanita licik dan selalu jahat," cakap Karin yang ingin mengajak berdebat.


Aku hanya bisa memicingkan alis sebentar, atas dugaan Karin sekarang.


"Ada apa yang sebenarnya terjadi pada, Karin. Kenapa dia kayak emosi begini? Emm, benar-benar aneh atas sikapnya sekarang," guman hati yang menerka-nerka akibat bingung.


"Aku tahu jika Yona wanita kurang baik atas sifatnya, tapi bukankah setiap manusia itu bisa berubah? Jadi jangan terlalu menduga yang enggak-enggak dulu, sebelum marah yang tak jelas dan mencegah kebersamaan kami," tuturku tak mau mengalah.


"Terserah atas penilaian Kakak itu, yang jelas aku tidak suka jika Yona dekat-dekat sama Naya. Kakak tidak pernah tahu atas tindakan Yona itu bagaimana selama ini, sebab hanya akulah yang sering menerima perlakuan tak baik darinya, maka dari itu aku sangat ingin mencegah ini semua, supaya nanti tak berpengaruh buruk pada Naya," simbat Karin yang tidak mau mengalah untuk berdebat.


Nampak Karin begitu kesal atas semua jawabanku, hingga tanpa sopan lagi dia berusaha melenggang pergi.


"Tunggu, jangan main pergi begitu saja, urusan ini belum selesai," cegahku sudah mencekal tangannya.


"Lepaskan aku, Kak! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, sebab semuanya sudah sangat jelas," bantahnya yang ingin marah.


"Jangan bilang kamu sedang cemburu, akibat Yona kini sedang dekat denganku," tebak diri ini berbicara.


"Ciieh, jangan asal nuduh sembarangan. Cemburu darimana? Hubungan kita itu sudah kandas, alias tidak ada hubungan apa-apa lagi," ketus jawab Karin.


"Kalau tidak cemburu beneran, jangan ngegas juga kali," sautku menjawab dengan wajah tersenyum.


"Siapa juga yang ngegas, aku cuma kesal saja sama Kakak, yang mengajak Yona tanpa memberitahuku dulu, sementara diriku dari dulu tidak suka atas sifatnya," jelas Karin.


"Hmm, ya ... ya!" jawabku tidak bisa berkata-kata lagi dan langsung melepaskan tangannya.


"Ya sudah, aku mau pulang saja. Takutnya situasi bad moodmu itu akan tambah parah, jika tak ada yang mau mengalah atas perdebatan ini," jawabku yang akhirnya mengalah.


"Itu lebih bagus," ketusnya menjawab.


Kini yang kulakukan tak ingin berdebat lebih lama lagi, agar Karin tak bertambah uring-uringan marah.

__ADS_1


"Apa Karin benar-benar cemburu, ya? Kalau memang benar, itu tandanya dalam hati dia masih ada cinta untukku. Tapi dari ucapan Karin tadi ada kebenaran, bahwa Yona itu dulu sifatnya memang mengesalkan. Apa aku harus hati-hati sama Yona, atas ketakutan Karin yang kurasa sedikit berlebihan tadi," rancau hati yang sedang malayang-layang pikiran atas perdebatan tadi.


__ADS_2