Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Layangan Surat Cerai


__ADS_3

Jadi tidak enak. Mama malah ikutan mengiris sayuran dan aku hanya memperhatikan beliau. Katanya biar beliau yang gantikan sebab tidak boleh kelelahan.


"Hei, perempuan tak tahu diri, keluar kamu. Keluarlah kamu sekarang?" pekik perempuan sedang memanggilku.


Seketika bunyi ketokan dipapan pengiris terhenti, saat kami mencoba mendengarkan dengan seksama.


"Siapa sih, Ana? Kok ada orang yang sedang teriak-teriak kayak sudah ngak punya sopan santun saja," ucap Mama penasaran.


"Gak tahu, Ma! Kita lihat saja ke sana," ajakku.


"Ayo."


Sebab wanita yang memanggilku tidak bisa diam dan terus saja berteriak-teriak, dan itu sangatlah menggangu kenyamanan pelanggan bapak, dengan sigap dan langkah tergesa-gesa aku segera menemui sumber suara itu.


"Ada apa'an ini, Pak?" tanyaku.


"Ini ... nih mereka! Sungguh menggangu sekali."



"Adit, Salwa?" ucap Mama kaget.


"Mama juga ada disini rupanya?" Kekagetan mas Adit juga.


Heran mereka berdua bisa datang kesini.


"Lepaskan ... lepaskan, aku!" teriak Salwa saat pegawai bapak berusaha mengusir.


Ada dua pegawai perempuan yang sedang memegangi tangan kiri kanan.


"Lepaskan saja dia," Perintahku pada pegawai Bapak.



"Tapi, Mbak. Mereka sangat mengacau."


"Tidak apa-apa. Lepaskan saja sekarang," simbat Bapak.


"Baik, Pak!" Jawab salah satu pegawai.


"Iya lepaskan, aku ada perlu sama perempuan itu! Jadi kalian jangan sok ikut campur," ujar Salwa sambil membanting tangannya sendiri, saat tangan tadi dicengkram pegawai bapak.


Pegawai sudah melepaskan. Kini berdiri disamping kami.


"Kita bisa bicara diluar, tidak enak pada pelanggan Bapak," suruhku pada mas Adit, Salwa, Mama, dan Bapak.


Semua kelihatan setuju. Musuh berjalan duluan, dan kami hanya mengiringi dari belakang.


"Ada apa kalian ke sini? Benar-benar menganggu sekali kedatangan kalian," ketus tanya Mama.



"Kami hanya ada pelu sama Ana. Ini semua bukan urusan Tante, jadi Tante ngak usah ikut campur," Potong Salwa tak suka.


"Kamu ini, ya! Bener-bener harus dikasih pelajaran," Kaki mama berusaha melangkah maju ingin mendekati Salwa.


"Jangan, Ma!" cegahku.


"Ada apa ini! Kok rame-rame?" ucap Edo yang tiba-tiba datang juga.


Edo sudah heran. Kami semua bermuka tegang didepan restoran Bapak.

__ADS_1


"Ooh ... ooh, jadi kalian sekarang sudah kumpul-kumpul mau mengroyok kami, dengan maksud ingin membantu perempuan yang tak tahu diri ini," sindir Salwa dengan telunjuk mengarah padaku.


"Jaga ucapanmu!" Edo ikut-ikutan ingin mendekati Salwa juga.


"Sudah, Edo. Jangan emosi juga kamu," Cegahku.


"Aah, kalian banyak omong. Aku ke sini hanya ingin menyerahkan surat yang harus Ana tanda tangani!" ucapnya dengan menyodorkan sebuah amplop coklat secara kasar kearahku.


"Apa ini!" tanyaku binggung.


"Baca sendiri. Punya mata 'kan."


"Kamu!" Mama sudah tidak tahan lagi.


Tanpa basa-basi langsung kubuka dan membaca isinya. Dan bagai disambar petir di siang bolong. Kini kakiku sudah terasa begitu lemas bagai tak bertulang lagi, dan sudah terhuyung-huyung ingin pingsan ambruk ke belakang.


"Ana?" kekagetan Edo dan Bapak, langsung sigap menangkap tubuhku.


"Apa ini, Mas?" tanyaku menangis tersedu-sedu akibat kaget, sebab isinya adalah surat gugatan cerai.



"Itu khusus untukmu, supaya kalian bisa berpisah secepatnya, sehingga kami dengan cepat akan bisa melangsungkan pernikahan," kesombongan Salwa dengan merangkul lengan mas Adit, sambil tersenyum menyeringai kecut seperti menghinaku.


"Coba lihat sini, Ana!" Mama mertua meminta dengan sigap.


"Apa-apaan ini, Adit? Kamu benar-benar sudah gila. Inikah yang dinamakan tanggung jawabmu sebagai suami?" ucap Mama dengan muka merah padam, akibat kemarahan dipuncak ubun-ubun.


"Adit bisa jelaskan, Ma!" lontar mas Adit berusaha meyakinkan mamanya.


"Diam kamu. Apa yang perlu dijelaskan." tekan mertua kesal.


Ruek ... ruek ... ruek, surat cerai sudah disobek menjadi beberapa bagian, yang dilakukan oleh mama mertua, dan kini sudah dilemparkan ke arah wajah mas Adit.



"Kenapa! Kamu ngak suka, hah! Dasar perempuan pelakor yang ngak punya urat malu lagi. Bisanya hanya merebut laki-laki yang sudah beristri," sindir Mama pedas.


"Apa yang Tante bilang tadi? Bukankah Ana duluan yang sudah merebut Adit dariku, jadi tante ngak usah asal menuduh yang ngak jelas gitu, dong!" sanggah Salwa memberitahu.


"Ciiih, dasar perempuan gatel."


"Apa yang Tante bilang? Untung asaja kamu adalah calon mertuaku. Kalau bukan saja, dari tadi sudah kulawan dan tercakar-cakar wajah keriput Tante itu!" bantahan Salwa yang sudah berani sama mertuaku.


"Wah ... wah, benar-benar kamu ini! Ngelunjak dan tak tahu diri" balas mertua tak setuju.


"Apa ... apa?" tantang Salwa.


"Dasar perempuan pelakor. Aku benar-benar tidak akan pernah sudi mempunyai menantu keganjenan seperti kamu, yang bisanya hanya mencari dan masuk dari kelemahan orang lain," tambah hina Mama.


"Tante, iiiiih. Kalian ini benar-benar ngeselin," Kegeraman Salwa berbalik marah.


"Mama takkan merestui hubungan kalian sampai kapanpun. Dan untuk kamu Adit, jangan harap kamu bisa memiliki harta Mama, karena semuanya sudah kuwariskan pada calon cucu Mama," Penjelasan beliau dengan santainya.


"Apa? Ngak bisa gitu dong, Tante. Adit itu adalah anak kamu satu-satunya, masak kamu tega sekali ngak kasih dia harta sama sekali," protes Salwa membela mas Adit.


"Diam kamu! Jangan ikut campur urusan kami," bentak Mama kian Emosi.


Semua orang hanya terdiam menyimak, termasuk juga dengan diriku.


"Tante yang seharusnya diam," hardik Salwa mencoba melawan.

__ADS_1


Plak ... plak, tamparan akhirnya terdarat dipipi Salwa.


Salwa hanya bisa memegang pipi dengan melotot.


"Hentikan semuanya!" lengkingan Suara Mas Adit akhirnya membuka suara.



"Diam Kamu, Adit. Atau mau kugampar juga."


"Sudah ... sudah, hentikan ini, Ma!" cegahku saat Mama terus saja tak terkendali dengan emosinya.


"Kalian pergi dari sini, jangan pernah menginjakkan kaki lagi ditempatku ini. Pergi ...pergi. Kalau tidak, akan kupanggilkan semua orang untuk mengusir paksa kalian berdua," teriakku mengusir mereka.


"Dan untuk kamu, Mas. Jika kamu benar-benar ingin bercerai dariku, tunggu anak kita lahir." Kekesalanku berucap, dengan gigi sudah bergemerutukan sebab tak terkontolnya emosi lagi.



"Ana, apa yang kamu katakan?" Mama berusaha mencegah ucapanku barusan.


"Sebantar, Ma!" suruhku agar menunggu ucapanku selesai.


"Dan untuk kamu Salwa, aku tidak ingin memperebutkan Mas Adit lagi. Jika kamu betul-betul menginginkannya maka ambilah. Memang sudah sepatutnya dari dulu-dulu aku tak pantas bersama Mas Adit," kelegowoannku berucap.


"Ana hentikan," cegah mama.


"Maafkan Ana, Ma."


"Baguslah kalau begitu, ternyata akhirnya kamu mengerti juga. Jika kamu menyerah, yang pastinya kami secepatnya akan melangsungkan penikahan," pamer Salwa berkata.


Badanku kembali terasa melayang-layang ingin ambruk, akibat kepala sudah berdetak nyut-nyutan dengan kuatnya. untung saja secepatnya memegang bahu Bapak, akibat kaki kembali terasa sudah lemas tak bisa menopang tubuh sendiri.


"Ayo Adit, kita pergi meninggalkan orang-orang yang tak berguna seperti mereka," ketus ucap Salwa pada kami.


"Tunggu, kalian!" panggil Edo pada Salwa dan mas Adit sebelum mereka benar-benar undur diri.



Bhugh ... bhugh ... bhuhh, bogeman berkali-kali terdarat di wajah Mas Adit.


"Hentikan. Hei, kamu hentikan," cegah Salwa memengangi tangan Edo.


Kenyataan Edo tidak mau berhenti dan tidak peduli teriakkan Salwa.


"Sudah Edo ... sudah," cegah Mama.


"Maafkan saya, Tante. Anak kamu sudah keterlaluan.


Mas Adit hanya diam tidak banyak melawan. Kini meludah ke tanah akibat ada darah yang sudah membasahi mulut.


"Ini tidak seberapa, dibandingkan dengan sakit hati Ana. Dasar pecundang yang tak tahu diri dan diuntung," murka Edo menghina.


"Plaaak, kamu?" Salwa menampar pipi Edo.


Tidak menyangka Salwa masih berani melawan.


Plaaak ... plakk, dua tamparan kulayangkan pada Salwa, membuat rambutnya yang tergerai jadi acak-acakkan.


"Aaaaaaa, pergi kalian dari sini," teriakku tidak kuat lagi.


"PERGI! Pergi, dan jangan pernah kembali lagi ke sini."

__ADS_1


Aku sudah berteriak keras untuk mengusir mereka, sebab sudah tak tahan lagi melihat semuanya, yang mana suasana sudah diliputi ketegangan.


__ADS_2