Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Belum Terpecahkan Masalah


__ADS_3

Semua yang terjadi dalam perusahaan sudah terselesaikan dengan lancar, akibat keuletan Edo dan Rudi membantuku menyelesaikan semuanya.


"Terima kasih untuk kalian berdua yang telah membantuku, tanpa lelah dan terus semangat mengurus semuanya," cakapku pada Rudi dan Edo.


"Sama-sama, Bos!" jawab Rudi.


"Iya, Bos. Sama-sama," jawab Edo juga.


"Bonus akan segera cair untuk kalian berdua," ujarku.


"Benarkah? Waah ... asyik nih!" Kegembiraan Rudi menjawab.


"Kalau masalah hadiah aja gercep amat kamu itu, Rudi!" keluhku.


"Ya iyalah, Bos. Bonus itu bisa kumanfaatkan untuk mentraktir cewek-cewek pastinya," Rudi cegegesan.


"Dih, dasar buaya darat."


"Hehehe, ngak pa-pa. Yang penting happy."


"Happy kepalamu peyang. Awas saja dapat masalah."


"Kan ada Bos yang bisa bantuin nanti."


"Hadeh, sangat-sangat merepotkan saja ini orang."


Edo hanya nyengir. Obrolan kami sudah terbiasa bisa bikin tertawa orang lain.


"Ooh ya, gimana rencana selanjutnya? Untuk kita mencari barang bukti? Sungguh sial, ternyata penukaran kain yang jelek sudah dihentikan, yang kemungkinan mereka takut akan ketahuan oleh kita," jelas Rudi.


"Bener katamu, Rudi. Kita telah kesulitan mendapatkan barang bukti lagi, sebab jika kita laporkan pada pihak kepolisian, barang bukti tak ada ditempat malah kita yang kena imbasnya. Eeem ... gimana ya? Kita cuma ada barang bukti video saja, yang kamu rekam sama Ana kemarin," jawabku ikut binggung.


"Gimana kalau kita menjebak mereka saja?" usul Edo.

__ADS_1


"Gimana caranya?" sahut Rudi bertanya.


"Ini cuma usulan saja, Bos. Tapi gak tahu berhasil apa tidak. Kita buat fashion show saja, terus kita ambil contoh kain-kain dari perusahaan, yang sudah menjalin kerjasama bersama perusahaan Bos. Nah! Ketika acara dilaksanakan, kita kasih tahu pada pengunjung atas kualitas kain itu, pasti dia nanti akan merasa malu, akibat rahasianya telah terbongkar," usul Edo.


"Apa itu tidak terlalu ekstrim mempermalukan dia? Takutnya nanti dia akan marah, dan pasti berujung petaka yaitu balas dendam," Rudi agak keberatan.


"Iya juga sih. Tapi untuk sementara ini hanya itu jalan satu-satunya."


"Gimana, Bos?" tanya Rudi.


"Yang kamu bilang ada betulnya, tapi yang dikatakan atas usulan Edo ada benarnya juga. Aku sih masih menimbang-nimbang, sebab takut-takut kalau salah ambil keputusan akan berakibat fatal juga," jawabku binggung.


"Iya juga sih, atas usulan Edo, sebab tak ada cara jitu lagi untuk membuat si Nola malu dan mengakui kesalahannya," respon Rudi.


"Atau gini aja, Bos. Kita biarkan saja beberapa pengiriman kain itu, pasti suatu hari dia akan berulah menukarnya lagi, jadi kita awasi saja dengan menyuruh orang, untuk terus mengawasi pemasokan barang yang masuk. Tapi kita pasang CCTV, biar nanti bisa dijadikan barang bukti, saat ingin melaporkan kecurangannya kepada pihak yang berwajib," ide Edo datang lagi.


"Wah ... bener juga kata-katamu, Edo. Mulai sekarang kita harus perketat saja barang yang masuk, biar nanti tidak kecolongan lagi. Bos, harus menempatkan orang-orang yang mengerti kualitas kain, biar mereka jika akan berulah kita tak ada kerugian lagi," simbatan Rudi.


Tok ... tok ... tok, pintu telah diketuk seseorang, saat kami sedang berkumpul rapat bertiga secara rahasia.


"Masuk!" jawabku.


Ceklek, pintu telah dibuka.


"Permisi. Waaah ... sepertinya aku datang tak tepat waktu, yang telah menganggu kalian," ucap Ana tak enak hati.


"Hai ... Ana, gimana kabar kamu?" tanya Edo yang sudah bangkit mendahuluiku, dan kini menghampiri Ana yang tengah berjalan ke arah kami.


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja," jawab Ana.


"Maaf ya, aku kemarin tidak bisa menjenguk kamu dirumah sakit, sebab banyak sekali kerjaan untuk membantu menyelesaikan kemelut perusahaan ini," ucap Edo tak enak hati.


"Gak pa-pa Edo, aku kemarin hanya terkena kecelakaan kecil, jadi kamu gak usah khawatir terlalu berlebihan begitu," jawab Ana yang sudah duduk disampingku.

__ADS_1


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," cerocos Edo yang tak memberiku kesempatan berbicara.


"Kalian lagi bahas apa? Tumben-tumbennya ngumpul semua disini?" tanya Ana, sambil tangan meletakkan rantang makanan dimeja.


Kian hari keadaan Ana makin membaik. Alhamdulillah dia sudah ikhlas atas kepergian anak kami yang kedua.


"Cuma bahas masalah perusahaan Nola saja," jawab Rudi.


"Ooh."


"Kalian ngak makan siang 'kah? Bukankah ini jam waktunya makan?" tanya Ana lagi.


"Nggak, nanti aja mungkin. Setelah menyelesaikan meeting ini," Gercep jawab Rudi.


"Seperti aku kurang tepat datang ke sini, disaat kalian sedang sibuk rapat," jawab Ana tak enak hati.


"Eng-?" Suaraku tertahan.


"Enggak pa-pa Ana, lagian kami gak bahas yang terlalu penting, cuma mau cari cara membongkar rahasia Nola saja," Jawab Edo mendahuluiku.


Hati rasanya gondok bin kesal sekali, saat Ana datang untuk menemuiku, tapi justru Edo dan Rudi asyik menjawab dan ngobrol dengan Ana. Berulang kali suaraku tertahan, akibat terus saja didahului oleh mereka berdua.


"Kalian berdua boleh pergi sekarang!" perintahku mencoba mengusir mereka.


"Tapi Bos, kita belum selesai bahas masalah perusahaan," ucap Rudi berusaha menolak.


"Bener itu, Bos!" Edo yang ikut-ikutan.


Mataku sudah melotot tajam kearah mereka berdua, sebab tak suka atas protes mereka yang tak mau pergi. Mimik mulutkupun ngedumel berkomat-kamit, menyuruh mereka untuk segera pergi.


"Ooh ... iya ... iya, kami mengerti. Ayo Edo kita pergi, CEPAT!" respon Rudi yang tahu keinginanku.


Rudipun langsung bangkit, menarik tangan Edo, agar segera keluar dari ruanganku. Hatipun merasa gembira setelah mereka benar-benar pergi.

__ADS_1


__ADS_2