
Akhirnya ritual mandi selesai juga. Rambut yang basah baru tersiram air dibaluti sampo terus kuusap dengan handuk agar bisa cepat kering.
"Astagfirullah hal adzim, Mas Adit!" Kekagetanku berucap.
Dengan santai tangannya memegangi tembok. Memiringkan badan agak condong ke kanan. Kaki terlipat sebelah.
"Ya ampun, Mas. Ngapain berdiri didepan pintu, sih?"
"Menurut kamu?"
"Lagi ngintip, ya?" tebak merasa geram.
"Hahahaha, kalau iya kenapa?" ucapnya tanpa ada rasa dosa.
"Iiiih, dasar pria berotak mesum. Bikin malu saja permintaan Mas itu," gerutuku kesal.
Masih sibuk mengeringkan rambut. Langkahnya berirama mengikuti jalanku yang ingin duduk dipembaringan. Kepala sudah miring, rambut yang terurai semakin kasar kusentuhkan dihanduk.
"Aah, ngak pa-pa mungkin. Sekali-kali 'lah. Lagian ngapain juga malu, kita 'kan suami istri," ujarnya tak merasa bersalah.
"Iya betul, kita itu suami istri. Tapikan, kalau diintip-intip begitu rasanya risih juga tau!" ketusku berkata.
"Hahahaha. Memang tadinya aku sengaja mau ngintipin kamu, tapi belum sempat lihat kamu. Eeeh, ternyata dan ternyata kamu sudah keluar duluan," ucapnya mantap.
"Dasar kurang kerjaan, istri sendiri diintip-intip," gerutuku gondok dan kesal.
Handuk kulempar. Dengan tepat suami menangkapnya.
"Sudah, cepetan mandi sana! Kita turun sarapan dulu, pasti mama sama papa sudah nungguin," suruhku.
Beranjak berdiri menuju lemari.
"Aku mau siap-siap ganti baju dulu," mulutku cerewet yang terus saja berkata.
__ADS_1
Mas Adit terlihat mengerutkan dahi. Lagi-lagi dengan satu tangan bersandar ditembok untuk menopang tubuhnya.
"Ada apa lagi, Mas? Kenapa belum berangkat mandi? Mandilah sana!" perintahku dengan ketus, sebab sudah merasa aneh.
"Gak ah, nanti saja. Aku mau lihat kamu ganti baju, siapa tahu bisa membangkitkan suasana yang sedikit terasa muram banget nih!" ucapnya yang tak tahu malu.
Dalam hati berguman apa'an lagi yang dikatakannya tadi. Sedikit paham tapi pura-pura tidak tahu saja biar tidak dikata kegatelan.
"Apaan sih? Kalau otak mesum ya begitu, harusnya segera diperbaiki jangan tambah dituruti," ucapku menghina dan menyinggungnya, sambil tangan sibuk memilih baju.
"Hanya satu yang bisa memperbaikinya yaitu kamu."
Tidak tahu sudah menghampiriku akibat terlalu sibuk sama baju. Sikap yang langsung main caplok memelukku dari belakang.
"Ayo sayang, kita--?" ucap mas Adit tertahan.
"Apaan sih?" Kepura-puraanku polos.
Kepala disandarkan dibahu. Begitu manja hari ini. Ada maksud dan tujuannya pasti.
"Iidiiih, pagi-pagi maunya. Sudah sana guyur tuh kepala, biar pikiran tidak aneh-aneh dipagi hari begini." Kutatap wajah Mas Adit yang sudah terlihat semakin bikin bergindik ngeri tersenyum-senyum.
"Ayolah, boleh 'kan?" rengeknya manja.
"Sudah ... sudah, pagi-pagi bikin suasana mau hareudang saja, gak malu apa?" tanyaku.
"Memang hareudang 'kah yang kamu rasakan sekarang!" polos pertanyaan mas Adit.
Tanpa aba-aba langsung mengendongku meletakkan diatas ranjang.
"Dan itulah yang kumau sekarang!" ujarnya.
Mas Adit sudah mengkunci kedua tanganku, dengan cara ditariknya keatas kepala. Matanya begitu menatap tajam, seakan-akan haus mau memangsa buruannya, akupun yang melihatnya seketika bergindik ngeri-ngeri merasa gimana gitu.
__ADS_1
"Saya juga tahu, pasti ini yang kamu inginkan Ana," ucapnya kian membuaskan tingkahnya.
Mas Adit sudah menindih tubuhku, dengan mencium bibir secara lembut namun sedikit kasar dan tak sabar. Akupun tak malu lagi untuk segera membalas ciumannya. Dan tak berselang lama ciuman bibir mas Adit sudah turun disamping leherku, membuat bulu roma sudah meremang-remang sedikit ngeri. Kini tangannya mulai merayap-rayap menyentuh tali kimono handukku. Perlahan namun pasti tangannya masih saja sibuk dengan tali itu, yang mana bibirnya tanpa lepas terus saja sibuk mencium leherku.
Nafas kami mulai bergejolak saling memburu keras membelah keheningan kamar, sebab tak tertahan lagi atas kemesraan kami dalam bercumbu bibir. Sekali tarik talipun mulai terlepas, dan memudahkan aksi mas Adit untuk terus mengerjai seluruh keelokan tubuhku.
Tok ... tok, pintu kamar kami diketuk.
"Ana ... Ana? Ana ... Adit?" Suara mama mertua memanggil.
"Sepertinya Mama memanggil!" ucapku pelan berbisik.
"Hadeh, ganggu saja."
Mas Adit bangkit dan akupun langsung ikutan duduk. Tangan langsung saja merapikan pakaian kimono, yang tadi sempat ditarik oleh tangan jahilnya.
"Sepertinya sih betulan mama," Ekspresi yang sudah memasang wajah kecewa.
"Ana ... Ana?"
"Iya ma, tunggu!" jawabku dari dalam.
"Cepetan mandi sana! Malu sama Mama, kalau kelihatan masih berantakan dan bau ngiler" suruhku.
"Haisst, ngadi-ngadi kalau ngomong."
"Kalau kenyataan emang kenapa?"
"Hadeh, sudah tertunda. Sekarang dituduh juga."
"Hihihihi. Maaf ya, Mas. Tidak jadi ritual membuat dedek lagi," ledekku yang sudah berlari kecil, ingin segera membuka pintu untuk mama mertua.
"Awas kamu! Nanti malam akan kubuat kasur dan kamar ini gempa bumi terus, hahahaha," ucapnya merasa menang.
"Iiih, benar-benar kurang obat. Dasar mau enak sendiri," hinaku.
__ADS_1
"Hahahaha. Oh jelas itu. Hahahah " gelak tawa mas Adit menang, saat melihatku kesal.
Tak kupedulikan mas Adit lagi, yang kini sudah beranjak memasuki kamar mandi. Pintu terus diketuk dan harus segera membukanya.