Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Ketabahan Bapak


__ADS_3

Hari-hari kini penuh dengan rasa kebahagiaan, sebab tinggal menghitung minggu buah hatiku akan melihat dunia.


Perlengkapan bayi sudah lengkap semua. Rasanya aku begitu takut sekali saat masa-masa melahirkan nanti tanpa suami disisiku, tapi apalah daya diri ini semua sudah diatur oleh yang Maha Pemberi Hidup. Hanya sabar dan ikhlas menjadi pegangan hidup.


Membayangkan mas Adit bisa menemani saja aku sudah bahagia, apalagi jika dia benar-benar ada disisiku. Jika dia tak kehilangan ingatan saja, pasti dia akan bahagia sekali jika anak pertamanya bisa dia sambut.


Daun kering yang berjatuhan dimusim semi sedang nikmat kutatap. Ditiup angin bebas berterbangan. Tidak ada beban yang membawanya. Tidak seperti kisahku yang terlalu kusut. Banyak hal harus terurai jika ingin memeluknya kembali.



"Kamu ada apa, Ana?" tanya bapak saat aku sedang duduk santai.


"Eeh, Pak! Tidak sadar kalau kamu datang," Kekagetanku sudah tersadar dari melamun.



"Bapak baru saja menghampiri kamu. Kamu kenapa lagi, Nak."


"Ana baik-baik saja kok, Pak!" ucapku sambil mengelus-elus perut.

__ADS_1


"Oh ya sudah. Gimana? Apakah kamu sudah siap fisik dan mental?" tambah beliau.


"Insyaallah, Pak. Pasti Ana akan kuat menjalani ini semua. Tapi sebenarnya ada perasaan takut juga sih! Yaitu saat proses melahirkan tanpa mas Adit," jujurku berkata.


"Kamu yang sabar saja, ya. Bapak yakin pasti kamu bisa menjalani semuanya."


Semangat beliau kubutuhkan sekarang. Berjuta kasih sayang beliau tidak pernah putus, sekalipun masalah berat datang padaku.



"Tapi yang aku takut dan khawatirkan sekarang adalah perceraian saat anakku nantinya lahir. Sungguh, Ana rasanya terbebani dengan hal itu, sebab takut sekali jika nanti tidk bisa membesarkan anakku sendirian, Pak!" tuturku dengan lelehan airmata sudah mengalir.


"Kamu ngak usah khawatir dan sedih begitu, bukankah semua rezeki anak sudah ada yang ngatur yaitu dari Allah. Jadi kamu jangan terlalu terpikirkan yang enggak-enggak, bukankah Bapak selalu ada untukmu! Masalah anak kamu nantinya, kita akan sama-sama membesarkannya, jadi jangan sedih lagi, ya! Kita akan berjuang sampai anak kamu bisa jadi orang membanggakan untuk kita." Penjelasan bapak yang membuatku kian menderaskan airmata.


"Sudah Ana, kamu tidak usah menangis lagi. Simpan airmatamu itu. Walau kamu sudah menikah, sampai kapanpun kamu masih menjadi tanggung jawabku, sebab kamu adalah anakku satu-satunya, jiwa dan ragaku hanya bisa tercurah untukmu. Jika kamu bersedih, Bapaklah yang akan duluan merasa sedih, jadi aku tak mau melihat itu semua, mengerti!" ucap bapak sambil mengelus-elus rambutku.



"Mengerti, Pak. Ana benar-benar mengucapkan terima kasih! Perjuanganmu tidak bisa kubalas dengan apa-apa, kecuali kepatuhan dan berbalik menyayangimu" ujarku sudah merasa terhayut sedih.

__ADS_1


"Sama-sama, Nak."


Wajah keriput itu kelihatan teduh sekali. Sungguh beruntung mempunyai orangtua tunggal yang selalu sabar manghadapi kisah anaknya. Selalu menyulitkan beliau, namun dengan santai beliau menyelesaikannya dan pasti diiringi senyuman.


"Ooh ya, semua perlengkapan sudah siap 'kan?" Bapak bertanya.


"Iya, Pak. Semua sudah lengkap. Tinggal mental saja dipersiapkan agar lebih kuat untuk menyambut cucumu!" balasku.


"Kamu harus sabar, ikhlas, dan kuat. Bapak percaya kamu bisa melewati itu semua," Lagi-lagi beliau memberi semangat.


"Iya pak, Ana akan melakukan itu semua."


"Bagus itu. Ya sudah Bapak akan pergi ke dapur dulu, kamu masuklah dan istirahat. Jangan banyak pikiran lagi, banyak orang yang menyayangi dan menjaga jamu jadi jangan dibuat pusing lagi."


"Baik, Pak."


Beliau sudah undur diri. Hanya bisa melihat dibalik punggung lebar beliau yang penuh kelapangan dada. Banyak hal yang harus kupelajari dari beliau.


Ini adalah pengorbanan seorang ayah yang tak peduli seberapa menderita dan sedih melihat anaknya terluka.

__ADS_1


Seberapa dewasanya aku, Bapak akan tetap mengangapku sebagai anak kecilnya, yaitu berlebihan sekali mengkhawatirkan keadaanku. Beliau tidak pernah membiarkan aku untuk mengkhawatirkannya, dan cukup beliau saja yang gelisah dan menanggung semuanya. Bapak sungguh sabar dan selalu tersenyum dihadapanku, bahkan disaat-saat keterpurukan melandaku, beliau selalu merasa baik-baik saja dan aku tak perlu mengetahui kekhawatirannya.


"Hehh, semoga aku kuat. Benar sekali kata Bapak, aku tidak perlu khawatir. Yakin harus kutanamkan pada diriku, bahwa Tuhan tidak membiarkan hambanya terus kesusahan, maka dari itu semangat inilah yang akan membawaku melalui semua." Hati merancau.


__ADS_2