Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >> Kebodohan yang fatal


__ADS_3

"Ahhhh. Betapa bodohnya aku telah terlena akan kenangan masa lalu, sehingga membuat Ana sekarang marah besar," ocehanku mengutuk diri sendiri, yang masih berusaha untuk mengejarnya.



"Ana. Tunggu, Ana!" panggilku dengan melangkah melebar, agar bisa cepat menghentikannya.


"Adit! Berhenti kamu sekarang," pekik mama memanggil yang sudah menarik lengan bajuku.


Setika berhenti juga, takut jika baju akan terkoyak dan memalukan didepan semua orang.


"Ada apa, Ma! Adit mau mengejar Ana dulu," jawabku diiringi rasa gelisah.


"Kenapa, Ana? Apalagi yang sudah kamu lakukan padanya?" ucap Mama sedikit ada nada marah.


Kepala hanya bisa tertunduk, tidak berani menjawab pertanyaan orangtua.


"Adit! Jawab Mama sekarang," suara beliau membentak.


Terlihat sekali Mamaku sudah dipuncak emosi, mungkin sudah merasa kesal dengan kelakuanku, yang membuat menantunya terus-menerus menangis.


"Ii--tu, Ma. Ta-ttaa-ddii Adit, tidak sengaja sedang dipeluk dan dicium Salwa," jawabku terbata-bata yang masih menundukkan kepala.


Plaaak, Tamparan terdarat dipipiku.


"Kamu bilang tidak sengaja? Dasar anak kurang ajar."


Plaaak, untuk yang kedua kalinya tamparan kembali mengenai pipiku.


Disaat emosi Mama sedang memuncak yang sedang menampar pipiku, semua orang hanya bisa terdiam membisu, tanpa ada yang berani mendekat maupun menolongku, tak terkecuali dengan sekertarisku Rudi yang juga ikut terdiam hanya bisa menyaksikan saja.



"Mama kecewa sama kamu Adit. Dari dulu kamu memang benar-benar tidak pernah berubah, selalu saja terus menyakiti hati Ana," ocehan mama memarahiku.


"Maafkan Adit, Ma!" Lesunya nada suaraku.


"Minta maaf saja tidak cukup. Selalu saja begitu. Kamu minta maaf seharusnya bukan kepadaku, tapi minta maaflah pada Ana. Kejarlah dia sekarang karena dia yang berharga, bawa balik dia!" suara halus Mama menyuruh.



"Bbbb-baik, Ma. Maafkan 'lah anakmu ini!" Gemetaran tubuh saat takut jika emosi beliau akan semakin meluap.


"Iya. Kejarlah sebelum lepas lagi."


"Thanks, atas dukunganmu, Ma."


Tanpa basa-basi lagi Aku langsung saja undur diri, untuk segera melangkah pergi mengejar Ana.


"Adit," cekalan tangan Salwa ingin mencegahku.

__ADS_1


"Lepaskan dia, salwa! Kamu jangan kurang ajar dan berani-beraninya ingin mencegah," ucapan Mama membantu.


"Tapi, Tante. Adit penting bagiku."



"Tidak bisa," bantah Mama.


"Maaf Salwa, aku harus mengejar Ana, karena dia adalah orang yang berarti dihidupku sekarang," Diri ini berucap sambil melepas cekalan tangan Salwa.


"Tapi Adit, tunggu ... tunggu. Hei, Adit," Suara Salwa masih mencoba ingin menahanku, saat diri ini benar-benar akan mulai pergi.


"Diam kamu! Jangan ikut campur urusan rumah tangga mereka," Mama memarahi Salwa yang masih terdengar oleh telingaku.


"Lepaskan ... lepaskan, Tante! ucap Salwa berontak, saat mama telah berhasil mencegahnya dengan mencekal tangan.


"Urus dia, dan bawa pergi," Lantang Mama menyuruh.


Akupun tidak ingin ketinggalan, langsung mencoba mengejar.



Langkah terus saja berlari mondar-mandir ke bahu sisi jalan kanan maupun kiri, agar secepatnya menemukan Ana, yang sudah tak menampakkan batang hidungnya lagi.


"Ah ... hhaah, dimana kamu, Ana? Ayo Ana, kamu sekarang ada dimana?" ucapku merasa frustasi dengan menjambak rambut sambil terus berlarian tak tentu arah.


Kini langkah berbelok ke arah kanan, sepertinya akan mampir di sebuah taman, dan akhirnya setelah berusaha lari sekian menit mencari, sosok wanita yang dicari-cari telah kutemukan, ketika sudah terduduk yang sepertinya telah terisak.



Hufff ... huuf. Tarikan nafasku ngos-ngosan kelelahan diiringi akan rasa lega.


"Ana ... Ana?" panggilku berkali-kali mendekatinya.


Langsung saja kuhampiri dia, dan segera memeluknya yang masih terduduk di tengah aspal, tepat berada ditaman yang sepi.


"Lepaskan aku, Mas," Suara tangisan Ana pilu tersedu-sedu.


"Maafkan aku, Ana. Maaf ... maafkan aku." Masih memeluk


"Lepaskan. Lepaskan aku sekarang, Mas!" tolaknya, agar diri ini melepaskan pelukan.


"Tidak mau. Jangan bilang begitu."


Tangisannya yang semakin pecah.



"Lepaskan aku, pergilah dari sini. Biarkanlah aku sendirian," ucapnya dengan memukul-mukul bahuku yang tak terlalu kuat.

__ADS_1


"Maafkan aku Ana, maafkan. Kamu jangan begini," Penyesalanku berucap yang berkali-kali mencoba meminta maaf.


"Dari dulu aku sangat mencintaimu, dan berharap kamu akan membalas mencintaiku juga. Tapi pada kenyataannya, aku hanya dijadikan permainan kamu saja. Mas, selalu menghadirkan dia dalam cerita kita. Dulu disaat kamu bersamanya, aku tetap sabar berusaha menahan perih yang teriris akan rasa hati ini, walau terasa sangat menyakitkan. Jika semua itu bisa membuat Mas Adit bahagia, maka lakukanlah sepuas hati kamu. Selama ini tanpa kamupun aku bisa hidup dan bertahan. Bagiku hari ini dan detik ini, cintaku padamu berharap sudah berakhir." Kemarahanya berucap.


"Jangan ... jangan lakukan itu," Kepela mengeleng-geleng tidak setuju.


"Aku tidak mau memaksa Mas Adit untuk mencintaiku lagi. Aku benar-benar sadar dan tahu diri dari mana berasal, jadi lebih baik sekarang kita hidup masing-masing," Imbuh ucapan Ana dengan sedihnya.


"Jangan Ana. Cukup. Jangan ... jangan lakukan itu, Ana."



"Aku sekarang benar-benar mencintaimu, jangan katakan itu Ana, aku mohon! Maafkanlah kesalahan dan kecerobohan tadi, diriku sekarang ini benar-benar sangat mencintaimu," pinta sekali lagi berusaha memohon.


Semakin mengeratkan pelukanku pada Ana, dan tanpa terasa diri inipun ikut terhanyut akan sebuah rasa tangisan.


"Mas Adit jangan begini!"


"Sudah ... sudah, Mas. Aku tidak mau melihat Mas ikut-ikutan merasakan kesedihan. Cukup aku saja yang terluka, dan carilah kebahagiaan yang Mas Adit inginkan. Mulai sekarang aku akan berusaha ikhlas untuk melepaskanmu," imbuh ucapannya.


"Tidak ... tidak Ana, jangan katakan itu lagi!" Mengeleng-gelengkan kepala, tak setuju atas perkataan barusan.


Kami berdua sedang terhayut menangis tanpa henti, yang sudah sama-sama saling berpelukan.



Sebuah kata-kata yang tak bisa diartikan lagi bentuknya, yaitu sudah sama-sama saling mencintai, tapi pada kenyataannya ada sebuah dinding yang telah memisahkan kisah cinta kami, yang sudah mulai terajut ingin terus menjalaninya.


Ana masih saja enggan berhenti untuk menangis.


Dalam tangisannya yang mulai mereda, kugendong dia dalam punggungku, kini tangannya begitu erat sekali mendekap memelukku, seperti orang yang tidak mau ditinggalkan.


Kaki terus saja melangkah setapak demi setapak menuju mobil, yang sedang terparkir di gedung pesta. Walaupun Ana tidak terdengar lagi isak tangisannya, tapi baju terasa sekali terus basah, mungkin akibat lelehan airmata Ana yang kepalanya sedang tersandar dibahu.


Dia terlihat begitu sedih sekali sebab hatinya yang terus terluka, atas kecerobohan dan kebodohanku yang terus menyakitinya.


"Maafkan aku, Ana. Lupakanlah yang barusan terjadi di pesta tadi. Itu semua adalah ulah Salwa, ketika semuanya terjadi mendadak begitu saja, tanpa ada persetujuan dahulu dariku," Diri ini mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Ana hanya menatap kosong ke arah kaca jendela, tak memperdulikan lagi ucapanku yang terus saja mencoba menjelaskan.



Baru sekarang diri ini merasakan rasa sakit hati yang terdalam, dikarenakan tersadar dan tersentuh telah kejam menyakiti hati istri lagi. Sungguh dulu benar-benar tidak peka akibat telah memiliki dosa yang begitu besar namun hanya diam, akibat telah mendzolimi dan menyiksa hati Ana dengan selingkuh besama Salwa.


Sekarang aku telah mengantar Ana pulang, dirumah kos kecil yang ditempati bersama bapak mertua. Ana benar-benar sudah membisu tak ada lagi ocehannya, yang selama ini membuat hatiku senang. Ternyata sekarang dia benar-benar begitu marahnya.


Mobil sudah berhenti terparkir didepan rumahnya, dan Ana langsung saja turun dari mobil, yang secepatnya melenggang pergi untuk memasuki rumah tanpa berpamitan lagi padaku.


Aku hanya diam menyaksikannya dari kaca mobil saja, tanpa ada pergerakan untuk mengikutinya dari belakang, sebab tidak mau lagi menambah kemarahan Ana, yang memang sudah sadar diri bahwa akulah yang memulai membuat masalah dan harus dipersalahkan.

__ADS_1


__ADS_2