
Kali ini aku sebal dan rasanya amarah sudah mulai menguasai diri lagi, akibat lama-lama Adrian kuperhatikan sudah mulai berubah drastis sikapnya kepadaku.
Langkah sudah melompat kecil-kecil, saat menapakki rumah orang yang selama ini selalu kudambakan.
"Hai, Adrian," sapaku berbasa-basi padanya.
Adrian telah duduk santai disofa ruang tamu, tapi wajahnya kelihatan kusut sekali.
"Apa aku sudah kerterlaluan, ya! Akibat menyekap orang yang dia sayangi," guman hati yang iba melihat ekspresi Adrian.
"Yona. Kamu kok ... kok?" Wajah Adrian berekspresi sudah terkejut.
"Iya ini aku! Apakah kamu sudah tidak mengenaliku, mentang-mentang sudah beberapa hari ini kita tidak ketemu," cakapku menjelaskan dengan manja, sambil ingin meraih tangannya ingin kugenggam.
Aku berpura-pura datang kerumah Adrian, ingin tahu bagaimana keadaannya.
"Maaf Yona, lepaskan! Tidak sepantasnya kamu melakukan itu" ketusnya menyuruh.
"Bukankah kita dulu sering melakukan ini? Bahkan sering mojok berduaan saja," Mencoba mengingatkan waktu masa-masa pacaran dulu.
"Apa maksud dari perkataanmu tadi?"
"Kasusnya dulu beda sebab aku telah salah memilih kamu, karena tidak tahu kejadian malam yang kelam itu. Bukankah kita bertahun-tahun memang sudah lama tidak bertemu " imbuh Adrian memberi jawaban dan berhasil membuatku terperangah.
"Justru aku yang bertanya? Apa maksud dari perkataan kamu barusan?" responku yang binggung.
"Bukankah kita sudah dekat dan beberapa hari yang lalu kamu sudah melupakan Karin, terlebih lagi sakit hati juga sebab dia akan menikah?" imbuh berpura-pura.
Apa yang aku katakan, semoga bisa mengenang masa indah kami, agar Adrjan sadar bahwa Karin tidak bisa dia miliki.
__ADS_1
"Memang benar apa yang kamu katakan, tapi mereka sudah membatalkan pernikahan itu."
"Wah, berarti tidak ada kesempatan untuk memilikimu," singgungku.
"Aku bukan orang yang bodoh untuk mencari informasi itu. Tanpa kamu bilangpun sudah tahu. Dasar kamu saja yang tidak tahu, saat aku begitu menginginkanmu kembali," guman hati yang berbicara pada diri sendiri.
"Apa maksudnya kesempatan memiliki?" Kecurigaan Adrian saat aku keceplosan.
"Yona ... oh, Yona?" panggil Adrian saat diri ini sudah melamun.
"Ehh ... iya ... ya, ada apa tadi? Apa yang kamu tanyakan barusan?" sahutku tersadar dari lamunan.
"Enggak, aku cuma nanya apakah benar apa yang kamu katakan tadi?" terang Adrian yang sudah menatap wajahku dengan keseriusan.
"Ooh, lupakan ucapanku tadi. Itu semua hanya candaan saja."
"Aku ke sini cuma ingin bersilahturahmi mengunjungi kamu saja, kok!" balasku mengalihkan pembicaraan.
"Ooh. Memang kamu ini, dasar! Dari dulu memang tak pernah lepas dari dunia bercanda," ucap Adrian mengenang masa lampau.
"Iya ... ya. Dari dulu aku orangnya suka bercanda dan selalu humoris, dan kamu 'lah yang pasti sering jadi sasarannya," balasku mencoba mencairkan obrolan.
"Oh ya. Kamu sudah tahu 'kan, kalau aku sekarang sedang kebingungan karena Karin hilang?" tanyanya.
"Apa? Hilang, kok bisa?" Pura-pura kaget.
"Aku tidak tahu."
"Benarkah itu? Kamu tidak bohong, 'kan? Wah, aku baru tahu. Semoga saja Karin lagi pergi kemana gitu, biar orang-orang didekatnya tidak cemas," ucapku pura-pura baik pada Adrian.
__ADS_1
"Terima kasih, ya! Tapi sudah dicari kemana-mana tidak ditemukan. Kami semua sedang cemas mengkhawatirkan keadaannya. Selama dua puluh empat jam masih sama yaitu belum ada kabar mengenai dirinya!" jelas Adrian kelihatan sedih sekali.
"Oh, begitu. Kamu yang sabar, ya. Pasti dia akan balik, kok! Jadi jangan khawatir berlebihan begitu," nasehatku agar Adrian tenang.
"Terima kasih atas kebaikan mendoakan. Kamu dari dulu memang teman yang tebaik."
"Emm, sama-sama."
Ekspresi sudah tersenyum manis, namun itu hanya mengalihkan perhatian Adrian saja. Dalan dada sudah panas mengebu-gebu, ketika Adrian selalu mengedepankan keadaan Karin.
"Ya sudah. Kalau begitu aku pamit dulu, ada kerjaan yang harus kukerjakan sekarang," ujarku berusaha pamit.
"Kok buru-buru amat. Aku belum cerita banyak hal sama kamu, apalagi mengenai hilangnya Karin ini. Rasanya kangen juga berbagi cerita sama kamu yang santai seperti tadi," respon Adrian yang masih ingin mengajak ngobrol lagi.
"Lain kali saja kita ngobrol-ngobrol lagi. Aku benar-benar ingin pergi dan rasanya sudah banyak kerjaan yang sedang menunggu," cakapku berpura-pura mencari alasan.
"Ooh baiklah. Doakan Karin juga supaya cepat ketemu," imbuhnya berkata.
"Sipp, pasti itu."
"Kamu hati-hati dijalan," ujar Adrian mengantarku sampai ke pintu rumahnya.
"Iya, terima kasih sudah mau mengantar. Bye ... bye."
"Iya, sama-sama. Bye juga."
Kali aku benar-benar sudah tenggelam dalam kemarahan. Rasa dendampun sempat menghampiri, yang mana sudah berkecamuk ingin sekali memberi pelajaran pada Karin lagi..
Brok ... brokk, kekesalanku yang berkali-kali memukul setir kemudi mobil.
"Aaah, kamu benar-benar lelaki br*ngs*k, Adrian! Untuk yang kedua kalinya kamu telah tega mengacuhakanku. Pasti aku akan membuat perhitungan sama istrimu itu. Awas saja! Kamu akan menyesal telah memilih wanita si*lan itu," umpatku berbicara pada diri sendiri di dalam mobil.
__ADS_1