
Ini cerita tentang hati yang terluka
Tentang rasa yang kecewa.
Bertahan dalam sebuah delima
Antara kau dan aku terpenjara oleh rasa.
Ingin menapakki bahagia bersamamu
Tapi sakit itu terus kuterima.
Kini lelahku mulai terasa
Saat tlah kulakukan segalanya.
Pergi sulit namun jika bertahan begitu sakit
Kisah kita ini sungguhlah pahit.
Sampai kapan aku terima
Diriku yang selalu terluka.
Ingin pergi tapi tidak bisa
Karena aku masih mencintaimu dari seluruh raga.
Kucoba membuka semua tabir kisah, yang mulai terkikis diantara kita. Terpisah oleh takdir yang tidak diinginkan. Berkali-kali berhasil memojokkan dirimu, sehingga meninggalkan yang selama ini terjaga.
Kumerasa sekarang telah kehilangan. Cinta yang dulu ada, kini telah lama hilang dibawa hembusan angin. Kau kini pergi menjauh, karena kau tak pernah menganggap diriku selalu ada didekatmu.
Asmara berhasil memisahkan kita. Kenangan begitu indah, sehingga sering kali mengingatkan dirimu. Gelora jiwa dalam cintamu telah berhasil merasuk jantungku, namun tidak bertahan lama tusukan duri mengores seluruh raga.
Sejujurnya kutak bisa hidup, tanpa adanya kamu rasanya semakin mengila. Andai kata kau tak mengulang kembali cinta masa lalu, pasti tangan kita akan terus bergandengan.
Andai waktu bisa terulang, mungkin waktu yang tersisa tak akan kusia-siakan lagi untukmu.
__ADS_1
"Cintaku begitu kuat padamu, tapi kenapa aku tidak bisa mengenggam tanganmu itu? Apakah takdir begitu kejam untukku, saat tak bisa mengapaimu? Oh Karin, sampai kapan penderitaan ini akan berakhir. Wajahmu terus menghantuiku, sampai-sampai aku tak sanggup lagi untuk melihat dunia ini," guman hati melihat ombak, yang terus bergelombang mendekati diriku tengah berdiri sedih.
"Mungkin dengan melihat kamu bersama Adrian, kau akan merasakan bahagia yang selama ini telah hilang dalam dirimu, tapi apakah kau sedikitpun tidak memikirkan diriku, yang terpasung oleh cinta atas ulahmu. Kenangan itu begitu manis, namun aku hanya bisa memutarnya dalam bayangan, saat tanganku ini tidak bisa lagi menyentuhmu," rancau hati sudah menitikkan airmata.
Tiap hari hanya bisa melamun saja, tanpa memikirkan lagi kehidupan nyata yang harus terjalani. Mungkin dengan menjauh dan menenangkan diri, kenangan itu akan hilang dengan sendirinya. Sakit hati begitu pedih, melebihi luka yang tersiram oleh air garam.
Detik waktu teruslah berjalan, berhias segala terang antara kita. Mungkin aku hanya bisa melihat wajahmu dari jauh mulai sekarang. Senyuman itu semoga akan terus tetap terjaga, walau tanpa diriku dibelakangmu lagi.
Suka dan duka, tangis dan tawa kini telah tergores oleh sakit hati. Seribu mimpi, berjuta sepi hadir bagai teman sejati, yang tidak akan pernah terganti. Diantara lelahnya jiwa hanya dirimulah yang selalu ada. Dalam resah dan airmata namamulah yang terus saja kuingat selalu.
Kupersembahkan kepadamu kenangan terindah untuk kita, yang terus hilang saat sudah kuhempaskan.
Meski kurapuh dalam langkah, hati ini akan selalu setia kepadamu. Namun cinta akan terus terukir indah dalam jiwa hanya padamu.
"Maafkanlah aku, bila hati tak sempurna mencintaimu. Dalam dada kuharap hanya dirimu yang selalu kuingat. Sekarang semua cinta akan kulayarkan bersama luka, agar bisa jauh dari pelupuk mata dan tak mengingatmu lagi. Maafkan aku, Karin. Semoga kau bahagia bersama orang lain," rancau hati yang kini sadar dan benar-benar ikhlas.
Dert ... dert, layar gawai tiba-tiba bergetar.
[Hallo]
[Hallo, Mas. Maaf menganggu, sebab hanya nomor Masnya yang bisa dihubungi. Ini Naya kok tidak ada yang menjemput? Anak-anak sudah pulang semua dijemput orangtua masing-masing. Apakah Mas bisa menjemputnya sekarang, sebab sekolahan mau ditutup ini]
[Oh ... iya, Bu. Saya akan segera datang menjemputnya sekarang]
[Iya, kalau begitu akan kami tunggu]
[Iya, Bu]
"Kenapa saat aku ingin menghindarimu, harus dipertemukan lagi dengan hadirnya Naya sebagai penghubung kita. Hufff, semoga saja kita nanti tidak akan bertemu," rancau hati banyak berharap.
Lamunan dalam pantai kusudahi, untuk segera menjemput Naya yang kelihatannya sangat membutuhkan diriku agar bisa menjemput.
Setelah sekian jam berkutat dalam jalanan, akhirnya Ibu guru dan Naya yang sedang duduk didepan sekolahan, sekarang mulai menghampiri mobilku yang sudah berhenti tepat didepan mereka.
Bhug, mobil sudah kututup.
__ADS_1
"Maafkan saya, Mas. Harus meminta tolong dengan menelpon," ucap Bu guru tak enak hati.
"Tidak apa-apa, Bu. Maafkan saya juga atas nama keluarga Naya, sebab sudah merepotkan Bu guru untuk menemani Naya yang belum dijemput," jawabku sungkan.
"Iya, tidak apa-apa. Naya baik-baik ikut Om, ya!" cakap Bu guru sudah mengelus pelan rambut Naya.
"Iya, Bu guru. Terima kasih."
"Iya, Nak. Sama-sama."
"Kalau begitu kami pamit dulu, Bu guru!" ucapku sebelum pergi.
"Iya, hati-hati. Bye ... bye."
Naya yang kugendong didepan, sudah melambaikan tangannya pelan pada Bu guru. Walau benci sama bunda Naya, namun aku tidak akan pernah membenci anak kecil, yang sudah pernah hadir membawa kebahagiaan untukku juga.
"Bunda, kemana? Kok tumben-tumbennya tidak ada yang menjemput kamu?" tanyaku saat kami sudah berada dalam mobil.
"Tidak tahu, Om. Biasanya kalau Bunda sibuk, pasti nenek atau ayah akan menjemput. Tapi anehnya tidak ada yang menjemput hari ini. Maafkan Naya ya, Om!" celotehnya imut.
"Iya, ngak pa-apa, sayang. Naya tidak merepotkan Om, kok!" jawabku sudah tersenyum manis kearahnya.
"Oh ya, Om. Kenapa Om Chris, kok sekarang jarang datang ke rumah Naya. Ada apa, Om?" tanya kepolosannya.
"Om Chris 'kan sibuk kerja, sayang!" ucapku santai.
"Tapi 'kan dulu-dulu, kalau Om sibuk bekerja tetap menyempatkan waktu datang ke rumah apalagi menemui, Bunda!" cakapnya sambil memainkan tali tas sekolahnya.
"Om akhir-akhir ini memang sibuk kerja kok, sayang. Lagian bukankah sekarang ada ayah Naya, yang setiap hari bisa menemani main," jawabku berbohong.
"Memang sih, Om. Tapi aku 'kan juga rindu sama Om Chris, jika lama-lama tidak bertandang kerumah," ungkapnya sendu.
"Iya, sayang. Kapan-kapan kalau ada waktu luang, Om akan bermain ke rumah," tuturku pura-pura lagi bahagia.
"Benar ya, Om."
__ADS_1
"Iya, sayang."
Walau nyesek dan sedikit sedih, Naya tetap kuantarkan pulang sampai ke depan rumah. Terlihat Nenek dan Kakeknya lagi duduk bercengkrama tertawa didepan rumah, sehingga membuatku terheran-heran, kenapa cucu mereka belum pulang, namun bukannya khawatir tapi malah santai.