Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>> Kapan Akan Diselamatkan


__ADS_3

Tubuh makin melemah dengan darah sudah tidak bisa mengalir bebas mengisi kekuatan, dan terasa sudah bercerai semua dari badan. Muka sudah pucat. Perih perut tidak terhiraukan. Mau ngeluh makan pasti malah akan dimaki-maki.


"Aku begitu lelah. Apakah ini semua akan berlanjut? Kemana kalian? Kenapa tidak ada satu orangpun yang ingin menyelamatkanku? Mas Adit, apakah kau tidak ingin aku kembali ke pelukanmu, sehingga tidak ada tanda-tanda kau datang untuk melepaskanku dari penculikan ini," guman hati yang kecewa.


Sudah hampir dua minggu Salwa menyiksa dan mengurung. Sungguh tidak manusiawi sekali perlakuannya padaku. Wajahnya yang cantik, pendiam, dan kelihatan lembut, ternyata berbading terbalik dengan kelakuannya yang sadis, tidak ada iba, selalu mengumpat dan tak berperikemanusiaan.


Ribuan bulir-bulir terus jatuh. Kalau ditadahkan pasti ember akan penuh jua. Mata sembab, kering, nyeri, bahkan terasa membengkak. Tiada habis untaian doa terpanjatkan.


Tubuh yang tidak ada tenaga lagi, sekarang sedang bersusah payah untuk bangkit agar bisa duduk dengan benar.


"Oh Tuhan. Kapan ini akan berakhir."


Samar-samar telinga kini dapat mendengarkan suara seorang laki-laki dan perempuan sedang berbincang-bincang, sehingga aku tidak mau melewatkan kesempatan untuk segera meminta bantuan pada mereka.


Tubuh berusaha duduk dengan tegak, kemudian secepatnya berusaha untuk ngesot, agar bisa menghampiri tumpukan kardus yang sudah buruk tapi bertumpuk. Lamat-lamat kudengarkan suara laki-laki itu, yang sepertinya aku sudah sangat mengenalinya.


"Aah, apakah itu Edo?" tanyaku dalam hati mendengarkan.


Eem ... emm. Suaraku tertahan yang ingin berteriak.


Dengan tergesa-gesa langsung saja aku berjalan ngesot ke arah tujuanku.


"Bismillah, semoga aku bisa dan berhasil."


Kurang yakin sebenarnya yang akan kulakukan mengingat keadaan tidak bisa bergerak. Tubuh yang lemah terus saja berusaha agar cepat sampai, dan pada akhirnya secara kuat bahu sudah kutubrukkan mengenai tumpukan kardus itu.


Bruuuakk, dengan kerasnya benda-benda tumpukan itu jatuh.


"Alhamdulillah, akhirnya usahaku berhasil juga. Ayo, Edo ... ayo kemari. Tolong aku, selamatkanlah aku," pintaku dalam hati memohon, dengan tangan dan kaki yang masih sama yaitu terikat.

__ADS_1


"Semoga Edo mendengar apa yang kulakukam sekarang," Penuh harapan.


Sudah sekian menit beraksi. Mulai merasa aneh saat Edo tak kunjung juga akan menyelamatkanku. Diri ini benar-benar sudah tak sabar sekali, ingin terlepas dari jeratan penculikan ini. Lelah rasanya merasakan siksaan yang tiada ampun.


Suara seorang perempuan berteriak menuduh Edo.


"Aah, apakah Edo akan benar-benar gagal menyelamatkanku, sebab barusan telah ketahuan. Ya Allah, apakah takdirku memang harus sampai disini? Kenapa bisa begini? Apa yang harus kulakukan?" ucapku dalam hati, yang terus saja mengeluarkan aliran tetesan embun disudut pelupuk mata.


Hati cukup merasa kecewa, Edo adalah harapanku satu-satunya, dan kini telah pergi menjauh ketika detik-detik hampir saja bisa menyelamatkanku.


Beberapa menit dalam kesedihan, terdengar suara Salwa sedang marah-marah.


Braaaak, kerasnya suara pintu sudah terbuka, yang ternyata dibuka secara kasar oleh Salwa.


"Hei, kamu ke sini!" ujar Salwa.


Rambut terjambak sampai ke belakang. Mata ini menyorot tajam ke arah wajahnya. Sejuta amarah ingin kulampiaskan padanya.


"Eem ... emm," jawabku dengan mengeleng-gelengkan kepala, berusaha ingin menolak permintaannya.


Aku berusaha menolak sebab diri ini tahu persis, bahwa Salwa akan berbuat lebih padaku contohnya menyiksa lagi. Tubuh gemetaran akibat takut. Nyali begitu ciut. Rasa putus asa mulai hadir.


"Dasar wanita si*lan."


Terlihat wajah Salwa sudah menyeringai marah, dan kini Salwa sudah mencengkram pipiku dengan kuat, lalu mendorongku hingga terjatuh tergolek dilantai lagi. Sumpalan kain tidak sengaja telah terjatuh. Mengembalikan kekuatan duduk.


Cuiiih, ludahan air liur terlempar. Tepat mengenai wajahnya. Dia menyerigai. Tangan mengusap kasar air berbuih itu.


"Kapok kau, Salwa. Aku tidak takut dengamu," Sorot mata tajam dan hati begitu gondok ingin memberi pelajaran padanya.

__ADS_1


Perlahan-lahan Salwa mulai mendekatiku yang duduk miring. Tahu dia akan emosi, sehingga mundur sedikit untuk menghindarinya. Tangannya mengepal dan sedang melayang diudara


"Dasar perempuan j*l*ng yang kurang ajar, berani-beraninya kamu mulai melawanku, hah! Plaaak ... plaaak. Rasakaan ini. Sudah merasa hebat 'kan!" Pipi sudah terkena tamparan.


Rambut yang tergerai menutupi wajah. Baunya sudah apek dan tidak berbentuk lagi. Kali ini aku hanya terbelenggu oleh kepasrahan saja.


"Wanita gak tahu diuntung, plaak ... plaak. Rasakan ini, mampuslah kau!" Bertubi-tubi Salwa tak mau berhenti menampar, sambil menghinaku dengan mulutnya yang kasar.


"Hahh, dasar. Inilah akibat kamu berani melawanku," hardik Salwa dengan jarinya memantul-mantulkan kepalaku.


Hanya diam yang kulakukan sekarang, mulut sudah sedikit mengeluarkan darah, akibat terlalu kerasnya Salwa menampar. Pipipun sekarang terasa sudah panas berdenyut sakit sekali. Mungkin sudah memerah juga ada mahakarya tangan Salwa.


"Kamu itu jangan sok merasa hebat. Apa yang kamu banggakan sekarang? Wajah cantik tapi berhati picik. Apa gara-gara Adit mencintaimu, sehingga kau berani melawan? Berani sok suci, ya! Ingin memiliki Adit selamanya 'kah? Jangan harap, sebab diriku akan segera menghancurkan semua anganmu itu, dengan melakukan sesuatu yang lebih sadis dari pada ini. Makanya jangan berani melawan Salwa," gertaknya lagi yang sudah tersulutnya emosi lagi.


"Ayo ikut aku sekarang, ayo ... ayo! Ternyata Adit itu tidak bisa diremehkan. Sekslarang berani-beraninya melacak agar bisa menemukan keberadaanmu," ajaknya menjelaskan sambil marah-marah lagi.


"Tidak, Salwa. Apa yang akan kamu lakukan lagi."


"Diam kamu. Ayo ikut ... ayo ikut! Kita secepatnya harus pindah dari sini," gertaknya.


Berkali-kali menahan dengan diam ditempat. Tubuhku mitngkin berat badan agak banyak dibandingkan Salwa yang kerempeng, sehingga dia kesusahan untuk mengajakku. Bukan namanya Salwa kalau tambah tidak sadis. Seribu akalnya datang lagi. Rambut ditariknya kuat kebelakang sehingha mau tidak mau akhirnya luluh juga untuk ikut.


Tak banyak bicara yang kulakukan sekarang, untuk tetap menuruti apa yang diperintah Salwa. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, yaitu hanya ada kepasrahan tanpa perlawanan dariku.


"Ayo cepat ... ayo cepat! Lembek banget jalannya. Wanita s*al*n seperti kamu itu jalannya harus cepat, jangan lelet seperti keong begitu," pekiknya marah sambil terus mendorong-dorong tubuhku, agar terus menuruti perintahnya.


Diri ini memang lemah tak bisa cepat, karena keseringan tak dikasih makanan yang cukup oleh Salwa. Tapi disebalik itu semua, tubuh lemah akibat terlalu seringnya disiksa oleh Salwa di seluruh sekujur tubuhku, sehingga kini rasanya bagai mati rasa tak ada kekuatan lagi.


Aku begitu terpuruk kecewa, saat diriku tak kunjung jua diselamatkan, dan lepas dari penyiksaan ini. Entah apa lagi yang akan dia lakukan. Sekarang dipindahkan ke dalam rumahnya. Berhasil melewati pembantu, nampak dia heran dan menatap sinis ketakutan. Aku yang melihatnya jadi mengiba agar dia bisa menyelamatkanku.

__ADS_1


__ADS_2