Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Kehilangan kerja


__ADS_3

Bayi mungil yang selama ini kutunggu, akhirnya bisa kulihat wajah cantiknya saat kini bertengger tenang tepat dipangkuanku. Walau diriku bukanlah siapa-siapanya, tapi rasa hati yang ingin mengasihinya begitu mengebu, untuk segera diangkat menjadi ayah sambungnya.



"Kamu ngak kerja, Chris?" tanya Karin yang masih lemah dalam pembaringan rumah sakit.


"Lagi kosong sekarang," jawabku santai sambil wajah senyum-senyum menatap seksama bayi Karin.


"Ooh, tapi apa ngak ada kerjaan lain dirumah kamu? Kamu dari kemarin menemani aku terus lho dirumah sakit ini, apa ngak ada kegiatan lain?" imbuh tanyanya.


"Heeh, ngak ada Karin. Kamu kenapa sih kok nanya itu terus, seakan-akan ingin sekali mengusirku," ketusku menjawab.


"Bukan gitu, Chris. Aku tak enak hati sama kamu, yang terus menjaga diriku dan buah hati kecilku itu. Takutnya nanti akan menganggu pekerjaan maupun aktifitas keseharian kamu," tuturnya menjelaskan.


"Ngak usah tidak enak hati begitu, aku saja nyantai yang menunggu kamu. Lagian hatiku kini lagi tersimpan kebinaran kebahagiaan, atas kedatangan putri kecilmu yang lucu ini. Oh ya, kamu akan memberikan nama anak kamu apa nantinya?" tanyaku kepo.


"Entahlah, belum terpikirkan lagi dikepalaku."


"Gimana kalau caca saja. Aku suka nama itu," ujarku memberi ide.


"Bagus juga itu, tapi nanti aku pikirkan nama yang lebih baik lagi dan panjang," jawabnya sedikit ada penolakan.


"It's ok. Yang penting cantik saja namanya nanti, sesuai dengan wajahnya yang imut dan cantik ini," ujarku sudah mencium pelan pipi anak Karin.


"Pasti itu."


Entah mengapa aku tahan sekali berlama-lama didekat mereka berdua. Mungkinlah ini yang dinamakan kebahagiaan, jika punya istri disusul kedatangan seorang malaikat kecil yang masih mungil ini. Seandainya saja kemarin status Karin sudah menjadi istriku, pasti hatiku akan lebih bahagia seratus kali lipat dibandingkan oleh rasa sekarang ini.


Karena orangtua sambung Karin sudah datang, kini aku mencoba pulang dulu untuk bergantian dengan mereka. Pekerjaan temu janji yang barusan ada tidak bisa kutinggalkan begitu saja, lagian Karin kelihatannya sudah nampak sehat dan akan segera dibawa pulang hari ini, jadi aku tak begitu mengkhawatirkan dia, sebab bu Fatimah dan suami ada selalu untuk menjaga.


******


Mobil sudah melesat untuk segera ketempat kerjaan, setelah beberapa jam yang lalu menelpon untuk memakai jasaku sebagai model. Akupun yang siap menerima tawaran itu, langsung meluncur kesana untuk segera melaksanakan bookingan itu.


"Wah, kok sudah rame betul acaranya, bos. Apa mungkin kita telah ketinggalan?" ucap Rohmat merasa aneh, saat kami berdua sudah memasuki area rias para model.


"Ngak tahu juga, Rohmat. Iya yah, kok kayaknya terdengar acara sudah dimulai gitu, aneh!" balik ucapku merasa heran.


"Kita cari bos pemilik dulu saja, yang menelpon kita tadi, yuk!" ajakku pada Rohmat.


"Iya, bos."


Setelah lama mencari kesana sini dikerumunan banyak pengunjung, akhirnya kami menemukan dia juga, yang sudah memperhatikan jalannya acara yang dia pimpin.


"Hallo bos," sapa Rohmat.


"Iya," jawabnya ramah langsung menoleh kearah kami


"Bos, tadi bukankah beberapa jam yang lalu telah memanggil tuanku Chris untuk menjadi model utama, tapi kenapa sekarang acaranya sudah dimulai tanpa menunggu kami lagi," cakap Rohmat ngegas langsung terus terang.

__ADS_1


"Oh, maaf Chris. Hehehe, tadi memang niatnya kamu yang jadi model utama, tapi tadi ada model baru yang tak kalah ahli kayak kamu, dengan menawarkan jasa biaya yang lebih murah lagi dari kamu. Jadi maaf ... maafkan saya ya Chris, sebab telah membatalkan kerjaan tanpa memberitahu kamu dulu," ucap si bos tidak enak hati.


"Heeh, kenapa kamu ngak bilang dari tadi kalau dibatalkan, aku 'kan tak payah capek-capek datang kesini. Ya sudah, Rohmat. Ayo kita pergi dari sini saja, bikin sepet mata dan gondok saja lama-lama disini," ketus ucapku menyindir bos itu.



"Iya, bos. Ayo!" jawab Rohmat setuju.


"Maafkan saya, Chris! Ini bukan keinginanku," jawab sang bos lesu kayak ada rasa bersalah.


"Bukan keinginan kamu, apa maksudnya?" tanyaku aneh yang kini berbalik badan lagi saat sudah sempat melenggang pergi.


"Ee'eeh, eng-eeg-enggak apa-apa kok, Chris!" jawabnya terbata-bata dengan aneh.


"Haaisst, bikin kesel saja kamu!" jawabku emosi.


"Sudah ...sudah, bos. Kita pergi saja dari sini, bikin mood tambah emosi saja nanti," ucap Rohmat sudah menarik tanganku.


Aku yang sudah mulai agak tersulut emosi, nurut saja saat tangan ditarik kuat oleh Rohmat. Perasaannku sungguh aneh, atas sikap bos acara fashion yang tadi mengatakan alasannya, namun kubuang jauh-jauh rasa itu, sebab kemungkinan bukan rezeki diriku saja.


Dert ... dert, gawai tiba-tiba bergetar saat pesan mulai masuk.


Kling, ada satu pesan yang sudah bertengger untuk siap kubaca.


[Maafkan aku, Chris. Perjanjian kita untuk pemotretan minggu depan kita batalkan]


Keherananku bertanya, saat teman tiba-tiba telah membatalkan kerjaan juga.


[Ngak ada apa-apa, cuma aku minggu depan belum siap untuk memperkerjakan kamu, mungkin lain kali saja kita akan berkerjasama dalam pemotretan lagi]


[Ok 'lah, kalau begitu. Ngak pa-pa]


[Terima kasih, atas pengertiannya]


Jawaban terakhir kubalas pesan, memberitahukan bahwa aku ikhlas untuk dibatalkan kerjaan, yang padahal dihati rasanya sungguh menelan kekecewaan.


"Siapa sih, bos? Kelihatan penting banget?" tanya Rohmat heran.


"Temanku yang booking kerjaan seminggu lagi itu, kini minta dibatalkan juga," terangku.


"Kok aneh sekali, ya bos. Padahal dia kemarin yang ngotot dan ngemis-ngemis minta bantuan kamu untuk jadi model dipemotretannya, kenapa sekarang bisa dibatalkan?" Kebingunggan Rohmat bertanya.


"Heeh, aku juga ngak tahu!" jawabku menghembuskan nafas dalam-dalam.


Dert ... dert, lagi-lagi gawai telah menampakkan sebuah pesan masuk. Yang mana kini terulang lagi, sebuah pesan memperlihatkan bahwa janjian untuk pekerjaan telah dibatalkan lagi.


"Aaah, sial ... sial. Kenapa semua orang kini membatalkan kerjaan," keluhku emosi dengan menghentakkan kaki kuat dalam mobil.


"Sabar ... sabar bos," Jawab Rohmat yang sempat kaget.

__ADS_1


Kring ... kring, untuk kesekian kali panggilan dan pesan lagi-lagi mengabarkan bahwa semua kerjaan kini telah dicancel. Semangat seketika hancur dan layu saat beberapa pekejaan kini mulai hilang satu persatu.


"Apa yang terjadi sebenarnya ini? Kenapa semua kerjaan tiba-tiba dibatalkan mendadak begini?" tanyaku dalam hati sudah merasa aneh.


"Kamu yang sabar, bos. Mungkin semua orang lagi krisis keuangan, hingga semua kerjaan yang berhubungan dengan permodelan telah dibatalkan," ucap Rohmat yang mencoba menenangkanku mulai marah, saat tangannya masih sibuk menyetir mobil.


"Heeeh ... huuuuffff, Iya!" jawabku lesu.


"Kita sekarang kerumah Karin saja," suruhku lemah.


"Iya, bos."


Mungkin dengan melihat wajah kekasih dan buah hatinya, rasa moodku yang lagi kesal dan tak bersemangat lagi, akan terasa bisa pulih ketika melihat senyuman mereka.


Akhirnya perjalananpun telah sampai, yang mengantarkanku ketempat tujuan yaitu rumah bu Fatimah.


"Assalamualaikum," Salamku ingin bertamu bersama Rohmat.


"Walaikumsalam," jawab kompak semua orang yang sedang duduk santai diruang tamu.


Aku dan Rohmat langsung saja mencium takzim tangan punggung pak Samsul dan bu Fatimah. Hati sudah heran, saat raut wajah mereka kelihatan murung dan sedih juga, hingga hati tak kuat lagi untuk mencoba bertanya apa yang sedang terjadi.


"Ada apa ini, pak, buk? Kenapa wajah kalian kok kelihatan ditekuk begitu?" tanyaku tanpa ragu lagi.


"Ini, nak Chris. Bapak yang menjadi tulang punggung satu-satunya, kini telah dipecat dari pekerjaannya dengan alasan yang tak jelas, padahal masa mengajar bapak masih lama," terang bu Fatimah.


"Apa? Benarkah?" tanyaku tak percaya.


"Iya, nak Chris. Mau gimana lagi, ini sudah menjadi keputudan pihak sekolah," jawab lesu pak Samsul.


"Astagfirullah, kenapa nasib kita hari ini sama ya, pak!" jawabku yang ikutan lemah.


"Memang ada apa, Chris?" tanya karin binggung yang sedang sibuk memangku anaknya.


"Hari ini semua pekerjaanku telah dibatalkan, yang tak tahu alasannya kenapa," jelasku.


"Ya Allah, kenapa pada tega amat ya orang-orang itu, padahal kita sangat membutuhkan pekerjaan itu," Bu Fatimah menimpali ikut tak senang.


"Sudah, biarkan saja, bu. Mungkin bukan rezeki kita, agar disuruh bersabar dalam menghadapi cobaan ini. Mungkin pekerjaan kami tak cocok untuk sementara ini," ucap pak Samsul menenangkan kami.


"Iya, pak!" jawab kepasrahan bu Fatimah.


"Kamu juga yang sabar, Chris. Semua pekerjaan itu pasti akan kembali padamu, jika kamu ikhlas dan sabar. Allah pasti akan memberikan rezeki lebih lagi, jika kamu selalu ridho menerimanya," tutur lembut Karin yang dibarengi senyuman yang manis.



"Iya."


Ternyata benar saja, hati yang lagi terpuruk hilang seketika, saat berkumpul dengan keluarga pak Samsul. Canda tawa mereka yang selalu menenangkan jiwa, seakan-akan telah menghilangkan semua yang menjadi pikiranku sekarang. Aroma harum tubuh si buah hati Karin terus saja menenangkan perasaan ini, saat berkali-kali pipi halusnya yang masih memerah terus saja kucium secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2