Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Keromantisan Dalam Kekesalan


__ADS_3

Langkah terus saja menjauh, untuk mencoba menghindari mas Adit, sambil tangan terus saja menyeret koperku.


Kling, suara tanganku memencet lift agar terbuka.


"Tunggu!" panggilnya yang sudah mengejarku, dan langsung memasuki lift.


Namun aku masih terdiam tak menanggapinya, dengan tubuh bersandar santai dibadan lif. Netra mas Adit sudah menoleh ke arahku, dan sekarang hanya memperhatikan dengan seksama, sambil tangannya sibuk menekan tombol angka lif.


"Kamu kenapa sih, sayang! Kok kelihatan tak suka dan cemberut gitu?" tanya mas Adit yang masih tak tahu sebabnya.


"Aku baik," jawabku singkat.



"Beneran kamu baik-baik saja 'kan? Kalau baik kok wajah masam gitu? Aneh 'lah aku lihatnya," Sudah menghampiriku.


Langkahnya kian mendekat ke arahku, dan sekarang sudah memepet dan mengkunci dengan kedua tangannya berpegangan badan besi dikiri kanan, sehingga akupun tak berkutik disudut ruangan lif.


"Kamu mau ngapain, Mas?"


"Menurutmu?"


"Kamu jangan macam-macam, Atau aku--?" Suaraku tertahan sebab sudah sedikit grogi.


"Atau apa?" tanyanya menatapku lekat-lekat.


"Atau aku tak akan ... tak akan, iitt-**-tu anu ... tak akan-!" suaraku terbata-bata, sebab jantung kian berdetak sangat kuat, akibat ulah mas Adit yang terus mendekatkan tubuhnya.


"Ngomong yang benar, aku akan setia mendengkarkannya," ujarnya yang memiringkan kepala.


"Sudah, aku tak jadi ngomongnya," kilahku berusaha menghindari tatapannya.


Entah mengapa sudah berbulan-bulan Mas Adit menjadi suamiku, tapi diri ini masih saja merasa grogi, setiap perlakuannya terlalu membangkitkan rasa nyes-nyes dalam hati.


"Ayo bilang, tadi takkan apa?" ujarnya yang terus menatap tajam wajahku, sehingga membuatku memalingkan muka ke kanan agar tak melihatnya.


"Beneran mau mendengarnya?" tanyaku serius.


"Heem."


"Maksudnya tadi, nanti malam takkan kuberi jatah," ucapku gamblang yang sudah hilang urat malu.

__ADS_1


Ceeet, tanpa aba-aba mas Adit sudah memberiku stempel dileher, dengan beberapa gigitan barisan giginya yang putih dan harum bau nafasnya.


"Aaaauuu ... sakit, Mas!" teriakku kecil sebab kaget.


"Itu hukuman kamu karena berkata macam-macam pada suami kamu sendiri," ucapnya tersenyum kecil.


"Iiiich, hukuman sih hukuman, tapi gak gigit begitu juga kali!" kekesalanku berucap.


"Hahahaha, itulah yang kumau dari tadi, memberi kamu sedikit pelajaran. Tapi enak 'kan?" ujarnya yang terasa senang akibat menang.


"Enak apaan! Sakit tahu. Dan ini pasti sudah membekas memerah," ucapku sambil meraba-raba leher.


"Biarkan memerah, sebab itu sangat menambah aura kecantikanmu," ledeknya berucap.


Badan lift yang bening bisa untuk berkaca, walau kelihatan samar-samar namun masih bisa nampak. Kerah baju kutarik sedikit ke bawah, biar bisa melihat leher yang kena gigitan drakula tak mengisap darah.


"Cantik apaan! Gila kali memerah begini dibilang cantik, yang ada malu dilihat orang tahu," sahutku sudah merasa risih.


"Hehehe, tapi itu semua aku suka lho!" cakap mas Adit cegegesan.


"Suka apaan, memalukan tahu!" ucapku dengan memasang wajah cemberut.


"Suka nempel terus dihatimu" Rayuan gombalnya.


Kling, suara lif sudah terbuka. Dan ternyata kamar kami berada di lantai empat. Langkah sudah berjalan beriringan dengan mas Adit, yang mana tangannya sibuk bergantian menyeret koper kami.


"Kenapa? tak suka kalau mendengar Masmu ini bisa merayu!" tanyanya penasaran.


"Bukan ngak suka, Mas! Tapi geli saja jika mendengarnya," jawabku.


"Geli mendengarkan ungkapan hatiku 'kah? Tapi kamu senangkan?" tanyanya merayu lagi.


"Aduh, Mas. Susah benar ngomong sama kamu, banyak ngegombalnya." gerutuku kesal.


"Hahahahha, inilah yang aku suka dari kamu, selalu cemberut kalau lagi kena rayu, kelihatan lucu sekali eksperesi wajahmu itu," ujar mas Adit yang malah meledek.


"Udah ah, banyak sekali mas Adit hari ini ngomongnya. Cepetan bagi kuncinya sini! Kelamaan ngoceh bisa panas nih telinnga mendengarnya," pintaku kesal.


"Iya ... ya, ini!" ujarnya sambil tangan memberikan kunci.


Ceklek ... ceklek, pintu kamar hotel sudah berhasil kubuka. Dan sekarang kaki langsung saja berjalan cepat ke arah kasur, dan seketika tubuh kehempaskan kuat dengan tengkurep, akibat badan sudah terasa capek sekali.

__ADS_1


"Ya ampu, Mas. Berat tau!" kekesalanku saat tubuh mas Adit memelukku dari belakang.


"Diam dulu, kenapa!" gerutunya tak suka.


"Tapi Mas, badan kekarmu itu benar-benar berat, dan sekarang aku tak bisa bernafas dengan leluasa tahu!" ujarku dengan nafas sudah merasa pengap.


"Tunggu sebentaaar saja," jawabnya yang tak mau menyingkir.


Hadeh, orang yang tidak mau mengerti. Dipikirnya aku mampu menahan berat tubuhnya.


"Ayo, Mas! Aku bisa mati ditindih, kamu jangan gila membunuhku dengan cara begini, pasti kamu berencana biar bisa selingkuh dengan perempuan lain," cerocosku marah.


"What? apa yang kamu bilang barusan," Kekagetan mas Adit yang langsung mengeserkan tubuhnya.


"Hhhh ... heh, kamu benar-benar gila mau membunuhku, dengan cara menindih tubuhmu yang kekar itu," Kekesalanku berkata, dengan nafas kembang kempis.


"Kalau iya kenapa?" ujar mas Adit yang sudah bersedekapkan tangannya didada.


"Beneran kamu ingin membunuhku?" tanyaku yang ingin tahu.


"Kalau iya kenapa?" jawabnya mantap.


"Ya sudah kalau begitu, ceraikan aku saja kalau kamu ingin menambah istri," ujarku mengeryitkan bibir, akibat tak senang atas jawaban mas Adit.


Tangannya menempel ditelinga, wajah berkerut seperti tidak percaya diri ini bisa mengatakan itu.


"Kamu bilang apa barusan? Aku tak mendengarnya, ucapkan yang keras sekali lagi!" ujar mas Adit dengan muka sudah merah padam seperti marah.


Tubuh mas Adit sudah menunbruk badanku, sehingga tak terhindarkan lagi tubuhkupun tertidur terlentang, dengan tangan sudah dikunci mas Adit kiri dan kanan, dan tubuhnya kini sudah berkuda-kuda duduk diatas perutku.


"Lepaskan aku, Mas! Sakiiit," pintaku sebab tangan begitu kuatnya dicegkram, akibat kunciannya.


"Diam kamu, ucap sekali lagi apa yang barusan kamu katakan," bentak yang benar-benar marah.


"Maafkan aku, Mas!" Permohonanku.


Takut jika tambah murka. Mulut yang tidak bisa dijaga, sembarangan saja kalau berkata.


Cuuup, bibir mas Adit sudah melekat di bibirku, dengan mencium secara kasar dan ganas, membuat diriku tak bisa bernafas secara benar, sebab meladeni ciumannya yang mengila.


"Hhhhh ... heeh, Maafkan aku, Mas. Aku tadi tak sengaja berucap itu!" ujarku yang sudah kehabisan nafas.

__ADS_1


Cuuup, untuk yang kedua kalinya ciuman telah berhasil mendarat dibibir sexyku, tapi kali ini beda dari yang pertama, sebab sekarang lebih mengarah kepada kelembutan dan kekenyalan bibirnya.


Aksinya sekarang mulai tak terkontrol, yang terus saja melucuti kancing bajuku secara satu persatu, dan akupun sebagai istri hanya pasrah atas perlakuannya, sebab ini adalah kewajibanku memberi pelayanan kepada suami tercinta. Tanganpun begitu eratnya dia cengkram, sehingga akupun tak bisa berkutik untuk melawannya lagi. Sebagai perempuan hanya menerima saja, tanpa bissa melawan saat suami meminta.


__ADS_2