
Bhugh, mobil sudah kututup pelan, sambil tangan sibuk mengendong Naya. Kuhampiri orangtua angkat Karin, diiringi tangan langsung mencium takzim mereka.
"Kok, Naya bisa sama kamu, Chris? Mana Karin?" tanya Ibu angkat, sambil wajah clingak-clinguk mencoba mencari keberadaan Karin.
"Lah, bukankah seharusnya Chrislah yang bertanya, dimana Karin sekarang? Sampai-sampai Naya tidak ada yang menjemput." Keanehanku bertanya.
Naya sekarang sudah diambil alih oleh Bapak angkat untuk digendong.
"Kok bisa?" tanya Bapak.
"Tadi bukankah Karin sedang menjemput Naya? Benar 'kan, Bu?" imbuh Bapak.
"Benar itu, Pak. Karin tadi pamit sendiri sama Ibu, kok!" balas istrinya.
"Benarkah itu? Tapi tadi ibu guru Naya menelpon Chris, Bu, Pak! Karena tidak ada yang menjemputnya. Lagian Adrian dihubungi nomornya juga tidak tersambung. Untung saja gurunya tadi punya nomor telephone Chris," jelasku.
"Apakah itu benar? Mana mungkin Karin tidak menjemput, sedangkan Ibu lihat sendiri dia sedang memakai sepeda untuk segera menjemput," jelas beliau.
"Benar itu, Bu. Kalaupun Karin ada menjemput, pasti dia akan bersama Naya sekarang bukan denganku," ucapan mempertegas.
"Aduh, gimana ini, Pak! Kenapa Karin tidak menjemput Naya pulang. Tidak biasa-biasanya seperti ini." Kepanikan Ibu angkat yang sudah khawatir.
"Apa mungkin dia sekarang sedang bersama Adrian," tebak Bapak.
__ADS_1
"Emm, aha. Mungkin saja itu, Pak. Sebentar ... sebentar!" Tangan sudah mengeluarkan gawai dari kantong celana.
Tidak membuang-buang waktu, langsung saja nomor Adrian kutekan untuk segera menghubunginya.
Tut ... tut, gawai mulai tersambung, tapi tidak diangkat-angkatnya juga. Nampak wajah kedua orang tua begitu cemas tidak tenang.
"Bagaimana, Chris?" tanya Bapak.
"Sebentar, Pak. Tersambung tapi belum diangkat Adrian," balasku dengan tangan bergerak naik turun, supaya Bapak mau pengertian untuk bersabar.
Tut ... tut, untuk kesekian kali gawai masih belum diangkat Adrian.
[Hmm, ada apa?]
[Ada apa? Dari riwayat panggilan, beberapa kali kamu memanggil terus. Memang ada pentingkah?]
[Ini mengenai Karin. Apakah dia sedang bersama kamu sekarang?]
[Tidak ada. Aku sedang bekerja diperusahaan, mana mungkin dia akan datang kesini]
[Barang kali saja dia kesitu]
[Tadi kata orangtua Karin dia sedang menjemput Naya, tapi gurunya tadi menelponku untuk menjemputnya, sebab tidak ada yang menjemput anakmu itu]
[Benarkah itu? Apakah kamu sudah menghubungi nomor telephonenya?]
__ADS_1
[Belum, sih! Ya sudah, kalau begitu. Aku akan mencoba menghubunginya sekarang]
[Emm, baiklah. Aku akan coba tanyakan sama orang rumah juga]
[Baiklah]
Kling, gawai sudah mati dan sekarang mencoba menyambungkan kepada Karin.
Tut ... tut, untuk beberapa kali tidak ada jawaban sama sekali dari Karin. Sikapku mulai panik, ditambah orangtua angkat terlalu berlebihan khawatirnya.
"Sebenarnya kamu berada dimana, Karin? Apa yang terjadi padamu sekarang? Kenapa handphone kamu aktif, tapi kenapa tidak kamu angkat-angkat? Semoga saja kamu baik-baik saja," guman hati sudah dilanda kebingungan.
Karena tidak bisa mendapatkan kabar apa-apa, Adrian yang sedang bekerja kusuruh kerumah orangtua angkat, untuk membicarakan masalah hilangnya Karin.
"Gimana, apa ada kabar dari Karin?" tanya Adrian yang sudah datang.
"Belum ada!" jawabku lesu.
"Aaah, sial. Kemana kamu sebenarnya, Karin?" Kekesalan Adrian saat beberapa nomor dihubunginya masih sama jawabannya.
Nomor teman-temannya sudah dihubungi, tapi hasilnya masih tidak ada Karin ditempat.
Hari kian merangkak sore, tapi sudah berkeliling mencari masih sama tidak ditemukan, dengan terpaksa kami melaporkan ke pihak kepolisian, atas hilangnya wanita yang kucintai itu.
__ADS_1