Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang >>> Pagi Dengan Kesayangan


__ADS_3

Adakalanya sinar matahari yang bersinar terang, harus melalui derasnya badai hujan beranginkan topan dahulu, yaitu seperti impianku yang sempat tergoyahkan. Tapi kenyataan hidup selalu saja ada sinar mentari dan warna pelangi yang sudah menyirami kehidupan manusia, sehingga hidup'pun menjadi aman dan sejahtera. Dan semoga saja kisah cinta kamipun setelah ini akan tetap terus bersatu, dalam dunia yang penuh warna kebahagiaan.


Sinar mentari sudah mulai merangkak diatas cakrawala, sehingga sinarnya kini telah membangunkanku yang masih bergulung satu selimut dipakai berdua.



"Pagi, sayank. Kamu ternyata sudah bangun!" sapaan Mas Adit saat tubuhnya semakin memperkuat pelukan kami.


"Pagi juga, Mas!" jawabku.


"Cuup, terima kasih atas tadi malam," ucapnya sambil mengecup keningku.


"Sama-sama, Mas. Terima kasih juga untukmu, yang sekarang sudah menjadikan diriku milikmu seutuhnya, dan tidak ada kata-kata lagi yang bisa kuucapkan, kecuali hanya satu yaitu aku mencintaimu," ujarku dalam tangisan.


"Kamu kok nangis, sayang." Tangan besar itu mengusap airmataku.


"Aku ngak pa-pa. Ini semua adalah airmata kebahagiaan."


"Jangan menangis lagi, oke! Aku berjanji takkan meninggalkanmu dan selamanya terus mencintaimu," Terdengar tulusnya dia berucap.



"Benarkah itu?" Balik tanyaku.

__ADS_1


"Benar, sayank."


"Oh ya, ayo kita bangun. Bukankah sebentar lagi Mas Adit akan bekerja," suruhku.


"Ah, gak mau 'lah. Orang lagi enak-enak istirahat begini disuruh pergi," Tolaknya berucap.


"Bukan begitu, Mas! Bukankah di perusahaan sedang ada masalah?" cakapku yang sudah membenahi baju, yang tadi malam sempat berserakan.


"Ahah ... ahhhh, pokoknya aku gak mau bangun. Hari ini saja aku izin tidak kerja, sebab mau berduaan sama kamu," Kemanjaannya yang mulai muncul.


"Aduh, mulai kumat dech sifat kekanak-kanakkan kamu," sindir halus.


"Hehehehe. Mami tolong dong hari ini izinkan aku cuti, sebab ingin kencan sama pacarku," rengeknya menirukan suara anak kecil.


"Ciiih, benar-benar dah! Pusing kalau punya bayi sebesar ini!" celotehku kesal.



"Ayo, Mas! Bangunlah," kutarik selimutnya supaya dia segera bangkit dari kasur.


"Ah, Ana. Aku benar-benar malas untuk bangun. Capek banget nih! 'Kan semalam menghabiskan malam-malam yang indah bersama kamu," ucapnya gamblang tidak ada rasa malu.


"Ya ampun, Mas! Ngak usah segamblang itu kali untuk berucap," ujarku yang sudah bersemu kemerahan akibat malu-malu kucing.

__ADS_1


"Hehehehe," cegegesannya.



"Ah, ngak usah malu begitu kenapa! Toh semalam ngelakuinnya sama suami sendiri," ucapnya menerangkan.


"Iya ... iya, ngak usah lama-lama ceramahnya, cepetan bangun, kenapa! Sudah semakin siang saja ini!" suruhku lagi.


"Siap bos!" jawabnya menyetujui.


Akhirnya setelah aku mandi, mas Aditpun ikutan juga membersihkan diri. Dan kini aku tengah disibukkan dengan pekerjaan dapur, yang sudah tergesa-gesa ingin secepatnya menyelesaikan memasak.


"Maaf ya Mas, aku hanya bisa masak nasi goreng dan telur dadar," ujarku yang menyesal akibat bangun tidur kesiangan.


"Gak pa-pa, sayank. Mas paham, kamu ngak usah terburu-buru, aku hari ini libur kerja dan tadi Rudi sudah kuhubungi," terangnya.



"Beneran itu, mas. Kenapa tidak bilang," Kegiranganku.


"Bener, sayang. Kelupaan memberitahu. Hari ini aku ingin mengajak kamu jalan-jalan."


"Ah, asyyiik. Sudah lama aku tidak jalan-jalan, kita ke pantai saja Mas, sebab aku sudah lama tidak ke sana," Suaraku antusias.

__ADS_1


"Siip dah! Apa sih yang ngak buat kamu, semua apa yang kamu minta, pasti mas akan menuruti."


Kami berdua akhirnya bersiap dengan berganti pakaian dan menyiapkan beberapa keperluan yang nanti bisa dibutuhkan. Tidak lupa beberapa bekal camilan ikut serta dalam perjalanan kami nanti. Senyuman tidak lepas dari wajah kami berdua. Semua berjalan dengan lancar diluar dugaan. Mungkin inilah jawaban atas buah kesabaran dan utaian doa yang tiap malam selalu bersujud.


__ADS_2