
Aksinya yang mengila, membuat seprei dan selimut hotel sudah porak poranda terpelancang kemana-mana. Sekarang akupun hanya bisa membenahi baju, yang sempat tak berbentuk lagi.
Kuambil selimut yang jatuh dilantai, untuk menutupi tubuh mas Adit yang hanya memakai celana pendek boxer. Kudekati badan kekarnya, dan langsung saja kuambil tangannya biar bisa memeluk tubuhku.
"Kamu belum tidur, sayang?" tanya dengan mata terpejam.
"Gimana mau tidur? Kamar aja sudah seperti kapal pecah akibat ulah kamu," sindirku.
"Heem," Tertawanya memejamkan mata.
"Sudah tidurlah, biar kamu besok pagi bisa frees. Katanya tadi, badan kamu capek-cepek akibat naik pesawat," cakapnya lirih seperti orang yang berkumur-kumur.
"Heeeh, iya kakandaku sayang," jawabku memuji.
"Apa? Apa yang kamu katakan tadi? Aku ingin mendengarkannya," Seketika bangun secara tiba-tiba.
"Cieeeh, mendengar yang bagus aja langsung melek semangat 45," decihku sebal.
"Hehehe, habisnya Mas tidak pernah mendengar kata-kata itu."
"Iya ... iya , kakandaku sayaaang."
"Hihihi, terima kasih."
"Iya." Kening kecup mesra.
Akhirnya kami berduapun tertidur saling berpelukan dengan mesranya, tanpa memperdulikan Ac yang terasa dingin, sebab kami saling pelukan, jadi badanpun tak terasa dingin tapi terasa hangat.
Hati terasa bahagia sekali mendapat suami yang perhatian, dan ini membuatku semakin mencintainya dan tak mau kehilangan.
****
Mentari menyosong pagi begitu cepatnya. Efek kelelahan tanpa terasa sudah menghabiskan waktu untuk molor lebih lama lagi.
"Kita makan direstoran dibawah saja, ya sayang!" tawar mas Adit, saat aku bermalas-malasan baring.
"Aku belum lapar lagi, Mas!" jawabku.
"Kok bisa!"
Heran. Tangan menyangga dagu.
"Ya bisalah, sebab aku memang belum lapar, dan perut sedikit terasa penuh agak kembung, mungkin mabuk akibat naik pesawat."
"Tapi kamu ngak sampai masuk angin dan sakit yang lainnya 'kan?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
"Alhamdulillah, enggak kok, Mas."
"Sekarang ikut aku, kita makan sekarang! Lapar ngak lapar harus ikut," perintahnya.
"Tapi, mas-!" jawabku yang begitu malasnya.
"Ayolah, jangan seperti anak kecil dibawain makanan dan mau disuapin paksa," cerocosnya.
"Hhhh. Aku beneran lagi ngak mood sebenarnya, tapi kalau mas Adit memaksa, baiklah," jawabku terpaksa.
"Nah gitu dong," ujarnya sambil menarik tanganku supaya bangkit.
"Gendong dulu tapi!" ucapku manja, mencoba merayunya.
"Ya ampun, kamu sekarang bener-bener manja kebangetan dech!" jawab mas Adit tak suka.
"Kalau ngak mau ya sudah, aku gak mau ikut makan dibawah," ujarku pura-pura merajuk, yang kembali berbaring dikasur.
Badan tergolek lagi. Mencoba berbohong agar mau menuruti keinginan.
"Ya ampuuun, bener-bener apes dah hari ini! Punya istri manja banget."
"Biarlah. Masih untung manja saja suami sendiri. Entar kalau sama orang tidak boleh dan kelihatan aneh."
"Hihihihi, syukurin Mas. Ternyata aku telah berhasil mengerjai kamu, makanya jangan suka mencuekkan istri, seperti waktu- waktu kemarin," ucapku dalam hati tertawa kecil, akibat menang mengerjai suami.
Tanpa rasa malu aku beneran digendong oleh suami, tangan sudah terlingkar kuatnya dileher suami biar tak jatuh. Bagai anak kecil, senang bisa diatas punggungnya.
"Kunci pintu kamarnya dengan benar, Mas gak bisa menutupnya, sebab lagi mengendong kamu," ucapnya seperti kelelahan.
"Siip dah."
"Kamu berat banget sih! Makan apaan selama ini?" tanya mas Adit yang kaki terus melangkah menuju lif, dengan kesibukkan tetap mengendongku.
"Makan nasilah, berlaukkan jengkol."
"Iiiih ... perempuan kok suka jengkol, ngak enek apa sama bau mulut sendiri?" tanyanya yang tak menyukai penuturanku.
"Enggaklah, habis makan sikat gigi bersih-bersih, dan memakai penyemprot mulut biar baunya hilang seketika," celotehku menjawab.
"Ooh."
"Mas mau mencobanya?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Ogah dah, kayak gak ada makanan lain, enakkan daging," jawabnya.
"Jelas enak daging 'lah, akupun suka. Dari hargapun sangat jauh berbeda, tapi makan jengkol itu enak kenyal-kenyal gitu," jawabku menjelaskan.
"Kenyal-kenyal?" ucapnya merasa aneh.
"Maksudnya kenyal-kenyal seperti punya kamu gitu?" ujarnya mengoda.
"Ciiih, orang ngomong lain tapi jawabnya lain," gerutuku tak suka.
Ceet, mulutku yang manis dengan cekatan, sudah mengigit telinga mas Adit diujungnya. Barisan gigi kelihatan begitu ngecap.
"Aaww ... aaa, sakit beb!" Kekagetannya dalam kesakitan.
"Itu hukuman kamu yang mengatakan sesuatu aneh-aneh barusan," ujarku berbisik ditelinganya secara pelan-pelan.
"Aneh gimana maksudnya? Tolong tekan tombol lifnya dulu!" suruhnya.
Berkali-kali terus dinaikkan, akibat mau mlorot ke bawah.
"Ya anehlah, atas perkataan mas Adit yang kenyal-kenyal tadi."
"Kamu itu yang sudah salah sangka, atas omongan Mas barusan," jawabnya yg membawa tubuhku ke lif, ketika masih santai digendongnya.
Karena sedikit malu nanti ada orang yang melihat, aku terpaksa turun sendiri dari punggungnya.
"Kenapa turun? Katanya tadi mau digendong! Aku sekarang masih perkasa dan kuat lho," kesombongannya memamerkan ototnya, dengan tangan diangkat ke atas.
"Iiih, tau ... tau. Tapi ngak usah pamer gitu kali, dari dulu Mas itu memang selalu yang terdepan," pujiku berkata kesal.
"Hahahaha, inilah istri yang pintar selalu memuji suaminya."
"Masalah kenyal-kenyal tadi belum selesai lho! Maksud kenyal tadi-?" ucapnya dengan kakinya sudah melangkah kearahku, berusaha menyudutkan di pojokkan lif.
"Inilah yang dimaksud kenyal, ceeet!" tuturnya yang sudah mengigit pipiku.
"Aaa ... sakit, Mas!" teriakku kesakitan.
"Balas dendam ya balas dendam, tapi ngak kuat-kuat gitu gigitnya," gerutuku marah.
"Shees ... aww, pasti ini sudah membekas sekarang. Aah ... kamu jahat banget sih, Mas! Kalau orang lihatnya gimana ini?" Kekesalanku sudah tak senang.
"Tenang saja, itu tidak akan kelihatan! Karena tertutup oleh pipimu yang sekarang sudah merona merah," ujarnya mengelus pipiku.
"Iya 'kah?" jawabku penasaran.
Kuraba-raba pipi dengan tanganku, mencoba membuktikan apakah yang dikatakan mas Adit adalah benar. Dan ternyata benar saja, rasanya kedua pipi kiri kanan sudah terasa hangat, dan mungkin sudah kepanasan merona merah akibat ulah suami sendiri. Memang tidak bisa terhindarkan dari rasa deg-degkan.
__ADS_1