Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >>> Saingan yang tidak diinginkan datang


__ADS_3

Rasa sebal yang dilakukan mas Adit semalam, sekarang masih tergiang-giang menganggu pikiran, kalau bukan suami sendiri saja sudah kuinjak-injak jadi sepenyek-penyeknya.


"Hai, Ana!" sapa Edo saat aku sedang membersihkan koridor perusahaan.



"Hai juga, Edo!" balik sapaanku.


"Oh, ya Ana! Kamu tidak lupa 'kan janji kita pada hari minggu nanti," Edo mengingatkan yang kini ikut juga bekerja bersamaku.



"Siip, Ana gitu 'loh! Pasti gak akan lupa dong!" Kuacungkan satu jempol kearah Edo.


Plaaak, suara tamparan tiba-tiba terdarat dipipi.


Tangan sekarang sedang memegang pipi, habis ditampar seseorang yang tidak kukenal. Rasanya api kemarahan pada diriku sudah mulai tersulut. Gigi mulai gemerutuk, dengan mata melotot tajam ke arah perempuan itu, tetapi mulut hanya bisa terdiam tanpa kata sebab masih mencoba untuk bersabar.



"Heh, kamu yang namanya Ana 'kan! Dasar perempuan tak tahu diri, bisanya hanya perebut cowok orang!" ucap perempuan itu menghina.


Plaaak, balasan tamparanku terdarat padanya.


"Jangan asal tuduh, dan main tampar orang saja!" geramku berkata.


Plaaak ... plaak, untuk yang kedua kalinya tamparan terdarat dipipi, diiringi dorongan kuat terhadap tubuhku.


Bhuugh, suara tubuhku sudah tersungkur jatuh di lantai.


Pipi rasanya mulai begitu sakit, akibat dua tamparan telah terdarat diwajahku. Rambut yang sempat tergerai indah, kini sedikit acak-acakkan didepan muka, akibat tamparan kedua yang begitu kuatnya.


"Ana, kamu gak pa-pa?" tanya Edo mengahampiriku ingin berusaha menolong.



"Itulah akibatnya kalau kamu sudah berani merebut pacar orang! Kerja cuma pegawai kebersihan saja, sudah berani-beraninya menjadi penikung. Ngaca jadi orang itu, udah miskin belagu pulak. Dan ingat ya, kamu itu jangan sok kecantikan, mengerti!" Makiannya.


"Kamu itu memang perempuan tidak tahu malu, cumanya hanya bisa mengambil keuntungan dari orang kaya, dasar perempuan tak tahu diri," imbuh makiannya yang mencoba merendahkan harga diriku.


"Cukup, hentikan perkataan kamu itu!" bentak Edo marah.


Edo berusaha memarahi untuk segera menghentikan ocehan perempuan itu, akibat sudah keterlaluan diluar batasnya.


"Ciiih," decih suara perempuan itu, saat Edo berusaha membelaku.


"Kalian benar-benar drama banget! Makanya jadi perempuan itu jangan sok kecentilan dan sok cantik!" Kembali perempuan itu berkata yang tak enak didengar.


__ADS_1


Mulutnya mulai terbuka sedikit, dengan bibir digoyang-goyangkan ke kiri dan kanan, tanda ketidaksukaannya kepada kami.


"Kamu!" ucap Edo marah.


Ada guratan kemarahan yang memuncak di wajah Edo, yang sudah mencoba ingin menghampiri perempuan itu, dengan tangan sudah mengepal seperti ingin memukulnya.


"Edo, jangan!" cegahku.


Tangan sudah mencekal tangan Edo, untuk menghentikan langkahnya, agar tak menghampiri perempuan aneh didepan kami sekarang.


"Ini adalah peringatan untukmu, serta hukuman yang pantas kau dapatkan dariku, akibat telah merebut mas Adit dari kehidupanku," penjelasannya masih marah-marah.


"Ini sih belum seberapa, jadi jangan pernah macam-macam, atau aku akan melakukan hal yang lebih dari ini!" ancamnya padaku.


Diri ini hanya bisa terdiam, tidak terlalu merespon dan menanggapi lebih perempuan itu, yaitu hanya bisa mengalah dan tak mau membalasnya terlalu lebih dari ini. Cukup bagiku satu tamparan kepadanya, sudah membuktikan aku adalah orang yang kuat dan tidak lemah. Yang dikatakannya memang benar adanya, aku adalah wanita yang sudah berani merebut kekasihnya, dan pikiranpun menyadari bahwa memang dari kalangan orang miskin, yang tak sepantasnya bersanding dengan mas Adit, yaitu seorang bos besar dari CEO pakaian ternama ditempatku bekerja sekarang.


"Salwa!" Keterkejutan Mas Adit yang tiba-tiba muncul entah dari mana, yang bersama Rudi sang sekertaris.



"Apa yang kamu lakukan disini, hah? Sampai-sampai Ana sudah jatuh tersungkur di lantai, begitu?" Suara lantang Mas Adit marah.


Dan kini Mas Adit sudah menatapku tajam, mungkin merasa terkejut akibat pipi kupegang terus, yang sudah menampakkan kemerahan.


"Kamu gak pa-pa, Ana?" tanya Mas Adit.


"Aku gak pa-pa, Mas!" ucap ketusku.


Langsung kukibaskan tangan Mas Adit, sebab merasa sebal atas perlakuan mantan pacarnya.



"Tolong bantu aku berdiri, Edo!" suruhku, dengan mengulurkan tangan ke arahnya.


Mas Adit hanya diam terpaku, saat diri ini meminta bantuan Edo dan berhasil mengacuhkan bantuannya yang ingin diberikan padaku.


"Jawab Salwa! Apa yang barusan kamu lakukan pada Ana?" tanya suami pada wanita itu.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Cuma ... cuma sedikit memberi pelajaran saja, padanya!" jawab Salwa merasa tidak ada salah.


"Apa?" ucap Mas Adit terkejut.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Salwa! Sekarang minta maaflah kepada Ana," lengkingan suara suami menyuruh.


"Tidak, aku tidak akan maminta maaf sama dia, sampai kapanpun tidak akan sudi meminta maaf padanya," pendirian Salwa berucap.


"Salwa," bentak Mas Adit.


Tanpa memperdulikan Mas Adit dan perempuan itu yang sedang bertengkar, diri ini sudah menyuruh Edo untuk membawaku pergi dari hadapan mereka, dan tentunya tangan Edo sudah dibahu untuk membantu memapah yang secepatnya ingin pergi.

__ADS_1


>>>>>


Kaca dalam tas kerja sekarang sudah kuambil, untuk digunakan melihat pipi yang sudah nyut-nyutan terasa panas nyeri. Rasa-rasanya ujung bibirpun ikut pedih dan ngilu.


"Issh ... shees," Kesakitanku dipipi dan bibir.


"Kamu gak pa-pa? Apakah itu rasanya sudah sakit sekali?" Kekhawatiran Edo.


Sekarang Edo sudah menyodorkan batu es berbungkus kain, untuk membantu mengompres rasa sakit yang kurasakan kini.


"Aku gak pa-pa! Tapi memang sedikit sakit sih!" balasan ucapanku.


"Tapi lihat itu! Pipimu sudah agak lebam, biru-biru gitu!" Pemberitahuan Edo.


"Masak, sih?" Tidak percaya.


Tangan yang masih memegang kaca rias, kini sudah melihat apakah benar yang dikatakan Edo. Dan ternyata benar saja, pipi yang hanya beberapa menit yang tadinya memerah, sekarang sudah mulai membiru lebam. Bibirpun terasa pedih sekali, sedikit agak pecah diujungnya, akibat perempuan tadi menamparnya terlalu kuat.


"Oh ya, Edo. Hari ini aku boleh pulang nebeng sama kamu ngak?" Permintaan dalam bertanya.


"Oke, tentu saja boleh dong! Apa sih yang ngak buat kamu, orang yang special dihatiku," mulut Edo berbicara.


"Hah, apa tadi? Apa yang barusan kamu bilang?" tanyaku pura-pura tak dengar.


"Eh enggak. Hehehehe, maksudku special sebagai teman," pungkiran suara Edo.


"Ohhh."


"Perempuan tadi siapa sih, Ana? Sepertinya akrab banget sama bos besar?" tanya Edo penasaran.


"Aku kurang tahu juga, baru kali ini bertemu dengannya. Kalau ngak salah kutangkap dari pembicaraannya dan keakraban mereka, sepertinya sih mantan dia," jawaban yang tak tahu.


"Mantan? Oh, jadi perempuan itu yang menjadi kekasih bos besar, saat kamu masih menjadi istrinya?" imbuh tanya Edo.


"Mungkin."


"Wah, seharusnya kamu yang marah, tapi kenapa sekarang dia berbalik yang marah. Benar-benar perempuan itu, kalau bukan wanita saja, sudah kuhajar dia tadi hingga babak belur," kegeraman Edo marah.


"Sudah ... sudah, Edo! Tidak ada gunanya marah-marah sama dia, percuma saja! Buang-buang tenaga kita aja, selamanya dia tetap akan menang, sebab memang ada kebenaran atas perkataannya. Memang dari awal, akulah yang sudah merebut mas Adit darinya," Diri ini mencoba menjelaskan.


"Walau memang semua kenyataannya begitu, tapi tidak seharusnya dia berlaku kasar, dengan menamparmu secara bertubi-tubi, sampai-sampai kamu kesakitan begini," omongan Edo berusaha membela.


"Iya, juga sih. Terima kasih, Edo! Atas semua perhatianmu, kamu memang teman yang bisa diandalkan."


"Sama-sama, Ana."


Tangan tak henti-hentinya memijit pipi dengan kompres, yang rasanya mulai mereda tak begitu sakit nyut-nyutan lagi.


Pikiran begitu pusing memikirkan perkataan wanita yang bernawa Salwa, yaitu dikarenakan telah merebut kekasihnya. Rasa nyaliku terasa agak ciut, sebab saingan yang tak diinginkan telah muncul sekarang, setelah sekian tahun diri tetap menjaga hati, untuk tetap terus mencintai suamiku Mas Adit.

__ADS_1


__ADS_2