Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Pesan terakhir dalam terluka


__ADS_3

Suara secepat kilat yang tidak tersangka-sangka, telah membuatku terkejut bukan kepalang. Tangan Yona yang terayun membawa pisau sekarang tertancap tepat sasaran mengenai perut kak Adrian disebelah kanan.


Yona seketika melangkah mundur-mundur, akibat syok saat melihat kak Adrian sudah terduduk lemas sambil memegang perutnya yang masih ada pisau. Tubuh yang tidak kuat seketika olemg ke samping kiri.


"Tidak ... tidak, Kak!" pekikku tak percaya yang telihat barusan.


Dengan tangisan yang tiba-tiba meluap, kini mencoba menghampiri tubuh kak Adrian dengan berlari kilat. Wajahnya sudah berubah pucat pasi dan memringiskan wajah akibat menahan rasa sakit diperutnya.



"Aaaah, tidak ... tidak. Jangan terjadi ini, tidak ... tidak!" ucapku tidak percaya.


Tangan kanan sudah mengenggam erat telapak orang yang kucintai. Tangannya yang lemah tak berdaya terasa mulai dingin sekali.


Suara orang-orang yang ramai dari tadi, sekarang mulai kelihatan dan muncul. Ternyata polisi sudah datang pada tepat waktunya.


"Tangkap dia, Pak!" teriak Chris menyuruh pihak kepolisian.


"Siap!" jawab tegas salah satu petugas.


"Tidak ... tidak, aku tidak mau!" cakap Yona yang sudah ingin kabur, saat para petugas sudah berkeliling mengepung ingin menangkapnya.


"Tidak, Adrian. Jangan jebloskan aku dipenjara, aku sangat mencintaimu. Jangan lakukan ini padaku," pintanya berteriak-teriak sambil meronta, ketika ingin minta dilepaskan kuncian tangan saat disergap pihak kepolisian.


Para bandit sewaan Yona, sekarang tak luput jua terborgol untuk ikut diadili ke tempat pihak berwajib. Mereka tidak bisa berkutik sama sekali, saat kesalahan ada didepan mata.


"Kami akan panggilkan ambulan, untuk segera memberi pertolongan kepada korban yang terluka," ucap salah satu pihak mereka.


"Baik, Pak. Terima kasih," jawab Chris.


Chris segera menghampiri kami juga, dengan maksud melihat keadaan Kak Adrian yang terkulai lemas sekarang.



"Kamu tidak apa-apa, Adrian?" tanya Chris yang sudah didekat kami.


"Aa-aaku tidak apa-apa!" jawab lemah Kak Adrian.


"Kamu tahan dulu rasa sakit itu, bala bantuan akan segera datang jadi kamu yang sabar," imbuh Chris.

__ADS_1


"Iya, Chris."


Aku yang tidak tahan menyaksikan ini, terus saja menangis tersedu-sedu. Tangan Kak Adrian terus saja kegenggam erat, yang satunya kutaruh dipipi dia untuk mencoba meredakan rasa khawatir ini.


Objek yang menyebabkan luka tusuk masih tertancap, tapi tidak dilepas begitu saja untuk menghindari pendarahan luar biasa. Sekarang Chris memberikan tekanan langsung ke kedua sisi objek, dengan cara menaruh kedua tangannya.


Menekan kedua sisi objek dengan tangan adalah tahap penting. Jika pendarahan bisa dikontrol atau dikurangi dengan cara ini, pertahankan tekanannya selama 10 atau 15 menit agar pembekuan darah yang terjadi, sehingga pendarahan bisa dihentikan. Bantuan kepada kak Adrian bisa ditempatkan di lokasi yang lebih baik dengan posisi tubuh nyaman, ini adalah tahap wajib yang tidak bisa ditinggalkan. Jika dilakukan dengan benar, tahap ini bisa menyelamatkan nyawa korban.


"Aaaaah!" Suara rintihan Kak Adrian kesakitan.



Aku yang sedikit panik langsung melihat wajah Chris, mencari jawaban apa yang harus dilakukan sekarang.


Pihak mereka sudah membantu untuk menelpon, tapi sangat disayangkan lambat untuk segera menolong kami.


Pendarahan tadi sudah bisa dikontrol, langsung saja Chris tangap tutupi luka tusuk dengan baju kemejanya. Akan tetapi, luka tusuk masih mengeluarkan darah dan menembus baju itu, sehingga aku sigap untuk menambahkan lagi benda kain lain untuk menghentikan pendarahannya.


Jika darah masih menembus, ada baiknya cari opsi lain untuk menghentikan pendarahan. Jangan pernah mengambil inisiatif untuk melepas kain atau handuk yang berfungsi sebagai penahan darah. Prosedur tersebut hanya boleh dilakukan oleh dokter yang menangani korban di rumah sakit nanti.


"Lebih baik kita bawa saja memakai mobil, sepertinya ambulan akan lama datangnya, sementara korban sepertinya telah mengalami pendarahan hebat," ucap ide Pak polisi.


"Baiklah, sekarang kita bawa dia segera."


Tubuh yang lemah kini telah digotong beramai-ramai. Perlahan-lahan kami membawa untuk menuruni anak tangga.


Darah terus saja menetes keluar tanpa henti, yang sudah tercecer disepanjang lantai rumah.


Dengan sigap kami langsung memasuki mobil pihak kepolisian. Posisiku sudah duduk bertiga dibelakang bersama Chris. Kepala Kak Adrian sudah kupangku, sementara kaki yang sempat terjuntai telah diletakkan dipaha Chris.


Tangan tiada henti terus mengenggam erat, tanpa sedetikpun untuk mencoba terlepas. Airmata yang jatuh mengalir dipipi, tiada habis untuk mengeluarkannya.


"Aku berharap kamu akan tetap bahagia, Karin!" rancau Kak Adrian.


"Walau aku tidak ada disisimu lagi, kau tetaplah harus bahagia. Jangan pernah berhenti tersenyum untukku. Kasih cintaku akan tetap abadi dalam hati ini. Kenanglah diriku disetiap langkahmu. Rasa ini selamanya tak akan pudar hanya untukmu. Bayangan dalam diriku akan tetap bersamamu, maka jangan pernah lupakan aku," Suara sendu Kak Adrian kian melemah.


"Jangan katakan itu, Adrian. Kamu pasti akan sembuh dan kalian akan bisa berkumpul kembali," jawab Chris terdengar mulai serak.


"Aku tahu kalian saling mencintai, walau dihati Karin ada namaku yang tertera. Bahagiakan, sayangi, dan terutama jaga dia, Chris. Aku yakin kamu adalah orang yang tepat untuk bisa menjaga Karin. Jangan pernah sakiti apalagi meninggalkan dia, jagalah sepenuh hati agar kalian bisa bersatu bersama," Ngelanturnya ucapan Kak Adrian, yang kian membuat airmata ini tidak bisa terbendung lagi.

__ADS_1


Kepala hanya bisa mengeleng-geleng kuat, sebab tidak suka atas ucapannya barusan. Tangan yang gemetar sudah menghapus pelan pipi Kak Andrian, yang tak disangka dia sekarang mengeluarkan airmata juga.



"Tidak, Kak. Aku akan bahagia bila bersama kamu, maka jangan katakan yang aneh-aneh itu. Yakinlah kalau kamu bisa melalui ini. Aku mohon ... ayolah kumohon!" Kepiluan hati sudah mendekatkan wajah, untuk segera mencium mesra pipi yang sudah berkeringat dingin.


"Jangan bersedih begitu. Hapuslah airmatamu itu. Aku tidak ingin melihatmu mengeluarkan airmata lagi. Cukuplah dihari kemarin aku sudah membuatmu menderita, jadi cukup disinilah aku bisa membahagiakan kamu."


"Maafkan aku, Karin. Jika selama ini hanya penderitaan yang kuberikan. Aku mencintaimu melebihi apapun dari didunia ini. Semoga kamu akan bahagia selamanya tanpa diriii-kkku disisimu lagi," ucapannya yang semakin melemah.


"Tidak ... tidak. Jangan katakan itu."


"Maa-maaaafkan aku, Karin."


Tangan tiba-tiba terkulai lemas, terlepas dari genggaman tangan yang sempat erat sekali memegang.


Syok yang terjadi membuatku tidak sadar, yaitu sekejap melupakan yang terlihat sekarang.


"Adrian ... Adrian, bangunlah!" Usaha Chris yang sekarang menepuk-nepuk pelan pipi.


Sekuat tenaga Chris berusaha membangunkan, namun mata yang terpejam itu rasanya enggan untuk terbuka kembali.


Jari-jari Chris mencoba memeriksa pergelangan tangan, untuk mengetahui denyut nadi masih berjalan apa tidak.


Dengan wajah lemah Chris sudah menundukkan kepala, yang seakan-akan aku tahu sekali jika ini nyata sekarang.


"Innalillahi wainna ilaihi raji'un


"(إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ)


Cris sudah melafazdkan kalimat yang tidak ingin kedengar, mengenai keadaan Kak Adrian sekarang.


Tangisan sekarang kian pecah tak tertahan lagi. Kepala sudah terkulai lemas untuk membungkukkan badan, mencoba memeluk tubuh Kak Adrian yang berwajah pucat pasi sekarang.


*******


Feel sedihnya kurang dapat ini🙏🙏😅😅


Terima kasih yang masih setia mendukung sampai saat ini🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2