Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
Lamaran (bagian 1)


__ADS_3

Kegundahan tentang hati yang galau begitu terasa, sampai berkali-kali aku harus menghembuskan nafas kasar, jika mengingat semua kejadian bersama kak Adrian kemarin.


"Kenapa hatiku begitu sakit, saat menyuruhnya menjauhiku? Aaah ... hati, kenapa kamu terlalu menyiksaku begini, hingga untuk menghirup udara kebebasan dalam menjalani kehidupan yang tenangpun tak bisa. Apakah hati ini masih mencintai kak Adrian? Tapi dilain sisi aku begitu membencinya, hingga rasa malas bersamanya lagi begitu mengebu. Tapi hati sungguh tak bisa dibohongi, saat getaran cinta masih ada sedikit untuknya," rancau hati yang dilanda kebingungan.



Dengan tubuh miring ke kiri kini aku mencoba menenangkan sejenak pikiran berbaring didalam kamar, sebelum matahari menyosong lebih terang lagi untuk segera berangkat kerja.


"Kenapa kamu sekarang bermalasan-malasan begini? Kenapa tak siap-siap untuk segera berangkat kerja?" tanya Ibu angkat yang sudah masuk ke dalam kamarku.


"Eh, Ibu!" jawabku yang seketika bangkit dari berbaring.


"Nanti saja, Bu. Rasanya kok malas sekali ingin berangkat kerja," jawabku santai.


"Memang ada apa? Kelihatannya kamu sedang ada masalah lagi. Apa benar itu, Nak?" tebak beliau.


"Ibu kok tahu saja," ujarku langsung memeluk tubuh beliau, saat duduk menghampiri diri ini.


"Wajah kamu itu tak bisa berbohong dan pandai menyembunyikan sesuatu. Memang ada apa? Coba bicarakan sama Ibu, siapa tahu Ibu bisa membantu permasalahan kamu," jawab beliau sambil bertanya.


"Benarkah itu, Bu? Karin memang lagi ada masalah yang dipikirkan yaitu mengenai kak Adrian. Rasanya aku ingin sekali bersama Chris, tapi anehnya hati ini terpikirkan terus tentang kak Adrian," jelasku.


"Itu tandanya kamu sangat mencintai nak Adrian dan tak mau melepaskannya begitu saja, sedangkan untuk nak Chris mungkin hanya pelarian kamu saja, saat kekosongan hati kemarin sedang terluka. Semua terserah padamu, Nak! Sebab kamu yang menjalaninya. Kalau bisa pikirkan baik-baik lagi masalah hati ini, sebab jika salah langkah maka kehidupan rumah tangga kamu nanti akan berpengaruh juga. Jangan sampai hubungan yang telah terbina akan merusak semuanya, hingga bisa-bisa rumah tangga tak ada keharmonisan lagi, dan yang ada hanyalah kebencian dan kehacuran saja," nasehat beliau.


"Iya, Bu. Tapi rasanya aku berat sekali untuk kembali bersama kak Adrian, sebab luka yang sempat dia torehkan begitu dalamnya menusuk hati ini, hingga aku begitu ketakutan sekali, jika dia akan berbuat kembali apa yang dia lakukan dulu," jawabku sedih.


"Aku tahu, Nak. Memang tak mudah memaafkan kesalahan nak Adrian yang bertahun-tahun melukaimu, tapi bukankah dia sekarang sudah bertobat dan ingin memperbaiki segalanya," imbuh ucap beliau, yang sepertinya lebih condong mendukung kak Adrian.


"Tahu 'lah, Bu. Karin sekarang benar-benar bingung mengenai masalah ini," ucapku yang terus mengeratkan pelukan pada beliau.

__ADS_1


"Kamu yang sabar dan pelan-pelan saja, jangan terburu-buru dan mudah gegabah dalam melakukan tindakan, yang pada akhirnya dapat merugikan nanti," cakap beliau lagi.


"Iya, Bu."


Benar juga kata bu Fatimah, yang sudah kuanggap sebagai ibu sendiri sebagai penghibur lara ketika dilanda kesedihan.


"Apakah aku harus mendengarkan kata ibu, atau kata hatiku untuk terus bersama Chris. semoga saja pilihanku akan tepat dalam memilih," guman hati.


Mungkin aku harus lebih menata hati yang gundah ini menjadi lebih baik, dan mencari jalan kedepannya nanti. Satu langkah salah jalan, pasti ujung-ujungnya akan berakibat fatal, walau kadang diawal kisah ada kisah kegembiraan dulu.


********


Dengan baju merah menyala, kini aku sudah bersiap akan berangkat kerja. Polesan riasan yang tipis-tipis, menambah aura kecantikan yang nampak bikin manis dan anggun, saat terlihat dari pantulan kaca dalam kamarku. Tak lupa minyak wangi terus saja kusemprot ke baju, agar menambah nilai plus yang ada dalam diriku.



Jam sudah berdetik berjalan diangka pukul tujuh, dan tak membuang-buang waktu kini diri ini benar-benar akan berangkat kerja. Tangan punggung kedua orangtua angkat tak luput kusalami, dengan anak semata wayang berbalik mencium tangan ini juga, sebelum dia berangkat ke sekolah.


"Anak Bunda yang cantik dan manis, harus belajar yang pintar dan jangan nakal-nakal, ok!" ucapku sebelum benar-benar pergi.


"Iya, Bunda. Bunda juga hati-hati dijalan," saut jawab si buah hati.


"Iya, sayang."


"Karin berangkat dulu Pak, Bu!" pamitku sekali lagi.


"Iya, hati-hati dijalan nanti!" jawab Bapak ramah.


"Iya, pak."

__ADS_1


Lambaian tangan sudah menjadi saksi, bahwa langkah kaki sudah berjalan ketempat kerja. Sebab sepeda buntut satu-satunya yang menjadi kendaraanku, kini telah rusak hingga mau tak mau harus keluar ongkos besar untuk sekedar naik taxi.


"Emm, kok aneh? Bukankah toko sedang tidak cuti, tapi kenapa dikasih label tutup? Emm, apa lagi ada yang booking tempat, hingga pintu utama masih terbuka tapi ada labelnya?" guman hati bertanya-tanya, saat sudah sampai ditoko.


Dengan rasa keheranan, laju kaki terus saja melangkah masuk kedalam toko, sebab rasa penasaran begitu mengebu, yaitu ada apa gerangan hingga ada tulisan ditutup.


"Waduh, kok tambah aneh begini, ya? Kenapa keadaan didalam toko begitu gelap begini? Sudah agak siang pulak ini, kenapa gorden penutup jendela satupun tak ada yang dibuka?" Keheranan hati berkata, saat ruangan tak nampak sama sekali.


"Hallo, permisi ... permisi. Apakah ada orang didalam? Kenapa keadaannya begitu gelap, hello?" tanyaku saat kian maju melangkahkan kaki.


Srek, dengan kuat tangan sudah membuka salah satu gorden jendela dekat pintu utama.


Dooor ... dooor, sebuah letusan telah terdengar berulang-ulang, dengan lampu mulai menyala sudah menerangi setiap sudut ruangan.


Karena kaget, seketika badan berbalik untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Syok, yang kini kurasakan, saat dinding telah dihiasi beberapa tulisan (Will You Marry Me).



"Astaga, apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Apa ini ... ini, dari kak And----?" guman hati yang masih terkaget-kaget.


Semua karyawan toko nampak begitu sumringah tersenyum bahagia kearahku, yang masih terbengong akibat tak percaya atas semua ini.


Tanpa diduga ada sebuah dekapan tangan yang tiba-tiba memelukku dari belakang dengan mesranya.



Aroma keharuman parfum yang kukenal, kini begitu menguar wangi sekali, seakan-akan begitu membuatku candu untuk terus menghirupnya. Dan sepertinya aku sangat mengenal sekali siapakah gerangan pria yang mengerjaiku sekarang.


"Apa yang kamu lakukan sekarang, kak? Aku begitu kaget lho, atas kejutan ini. Ternyata kamu pintar sekali membuat kejutan. Dari dulu sifat kamu tak berubah sama sekali," ucapku yang sudah menyambut pelukan, dengan menangkupkan kedua telapak tanganku diatas tangannya.

__ADS_1


__ADS_2