
Tok ... tok, suara pintu kamarku tiba-tiba diketuk seseorang saat aku tengah bersandar dibelakang pintu menghilangkan debaran yang masih saja bergetar merajai jiwa.
Ceklek, pintu kubuka sedikit untuk mencoba mengintip siapa gerangan yang sudah mengetuk pintu.
"Karin? Ada apa?" tanyaku heran.
"Ini sudah malam, aku mau pulang. Tadi tuan berjanji akan mengantarku pulang," ujar Karin mengingatkan.
"Oh, iya. Hehehe, aku sampai lupa, maaf ya. Baiklah aku akan mengantar kamu pulang sekarang," jawabku cegegesan sebab lupa.
Cekliiiiek, pintu kini kubuka lebar-lebar agar kami bisa berbicara dengan leluasa.
"Tapi tuan, aku membawa sepeda jadi gimana itu?" tanyanya binggung.
"Sepeda tinggal saja disini, biar aku besok siang jemput kamu, sebab paginya aku ada kerjaan sedikit. Jadi siang sekalian saja kujemput, sebab ada hal penting yang ingin meminta bantuan kamu ditempat lain jadi langsung ikutan saja nanti," jelasku.
"Hemm, baiklah kalau begitu," jawabnya setuju.
Kini aku melangkah menuju halaman depan rumah, yang diirigi Karin yang berjalan dibelakangku. Tangan dengan perlahan-lahan mulai sibuk menyetir kendaraan mobil, dengan Karin tengah duduk manis bertengger disebelahku.
"Terima kasih atas bantuan kamu tadi," ujarku sambil fokus melihat jalanan.
"Iya, huaaaaaah!" jawabnya sambil menguap.
"Kamu ngantuk? Kalau ngantuk tidur saja, biar nanti aku bangunkan jika sudah sampai rumah kamu," tuturku menjelaskan.
"Benarkah, aku boleh tidur? Terima kasih tuan atas pengertiannya," jawabnya tersenyum manis, sambil membenahi posisi duduk agar enak untuk tidur
"Iya, sama-sama."
Teryata tanpa menunggu lama, Karin beneran sudah tidur dengan pulasnya. Aku yang melirik sejenak melihat wajahnya saat terpejam, lagi-lagi membuat tatapan netra ini begitu seakan-akan terpana.
"Ternyata walau kamu masih dibawah umur, tapi muka kamu cantik juga? Sifat kamu juga baik dan tak ada kata-kata yang membosankan dari kamu. Oh ya, aku masih penasaran sama kamu yang tak mau sekolah, padahal kelihatannya kamu ini anak pintar. Tapi aneh bener, kenapa kamu ngak sekolah ya, Karin? Kalau dipikir-pikir bukankah suami bu Fatimah itu seorang pengajar dan bukankah bu Fatimah tidak punya anak? Uuh, sungguh aneh. Lalu siapa Karin ini sebenarnya? Dan ada hubungan apa sama keluarga bu Fatimah, sampai-sampai kamu rela ganti'in posisi beliau untuk bekerja sama aku?" tanyaku dalam hati bertanya-tanya aneh saat menatap seksama wajah Karin.
"Wajahmu manis sekali, Karin. Kalau dirasakanpun pasti akan kalah manis dari gulali, hihihihihi. Jangan berpikiran bodoh Chris, dia itu masih anak-anak," rancau hati yang berpikiran aneh-aneh.
Tangan kini mulai kuberanikan untuk mencoba mengelus sedikit pipi Karin yang kelihatan manis dan putih. Plak, tanpa diduga tangan tiba-tiba ditepis perlahan oleh Karin yang sudah bangun.
"Apa yang kamu lakukan, tuan?" tanya Karin tiba-tiba yang sudah membuka mata.
"Hehehe, ngak ada apa-apa kok. Tadi dipipi kamu ada kotorannya dan aku berusaha mengambilnya, tapi kamu keburu bangun dan menepis tanganku," alasanku berbohong.
"Benarkah? Kalau begitu maaf dan terima kasih," Polosnya jawaban Karin.
"Ternyata kita sudah sampai. Kenapa tuan ngak bangunkan aku segera tadi?" tanyanya lagi.
"Belum sempat," Gamblang jawabku.
"Maksudnya?" imbuh tanyanya.
"Hadeh, maksudnya belum sempat bangunkan, sebab aku tak tega menyuruh kamu bangun segera, sementara kamu lelap sekali tidurnya tadi. Mungkin kamu lagi kecepek'an, jadi ya aku ngak tega tadi," jawabku berbohong lagi, yang padahal sedang memperhatikan wajahnya.
"Oh, begitu. Lain kali jangan gitu, tuan. Aku yang ngak enak jadinya, sebab tuan sudah capek-capek mengantarku pulang tapi tuan malah menungguku tidur hingga aku bangun, 'kan ngak enak jadinya," jelas Karin.
"Iya ... iya, lain kali ngak gitu."
"Kalau begitu kita turun dulu. Tuan mampir dulu ke rumah, ayo!" tawarnya.
"Ngak usah, Karin. Lain kali saja aku akan mampir, lagian ini sudah larut malam sekali, aku ingin istirhat sebab besok pagi-pagi aku ingin berangkat kerja," jawab alasanku.
"Oh ya sudah, tuan hati-hati. Terima kasih atas kebaikan tuan telah mengantarku sampai rumah. Bye ... bye," ucap pamit Karin.
"Iya, sama-sama. Bye ... bye juga," jawabku melambaikan tangan padanya.
Tanpa menunggu untuk melihat Karin masuk rumah, aku kini buru-buru untuk segera pulang, agar bisa secepatnya memejamkan mata sejenak, karena pagi-pagi buta aku harus dituntut untuk kerja, atas persiapan sebagai model diacara produk baru sebuah perusahaan pakaian yang baru dirintis.
*******
Matahari belum nampak menyising untuk memancarkan cahayanya ke bumi, namun kini aku tengah sibuk mempersiapkan diri untuk segera berangkat kerja bersama Rohmat asistenku.
"Bos, cepetan. Keburu telat dan ketinggalan pesawat nanti, kita jam 5.45 harus diharuskan stay disana, lho!" ucap Rohmat tak sabar.
"Iya ... iya, sebentar dulu. Aku sudah hampir selesai, kok!" teriak jawabku dari dalam kamar sedang merapikan pakaian.
Tas kecil berselempang memanjang sekarang sudah bertenger dibahuku, dengan kaki mencoba buru-buru untuk segera menuruni anak tangga.
"Ayo kita berangkat sekarang, pluk!" suruhku sambil melempar kunci mobil ke asisten.
Mobilpun sudah berjalan dengan kecepatan penuh, agar kami tak terlambat sampai bandara. Karena perjalanan dari rumah membutuhkan waktu lama yaitu sampai satu jam lebih sampai disana, jadi kami harus buru-buru mengejar waktu.
Tut ... tut ... tut, gawaiku berusaha tersambungkan kepada Karin.
[Hallo, Assalamualaikum]
[Walaikumsalam. Kamu masih molor jam segini?]
__ADS_1
Tanyaku padanya sambil melihat jam tangan, yang sudah melekat indah pada pergelangan tangan.
[Heh, memang kamu siapa?]
Nada suaranya lemah, yang kemungkinan itu anak masih ngatuk.
[Ya ampun, Karin. Buka mata lebar-lebar kamu dulu dan dengarkan baik-baik siapa yang menelpon ini]
[Memang siapa ini? Sebentar ... sebentar. Hehehe, maaf. Aku pikir siapa tadi. Maaf ya tuan. Habisnya aneh dan ngak pernah ada orang pagi-pagi buta begini menelpon]
[Hadeeh, ya sudah lupakan itu. Aku cuma ingin memberitahu kamu, bahwa hari ini kamu ngak usah datang kerja kerumahku, sebab aku ada kerjaan diluar kota sebentar. Nanti agak siangan saja kalau sudah selesai urusanku, nanti akan kujemput langsung kerumahku, paham?]
[Iya, tuan. Saya paham]
Tut ... tut, kini gawai segera kuusahakan matikan, sebab obrolan kami tanpa terasa sudah menyebabkan sampai kebandara. Tanpa pikir panjang aku dan Rohmat langsung saja berlarian kecil menuju pintu masuk utama bandara, setelah berhasil memakirkan mobil kami. Sebab ini penerbangan jam pertama, aku harus cepat-cepat chek in barang dan data-data tiket penerbangan.
*******
Rasanya lelah sekali saat acara demi acara fashion show kini sudah berakhir juga. Alhamdulillah, acara yang telah menunjukku sebagai model utama, dalam acara ini telah berjalan lancar dan baik.
"Kamu memang top markotop dalam hal sebagai model profesional, Chris!" puji pemilik perusahaan pakaian yang memperkerjakanku sekarang.
"Aaah, terlalu tinggi sekali anda memuji saya. Padahal aku hanya model biasa saja, yang mencoba melakoni dunia model yang baru kurintis ini," jawabku merendahkan diri.
"Tapi beneran lho Chris. Aksi kamu tadi begitu memukau dengan gaya kamu yang cool itu," imbuh pujinya lagi.
"Itu beneran sih bos. Selain kamu lihai dalam memperagakan, wajah kamu yang tampan itu juga menjadi pendukung untuk memperlihatkan kepiawaian kamu dalam bekerja," sela-sela Rohmat ikut memuji.
"Nah, asisten kamu saja mendukung apa yang aku katakan. Oh ya, aku banyak-banyak terima aksih sama kamu. Berkat kamu acara ini bisa sukses sekali," ucap pria pemilik perusahaan.
"Iya, sama-sama. Aku juga akan mendoakan semoga habis acara ini, perusahaan anda akan semakin melejit maju dan banyak pelanggan," ujarku mendoakan.
"Terima kasih, Chris. Aku akan menghubungi kamu lagi jika nanti membutuhkan lagi. Tapi kalau bisa jangan pernah menolak atas tawaran kami jadi model, walau kamu tahu sendiri 'kan bayarannya masih sedikit," tutur pemilik perusahaan tak enak hati.
"Kamu tak usah pikirkan itu. Aku dijadikan model saja dan membuat namaku kian terkenal didunia permodelan, itu saja sangat membuatku bahagia. Masalah honor bisa dibicarakan belakangan, yang penting jangan sungkan-sungkan untuk terus memanggilku lagi, ok!" jawabku ramah.
"Makasih, Chris. Selain kamu hebat dan tampan, ternyata kamu orangnya juga baik hati tak ingin mengejar target dalam bekerja," pujinya lagi.
"Aah, bisa saja kamu ini memuji. Iya, sama-sama."
Bagiku uang tak jadi masalah, sebab aku hanya ingin memperkenalkan keahlianku dalam bekerja dimata dunia dulu, itu saja sudah menjadi tujuan atas kebanggaanku.
Mungkin setelah terkenal, maka aku akan berpikir ulang. Tapi kekayaan bagiku tiada apa-apanya, sebab melakoni pekerjaan yang kita senangi akan terasa happy tanpa adanya beban rasa lelah.
*******
Setelah kembalinya ke kota tempat tinggal, langsung saja aku meluncur untuk menjemput Karin segera, tapi terlebih dahulu mengantar Rohmat kerumahku.
Tin ... tin, klakson mobil kubunyikan agar Karin tahu atas kedatanganku
Ternyata benar saja tanpa bersusah untuk mengetuk pintu rumahnya, bu Fatimah dan Karin kini sudah muncul berdiri diteras rumah siap menyambutku.
"Gimana kabar kamu, bik?" tanyaku pada bu Fatimah.
"Alhamdulillah agak mendingan tuan, walau rasa pusing dikepala masih sedikit terasa," jawab beliau yang tangannya dipegang Karin, mungkin agar beliau tak jatuh.
"Apa sudah diperiksakan ke dokter? Lalu kalau boleh tahu penyakitnya apa?" tanyaku.
"Sudah, tuan. Kemarin sih katanya gejala jantung lemah, asam lambung naik dan darahnya tinggi. Heeh, maklumlah bibi sudah tua, jadi ya gini mulai sakit-sakitan," terang beliau.
"Bibi yang sabar. Kalau bisa jangan banyak kerja yang berat-berat, biar nanti penyakitnya cepat sembuh," nasehatku.
"Iya, tuan. Makasih atas sarannya. Oh ya, mari masuk ke dalam dulu," suruh beliau mempersilahkan.
"Ngak usah saja, bik. Sebab aku mau jemput Karin saja, untuk kuajak mengerjakan sesuatu," tolakku berkata penuh kelembutan.
"Oh ya, sudah. Kalau begitu kalian hati-hati dijalan," tutur lemah beliau.
"Iya, buk. Kami akan hati-hati. Kalau begitu Karin pamit dulu, ibu hati-hati dirumah selama aku tinggal," ucap Karin berusaha pamit sambil mencium tangan punggung beliau.
"Iya nak," jawab beliau sambil membelai lembut rambut Karin yang terurai memanjang.
"Assalamualaikum," pamitku yang ikut mencium tangan punggung beliau.
"Walaikumsalam, hati-hati!" pesan bu Fatimah.
Kuboyong Karin yang kini nampak rapi berpakaian. Walau dia masih muda tapi cara berpakaian modis sekali, kayak dari kalangan orang kaya saja.
"Kita mau kemana, tuan? Bukankah ini jalan lain untuk menuju rumah kamu?" tanyanya heran, saat aku berbelok kearah lain.
"Aku mau ke mall sebentar sebab ada barang-barang yang ingin kubeli, untuk menunjang penampilan dan aku meminta bantuan kamu membantu membawakan barang-narang yang akan kubeli nanti," jelasku.
"Kenapa harus aku? Bukankah tuan ada asisten yang bisa membantu kamu?" tanyanya heran.
"Memang ada sih, tapi asistenku itu tak bisa memilih mana yang baik untuk kupakai atau tidak. Sedangkan kamu kulihat suka sekali memakai acecoris yang modis untuk dipakai pas dibadan kamu, jadi nanti ketika aku kesusahan memilih-milih kamu bisa membantuku memilihkannya," jelasku pada Karin.
__ADS_1
"Ooh, begitu rupanya."
Ternyata benar saja, tak salah aku mengajak Karin belanja hari ini, sebab dia tahu sekali tentang fashion dan itu semakin membuatku curiga siapakah Karin ini sebenarnya? Tangan kiri dan kanan kami kini telah dipenuhi oleh paper bag, berisikan barang-barang untuk penunjang penampilanku agar tambah cool dan tampan.
"Heeeeeeh ... Huuuuufff!" Suara hembusan nafas panjang Karin.
"Kamu kenapa, Karin?" tanyaku yang tak peka.
"Ngak ada, tuan. Cuma kaki rasanya pegal saja, sebab tadi kita muter-muter terus mencari barang-barang yang tuan inginkan," jelasnya.
"Oo, maaf ya aku jadi merepotkan kamu," ujarku tak enak hati.
"Ngak apa-apa, tuan. Ini sudah menjadi tugasku sebagai pembantu kamu," ujarnya santai.
"Hmm, tapi tetap terima kasih lagi.
Tanpa terasa obrolan kami telah sampai membawa kami kerumahku sendiri. Langsung saja kumatikan mesin mobil dan kini berusaha turun, untuk membuka bagasi belakang yang sudah penuh berisikan oleh barang-barang.
"Ini ... ini, ini kamu yang bawa," suruhku pada Karin untuk membawa beberapa paper bag.
"Hei Karin, hei ... ada apa dengan kamu?" tanyaku heran saat Karin tiba-tiba diam sejenak tak menyaut ucapanku.
"Hei Karin ... hei?" panggilku lagi.
Aku yang semula sibuk sama paper bag, kini begitu khawatir saat melihat Karin yang wajahnya berubah jadi pucat pasi tiba-tiba, dengan mata yang mulai sayu-sayu ingin terpejam. Badannya kini nampak tak seimbang, yang terlihat bergoyang-goyang ingin ambruk.
"Hei Karin, awas!" teriakku yang kaget saat tubuh Karin kini tiba-tiba ambruk kebelakang
"Karin ... Karin, bangun ... bangun, pluk ... Pluk," panggilku panik sambil menepuk-nepuk pelan pipinya, supaya dia sadar dari pingsan.
"Rohmat ... Rohmat?" panggilku pada asisten yang ada didalam rumah, saat Karin tak kunjung jua membuka matanya.
Karena begitu panik, langsung saja tubuhnya kugendong untuk kubawa masuk dalam rumah.
"Ada apa, bos? Ada apa?" tanya Rohmat yang sudah berlari tergopoh-gopoh tengah menghampiriku.
"Cepat kamu telepon dokter untuk datang kesini. Karin sepertinya pingsan. Dan barang-barang dalam mobil kamu angkut semua untuk dibawa masuk kerumah," perintahku.
"Ba-ba-baik, bos!" jawab Rohmat gagap akibat ikut panik juga.
Dengan berlarian kecil, kini aku tetap mengotong tubuh Karin untuk segera kugeletakkan kekamar utamaku. Tubuhnya yang agak ringan tak menyulitkanku untuk sampai membawanya ke kamar.
"Gimana keadaannya, bos?" tanya Rohmat yang sudah menghampiri kami.
"Belum tahu, Rohmat. Kamu sudah menghubungi dokter yang kusuruh?" tanyaku tak tenang.
"Iya, bos. Memang apa sih yang sebenarnya terjadi?" imbuh tanya Rohmat.
"Aku kurang tahu juga, Rohmat. Tadi setelah sampai dirumah habis berbelanja, tujuannya sih mau minta tolong Karin untuk membawakan barang-barang itu tadi, tapi anehnya dia diam begitu saja dan tiba-tiba pingsan," jelasku.
"Aduh, kok lama banget sih datang dokternya? Aku takut jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Karin," imbuh ucapku begitu dilanda kekhawatiran.
"Kamu yang tenang saja, bos. Pasti sebentar lagi dokter akan segera datang," ucap Rohmat mencoba menangkanku yang dilanda panik.
Semenit ... dua menit, dan setelah sekian menit berlalu akhirnya dokter datang juga.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter saat memasuki kamarku.
"Kurang tahu juga, dok. Entah mengapa dia tiba-tiba langsung jatuh pingsan begitu saja," jawabku menjelaskan.
"Biar saya periksa dulu, tapi tolong kalian keluar sebentar dulu, biar saya bisa leluasa memeriksanya nanti," pinta sang dokter.
"Baik," jawabku menurut.
Kaki terus berbolak-balik berjalan kiri kanan dengan diliputi rasa gelisah, sebab baru pertama kalinya aku menghadapi situasi seperti ini.
Ceklek, pintu telah dibuka dokter perlahan-lahan.
"Gimana keadaannya, dok? Dan apa yang sebenarnya yang terjadi padanya?" tanyaku tak sabar ingin tahu.
"Selamat ya pak, ternyata istri bapak sedang hamil," jelas dokter santai.
"What? Apa? Hamil? Apa yang dokter bilang tadi, hamil?" tanyaku berulang-ulang sebab tak percaya, dengan wajah kini saling bertatap kaget pada Rohmat.
"Iya, pak. Dia sedang hamil, mungkin dia terlalu kelelahan hingga tiba-tiba pingsan. Memang bapak ngak tahu kalau istri sedang hamil?" tanya dokter heran.
Hanya gelengan kepala berkali-kali yang dapat kuberikan, sebab rasa kaget itu membuat pikiran seketika blank begitu saja.
"Ya sudah, ngak pa-pa. Ini biasa terjadi pada pasangan muda mudi yang kadang tak mengetahui akan kehamilan. Jaga dia, sebab kandungannya begitu lemah, nanti biar saya kasih resep obat untuk ibu dan bayinya agar tetap sehat," ujar dokter.
"Iya," jawabku lemah.
"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter yang tak kupedulikan beliau lagi.
"Iya, dok. Makasih atas bantuannya dan sudah sudi datang memeriksa pasien kesini," cakap Rohmat yang menjawab pamitan dokter.
Kepala rasanya tiba-tiba pusing, sebab masih tak percaya atas berita yang barusan kudengar.
"Apakah kamu beneran hamil, Karin? Tapi kenapa kamu harus merahasiakan ini? Tabir apa yang sebenarnya ingin kamu coba sembunyikan? Bukankah kamu berkata masih sekolah SMA? Kenapa kamu sudah hamil? Aaah, rasanya aku tak percaya atas musibah yang kamu derita ini, yang sementara usia kamu masih muda. Apakah kamu korban pem*rkosaan atau kamu memang wanita nakal yang suka kayak begituan? Aaah, tidak ... tidak mungkin, walau aku baru saja mengenalnya tapi aku tahu sifatnya, bahwa Karin adalah anak baik," guman hati yang mana pikiran telah dipenuhi oleh segudang pertanyaan atas teka-teki siapakah sebenarnya Karin ini.
__ADS_1