Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2=Istriku Yang Hilang>>Pagi-pagi Harus Kerja


__ADS_3

Kletak ... kletak, terdengar suara bunyi benda sedang berisik, sehingga membuat mataku seketika langsung bangun.


"Astagfirullah," istigfarku kaget, sebab melihat sinar mentari bersinar terang yang ternyata sudah pagi.


"Ya ampun, Mas! Kok sudah pagi?" tanyaku saat mas Adit sudah berpakain rapi.


"Iya, sayang! Ini sudah pagi. Kamu saja yang tidurnya nyenyak betul, sampai tidak kerasa kalau sudah pagi," terangnya.



Mendekati posisiku yang masih terduduk dipembaringan. Masih malas untuk bangki.


"Hehehe, maaf Mas!" Cegegesanku merasa bersalah.


"Gak pa-pa, sayang. Mas saja yang memang ingin bangun pagi-pagi, sebab ingin segera sampai perusahaan. Mas ngak tega membangunkanmu. Nampak kalau kamu merasa capek, sebab kamu kelihatan nyenyak sekali tidurnya tadi." Alasannya menjawab.


Jadi terharu dan tidak enak. Begitu perhatian sampai membiarkan diri ini molor pagi.


"Mas, kok gitu sih! Seharusnya bangunkan aku dulu, walau nyenyak tidur. 'Kan aku bisa siapkan segala keperluan kerja," protesku yang kini menghampirinya, untuk membantu memasangkan dasi.


"Sudah, gak pa-pa. Cuuup," Ciumnya dibibirku secara kilat.


"Ya ampun, plaak. Pagi-pagi sudah mau ngajak bemesraan 'kah?" pukulku manja dilengannya.


"Hihihii, itu adalah ciuman penyemangat sayang," ujarnya yang sudah memeluk tubuhku secara erat.



Rasanya nyaman sekali berada di posisi ini, tapi disisi lain ada rasa kasihan pada suami, saat dia harus rela berangkat pagi-pagi hanya demi pekerjaan.


"Sudah, Mas. Kamu katanya harus berangkat pagi. Sekarang aku harus masak, untuk membuatkan sarapan untuk kamu," ujarku yang menyuruhnya melepaskan pelukan.


"Baiklah, kamu masaklah! Dan sekarang aku akan menyiapkan file-file untuk pekerjaan," suruhnya.


"Oke."


Terpisah tempat tujuan. Tidak ingin dia menunggu maka masak ala kadarnya dengan cepat yaitu nasi goreng.

__ADS_1


Sarapanpun sudah selesai, dan mas Adit sudah berangkat kerja.


Pekerjaan rumahpun sudah rapi, sehingga akupun akan bersiap-siap juga untuk pergi ke kantor mas Adit, untuk membantu mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi. Tapi sebelumnya aku akan menemui Aliya dulu, yang kutitipkan dirumah mertua.


[Hallo, sekertaris Rudi. Apa kamu sibuk hari ini?]


Kutelpon sekertaris Rudi, untuk membantu menjalankan misi.


[Hallo juga Ana. Aku agak sibuk sebentar pagi ini, sekitar jam 8 mungkin aku tidak akan sibuk]


[Kalau kamu nanti sudah tidak sibuk, bagaimana dengan penawaranku kemarin, untuk penyelidikan?]


[Tentu saja akan akan membantu]


[Oke, baiklah. Jika kamu sudah siap, hubungi aku secepatnya]


[Siip]


Karena masih lama menunggu sekertaris Rudi, kini akupun menyamar lagi sebagai pekerja pegawai kebersihan. Yaitu untuk tujuan melihat gerak-gerik orang-orang dalam perusahaan, yang kemungkinan bisa ada mata-mata suruhan, untuk menghancurkan perusahaan mas Adit.


Bhuuugh, tubuhku tiba-tiba menabrak seseorang, saat selesai mengepel dan ingin menuju troli.


"Iya gak pa-pa."


Mata telah menatap tajam orang itu, dan terlihat dia asing sekali buatku.


"Maaf, kalau boleh tahu kamu pegawai baru disini ya?" tanyaku penasaran.


Dari seragam dia kelihatan pegawai perusahaan juga.


"Kok mbak tahu?" tanyanya heran.


"Ya tahu 'lah, sebab aku adalah pekerja lama disini," jawabku ramah.


"Ooh. Maaf mbak saya permisi dulu, ada yang ingin saya kerjakan secepatnya," pamitnya.


"Oh iya. Silahkan ... silahkan," Setujunya jawabanku.

__ADS_1


Pria itu begitu muda, tampan, dan kelihatan pintar, tapi baru kali ini melihatnya, dan kemungkinan besar benar adanya, kalau dia pegawai baru.


Dert ... dert, gawai telah berbunyi dan menandakan ada pesan masuk, dan terpapar nama dari sekertaris Rudi.


[Aku sudah menunggu di lobi perusahaan, aku tunggu kamu datang ke sini]


[Ok]


Tak membuang-buang waktu, langsung saja kuhampiri sekertaris Rudi, yang kini benar-benar mau membantuku.


"Hei Ana, tunggu?" panggil seseorang.


"Edo?" ucapku pelan, saat menoleh melihatnya.


"Ada apa Edo?" tanyaku.


"Kamu mau kemana? Kelihatannya terburu-buru sekali?" balik tanyanya.



"Aku mau menemui sekertaris Rudi diluar gedung perusahaan, sebab dia sedang membantuku untuk menyelidiki kasus perusahaan ini," jelasku.


"Aku ikut."


Diri ini hanya bisa mengeryitkan kening, atas apa yang diucapkan Edo barusan.


"Kenapa ekspresi kamu menunjukkan wajah tak suka begitu?" Keanehan Edo bertanya.


"Bukan ngak suka, Edo. Tapi bukankah kamu sekarang lagi bekerja?" responku menjawab.


"Aku memang bekerja, tapi kerjaanku adalah dibagian pemasaran, jadi agak bebas sedikit. Dan hari ini karena perusahaan lagi ada masalah, jadi bagian pemasaran untuk sementara ini dihentikan dulu, katanya sih biar kejadian ini tak meluas ke toko-toko lain," ucap Edo menjelaskan.


"Ya ampun, sampai segitunya 'kah? Pemasaran telah dihentikan? Wah ... aku harus bertindak cepat, mencari siapakah dibalik dalang ini semua," responku antusias.


"Aku berarti boleh ikut 'kan?."


"Boleh ... boleh, asal tak merepotkan saja."

__ADS_1


"Siip."


Ada teman juga, jadi lebih aman. Semoga dengan adanya Edo bisa membantu keadaan gawat nanti.


__ADS_2