
Kling, lif akhirnya sampai juga dilantai dasar, dan langkah kami terus saja berjalan menuju restoran. Ternyata sudah ramai saja orang sarapan pagi, akupun yang tadinya tak bernafsu makan, kini sudah tergiur ingin segera mencicipi makanan yang tertata rapi dimeja, dengan penuh aneka makanan khas Singapura. Karena aku takut dengan bumbu-bumbu yang tak sama dengan Indonesia, jadi kini piringku kuisi dengan aneka ayam dan sayur sawi putih saja, sebab takut kalau nanti sakit perut akibat tak sesuai dengan selera lidahku.
"Kamu kok dikit amat ngambil lauknya?" tanya mas Adit.
"Hehehe, gak pa-pa, Mas! Aku tak pernah makan yang aneh-aneh selain masakan dari Indonesia, jadi aku takut saja nanti akan sakit perut, akibat tak sesuai dengan bumbunya. Sebab aku dulu pernah kayak gitu, dikasih temanku makanan khas Cina, perutku langsung mules tiga hari," penjelasanku.
"Itu 'kan beda, sayang! Singapura itu sebagian bumbunya ada yang mirip-mirip dengan Indonesia, cuma karena dipegang chef yang handal jadi agak dimodifikasi sedikit berbeda," penuturannya menjelaskan.
"Ooh."
Kami berduapun sudah lahap makan, dari lauk masing-masing yang kami ambil sendiri. Ternyata ramai juga orang yang menginap di hotel ini, terlihat dari kursi-kursi yang disediakan sudah penuh diduduki para tamu.
"Hey, Adit! Bolehkan aku duduk disini?" Suara perempuan sedang menyapa suamiku.
"Uhuk ... uhuk," Tersedaknya diri ini saat melihat siapa gerangan yang menyapa.
"Ya ampun ... apalagi ini? Kenapa si janda genit Nola ada disini," bathin sudah merancau tak suka.
"Ooh, boleh ... boleh, klakak Nola!" jawab menyetujui.
__ADS_1
"Apa?" gumanku terkejut.
Akupun melihat ekspresi mas Adit yang tersenyum sumringah, rasanya hatipun sudah begitu kesal. Dan rasa-rasanya ingin sekali kuusir si janda Nola pergi jauh dari sini, biar tak menganggu ketenangan kami ketika makan.
"Maaf ya, aku menganggu kalian sedang makan. Lihat! Semua kursi sudah penuh, jadi aku terpaksa numpang duduk disini," ucapnya berbasa-basi, dengan suaranya yang begitu genit dan manja.
Hanya senyuman kecil namun penuh sinis, dapat kuberikan padanya.
"Oh ya, kamu sedang bekerja disini 'kah, Adit?" tanya Nola.
"Enggak, Kak. Kami sekarang sedang berbulan madu."
"Ooh, kalian baru nikah 'kah?" tanyanya yang sok akrab yang terlalu kepo.
Mas Adit hanya bisa melototkan mata kearahku, mungkin tak suka sebab aku mendahuluinya untuk menjawab.
"Ooh, baguslah."
"Kamu kerja dibidang apa, Adit?" ucapnya yang tak lelah bertanya.
"Di bidang fashion."
__ADS_1
"Wah ... wah, sama dong. Kok kebutulan sekali ya. Berarti perusahaan kita nantinya bisa bekerja sama, dong!" ujar Nola antusias kelihatan senang.
"Wah, benarkah itu, Kak? Bagus itu, benar ... benar apa yang kamu katakan, nanti kita bisa bekerjasama," jawab mas Adit sumringah, setelah habis meneguk air putih.
"Ya ampun, apalagi ini? Alamat bau-bau sesuatu yang mengancam ini," bathinku yang berbicara.
Mata terus saja melirik memperhatikan gerak-gerik si janda Nola, sebab ada firasat yang tak mengenakkan tentang dia. Tangan sedikit demi sedikit menyedok makanan, tapi mata terus saja mengawasi obrolan Mas Adit, dengan perempuan yang kurasa sekarang ini mencari perhatian kepada suami. Karena kesal dan kuping sedikit panas mendegar percakapan mereka, akupun menyudahi makanan dengan cepat-cepat.
"Aku sudah selesai makan, jadi sekarang mau kembali ke kamar!" ujarku yang sudah berdiri dari duduk, dan berusaha mengajak mas Adit pergi.
"Ooh, ya sudah, kamu duluan aja. Aku masih ada hal penting yang ingin kubicarakan bersama kak Nola," suruh dengan mudah.
"Aah, kamu bener-bener sudah tak waras, Mas! Akibat terpengaruh sama perempuan janda ini!" gerutuku sudah gondok dihati.
"Ooh ... ok, aku pergi dulu!" kekesalanku yang sudah melenggang pergi.
Tak kupedulikan lagi mas Adit yang tengah asyik ngobrol, yang kutahu sekarang diri ini harus secepatnya melangkah sampai kamar, dan melepaskan semua kekesalan akibat suami lebih mementingkan si janda genit itu.
Tenggorokan terasa ada gondoknya akibat kesal sekali atas sikap suami, sebab dia lebih mementingkan si janda Nola, yang selalu saja berpakaian sexy terus, akibat kurang bahan itu.
"Iicch gak malu, apa? Muka sudah keriput begitu, pakaian selalu diatas lutut, mentang-mentang sudah menjadi janda, selalu saja memakai baju yang mengoda iman," Kekesalanku berbicara sendiri, menghina si janda bahenol itu.
Tak henti-hentinya diri ini mengerutu kesal sekali, dan kaki terus saja kuhentak-hentakan dilantai lift, yang mana diriku akan menuju kamar hotel. Tak butuh waktu lama akhirnya liftpun sudah sampai keatas, sehingga langkah kaki secepatnya berjalan menuju kamar.
__ADS_1