
Entah berapa lama aku sudah terpejam pingsan, sampai akhirnya ada sesuatu benda basah menempel dikeningku. Terasa sekali badan mulai agak panas, dengan tubuh mengigil gemetaran kedinginan.
{Ana, kamu mau kemana?}
{Maafkan aku mas, aku tak bisa bersamamu lagi}
{Memang kenapa? Jangan tinggalkan aku Ana}
{Maafkan aku mas, tak bisa bersamamu}
{Jangan ... jangan, Ana! Aku tak mau berpisah denganmu}
{Maaf, mas}
{Tidak ... tidak, jangan tinggalkan aku Ana}
Posisiku dengannya sangat jauh. Ana berdiri tepat ditengah-tengah jalan. Airmatanya terus saja luruh. Tangannya terbentang ingin sekali menarikku agar bisa dekat dengannya. Namun, kaki terasa berat tidak bisa mendekati posisi dia berdiri.
{Bhuuuugh, tiba-tiba datanglah sebuah mobil menabrak tubuh Ana, hingga tubuhnya terpental berguling-guling ke aspal}
{Ana, tidaaaaaak?}
Berteriak sekencang-kencangnya. Tubuhnya terpental jauh. Aku hanya terisak tidak bisa mendekatinya. Terduduk lunglai melihat tubuh Ana bersimbah darah.
"Mas ... Mas Adit. Bangun ... bangun, Mas!" sebuah tangan sudah menepuk-nepuk pipiku.
"Heeh, e'eh ... eh," Mulutku masih terasa merancau akibat ketakutan.
Pipi berkali-kali ditepuk, namun mata berat sekali untuk sekedar membukanya.
"Ana ... Ana. Tidak ... tidak! Jangan tinggalkan, Mas!" teriakku secara kuat yang secepatnya membuka mata, akibat tak kuasa lagi melihat kecelakaan Ana.
Seketika tubuh merasa lemah, dan juga sudah berkeringat dingin ketika cucurannya telah membasahi pelipia. Kini susah payah aku berusaha menetralkan kembali jantung yang sempat berdebar hebat.
"Mas ... Mas Adit. Apa kamu baik-baik saja?" Suara wanita yang diduduk disampingku.
"Astagfirullah, Ana!" ucapku yang sudah berderaikan airmata dan langsung memeluknya.
Nyaman sekali dalam kehangatan pelukan. Rasanya ketakutan hilang seketika. Banyak rasa sedang bercampur baur, antara sedih, kaget, nyesek, tidak rela dan pastinya tidak mau kehilangan.
__ADS_1
"Maafkan aku. Jangan pernah tinggalkan aku, Ana!" ujarku yang sudah mengeratkan pelukan.
"Ada apa, Mas? Kok sepertinya kamu sedang ketakutan begini," sahutnya binggung.
"Iya, Ana."
"Sekarang tenangkan diri dulu. Ambil nafas dalam-dalam. Kalau sudah enakkan berceritalah."
Suara lembut itu mengalun menetramkan jiwa. Lama sekali dalam pelukannya. Tangan Ana tidak lepas terus mengosok-gosok pelan bahu. Bagaikan anak kecil, aku terus menempel pada wanita ini.
"Aku tadi melihatmu sedang kecelakaan, dengan tubuh penuh bersimbah darah," responku sambil tangan mengusap air bening yang sempat menitik dipipi.
"Astagfirullah hal adzim. Pasti mas Adit barusan sedang mimpi buruk," tebakkan Ana.
"Benarkah itu?" tanyaku seperti tak percaya.
"Benar, Mas. Lihat aja aku sekarang baik-baik saja 'kan! Dan sekarang sedang duduk bersamamu," urai Ana jujur.
"Iya ... ya," jawabku sambil mengaruk kepala.
"Tapi aku sangat bersyukur kamu ternyata baik-baik saja dan tidak terluka," imbuhku berkata merasa senang.
"Alhamdulillah ya, mas. Ternyata itu hanya mimpi buruk saja. Semoga itu hanya teguran," balasnya merasa bersyukur.
Kaki yang sempat tertutup selimut, sudah tergeser jatuh dilantai. Ada perasaan menjalar atas nama kerinduan. Wanitaku nampak kurus dan dalam benak terasa aneh. Kok bisa Ana kurus dan kelihatan lelah sekali. Bukankah fasilitas untuknya bisa terjamin.
"Oh ya, bagaimana dengan kandungan kamu?" tanyaku penasaran.
"Kandungan?" jawabnya dengan memasang wajah binggung.
"Iya kandungan. Kok kempes?" jawabku memperjelas lagi.
Tangan meraba pelan perutnya.
"Hallo, Mas. Kamu tidak salah 'kan atas pertanyaan barusan?"
"Tidak."
Ana kelihatan binggung sekali atas pertanyaanku, dan akupun juga menjadi binggung atas ekspresi yang ditunjukkannya.
__ADS_1
"Mas Adit sudah ingatkah dengan semuanya?" ujarnya antusias.
Wajah penuh gembira. Tidak bisa terjabarkan atas sikapnya sekarang.
"Ingatan? Apa sih maksud kamu? Aku benar-benar binggung," sahutku merasa heran.
"Alhamdulillah ya Allah kamu telah mengembalikan ingatannya. Ternyata doaku selama ini tidak sia-sia, dan Engkau telah mengabulkannya. Terima kasih ya Allah," Doa Ana sedang menengadahkan tangan ke atas, yang berulang kali mengucap syukur.
"Ada apa sih Ana, sebenarnya?" imbuhku bertanya yang terus saja dalam kebinggungan.
"Alhamdulillah, Mas. Kamu sekarang telah ingat semuanya. Akibat kecelakaan yang sedang menimpa kamu kemarin, sehingga di diagnosa dokter bahwa mas Adit mengalami amnesia, sehingga di hari-hari kemarin kamu tak mengingat lagi siapa aku!" terangnya.
Wajah ditekuk. Ada guratan kesedihan yang mendalam.
"Benarkah itu?" ucapku yang masih tak percaya.
"Beneran mas, buktinya ada, kok!" antusiasnya berucap.
Anehnya Ana langsung melenggang pergi meninggalkanku yang masih duduk lemas diatas pembaringan . Entah apalagi yang akan ditunjukkan Ana, sebab diri ini masih saja binggung dengan tingkahnya, yang terus saja berucap bahwa aku hilang ingatan.
"Ini, Mas! Lihat 'lah ini," tuturnya sambil mengendong bayi mungil.
"Maksudnya apa ini?" tanyaku yang makin membingungkan.
"Ini adalah anak kita yang sudah lahir, berjenis kelamin perempuan, dan nama panggilannya adalah Aliya!" penjelasannya.
"Apakah itu benar?" kegembiraanku yang masih binggung.
"Iya mas!" jawabnya.
Seketika aku langsung melompat dari kasur, dan secepatnya menghampiri Ana dan mencoba beralih mengendong bayiku.
"Sini ... sini, Ana. Biarkan aku mengendongnya."
Tangan bergetar. Bayi mungil ini hanya mengeliat pelan.
Airmata seakan-akan tak mau berhenti, saat rasa kegembiraan mempunyai baby yang selama ini aku tunggu dan idam-idamkan, kini telah hadir jua ditengah keluarga kecilku.
Akhirnya kami berdua terhanyut dalam tangisan dan saling berpelukan, akibat tersentuh dan teringat melewati hari-hari yang suram dalam membina rumah tangga kemarin. Tak lupa kini aku dan Ana sudah diiringi senyuman juga, untuk bersiap menyambut hari penuh kebahagiaan dihari yang akan datang.
__ADS_1