Terjerat Overdosis Cinta

Terjerat Overdosis Cinta
N2= Istriku Yang Hilang >> Kepergok mama mertua


__ADS_3

Ceklek, suara pintu dibuka seseorang secara tiba-tiba tanpa ada ketukan permisi dulu.


"Adit? Ana? Astagfirullah," suara Ibu mertua terkejut, yang sudah berdiri didepan pintu.


Bhuugh, suara tubuhku jatuh dilantai, karena didorong kuat oleh Mas Adit. Mungkin tadi saking terkejutnya dia, dipergoki oleh mamanya sendiri.


"Aaaaah ... awww ... aaaw," Suaraku kesakitan.


"Sakit tahu, Mas!" pekikku dengan mata melotot tajam marah padanya.



Tangan kini berusaha mengusap-usap pantat yang sudah terasa ngilu.


"Haduh, Adit! Kamu sudah gila, ya? Mendorong istri sendiri. Lihat kelakuanmu ini! Ana menjadi kesakitan begini," cerocos Ibu mertua memarahi.


Beliau mengomel marah sambil berjalan ingin segera menolongku, ketika masih belum berdiri akibat kesakitan terduduk di lantai.


"Eeeeh, iya. Maaf ... maafkan aku, Ana! Kamu tidak apa-apa 'kan?" Tangan Mas Adit sudah terulur berusaha ingin membantuku berdiri.


"Kamu gak pa-pa 'kan, Ana?" tanya mertua.


Kalah cepat menolong, saat suami lebih dekat posisinya didekatku.


"Ana baik, Ma!" jawabku masih mengusap pantat.


"Kamu memang tidak punya belas kasihan pada, Ana! Sampai kuatnya mendorong dia jatuh begitu," mertua masih saja memarahi Mas Adit.



"Hehehe, tadi itu tidak sengaja. Maaf ya, Ana! Mama juga sih, masuk-masuk kamar ngak pemisi dan mengetuk pintu dulu, sesuka hati main nyelonong saja," Mas Adit berbalik memarahi Ibu mertua.


"Kamu, ya! Sekarang berani membalik perkataan memarahi mama, dasar!" kemarahan mamanya.


"Aahhhh, aaw ... awww lepas, Ma!" Tangan menahan jeweran telinga dilakukan oleh mamanya sendiri.


"Enggak, biar kamu kapok."


"Awww, tadi tidak sengaja dan sudah meminta maaf," Pembelaan agar jeweran lepas.


"Diih, alasan saja. Tiada ampun bagi kamu, sebab sudah menyakiti menantu kesayangan Mama."


Aku hanya tersenyum geli, melihat suami takluk dan tidak berani melawan pada Ibunya sendiri.



Setelah kejadian di kamar, kini kami bertiga duduk di sofa ruang tengah. Mata Mama kini penuh penyelidikan menatap penuh ketajaman ke arah kami, yang sedang menundukan kepala tak berani menatap beliau balik. Mungkin tatapannya ingin menginterogasi kami, yang tadi tidaj sengaja tengah bermesraan dalam kamar.


"Kalian sudah lama bertemu?" tanya Ibu mertua ke arah kami dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Baru aja kok, Ma!" Nyolot suara Mas Adit menjawab.


"Tak 'kan baru bertemu, sudah berani bemesraan seperti didalam kamar seperti tadi?" Suara mama menginterogasi.


"Hehehehe," Cegegesan Mas Adit menjawab sambil tengkuk leher diusapnya.



"Kami tadi tidak sengaja melakukan itu, tadi Ana cuma bantuin Mas Adit mengkancingkan baju sebab tangannya terluka," Penjelansanku agar tidak ada kesalahpahaman.


"Masak sih? Kalian tidak bohong 'kan?" Beliau masih tidak percaya.


"Itu benar kok, Ma! Nih, lihat tanganku," imbuh Mas Adit membela.


"Ooooh. Sekarang percaya."



Beliau yang awalnya duduk didepan kami, sekarang berdiri menghampiri kami berdua.


"Ana, Mama sangat merindukanmu! Bagaimana kabar kamu sekarang, Nak?" Suara mertua sendu, diiringi tangisan yang sudah pecah.


Beliau memeluk tubuh ini begitu erat, akibat terlalu merindukan menantu yang dulu sangat dimanjakannya. Sudah enam tahun berlalu dan kami semua tidak saling jumpa.


"Ana baik-baik saja, Ma!" kulepas pelukan dan segera menghapus lelehan airmata beliau.


"Maafkan, Mama. Jika ada salah kata maupun perbuatan. Jangan pergi lagi, Nak. Mama tidak akan sanggup bila kehilangan menantu seperti kamu," Wajah ini sudah dirangkup beliau dengan tatapan penuh deraian airmata.


"Tapi tetap beda. Mama hanya ingin kamu berada disisi kami. Kamu jangan pergi lagi, ok!" Beliau mengecup keningku.


"Insyaallah."


Suami hanya terdiam menyaksikan kesedihan kami atas pertemuan yang tidak disangka akibat takdir.


Dulu mertua sangat menyayangi, dan sudah kuanggap seperti Ibu kandung sendiri, sebab ketika SMA ibu kandung sendiri sudah meninggal karena sakit yang menyerangnya, sehingga tak terelakkan lagi kasih sayangku padanya sungguh besar.


"Lain kali mampir ke rumah mama ya, sayang!" suruh beliau.


"Insyaallah, Ma! Kalau ada waktu sengang, Ana pasti akan mampir ke sana," jawabku ingin menyenangkan hati beliau.


"Udah 'kan ngobrolnya! Ayo Ana, kita berangkat kerja. Aku ada meeting nih dengan klien pagi ini," ucap Mas Adit membuyarkan kerinduanku bersama mertua.


"Tunggu dulu, Adit! Mama belum puas bertemu dengannya. Kenapa tidak kamu sendiri saja berangkat kerja?" tolak ucap Mama.


Eghemm, deheman suami dengan mata berkedip ke arah Mama mengisyaratkan sesuatu.



"Lain kali sajalah, Ma! Ini benar-benar klien penting," Kegusaran suami yang berkali-kali sudah melihat jam tangannya.

__ADS_1


"Iya, Ma. Lain kali aja Ana akan mampir ke rumah. Lagian Ana baru beberapa bulan bekerja, jadi tidak enak kalau minta cuti," Menjelaskan.


"Janji, ya! Ok 'lah kalau begitu."


"Janji, Ma! Nanti Ana akan kabari," Langsung kucium pipi beliau dan pamit untuk undur diri dengan mencium tangan.


"Alhamdulillah, iya, Nak. Mama akan menunggu. Hati-hati kalian dijalan."


"Hmm, Mama hati-hati juga pulang nanti," Mas Adit gantian berpamitan.


Acara pamitan sudah selesai. Kamipun segera meluncur ke tempat kerja.


Dengan kecepatan agak penuh, kami berdua akhirnya secepatnya meluncur ke perusahaan Mas Adit, sebab dia buru-buru ada janji ingin bertemu kliennya.


"Ehemm ... emm," Dehemannya tiba-tiba.


Dehemannya begitu keras, sehingga membuyarkan lamunanku, saat menatap pemandangan jalan dan pepohonan dari kaca jendela mobil.


"Kamu ngak pa-pa, Ana?" tanyanya.


"Emm, aku ngak pa-pa," jawabku lesu.


"Emmm ... itu. Yang masalah dikamar tadi, aku minta maaf."


"Dimaafkan." Datar perkataan.


"Habisnya kamu mengkancingkan baju saja lama banget sih tadi!" tutur menyalahkan.


"Ooh, jadi Mas Adit menyalahkan aku sekarang, sebab tadi telah kepergok mama," melengkingnya nada kesalku.


Rasanya hati sudah gondok kesal, dikarenakan dia yang mengajak bemesraan, tapi semua kesalahan dilimpahkan pada diriku.


"Bukan begitu Ana, maksudnya itu ... itu!."


"Itu apaan? Ngomong jangan belepotan kayak anak kecil," Kekesalan menjawab.


"Hhhhh. Aku tuh cuma mau bilang, seandainya kamu tidak berlama-lama untuk mengkancingkan baju, pasti diriku juga tidak akan tergoda untuk berlama-lamaan sama kamu juga," Penjelasannya terdengar malu-malu.


"Terserah, Mas Adit saja! Semuanya sama saja, tetap aku yang disalahkan," kujawab dengan ketus.


"Aduh, kok jadi salah paham begini. Jangan ngambek begitu 'lah," Kebingungannya dengan mengusap tekuk leher.


"Emboh 'lah."


"Ya sudah, tadi aku memang yang salah. Maafkanlah diriku ya, Ana! Dan masalah yang dikamar tadi, maaf sekali lagi ya ... ya," bujuk mautnya.


Sekarang mulut hanya terbungkam tak menanggapi lagi omongan Mas Adit.


Yang kulakukan sekarang adalah menyembunyikan wajah, menatap diluar kaca mobil. Kini wajah sudah tersenyum-tersenyum dengan berseri-seri, akibat membayangkan apa yang Mas Adit lakukan padaku dalam kamarnya tadi. Bila seandainya benar-benar menjadi kenyataan, betapa indahnya jika ciuman yang sempat tertunda tadi benar-benar jadi nyata.

__ADS_1


"Ya ampun Ana! Pikiran kamu saja yang mesum, ciuman saja yang kini terbesit dalam otakmu terus," Hati bergulat sendirian tanpa mas Adit mendengarnya.


__ADS_2