
Sakit yang kinilah kurasakan, saat hati begitu dipatahkan oleh sebuah cinta yang tak bisa digapai. Semua hanya bisa pasrah dan menerima semua keadaan ini, mungkin biarlah waktu menjawab semuanya.
"Aku akan mencoba belajar melepaskanmu, Karin. Mungkin dari awal kita sudah tidak bisa ditakdirkan bersama. Aku mungkin hanya manusia bodoh yang terlalu berlebihan berharap bisa kembali padamu, namun kenyataannya malah berbanding terbalik begitu menyakitkan, hingga jiwa itu sudah melayang tidak ada rasa semangat lagi. Oh Tuhan, apakah memang seharusnya aku harus pergi, agar dia bahagia bersama pilihan hatinya sendiri?" rancau hati yang sedang begitu galau.
Selalu saja diri ini berharap menjadi lebih baik dalam masa depan itu, tapi pada kenyataannya itu hanya mimpi disiang bolong. Mungkin pria penganti itu lebih baik daripada diri ini, hingga Karin lebih mementingkan memilih Chris.
"Hei, Nak. Ada apa? Mama lihat dari tadi kamu melamun saja," panggil beliau menepuk pelan bahuku.
"Hhehehe, iya Ma. Adrian memang sedang melamun, sebab pikiran begitu pusing memikirkan hubungan sama Karin, yang nyata-nyata didepan mata akan kandas sampai disini saja," jawabku lesu.
"Heeeh, masalah hati memang tidak bisa dipaksakan berlebihan, sebab takutnya jika kau memaksa malahan Karin nanti akan semakin membenci dirimu, Nak. Kamu coba bersabar dulu dan pelan-pelan meluluhkan hatinya," nasehat beliau.
"Mungkin itu bisa, Ma. Tapi pada kenyataannya Karin sekarang menutup pintu hatinya untuk Adrian masuk," jawabku putus asa.
"Mungkin kamu tak bisa memiliki hatinya maupun bersama, tapi hanya satu pinta Mama, yaitu jangan pernah lepas tanggung jawabmu untuk memberikan kasih sayang pada anakmu Naya, sebab dia membutuhkan sekali sosok ayah kandung yang sebenarnya," permintaan beliau.
"Iya, Ma. Insyaallah."
"Oh, ya. Mama sudah membeli tiket untuk empat orang, agar kita bisa mengajak jalan-jalan Karin dan Naya. Semoga saja dengan jalan ini, hubungan kalian tetap terjalin erat walaupun hati Karin tak bisa kamu dapatkan," Ide Mama.
"Wah, bagus itu, Ma. Semoga saja apa yang Mama rencanakan berjalan dengan baik-baik saja," ucapku menyambut dengan senyuman sumringah bahagia.
"Iya, Nak. Semoga saja dengan acara ini keluarga kalian bahagia, walau tidak ada ikatan rumah tangga yang sesungguhnya," ucap beliau mendoakan.
"Iya, Ma. Semoga saja."
Hati rasanya bahagia yang tak terperi lagi rasanya, saat ibu kandung telah memberi jalan, agar kami bisa bersama menjalani liburan. Tapi hati terasa deg-degkan sekali jika takutnya Karin tak mau diajak, sebab ada diriku yang ikut serta juga dalam rencana Mama.
__ADS_1
********
Hari yang dinanti telah datang juga. Untung saja mama punya ide cemerlang yang tidak langsung mengajak Karin, namun lewat Naya dulu hingga mau tak mau si Karin akhirnya ikut juga dalam jebakan rencana Mama.
"Wah ... wah, om ganteng beneran mau ngajak Naya main kesitu? Tempatnya bagus banget itu, Om!" tanya Naya yang kelihatan gembira sekali, saat melihat wahana kincir angin sudah nampak dari kejauhan.
"Iya, sayang. Om ganteng memang mengajak Naya ke tempat bermain itu, sebab ingin menyenangkan hati Naya. Gimana? Apa kamu suka?" jawab Mama.
"Iya, Oma. Naya suka," jawabnya santai saat bertengger duduk dipangkuan Mama.
"Oh ya, sayang. Jangan panggil Om ganteng dengan sebutan Om, dong! Tapi panggil dia Ayah, ya!" suruh Mama.
"Iya, Oma. Walau Naya sekarang manggilnya dengan sebutan Om ganteng, tapi dari kemarin Naya sudah anggap Om ganteng sebagai Ayah, jadi sekarang Naya akan segera mudah memanggilnya sebagai Ayah. Boleh 'kan Ayah?" tanya celoteh Naya.
"Tentu saja boleh, sayang!" jawabku tersenyum ramah sambil menyetir kemudi mobil untuk masuk parkiran.
Setelah cukup lama obrolan terjadi, tanpa terasa kami berempat akhirnya datang juga ke pintu utama wahana permainan yang dituju. Sudah nampak banyak sekali orang berlalu lalang, sebab ini adalah hari minggu hingga terlihat sudah ramai pengunjung, untuk segera menikmati wahana bermain ini.
Karena tak ingin lepas dari Naya, tangan mungilnya terus saja kugenggam erat berjalan duluan, yang tak memperdulikan lagi Karin yang berjalan dibelakang sendirian, sedangkan Mama mengikuti langkahku dan Naya, dengan senyuman beliau yang tak lepas terus memperlihatkan kebahagiaan.
Satu persatu wahana telah kami coba. Tawa lepas kami dalam kebersamaan, tak berhenti-hentinya terus saja memancarkan kebahagiaan. Rasanya ini adalah kenyataan sebuah keluarga yang telah terajut, namun pada kenyataan hanya keluarga kepura-puraan didepan Naya saja, yaitu demi membuat hatinya terus gembira.
Akupun tak ada rasa malu lagi, saat mengikuti tingkah polah Naya yang makan es krim belepotan, sebab asalkan si buah hati bahagia maka diri inipun akan juga ikut merasa bahagia. Duh, begitu senangnya saat sepanjang hari ini asyik menikmati suasana ini. Wajah Karin nampak terus saja tersenyum kecut, mungkin sudah sebal akibat aksiku terus memanjakan Naya tanpa henti.
"Ayah ... ayah, sini ... sini. Ayo kita lihat itu," suruh Naya.
__ADS_1
Aku yang awalnya mau melangkah maju, kini sudah berbalik arah mengikuti langkah si kecil, saat tangannya begitu kuat menarik untuk segera mengikuti langkahnya. Nampak sekali ramai orang sudah berkerumunan menonton sebuah pertunjukkan, dimana banyak penonton tertawa lepas dengan bersorak riang penuh semangat.
"Ayah, Naya ingin hadiah itu?" Tunjuknya ke sebuah boneka berwarna pink yang begitu besar, yang ukuran terlihat hampir sama besarnya dengan orang dewasa.
"Ngak bisa, sayang. Itu lomba sangat ekstrim, Bunda tidak mengizinkan," tolak ucap Karin memberi pengertian.
"Yah, Bunda. Tapi Naya ingin itu," cakapnya kecewa dengan sendu.
"Memang Naya beneran mau itu? 'Kan nanti Ayah bisa belikan setelah pulang dari sini," tawarku saat Naya mulai menangis, yang terpaksa tubuh ini bersimpuh untuk bersejajar dengan tubuh kecilnya.
Hanya anggukan kecil dan tangisan yang kian tersedu, sebagai jawaban kalau Naya beneran menginginkan boneka itu.
"Kalian ini apa-apan, sih. Masak bujuk dan menuruti permintaan anak saja tidak becus," keluh Mama marah.
"Sini, sayang. Sama nenek saja. Ayah sama Bunda sebentar lagi akan memenangkan lomba dan segera mendapatkan hadiah itu," imbuh ucap Mama menenangkan si buah hati.
"Beneran, Oma?" tanya Naya yang sudah berhenti menangis.
"Iya, sayang."
Wajah yang mendung ada titikan hujannya, seketika terhenti sebab Mama pandai membujuk.
"Kalian kenapa bengong begitu. Cepetan ikut daftar lomba itu, sebelum nanti penuh pesertanya," suruh Mama tak sabar.
"Tapi, Ma!" ucap Karin yang nampak berat menurutinya.
"Ngak ada tapi-tapian, Karin. Apa kamu mau dipermalukan anak sendiri, akibat tangisannya yang tak berhenti-henti. Enggak 'kan? Jadi sekarang kalian berangkatlah kesana," imbuh suruh Mama.
Kami berdua hanya saling bertatap dengan rasa canggung, sebab mana bisa mengikuti perlombaan itu dengan cara berpasangan, yang mana si perempuan harus digendong oleh pasangannya dibelakang punggung.
__ADS_1
Saat sudah melangkah pendaftaran, hati terasa jedag jedug tak karuan lagi bentuknya, sebab baru pertama kalinya diri ini akan mengendong tubuh Karin.