
Selesai mengantar makanan, kembali pulang untuk menuju rumah. Langkah santai. Tidak ada kerjaan yang sangat penting nanti, jadi agak lambat berjalan sambil melihat ke sekeliling perusahaan.
Bhuuugh, tiba-tiba tanpa sengaja diri ini sudah menabrak orang.
"Oh maaf ... maaf, aku tadi gak sengaja," ucapku.
Tangan sudah membantu memungut kertas-kertas, yang sudah berterbangan dan berantakan ke sembarang arah.
"Ana?" panggil orang itu.
Seketika wajah melihat siapa gerangan yang menyapaku barusan.
"Edo?" Kekagetanku berkata.
Wajah sudah melihat heran ke arah Edo, yang penampilan sudah berubah seperti biasanya.
"Ya ampun Edo, gak nyangka kalau kita akan bertemu disini? Bagaimana kabarmu sekarang? Wuuuih,makin keren saja pakaianmu, yang memakai pakaian kantor," tanyaku sambil memujinya.
"Alhamdulillah aku baik. Hehehhe, benarkah aku keren? Ini semua berkat suami kamu juga yaitu pak Adit," jawabnya cegegesan sambil mengaruk belakang kepalanya.
"Benarkah itu? Aku kok gak tahu, ya? Mas Adit juga ngak bilang kalau kamu bekerja disini," timpalanku sambil memberikan kertas yang sempat jatuh.
Selesai juga memungut. Banyak kertas yang berserakan sehingga lama berjongkok.
"Masak sih! Oh ya, bagaimana kabar kamu berserta Aliya? Sudah lama aku tak menjenguk dan melihatnya," tanya Edo.
"Alhamdulillah kami baik."
"Syukurlah kalau begitu."
"Tumben kamu kok berada disini? Bukan bekerja lagi disini 'kan?" imbuhnya bertanya.
"Oh ... gak kok Edo, aku gak lagi kerja, cuma ngatar makan siang pak bos kamu saja," jelasku.
"Ooh."
"Kalau begitu aku pergi kerja dulu ya, takut kena marah nih! Lain kali aja kita sambung percakapan," ujarnya berusaha pamit mau pergi.
"Oh ya, silahkan. bye ... bye," jawabku.
"Bye ... bye juga."
__ADS_1
Selanjutnya langkah langsung menaiki mobil, yang sudah berjalan untuk segera sampai kerumah.
"Assalamualaikum," salamku.
"Walaikumsalam," jawab Mama mertua.
"Sudah selesai kirim makanannya?" tanya beliau yang sibuk mengendong Aliya.
"Sudah, Mah!" jawabku yang beralih mengambil Aliya.
"Ya sudah, kita makan siang dulu! Pasti kamu lapar, belom makan juga 'kan? Biar bibi saja yang jagain Aliya sebentar," suruh beliau dalam berkata.
"Baik, Ma."
Meja sudah banyak berbagai lauk makanan, yang sama persis dengan makanan yang kukirim sama mas Adit. Sebab mertua laki-laki tiba-tiba sedang keluar kota untuk bisnis, jadi beliau tak bisa bergabung untuk ikut makan. Tak butuh waktu lama kami makan, dan pekerjaanku sekarang membereskan makanan, dan langsung mencuci piring habis bekas makan.
"Biar bibi saja nanti mencucinya," ucap m
Mama.
"Gak pa-pa, Ma. Lagian Ana gak ada kerjaan, sekali-kali bantuin meringankan kerjaan bibi," jawabku.
"Ya sudah kalau begitu, Mama akan lihat Aliya dikamarnya, sudah tidur apa belum dia," ujar beliau berusaha pamit.
"Iya, ma."
"Sudah beres semua, Bik! Jadi gak pa-pa 'kan saya tinggal sendirian," tanyaku.
"Oh gak pa-pa, Non. Terima kasih, Non sudah bantuan repot-repot nyuci," ucap beliau merasa tak enak hati.
"Sama-sama, Bik. Gak usah sungkan-sungkan begitu, aku biasa mengerjakan hal kayak beginian, itu mah hal kecil yang sering kulakukan," jelasku.
"Ooh, berarti Non hebat."
"Heheheh, enggak juga!" cegesanku menjawab.
Langkah langsung saja pergi kekamar Aliya, untuk melihat keadaannya.
"Bagaimana, Ma. Apakah dia sudah tidur?" tanyaku pada beliau.
"Sudah, Ana."
"Heeeh," desahku menghembuskan nafas panjang.
"Ada apa Ana? Sepertinya kamu lagi ada masalah?" tanya beliau.
__ADS_1
"Mama tahu aja sih! Ana memang lagi ada yang dipikirkan, soal kerjasama Mas adit sama kakak kelasnya," jawabku menjelaskan.
"Memang siapa kakak kelas itu?."
"Nola, ma. Namanya," jawabku.
"Ooh dia."
"Mama kenal?"
"Benarkah?"
"Kenal! Sebab dulu sering datang ke rumah ini, katanya sih mau ngajarin Adit atas tugas-tugas kelompok sekolah," jelas beliau membuatku kaget.
"Benarkah itu, ma?."
"Beneran, sayang."
"Berarti dekat banget dong?."
"Dia memang dekat sekali sama Adit, tapi entah dia itu suka sama Adit apa tidak, mama kurang tahu juga, sebab waktu itu Adit sudah jadian sama Salwa. Tapi dari gelagat-gelagatnya sih, mama yakin sekali kalau dia itu ada hati sama Adit," imbuh beliau menjelaskan.
"Wah ... berarti Ana harus menyiapkan benteng, biar janda bahenol itu tak mendekati mas Adit."
"Memang dia sudah janda 'kah? Dari mana kamu tahu?."
"Iya ma, dia sudah janda. Kebetulan kami ketemu waktu haneymoon ke Singapura kemarin."
"Ooh."
"Gimana ya, ma? Ana bisa mengawasi wanita itu, biar tak dekat-dekat sama mas Adit?" ucapku yang sudah memasang wajah berpikir.
"Kamu kerja saja disana!" usulan ide mama mertua.
"Kerja?."
"Iya kerja."
"Tapi ma, bagaimana dengan Aliya, siapa yang akan merawatnya?" tuturku binggung.
"Kamu tenang saja, 'kan ada Mama. Lagian mama selalu sendirian dirumah gak ada temannya, jadi biar mama saja yang merawat dia. Kamu fokus saja sama perempuan itu, biar tak mendekati Adit. Sebab nanti bisa bahaya jika kamu tak mengawasi, tapi disebalik itu semua kamu harus hati-hati, jangan sampai kejadian seperti Salwa kemarin terjadi," respon beliau menasehati.
"Iya ma, Ana akan hati-hati. Terima kasih atas semuanya, sebab mama selalu ada disaat ana membutuhkan seseorang," ucapku.
__ADS_1
"Iya Ana, sama-sama," kamipun berpelukan, untuk merasakan kasih sayang yang tercurah indah diantara kami.
Sungguh betapa beruntungnya diri ini mendapatkan mertua, yang selalu mendukung penuh atas semua keputusanku. Akupun jadi tak enak hati, selalu merepotkan beliau dikala kesusahan datang melanda. Tapi ternyata mama baik-baik saja dengan semua itu, dan malahan beliau senang membantuku dengan sifatnya yang selalu baik hati.